
Sasmhita itu orangnya kalem kalau lagi bertamu. Memanggil Mamah dengan sebutan ibu sangat terdengar lembut. Tingkahnya seperti calon menantu bertandang ke rumah calon mertua. Ayu tenan. Aslinya, saat Mamah tidak nampak lagi di hadapannya, tahu-tahu mengeluarkan ponsel lalu bermelet-melet ria untuk di bagikan ke media sosial.
Sesekali Sasmhita mencuri-curi pandang pada Papah. Papah kikuk. Papah laki-laki polos tak pernah keluar jalur mendapat perlakuan seperti itu besar kepalanya bukan main. Ia kira segitu gantengnya hingga istri orang begitu tergila-gila. Padahal itu adalah salah satu trik menggaet laki-laki agar baper. Papah tidak tahu saja, Sasmhita banyak serepan dimana-mana.
Fais tidak tahu alasan apa yang menjadikan Papah jatuh kedalam kubangan lumpur pekat. Bisa-bisanya Papah tergoda wanita modelan tauco basi macam Sasmhita. Fais hanya bisa menghela nafas panjang saat fakta demi fakta yang terkuak dari penuturan Nabila tentang seorang Sasmhita.
Papah gak bisa lihat mana perempuan mana ulat bulu sih. Parah!. Gerutu Fais dalam hati.
"Nabila juga bingung sih kak, kenapa om Badrun susah di kasih taunya. Kalau di kasih tahu malah marah-marah rumah Nabila sampai di gedor-gedor gak terima. Padahal Mama sudah kasih bukti, eh tetap aja katanya keluarga Nabila hanya iri dan berusaha menjelek-jelekkan istrinya."
"Padahal emang jelek ya?" Kata Fais menyahut. Namun matanya masih bersitatap dengan layar ponsel.
"Iya kak, jelek. Jelek kelakuannya. Sampai Nabila aja malu anggap dia bibi." Nabila memutar bola mata jengah. Lalu tahu-tahu menyergap tangan kiri Fais yang sedang bersantai ria. Fais langsung meletakan ponselnya ke dalam saku, lalu netranya menatap lamat pada tangan yang sedang di genggam Nabila.
Nabila hanya bisa cengar-cengir dimana sorot mata Fais bertembung dengan bola matanya. Laki-laki itu nyungis menunjuk penyatuan tangan mereka dengan bibir. "Hehehe, kangen kakak" kata Nabila.
Umumnya adegan romantis, si laki-laki akan mencium tangan yang perempuan. Ini kebalikan. Nabila tanpa sengaja mencium punggung tangan Fais, sampai orang-orang di sekitar mereka berdecak " so sweet".
"Pinter banget si adik manis pakai cium tangan Kakaknya segala" seru Fais, terselip akan makna yang tersirat soal keinginan Fais tentang hubungannya dengan Nabila.
__ADS_1
Nabila jelas mendengar, dia tidak tuli. Nabila juga paham apa maksudnya. Namun jauh di lubuk hatinya seakan menolak untuk berakhir dalam waktu yang cepat. Nabila mengambil langkah tidak perduli atas apa yang di ucapkan Fais barusan. Setidaknya, biarkan dia menikmati hubungan samar ini selama beberapa saat, sampai tenggang waktu yang belum di tentukan. Hingga Nabila benar-benar tidak menyesal memilih mencintai seseorang.
Perlakuan Fais sangat mewakilkan jawaban di antara keduanya.
"Ih orang Kakak yang nyodorin juga. Genit banget lagian tangannya main maju-maju aja." Gerutu Nabila dengan bibir yang mengerucut. Detik kemudian Fais mengacak-acak rambut Nabila sembari tergelak. Mereka sama-sama tertawa dalam kepura-puraan demi menutupi sesuatu di kepalanya masing-masing.
Nabila dengan hatinya yang teriris kenyataan bahwa Fais hanya menginginkan hubungan sebatas kakak adik. Sedangkan Fais, diam tenggelam dengan pikiranya yang bertanya, apakah Nabila tidak mengerti sinyal yang berusaha di berikan Fais padanya?Jawabannya jelas Nabila sangat mengerti.
"Kak"
"Hem" masih dengan posisi tangan yang bertaut.
Jangan-jangan Nabila mau bilang takut kehilangan gua nih. Gua belum siap liat air mata dia.
"Takut kenapa?"
"Takut Kak Fais benci sama Nabila karena ulah istrinya Om Badrun."
Kali ini Fais menggenggam simpul tangan yang bertaut sejak tadi. Dengan gaya khasnya Fais menatap dalam Nabila penuh pesona, membuat Nabila kesulitan untuk melupakan Fais sewaktu-waktu mereka tidak berjodoh.
__ADS_1
"Kakak tidak pernah membenci seseorang karena bukan kesalahannya. Itu sama saja Kakak seperti memusuhi abu kala membakar kayu adalah api."
"Maaf, kalau akhir-akhir ini Kakak terlalu sibuk hingga tidak bisa memperhatikan kamu." Lanjut Fais lagi. Dengan begitu saja Nabila tertunduk dengan menarik jemarinya. Fais tertegun dengan apa yang Nabila lakukan. Baru kali ini Nabila tidak suka sentuhan tangan hangat seorang Fais Mahda Wardana.
FMW yang punya hari bersejarah jatuh cinta berjamaah.
Masih dalam keadaan tertunduk Nabila mulai berbicara, "Bagi Nabila, sibuk itu tidak pernah ada kalau kita masuk dalam prioritas." Seperti hujaman palu besar pada dinding yang rapuh. Hancur lebur. Nabila membungkam mulut Fais lewat kata-kata yang entah dia belajar darimana soal prioritas.
Hening menguasai sebentar sampai Nabila berbicara lagi " Kak, jalan-jalan yuk sekarang" seru Nabila dengan air muka antusias. Lihatlah apa jawaban Fais ditengah situasi dua jam lagi ia ada pertemuan dengan Maya.
"A-yo.. mau kemana?"
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1