Tulisan Fais

Tulisan Fais
Kondangan


__ADS_3

Fais sudah rapi dengan setelan kemeja batik di padukan jeans hitam. Wangi sudah, ganteng juga sudah. Amplop pun sudah rapi di isi dengan uang. Tidak lupa ia menerawang untuk memastikan bahwa amplopnya betulan sudah terisi. Lalu sang penulis novel itu bergegas menjemput partner kondangan yang tak lain dan tak bukan adalah Akmal.


"Mah, Fais pamit mau kondangan dulu sama Akmal." Lah ada Maya disini?


"Cie..cie.. kaget ya ada Maya disini?" Kalimat provokasi Mamah memenuhi dapur. Menerobos kecanggungan diantara Maya dan Fais.


Sementara Fais masih memandangi Maya dengan tatapan heran, Mamah langsung memberi penjelasan pada Fais kalau Maya disini atas permintaan undangan Mamah.


"Maya sengaja Mamah suruh kesini buat bantuin masak is."


"Masak? Sebanyak ini buat apa Mah?" Pertanyaan boleh di tunjukkan pada Mamah. Namun mata masih saja enggan beranjak dari memandangi pergerakan Maya. Gadis itu sedang mengaduk daging sapi dengan bumbu yang sudah di racik, kemudian di cucuri kecap secukupnya dan di masukan ke dalam panci presto.


Senyum Fais mengembang. Calon pacar pinter masak juga.


"Ada deh. Yang penting kamu kondangannya jangan lama-lama ya? Cepet balik. Soalnya Mamah sama Maya nunggu."


"Iya Mah. Acara apa si ini ya? Perasaan nggak ada pembicaraan soal syukuran apapun." Setelah mengatakan kalimat pertanyaan retoris, Fais pamit dan berlalu meninggalkan Mamah bersama Maya yang asyik berkutat di dapur. Ada kelegaan di hatinya melihat dua wanita yang dicintai dengan cara yang berbeda saling mengisi satu sama lain. Mamah memang kurang beruntung dalam hal kesetiaan pasangan, namun Mamah berhak bahagia dengan memilih Maya menjadi menantunya.


Hati yang menghangat menyertai perjalanan Fais menuju rumah Akmal.


.............


Di tempat hajatan berada.


Hiburan orkes dangdut sudah menunjukan nada-nada pembukaan. Artis-artisnya sudah merapikan diri untuk menunjukan suara merdunya lewat tembang lagu yang akan di putar. Tidak sedikit segelintir orang menitipkan lagu untuk di bawakan sang biduan. Tak terkecuali Akmal. Laki-laki itu bahkan ingin dirinya yang menyanyikan lagu di atas panggung tanpa perlu malu-malu pada para hadirin.


Fais membiarkan sahabatnya untuk berekspresi. Anak itu tidak menyangkal dan tidak juga mendukung Akmal dengan kalimat penyemangat. Namun perlu Akmal dan pemirsa tahu, Fais meskipun begitu orangnya, dia sangat menyayangi orang-orang di sekitarnya. Dengan caranya, dengan keterdiamannya.


Fais menyunggingkan senyum manakala netranya membidik tingkah nyeleneh Akmal mengambil tangga nada. Katanya, cek son cek son sayur cecek di makan Samson. Praktis membuat para hadirin tergelak seraya menengok ke arah tukang masak yang menunjukan barisan giginya saat sayur ceceknya di sebut-sebut.

__ADS_1


"Bercanda pemirsa, itu hanya tes tangga nada buat para tukang masak agar lebih bersemangat. Bukan begitu ibu-ibu?!" Akmal berinteraksi bak seorang MC. Membuat Fais lapar lalu melahap pisang Lampung yang teronggok di depannya.


Betul.. sorak ibu-ibu menggema.


Kok jadi gua yang malu ya. Fais mendumal.


Terdengar lagi suara Akmal mengambil nada, "Cek satu dua tiga.. " alunan intro piano pun sudah dapat di sesuaikan. Kali ini benar. Nggak pakai acara plot twist seperti tadi.


"Setiap keindahan...... Yang tampak oleh mata.....Hanya istri shalihah......Perhiasan dunia....."


Merdunya suara Akmal memilukan perasaan Fais. Entah kenapa alasannya dia pun tidak tahu apa yang tengah terjadi. Rasanya sedih mendera, mencabik-cabik seonggok organ yang bernama hati. Saat lagu berjudul istri Sholehah mengalun, wajah Mamah lah yang terlintas di benak.


Batin Fais berteriak kenapa wanita setulus Mamah di sakiti perasaanya, di khianati cintanya, di sia-siakan ketulusannya. Tidak mau kegalauan menang atas dirinya kali ini karena Fais tidak suka galau, dia segera menepis kesedihan dengan berjalan gontai ke arah panggung dimana Akmal sedang menunjukan kebolehannya.


Fais berbisik pada MC betulan untuk menitipkan sebuah lagu yang akan dinyanyikan selanjutnya.


.


.


Fais bangkit dari duduk ternyaman lalu membenahi penampilannya sebelum naik ke atas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada sang pengantin. Fais memindai eksistensi Akmal apakah sahabat karibnya itu sudah siap? pada akhirnya Fais menghela nafas saat dirinya melihat Akmal masih menempel di kursinya. Fais tak habis pikir, Akmal yang merengek pulang dia juga yang seolah masih ingin berlama-lama.


"Mal, hayo... jangan bilang nggak jadi!. gua udah berdiri nih." Tatapan Fais seperti akan memporak porandakan rambut belah tengah milik Akmal.


"Iya iya, ntar dulu. Lu duduk lagi is, bantuin gua."


Meskipun Malas, Fais mengikuti perintah Akmal untuk duduk kembali. Sebenarnya tengsin, tapi mau bagaimana lagi. Akmal kalau nggak di turutin bawelnya nggak kelar sampai tahun baru.


"Ngapa dah lu? kena jebakan lem terus lu nggak bisa berdiri?"

__ADS_1


"Bukan is, jadi ceritanya begini. Gua kan tadi beli amplop seribu ada empat biji, yang satu gua isi pakai duit. Yang tiganya lagi kan kosong ya? masa gua bawa yang kosong. Yang ada isinya gua tinggal di rumah."


"Kok lu pinter si Mal?!"


"Hehehe, lu baru tau ya kalau gua itu pinter. Jadi maaf nih gua minta isiin dulu sama lu. Nanti di rumah gua ganti."


"Berhubung gua baik, jadi nggak usah di ganti." Fais sibuk merogoh kocek untuk menyelematkan Akmal dari situasi genting.


"AH SERIUS!" pekik Akmal.


"Serius, kan gua mah baik orangnya." Sahut Fais masih dalam mode merogoh kocek.


"Is...is... maksud gua bukan itu. Coba lu tengok kesana!" Kepala Fais di paksa Akmal untuk menoleh ke arah dimana --Papah dan Sasmhita sedang berbicara satu sama lain.


"Ayo cepetan!" Seru Fais pada Akmal.


"Kemana kita?"


"Banyak nanya lu kaya Dora"


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2