
Malam semakin malam. Di ruang tamu, sejak dulu tenggelam bertahun-tahun lamanya. Pemandangan langka nampak muncul kembali berkolase bagai lukisan terbaik dari sebuah karya seni. Fais menonton televisi di jam-jam ia memproduksi tulisan. Di jam ia bermalasan berguling kesana-kemari sembari menebar kata-kata kiasan yang makjleb di hati.
Isinya soal bahagia. Tidak pernah Fais menulis selain tentang bahagia dan juga cinta. Alasannya cukup sederhana, untuk memotivasi seseorang agar lebih hidup menjalani hidupnya. Sederhana bukan? Namun sangat pas di hati.
Suatu hari, pernah Fais melontarkan quotes sebanyak yang ia bisa. Isinya tidak jauh-jauh dari persoalan cinta. Bukan hanya cinta pada dua sosok manusia antara laki-laki dan perempuan, banyak ia bahas soal cinta dalam arti luas. Antara orang tua dan anak salah satunya.
Dan di saat hari yang sama, tanggapan-tanggapan pemirsa membanjiri kolom komentar. Sampai Fais menemukan sebuah pertanyaan seperti ini. "Bang, kok bahasnya soal cinta mulu sih? Emang harus banget punya cinta ya?" Lalu Fais menjawab komentar tersebut diantara ribuan komentar lain.
"Lah tanpa cinta kita bukan apa-apa."
Hanya begitu saja lantas komentar lain masuk bertubi-tubi. Tring...tring..tring..
"Huayooh"
"Awokawokawok"
"Alamak"
Hari itu pun di nobatkan sebagai hari jatuh cinta berjamaah. Catatan bersejarah bagi seorang Fais Nicholas Saputra. Begitu Akmal menyebutnya. Nama itu bukanlah sungguhan, hanya panggilan kesayangan Akmal pada Fais. Yang benar adalah Fais Mahda Wardana.
Kegiatan saat itu kontras dengan apa disajikan ruang tamu pada hari ini. Tidak ada Papah, tidak ada Mamah. Fais dengan bayangannya bersedekap dada sambil selonjoran di atas sofa. Matannya geming menyoroti Starla sedang galau. Entah Starla bicara apa, yakin 100% Fais tidak sedang menyimak. Sebab jika dia dengar pasti anak itu mengumpat karena cerita sinetron tersebut tidak berbeda jauh dengan kisah yang membuat pengap rumah ini.
Kalau ada Mamah di sofa ini, Fais sudah pengang mendengar Mamah mencak-mencak Mengelu-elukan Niko. Menuding televisi dengan gagang sapu sebagai kambing hitam naiknya tensi darah Mamah. "Kalau lagi ada adegan bikin kesal, matiin aja tv nya." Solusi Fais saat itu dengan menongolkan kepala di pintu kamar. Mamah pun nurut begitu saja sembari mendengus.
Tuk.. bunyi saklar on/of terdengar nyaring.
__ADS_1
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
Tuk...
Mamah tidak akan beranjak tidur kalau belum habis sinetronnya. Ia menyalakan kembali tv-nya sembari nyengir kuda ke arah Fais. Seakan gigi Mamah mengatakan "penasaran is". Fais geleng-geleng kepala di dalam kamar.
Sialnya, saat ini Fais malah semakin merana di rundung kegalauan. Keputusannya menonton televisi untuk mengalihkan kegalauan malah tambah teringat Mamah. Di tengah-tengah perhelatan suara tv, ada suara isakan Mamah yang terdengar begitu pilu. "Saya jadi istri gak banyak nuntut. Abang saya urusin makan, pakaian, dan perhatiannya. Tapi kenapa Abang tega banget sama saya sih bang.... Hu..hu..hu.. ya Allah."
Suara Papah belum terdengar menjawab. Hanya saja Fais tiba-tiba merasa tercekat, tenggorokannya bagai gurun pasir di tengah terik matahari. Ia berlalu ke dapur mencari sesuatu yang berguna untuk mengusir rasa hausnya. Dari dari arah sana, isakan tangis Mamah semakin terdengar jelas.
"Papah minta maaf mah. Cuma itu yang bisa Papah ucap. Sebagai tanda bukti, ini kartu SIM Papah silahkan Mamah patahkan sendiri."
"Sumpah Mah Papah gak ngapa-ngapain. Mau kemper gak bisa balik lagi kalau Papah ngapa-ngapain dia." Kata Papah begitu meyakinkan. Namun di lihat dari bukti percakapan yang Fais dapat, pesan suara begitu mesra layaknya suami istri.
"Jangan sembarangan kalau ngomong."
"Mah, maafin Papah ya. Papah gak ada kuasa buat janji sama Mamah, Papah ngerasa janji Papah kedengeran begitu busuk di telinga Mamah dan Fais. Tapi Papah mohon, Mamah kasih kesempatan untuk Papah memperbaiki ini semua."
Isakan terdengar mereda. Hanya suara Papah merintih memohon pengampunan Mamah yang hanya diam tak bersuara.
"Ya sudah, saya kasih kesempatan lagi buat Abang. Sekali lagi Abang bikin kecewa, gak ada pilihan lain. CERAIKAN saya bang."
__ADS_1
"Mah jangan ngomong kaya gitu."
"Sanggup gak?" Kata Mamah menyela.
"Sampai kapan pun gak ada kata itu."
"Jangan egois bang."
"Siapa yang egois?"
CUKUP! Fais memekik, sayangnya hanya dalam hati. Maka tak mampu menghentikan polusi suara yang diciptakan Papah dan Mamah. Terus saja perdebatan diperdengarkan, mungkin akan memakan waktu yang cukup panjang. Setidaknya dengan kata cukup itu mampu mengenyahkan segala keributan di kepala yang amat terasa pening. Fais beranjak pergi. Ia meninggalkan dapur, bukan untuk masuk ke kamar lalu tidur dengan baik seperti anak yang patuh. Ia menyambar jaket sekenanya lalu pergi tanpa arah.
.............
Sementara itu di tempat yang lain.
Maya terus saja bolak-balik aplikasi Noveltoon demi memeriksa tulisan Fais dengan nama pena FMW. Padahal Maya tahu, jika up pasti akan mendapat notifikasi. Kenyataan telah mengatakan padanya bahwa sudah beberapa hari belakangan Fais tidak mempublish apapun disana. Maya gusar. Perasaannya mendadak tidak enak, seperti terbesit bahwa Fais lagi tidak baik-baik saja.
Di tengah kebimbangan antara mengirimkan pesan pada Fais atau tidak, Ibunya mendadak berteriak. "May... Ada aa Fais nih"
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...