
Fais dan ibunya kini jalan melenggang, sangat kontras saat awal pergi berlari tunggang langgang. Suara riuh teriakan orang-orang tadi pun sudah tidak kedengaran. Situasi sudah kondusif kembali dengan cerita tersendiri.
Bu Imah beserta putranya yang tampan rupawan tergelak setelah menapakkan kakinya di ruang tamu. Mereka menertawai diri mereka masing-masing. Bagaimana tidak, teriakan menggema melafalkan nama Adit dan sumber suara dari arah kiri rumah, mereka malah berlari ke arah kanan rumah karena mendengar kata Udin. Adit dan Udin sangat berbeda jauh.
"Hahaha, fix ini mah kita ke dokter THT periksa telinga." Ujar Fais sambil tertawa.
"Gak usah, beli Cutton Bud aja." Jawab Bu Imah yang tak kalah gelinya.
"Wah, Fais dan Mamah dari mana nih?" Papah pulang dari arah kiri. Di ikuti para tetangga yang mulai bubar dari sana.
Baik Fais maupun sang ibu, mereka masih malu untuk bercerita. Kemudian setelah nyali di rasa cukup untuk mengatakan hal menggelikan, baru Bu Imah membuka suaranya.
"Kita habis lari-larian ke rumah Udin. Gara-gara mendengar teriakan tadi."
"Lah ngapain ke sana? Orang teriakannya Adit kok. Papah baru saja dari sana. Itu Adit anaknya Pak Aming kejang-kejang, jadi orang tuanya histeris panik." Jelas Papah.
"Terus gimana Pah keadaanya?"
"Sekarang sudah baikan Mah. Ayo kita berangkat sekarang. Pasti Fais sudah kelaperan tuh."
Yang menjadi bahan pembicaraan melenggang pergi ke dalam kamar. Fais mengambil ponselnya lalu membalas pesan Nabila yang berisi tentang pertanyaan sudah makan atau belum.
Ingin rasanya Fais membalas belum, lagi gerah habis lari gak jelas gara-gara bolot bin budek. Fais cengengesan sendiri melihat ketikannya, detik kemudian dia hapus lalu di ganti dengan, "sudah Nabila".
Saat sudah di dalam mobil pun, Fais masih sibuk dengan ponselnya. Bocah itu leluasa goleran sana sini di bangku penumpang belakang. Dan ketika mobil melaju di jalan yang tidak asing bagi Fais, ia mengalihkan perhatiannya untuk melirik ke luar.
Berharap Maya ada di sekitar, berharap Fais dapat menemukan wajah candu itu. Wajah yang dilihat semakin lama semakin manis terasa. Semakin membekas dalam ingatan.
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Mobil yang di tumpangi keluarga Fais berpapasan dengan seorang gadis bersepeda. Dan gadis itu adalah Maya.
Alih-alih menyapa, Fais hanya bisa memandanginya dari dalam. Ia enggan untuk membuka kaca mobil. Khawatir kewibawaan seorang aa Fais jatuh di hadapan Maya lantaran ia berlaku sebagai penumpang yang bermalas-malasan. Ia takut di cap si anak bapak dan emak.
__ADS_1
"Cie..cie.. Fais" goda Bu Imah kepada putranya yang sedang salah tingkah. Beliau belum mengetahui anaknya itu sudah jadian dengan gadis lain.
"Apanya yang cie.. cie.." seru Fais sembari senyam-senyum tidak jelas.
"Cie..cie.." dan Papah pun ikut-ikutan memperkeruh suasana.
Sampai matahari sepenuhnya tenggelam dan mobil sudah menepi di tempat tujuan. Mereka pun masih membahas persoalan cie..cie.
...........
Dua Minggu kemudian
Hari cepat berganti. Perputaran bumi tidak dapat terelak. Semua bergerak maju sesuai dengan porosnya tanpa bisa di tarik mundur. Begitu pula dengan kehidupan Fais beserta tulisan-tulisannya.
Kata orang, penyesalan datang selalu di akhir. Maka untuk meminimalisir hal demikian, Fais sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan. Seperti halnya gaya pacaran dengan Nabila. Lelaki itu sangat menjaga Nabila dengan baik seperti adiknya sendiri. Sejauh ini, yang ia sentuh dari Nabila hanya sebatas telapak tangan. Ya itu saja, kalau untuk yang lain mungkin hanya sebatas mimpi.
