Tulisan Fais

Tulisan Fais
Mamah sudah tahu


__ADS_3

"Gua bukan lagi tarik ulur perasaan perempuan Mal. Gua cuma lagi menjalankan peran gua sebagai manusia. Mana bisa gua lihat perempuan lagi gak berdaya lagi butuh kasih sayang, tapi gua malah pergi jauh dengan meninggalkan beban luka disana. Intinya gua lagi ngerasa gak tega aja."


"Gak tega nolak perasaan Nabila, dan gak tega juga biarin dia berdiri sendiri tanpa bantuan gua. Ya gua tau cara gua salah udah bikin dia kebawa perasaan. Perempuan mana sih Mal, diperhatiin sama laki-laki seganteng gua gak luluh hatinya. Tapi sumpah, tujuan gua bukan itu."


Akmal meringis. Ingin rasanya ia kemplang kepala Fais yang sudah disisir rapi. Tapi dia juga tak memungkiri, dirinya juga tak seharusnya menasehati di waktu yang nggak tepat.


"Is, kalau lu perlu bantuan, gua siap meluncur." Kata Akmal sembari menepuk-nepuk pundak Fais. Hanya itulah sekarang yang pantas dia ucapkan sebagai sahabat.


"Iya"


Dan acara kabur-kaburan telah berakhir dengan pamitnya Fais kembali ke rumah. Jujur, Akmal begitu cemas dengan kondisi Fais yang sekarang. Diam-diam Akmal membuntutinya.


...........


Kembalinya ke rumah, Fais pikir dirinya bisa rebahan lagi di kasur tanpa ada gangguan. Nyatanya pikiran itu harus di buang jauh-jauh manakala netranya menangkap sosok Papah duduk di depan televisi.


Papah menatap Fais, Fais pun demikian. Tidak ada obrolan penting apapun yang keluar, meskipun ada, hanya berupa omongan yang di ragukan keasliannya. Hanya soal maaf, khilaf, dan janji. Tiga kata itu entah sejak kapan di telinga Fais menjadi tidak penting jika keluar dari mulut Papah.


Papah pun merasa anaknya berubah sikap. Maka ia putuskan pagi ini untuk mengambil cuti dadakan demi meluruskan yang seharusnya diluruskan. Tanpa tahu hasil akhir seperti apa dari sebuah niatan.


Fais tak menyapa-Papah pun tidak berani untuk bertegur sapa. Mereka bagai dua orang asing yang tak saling mengenal.

__ADS_1


"Is, sudah sarapan? Oh iya Papah mau ngajakin liburan bareng. Papah sampai cuti hari ini is." Kata Mamah. Membuat Fais hilang kontrol emosional. Lantas Fais mendengus tidak suka.


"Kamu kenapa?" Bu Imah tidak bisa di bohongi lagi. Tatapannya terlempar jauh menyelami pikiran anaknya.


"Emangnya Mamah belum di ceritain AYAH?" Fais menekankan panggilan kesayangan antara Papah dengan Sasmitha.


"Ayah? Ayah siapa sih is?"


Papah kalap dan langsung menyela pembicaraan. Sorot mata Papah mengatakan jangan lakukan itu jika tidak mau orang tua bercerai. Lagi-lagi ancaman Papah adalah cerai.


Fais diam, bukan berarti anak itu mau di suap dengan kolase merana akibat orang tua bercerai. Fais hanya memberi jeda untuk dirinya mengambil nafas. Maka diamnya Fais di anggap membenarkan lelucon Papah untuk mendiamkan istrinya.


Ibu itu diibaratkan jantungnya rumah. Kalau penghuni rumah saling tidak menyapa, saling menunjukan sisi lain yang mengerikan, jantung itu akan berdetak kencang diluar batas kewajaran. Sama halnya dengan Bu Imah yang semakin bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada orang-orang penting dalam hidupnya.


Sekalipun ada masalah dengan jantung itu, Maka seisi rumah seperti tidak hidup. Hampa. Jauh dari kehangatan seorang ibu berupa sentuhan cinta lewat masakan, lewat pertanyaan receh sehari-hari seperti 'is tadi di kampus jajan apa?' atau mungkin bertanya kondangan bagusnya pakai baju yang mana sambil menjembreng dua baju pilihan.


Kanan dan kiri beda model beda warna. Fais sering sekali terjebak dalam situasi ini. Sekalipun dia berpikir keras, menimbang dari segi cuaca, lokasi kondangan yang di tuju dan banyak kriteria lain yang jadi bahan penilaian. Ketika Fais telah menjatuhkan pilihan, dengan enteng Bu Imah menjawab ". Tapi kayanya Mamah lagi kepengen pakai yang ini aja deh is." Menyebalkan bukan?


Dan sekarang, jika Fais memutuskan untuk tidak lagi menghindar. Apakah Mamah akan sama seperti kemarin-kemarin? Jawabannya tidak.


"Is, ada apa?" Lirih Bu Imah. Air matanya turun tanpa permisi sontak membuat Fais terlonjak kaget. "Mah" Fais mengusap air mata dengan telapak tangannya. "Mamah jangan kaya gini."

__ADS_1


"Fais kenapa sama Papah?" Bu Imah masih bertanya dengan nada rendah.


Fais menghela nafas, membuangnya pelan kemudian meraih ponsel di laci nakas. "Ini Mah" pasrah. Memang sebaiknya ia tidak menutupi dengan alasan apapun. Ada istilah yang namanya bangkai mau di tutup serapat apapun lama-lama pasti baunya akan kecium.


Nah, lama-lama itu pasti memakan banyak waktu, memakan banyak tenaga dan juga pikiran. Daripada harus rugi berkali-kali lipat, lebih baik bangkainya itu dikuak sedini mungkin.


Bu Imah istighfar berulang kali. Sembari mengusap dadanya yang perih berharap usapannya mampu meluruhkan rasa perih tersebut. Berharap sah-sah saja meski Bu Imah tahu betul harapannya akan sia-sia. Sebab yang nama perselingkuhan akan selamanya menyakitkan sepanjang ingatan.


"Mah, minum dulu mah. Tarik nafas lalu buang pelan. Atur dulu nafasnya. Tenang Mah Fais akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk Mamah." Fais terus saja meracau efek panik reaksi Mamah gundah gulana.


Di moment anak itu mengembalikan ponselnya ke dalam laci, Mamah keluar tanpa permisi dengan pikiran yang kalut.


"Mah"


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2