
Fais mengusap bibir Maya yang basah dengan jemari. Lalu Ia menjauh memberikan sedikit jarak agar Maya bisa membaca situasi apa yang sedang di hadapinya. Perempuan itu membeku dan tak tahu harus berkata apa pada laki-laki yang telah membuat perasaanya carut-marut. Hanya ringkih nafas yang tersisa, mengarungi setiap keheningan yang tercipta.
"Aa nggak mau jadi teman kamu May."
Pandangan Maya memburam. Mengembun menjadi tetesan air mata di malam yang teramat dingin. Maya merasa--dirinya menjadi orang yang akan di tinggalkan dalam kesendirian yang panjang. Merangkup di setiap sudut rasa yang yang akan menyiksa secara perlahan. Rupanya gadis tersebut tidak mampu menyerap dengan baik setiap sentuhan lembut di bibirnya yang baru saja terlewati dengan indah.
"Maksud aa? Apa Maya bukan teman yang baik sampai Aa nggak mau berteman sama Maya lagi?"
Fais meraih tangan Maya sambil tersenyum. Detik kemudian, lelaki berhidung mancung itu mencium tangan gadis kesayangannya seperti adegan film romantis yang pernah Maya lihat. Drama-drama yang pernah Maya tonton seolah sedang terjadi pada dirinya sekarang.
"Kamu itu gadis pujaan hati aa, jadi nggak pantes kalau buat di jadikan teman. May, aa nggak tahu ini namanya apa? Yang pasti setiap aa memejamkan mata, bayang-bayang senyum Maya begitu jelas memenuhi kepala. Begitu juga dengan bangun tidur. Pertama kalinya aa sadar dari alam mimpi, yang aa ingat senyum manis Maya lagi."
"Jadi.." lirih Maya.
"Iya.. Jadi mau kan Maya menjadi kekasihnya Aa Fais?"
Tangan Fais yang tadinya mengeggam kedua tangan Maya beralih fungsi memegangi pipi gadis tersebut. Dengan tatapan yang sama persis pada cuaca malam itu, Fais mencoba meyakinkan Maya bahwa dirinya sungguhan ingin serius menjalani hubungan di luar batas kewajaran. Oh bukan. Maksudnya hubungan lebih dari sekedar teman. Tatapan teduh itu mampu melenyapkan Maya dalam ruang keraguan.
"Nggak mau ya?"seru Fais sebagai suara pertama dalam keheningan bermenit-menit yang lalu.
"Maaf a..
Dengan sepenggal kalimat itu saja, mampu merubah air muka Fais menjadi sendu. Fais lesu. Fais belum siap atas penolakan.
"Maya tertegun sama pengakuan Aa Fais. Jujur, malam ini kaya mimpi buat Maya."
__ADS_1
"Mimpi?"
"Iya a, mimpi. Selama ini Maya juga diam-diam suka sama aa. Tapi Maya gak punya keberanian buat bilang yang sebenarnya. Selain karena Maya seorang perempuan, ada tembok pembatas dimana Maya selalu minder kalau deket sama a Fais."
"Maya.. jangan pernah merasa kecil di hadapan orang kaya Aa. Aa Fais nggak sebaik yang Maya kira. Malah harusnya Aa lah yang merasa jadi laki-laki sangat beruntung kalau ternyata Maya punya perasaan yang sama dengan apa yang Aa rasain. Jadi.. Maya mau nih jadi kekasih Aa? Fais memastikan sekali lagi dengan ujung bibir tertarik keatas.
Maya pun mengangguk mantap lalu disambut senyum sumringah Fais dengan gaya selebrasinya.
"Kalau gitu..." Fais mulai menghapus kembali jarak diantara mereka. Dengan pelukan yang semakin erat, Nafas laki-laki itu sudah menyapu wajah Maya yang praktis memejamkan mata. Dengan suara berat, Fais berkata " Selamat malam kekasihku"
Maya membuka mata. Agak sangsi Mendapati Fais sedang cengar-cengir ke arahnya. Apa yang pemuda itu pikirkan tentangnya sekarang? Rasanya--Maya malu sampai ke ubun-ubun.
"Mau apa hayo?" semena-mena Fais mencubit hidung Maya agar gadis tersebut tidak lagi merasa canggung. Akibat ulah Fais barusan, Maya mendadak berkeinginan memukul manja.
"Tadi mata Maya kelilipan a, jadinya merem" dalihnya.
Fais menilik wajah Maya secara intens. Pemuda itu betulan memeriksa kelopak mata Maya dengan sorot matanya yang bening. Bukan memeriksa mata Maya sungguhan pemirsa. Mata jernih Fais jatuh kembali pada bibir ranum gadis tersebut. Tahu kan apa yang kembali terjadi?
.
.
.
"Wahai Kekasihku, aa pulang dulu ya udah malam. Oh ya, kalau kangen bilang ya. Soalnya nggak bagus rindu itu di pendam. Takut jadi penyakit May." Kata Fais dengan merapikan anak rambut Maya yang terburai.
__ADS_1
"Iya a. Nanti kalau Maya kangen pasti bilang-bilang kok. Aa tunggu sebentar, Maya mau ke dalam kamar ambil sesuatu buat aa."
Malam yang sunyi hanya memperdengarkan gemercik air hujan yang mulai sedikit. Detakan jarum jam di ruang tamu menginterupsi seseorang yang sedang menanti. Fais tersadar, untuk menilik angka pada jam dinding di atas meja televisi. Waktu telah menunjukan pukul sebelas malam.
"Ini a" Maya menyodorkan sebuah gelang kepang dengan corak yang netral.
"Emang nggak seberapa nilainya, tapi ini hasil karya Maya sendiri. Gelang ini Maya buat khusus buat seseorang yang akan jadi pasangan Maya. Jadi.. ini untuk aa. Dan Maya juga pakai kembarannya nih" Maya mengangkat pergelangan tangan kanan dan menunjukan pada Fais bahwa dia pun memakai gelang yang sama.
"Wah, terimakasih banyak May. Kamu sudah menjadikan Aa orang yang berharga."
Maya tersenyum
"Jangan jadikan gelang ini sebuah beban untuk selalu terikat dengan Maya ya a. Anggap saja ini memang sebuah hadiah biasa. Kan kita nggak pernah tahu kedepannya akan kaya gimana. Jadi... anggap saja ini cinderamata dari seorang gadis desa seperti Maya. Yang menuangkan ekspresinya lewat sebuah karya tangan."
Fais ingin bertanya lebih jauh perihal penuturan Maya barusan. Namun waktu sudah tidak kondusif untuk di pakai berbincang lebih banyak. Pada akhirnya, Fais segera menyudahi pertemuan mereka dengan sebuah usapan di surai panjang gadis tersebut.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Kalau perasaan kamu sudah berubah, tolong kasih tahu ya. Kasih tahu aja biar aku tahu. Aku nggak akan balik kanan bubar kok. Aku masih di tempat yang sama dimana kamu ingin menemukanku. (Maya)
Semangat Maya. Berkomitmen dalam suatu hubungan emang tidak mudah. Dan kamu menyadari itu sejak awal.