Tulisan Fais

Tulisan Fais
Rencana Ibu


__ADS_3

Berat hati Bu Imah mengucapkan sesuatu yang dapat menerjunkan semangat Fais.


"Sumpah is, Mamah gak metik. Mamah kira kamu sudah ambil terus di bawa ke rumah teman kamu." Dengan tampang hati-hati, sang ibu melongok ekspresi putranya. Melihat apakah ada bencana yang akan terjadi mengingat bagaimana Fais dengan begitu telaten merawat semangkanya.


Kalau waktu bisa di ulang, Fais ingin waktu kembali menjadi pagi. Agar pada saat ibunya menyuruh untuk di petik, dia iya kan tanpa berpikir panjang.


"Ya sudah, mau bagaimana lagi." Lesu menyerang persendian. "Memang Fais di takdirkan hanya untuk menjaga dan tidak bisa menikmati." Badan lemasnya ia seret menuju Ayunan.


Fais tergeletak tak berdaya di atas ayunan malas. Pisau yang di genggam segera ia titipkan ke ibunya untuk di bawa kembali ke habitat. "Mah, siapa yang tega melakukan ini semua?"


Fais masih belum terima dengan nafas yang tidak beraturan. Sang ibu merasa iba, dan akhirnya mengusulkan ide siapa tahu dapat mengungkap pelaku kejahatan tersebut.


"Is, kamu ingat pas waktu tadi pagi saat kita pergi berpencar dengan urusan masing-masing, ada bocah lewat depan rumah sambil cengengesan ke kamu?"


Tenaga seketika menyuplai kembali ke dalam tubuh Fais yang lunglai. Anak itu sudah tidak lagi tergolek lemah di ayunan. Ia duduk dengan tampang ingin smackdown.


"Bocah tengil itu pelakunya?"


"Ya gak juga, maksud Mamah selidiki dulu. Caranya kamu sekarang beli semangka, atau gak nanti abis magrib aja."

__ADS_1


Alis Fais meninggi dengan dahi berkerut. "Terus?"


"Sudah beli saja, nanti Mamah jelasin cara kerjanya." Jelas Bu Imah sembari menaik-turunkan alis guna menghibur anak semata wayangnya yang sedang nelangsa. Jauh di lubuk sana, ada secercah tawa yang hampir lolos dari mulut Bu Imah jika mengingat anaknya begitu antusias memainkan drama.


Selucu apa pun yang menimpa sang anak, Bu Imah sebisa mungkin tidak akan menertawainya. Sebab, prinsip Bu Imah tidak akan tertawa dia atas kepedihan. Menghilangnya Zenun dari tangan orang yang amat menyayanginya merupakan sesuatu yang betul-betul menyayat hati.


"Ya sudah kalau begitu." Dengan perasaan sedikit penasaran pada apa yang akan di rencanakan Ibunya, Fais beranjak dari ayunan kemudian memilih untuk membersihkan diri. Mengguyur kegalauan dengar air agar hanyut bersama para daki dan bakteri.


Setelah langit sepenuhnya menenggelamkan cakrawala, lalu menggantinya dengan hitam ke abuan, Fais yang masih menggunakan sarung sehabis menunaikan sholat magrib segera mecopotnya lalu berpacu dengan waktu mencari kunci motor.


"Fais anak Mamah yang ganteng gak makan dulu?"


"Gak ada waktu Mah buat makan dulu sebelum eksekusi. Mamah sama Papah jangan makan duluan sebelum Fais makan ya. Tunggu anakmu ini kembali. Beli semangka paling sebentaran." Seru Fais sambil mempersiapkan motor matic sang ibu yang teramat susah disiapkan ketika buru-buru melanda.


Selang beberapa detik terlewat, saat Fais sudah menghilang di kejauhan, Ayah Fais pulang seperti biasanya dengan menenteng banyak makanan di tangan. Lebih parahnya, Ayah Fais ternyata menenteng beberapa kantung buah dan satu bulat semangka.


"Idih Papah.." pekik Bu Imah, otomatis Bu Imah membelalakkan mata saat melihat semangka berada dalam tentengan.


"Kenapa Mah? Papah salah lagi ya?" Dengan tampang tak mengerti, Ayah Fais menaruh asal buah tangannya. Mencoba menerka apa lagi yang terjadi. Apakah ada yang terlewat di luar pengamatannya?

__ADS_1


Setelah melepaskan beban di tangan, Ayah Fais memeluk erat dan mencium pipi sang istri.


"Pah, hentikan. Geli hehe.."


"Mamah kenapa?" ketegangan yang terbalut dengan ketenangan seketika mulai mengendur perlahan dari wajah Ayah Fais saat pujaan hati mencetuskan tawa di sela interaksi mereka.


"Papah bawa semangka gak bilang-bilang. Soalnya Fais sekarang lagi pergi beli semangka Pah. Eh atau jangan-jangan ini semangka Fais yang Papah petik ya?"


"Papah mana tau kalau Fais mau beli semangka. Ini Papah beli tadi sama buah yang lain juga. Oh ya Mah, memangnya Fais punya tanaman semangka?"


Pertanyaan yang terlontar terdengar miris kalau saja di bandingkan dengan masa-masa sebelum Ayah Fais sibuk dengan kesibukan baru. Dulu, tidak ada yang tidak tahu satu hal pun tentang kisah menyangkut anaknya. Soal kebiasaan, kesukaan, kegiatan, apa yang lagi disuka, bahkan soal rasa yang sedang anaknya rasakan.


"Punya Pah, tumbuh tidak sengaja di pekarangan rumah. Dia yang menemukan, selama itu juga dia yang merawatnya."


Sebelum pertanyaan embel-embel lain mencuat, kalimat pamungkas bisa jadi pilihan ketika enggan menceritakan cerita yang kepalang begitu panjang dan lebar. "Besok Mamah ceritain." Katanya, sudah cukup untuk menunda penjelasan setidaknya sampai esok hari.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2