
Menangis salah satu cara melegakan emosi yang meluap. Menangis bukan serta merta hanya terindikasi untuk sebuah kelemahan. Tanpa menangis, mungkin saja mata ini kekeringan seperti kemarau panjang. Segala sesuatu yang di ciptakan tidak mungkin tidak ada sesuatu hal bermanfaat di baliknya.
Nabila berada di tempat rongsokan. Bukan. Nabila bukan di buang seperti mantan pada umumnya. Nabila hanya berada di kantor Akmal. Ia menatap sendu laki-laki yang sibuk mengais rezeki lewat usahanya tersebut dengan segala kedekilannya.
"Nabila.." itulah suara pertama yang terlontar bersamaan dengan tubuh yang membeku. Akmal kaget bukan main saat netra coklatnya bertembung dengan wajah oriental milik Nabila. Dari aromanya saja, Akmal sudah tahu bahwa Nabila sedang tidak baik-baik saja.
Lantas bocah bernama Akmal mendengus, berujung mengumpat dalam hatinya. Harapan palsu apa lagi yang telah Fais sodorkan pada Nabila. Tidak cukupkah sahabatnya itu bersembunyi di balik rasa kasihan?
"Nabila datang kesini mau nanyain Kak Fais ada dimana dan sama siapa ya?" Tebak Akmal. Sayangnya, tebakannya kali ini salah besar.
"Nggak Kak, emang Nabila beberapa Minggu terakhir suka nanya kabar Kak Fais ke Kak Akmal? Nggak kan. Sok tahu ah Kak Akmal."
Tidak ada angin tidak ada hujan, Nabila tiba-tiba merampas paksa botol plastik dalam genggaman Akmal. Saking surprisenya, Akmal sampai lupa menelapung barang dagangannya tersebut.
Dan habis merampas paksa, usaha Nabila tidak sampai disitu. Ia menarik pergelangan tangan Akmal yang tentunya bikin Akmal cenat-cenut. Secara--kulit ketemu kulit. Kemudian berlabuh pada kursi malas tidak jauh dari lokasi. Mereka duduk berdua diatas ratapan Nabila.
"Kak aku di putusin."
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
__ADS_1
"Kak Akmal, Nabila di putusin Kak Fais."
Iya dengar. Akmal hanya speechless. Dalam lubuk hatinya, dia bingung harus senang atau bersedih. Sampai seutas senyum kecil muncul dari belah bibir Akmal.
"Kok Kakak malah senyum?" Jelas Nabila menyelidik. Gelagat Akmal masuk kategori aneh. Harusnya menurut Nabila, sebagai teman yang baik ketika teman tertimpa masalah maka ikutan perihatin. Tapi Akmal malah tersenyum manis.
Good job is. Emang gua yakin lu pasti bisa.
"Kaaak"
"Eh iya, maaf Kakak jadi bengong. Ya udah mau gimana lagi. Kalau menurut Kak Akmal sih itu yang terbaik buat Nabila." Akmal senyum lagi. Tanpa disadari efek samping dari segala respon Akmal di tanggapi besar kepala oleh Nabila. Gadis itu menebak kalau Akmal suka dengan dirinya.
"Kenapa yang terbaik?"
"Ya kan biar Nabilanya gak sakit hati lagi nunggu kabar. Biar gak bertepuk sebelah tangan."
"Nabila mau minum apa? Yang dingin apa yang anget?"
"Apa aja, yang sekiranya cocok buat orang yang patah hati."
Rumit. Tidak heran Akmal bersikukuh kalau wanita itu rumit. Memangnya apa minuman yang cocok buat orang yang sedang patah hati?
"Yaudah kalau gitu kakak ke dalam dulu ya mau bikin bandrek." Jawab Akmal sekenanya.
__ADS_1
"Kak, apaan sih panas gini dibikinin minuman itu. Nabila mau cappucino pakai es."
"Hehe, gitu dong. Kan Kakak jadi gak kebingungan."
Akmal masuk ke dalam rumah betulan untuk membuatkan pesanan capuccino Nabila. Sampai detik berikutnya, Akmal tergopoh-gopoh keluar hanya untuk pamit pada Nabila ke warung, membeli bahan pesanan minuman tersebut. Dan...
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam" Jawab Akmal dan Nabila.
Entah apa alasannya, kedatangan mobil merah tidak diketahui kapan datangnya memasuki pekarangan rumah Akmal. Sampai seseorang di dalamnya menyapa salam. Menyadarkan bahwa tamu yang datang adalah Fais.
Akmal kikuk, Nabila apalagi. Gadis itu bahkan langsung menundukkan wajahnya dalam. Seperti tidak mau menatap Fais barang sedikitpun. Ia tidak marah. Hanya--timingnya pas sekali seperti ia sedang ketahuan diam-diam ternyata..
"Eh lu is, gua sampe gak nyadar lu datang. Hehe maaf ya.."
"Iya santai aja. Ada Nabila juga disini ternyata. Hai Nabila, apa kabar?"
Yang di sapa gelagapan.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...