Entah dorongan darimana, setiap perjalanan hidup yang ia jalani akan dimasukan ke dalam tulisan olehnya. Bermodal pengetahuan bahasa yang sudah terkumpul banyak, kemampuannya mengolah kata dengan apik, kemudian disisipkan sebait puisi indah dengan kata-kata romantis. Lalu di percantik dengan banyolan-banyolan, Fais mampu membuat karya tentang dirinya sendiri.
Tergantung waktu, bagaimana akhir dari cerita tersebut. Apakah Fais mampu menyelesaikannya dengan baik tentang kisah cintanya bersama Nabila dengan bayang-bayang Maya. Atau bisa jadi sebagai penulis dia akan di kejutkan dengan skenario tuhan tentang kehidupan yang ia jalani. Semua tergantung waktu.
Beberapa hari belakangan, Nabila bersikap beda dari Nabila yang Fais kenal. Gadis itu lebih banyak murung ketimbang senyum. Kata-kata gombalnya pun sudah menghilang entah kemana. Bahkan tidak ada kabar sampai seharian penuh. Bagi hubungan mereka, Hari itu adalah pencetak rekor terlama Nabila tidak menghubungi Fais.
"Cewek gua lelah kali ya, tumben hari ini gak nanya udah makan apa belum?" Fais bertanya-tanya entah kepada siapa. Kemudian ia berinisiatif menghubunginya duluan, barangkali membuat Nabila senang dan dapat mengembalikan gadis itu seperti sediakala.
Saat hendak menyambungkan telepon, ada notif pesan masuk dari Nabila. Isinya dia ingin bertemu langsung dengan Fais, sang kekasih.
Tidak berlama-lama Fais bergegas pergi untuk menemui Nabila. Batinnya, apakah Nabila tahu soal Maya?
.
.
"Nabila mau ngomong apa sama Kakak?" Tanya Fais. Moment menegangkan ini terjadi untuk kedua kalinya. Kalau yang pertama untuk pengungkapan rasa, kali ini Fais menerka-nerka ada sesuatu yang tidak mengenakkan.
__ADS_1
Nabila menghela nafas. Tatapan matanya redup tidak sebinar ketika bahagia sedang hinggap di hatinya. Ada sebuah ketakutan di temukan pada manik redup itu. Nabila sedang takut luar biasa, jika sewaktu-waktu Fais akan membencinya.
"Kak Fais janji ya gak bakal marah sama aku setelah Nabila bicara sama kakak?!"
"Nabila memang bikin kesalahan apa?" Fais to the point. "Kak Fais tidak bisa janji di awal kalau belum mengetahui apa yang disampaikan."
Apa Nabila mau ngomong kalau dia selingkuh?
Nabila diam kembali. Dia bingung untuk memulai.
"Nabila belum siap buat di jauhin Kak Fais." Terang Nabila, sepertinya pacarnya Fais tersebut sedang berusaha menanggung kesalahan orang lain.
"Yasudah, gini saja. Kalau memang bukan kesalahan Nabila, Kak Fais tidak akan marah. Karena Kakak tidak akan membenci seseorang kalau bukan karena kesalahannya. Seandainya pun Nabila ada salah sama Kakak, tidak ada alasan untuk tidak memaafkan Nabila." Jawaban Fais cukup menenangkan gadis di hadapannya.
"Kak, Nabila mau tanya. Nama Papahnya Kak Fais Pak Marda bukan? dan apakah profil Papahnya Kakak gambar batu di sungai?"
Fais terperangah, kenapa Nabila bisa bertanya soal Papah. Fais gusar sembari melihat ponselnya untuk memastikan benar atau tidak apa yang Nabila tanyakan.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Nabila mau tunjukkin sesuatu"
"Ini salah satu yang berhasil Nabila tangkap. Masih ada banyak lagi, termasuk rekaman suaranya. Nabila kirim ke Kakak ya."
Fais diam membatu. Dadanya sesak. Lelaki itu mendadak tidak ingat bagaimana caranya untuk bernafas.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Teringat perkataan Fais tempo hari bahwa Kita tidak pernah tahu bagaimana kedepannya.