
"Pah, Fais tahu papah cuma ikut perkumpulan. Hanya bersosialisasi dengan teman dan juga menyalurkan hobi. Fais hanya pesan sama Papah, jangan sampai salah jalan tergoda oleh istrinya Badrun." Kata Fais mencermahi ayahnya. Ceramahnya pun langsung pada inti.
"Lah memangnya ada apa sama dia?"
"Dia terkenal menggoda suami orang, bukan suami juga sih duda juga, bujangan juga iya. Jika sudah kena umpannya dia akan menjelma menjadi peminta-minta. Kalau sudah diminta-minta habislah korbannya jadi gembel."
"Kata siapa kamu is? Tahu aja kehidupan orang lain."
"Gak penting Fais tahu darimana, yang penting papah harus bisa memilah mana yang benar mana yang tidak." Ocehan Fais bagai mengajarkan ikan untuk berenang.
"Iya is, Papah juga punya pikiran. Mana mungkin Papah main gila sama istrinya Badrun. Apa kata orang nanti, mana rumahnya dekat calon besan, mau di taruh dimana muka Papah kalau sampai itu terjadi."
Eeeittss, apa tadi katanya? Calon besan? Maksudnya bagaimana ini, ada yang bisa jelaskan?
"Papah ngomong apa sih." Ada garis senyum yang terangkat di ujung bibir Fais. Anak itu pasti sudah paham betul maksudnya. Maksud Papahnya meledek hubungannya dengan Maya.
"Rumah Badrun dekat sama rumah Maya. Tapi Papah gak tahu Maya itu siapa, ada yang bisa menjelaskan?" Ayah Fais mengulum senyum. Fais di buat salting sampai bocah itu merengek pada sang Ayah agar menerapkan mode serius di saat seorang anak sedang memberikan petuah.
"Maaah, lihat tuh Papah." Fais berteriak sampai Bu Imah yang sedang di belakang membereskan bekas makan tadi menongolkan kepalanya. Ia pun hanya bisa tertawa merespon aksi lucu bapak dan anak ini.
"Obrolan kita sudah berakhir, pokoknya ingat ya Pah pesan Fais. Jangan sampai tergoda."
"Iya is iya." Jawab Papah masih menyisakan tawa. "Hp Papah gak jadi di periksa nih?"
"Jadi, sini Pah."
__ADS_1
..........
Beberapa hari terlewat.
Pagi ini begitu cerah daripada hari kemarin. Fais terbangun lalu mengerjap kaget saat melihat jam dinding menunjukkan angka delapan. Berarti, pagi ini bukanlah pagi yang lebih cerah. Melainkan memang matahari sudah mulai meninggi.
Fais segera terbangun dari tidurnya lalu mencari handuk beserta peralatan-peralatan yang dibutuhkan. Ia bahkan tidak memiliki waktu untuk berguling kesana kemari mengumpulkan nyawa, dan cepat-cepat meluncur ke dalam kamar mandi.
Satu jam kemudian.
Yang betah berlama-lama di kamar mandi pun sudah beres dengan urusannya. Menghasilkan Fais yang rapi, bersih dan wangi. Kini saatnya, ia sarapan dalam kesendirian.
Ya sendirian, karena sudah menjadi kebiasaan setiap hari libur tiba, Ayah Fais selalu mengajak istrinya untuk berolah raga. berlari kecil mengelili komplek perumahan di kampung sebelah.
Sejak pertama kali Ayah Fais mendengar keluh kesah keraguan istri dan anak, sejak itu pula ia intropeksi dan merubah sikap. Dari hal-hal sederhana pun pasti akan terasa begitu berbeda ketika salah satunya menunjukan perubahan.
"Heh, kocheng. Uduk gua itu!"
Bungkusan di atas meja makan sudah tidak beraturan. Isinya berhamburan lewat kertas yang tercabik-cabik si oyen. Oyen memang sering kedapatan makan tanpa permisi.
"Meong"
Percuma juga Fais mengeluarkan tenaga untuk marah-marah seperti biasanya. Karena yang keluar dari si pencabik-cabik itu hanyalah "meong".
Fais segera mengambil ponsel di dalam kamar, mendial nomor 'mamake' meminta di belikan sarapan kembali. Tidak harus menunggu lama-lama, orang tuanya kembali membawa tentengan bubur ayam.
__ADS_1
"Mah, Papah minta ijin buat pergi sama komunitas. Ada bakti sosial untuk korban gempa di kota xx." Ayah Fais menatap manik istrinya, mencari-cari masih adakah keraguan disana.
"Ya sudah Mamah ijinkan, hati-hati ya Pah."
"Iya Mah, Fais ijinin Papah tidak?" Giliran lelaki itu menengok ke arah bocah yang sedang asyik menyiram semangka sambil berdendang.
"Fais satu paket sama Mamah. Jadi ikut keputusan permaisuri aja. Kalau Raja mau pergi silahkan." Terang Fais masih berhalu di dalam dunia novelnya sendiri. Mengindikasi bahwa dia adalah seorang pangeran. Pangeran yang pagi-pagi sudah adu mulut dengan seekor kucing.
"Is, semangkanya sudah bisa di panen tuh. Petik aja sekarang." Seru Bu Imah melihat dengan mata yang melirik-melirik kemana jatuhnya air siraman Fais.
"Iya ya mah, nanti deh agak sorean. Sekarang masih pagi, biarkan dia hidup lebih lama lagi." Fais menampakkan senyuman yang mematikan.
"Ya sudah."
Bu Imah lantas bercerita bahwa siang ini ia akan pamit ke rumah sanak saudara. Jika begitu, tinggalah Fais seorang diri yang belum memiliki rencana.
Ketika sedang berfikir aktivitas apalagi yang akan di lakukan, Fais teringat bahwa sepeda motornya belum ganti oli hampir tiga bulan. Ide sambil menyelam minum air muncul, ke bengkel ganti oli sembari mencari informasi terkait hutang-hutang Ayahnya merupakan aktivitas luar biasa.
Nyamper Akmal ah.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....