Tulisan Fais

Tulisan Fais
Membahas cita-cita


__ADS_3

Kejar-kejaran sengit bermuara pada sebuah rumah bertedeng anyaman bambu dan berlantaikan tanah. Mengingatkan Fais akan rumah nenek di kampung sana. Rumah yang sekarang telah berubah menjadi bangunan kokoh menjulang tinggi. Dan rumah ini juga telah menyadarkan bahwa dirinya sudah berlari sejauh satu kilometer.


Bocah laki-laki tadi menepi tepat di depannya. Membenarkan nafas ngos-ngosan sembari membungkukan badan. "A-mpun kak" katanya, masih bernafas Senin kamis. Alias Kembang kempis.


"Kenapa kamu lari sih?!, Saya kan gak mau menghajar kamu." ujar Fais yang masih mengatur nafasnya dengan baik.


"Terus kenapa kakak mengejar saya, kalau bukan mau menghajar?!" Balas sang bocah tak mau kalah.


"Eh bocil, saya cuma mau nanya tuh semangka yang kamu ambil diam-diam di makan gak? Kalau cuma di buang-buang hanya karena dia kurang manis, saya tidak ikhlas."


Enak saja kalau sampai gua tahu zenun di sia-siakan. Batin Fais.


"Astaghfirullah.." seorang nenek membungkuk membawa tongkat dengan rambut yang hampir memutih semua, berdiri terpaku tepat di ambang pintu.


"Nenek" lirih seorang anak yang di panggil bocil oleh Fais. Wajahnya pias.


"Maafkan cucu saya." Kata nenek itu kepada Fais dengan bulir air bening menetes dari mata senja yang mulai mengabur. Merambati setiap lekukan keriput yang telah menjadi saksi perjalanan hidup di dunia fana.


"Nak, kenapa kamu mencuri? Kita memang lapar tapi kita tidak boleh kehilangan moral." Giliran si nenek memberi petuah pada sang cucu. Aliran darah Fais mendesir hebat di saat telinganya menangkap kata lapar.


"Ampun nek" rengek bocah itu lagi diselingi lari ke dalam rumah. Mungkin ia akan menumpahkan tangis sepecah-pecahnya. Merengkuh tubuhnya sendiri dalam tekukan badan, lalu menangis sambil memeluk kedua lutut. Meratapi kesalahannya sebagai manusia.


"Sekali lagi nenek minta maaf ya nak. semangkanya tidak di buang-buang. Kita makannya dengan lahap saat itu. Sebagai gantinya nenek tukar pakai kayu bakar ya." Sang nenek pergi dengan tertatih ke samping rumah untuk mengambil beberapa potong kayu usang sebagai penebus.


"Tidak usah nek, kalau memang bermanfaat saya ikhlas. Tidak usah di ganti. Malah kalau nenek memang suka saya mau kasih lagi dengan yang lain."

__ADS_1


"Nenek merasa berhutang nak. Yang kemarin saja sudah cukup."


"Gak apa-apa, nanti saya kesini lagi. Saya ikhlas. Oh ya nek, gimana rasa semangka yang kemarin?" Namanya juga Fais, kalau belum tuntas rasa penasaran yang bergelora di dada. Pemuda itu akan terus mengoreknya.


"Manis nak."


Tuh kan, zenun emang manis.


Tidak ada yang salah diantara nenek dan sang cucu. Jawaban mereka berbeda dengan situasi yang tidak sama. Si cucu memang mengatakan tidak manis itu benar. Karena dia telah mencicipi manis-manis yang lain.


Sedangkan nenek mengatakan semangka itu manis. Sebab tidak ada perbandingan lain yang dirasakan oleh lidahnya. Dua jawaban apa adanya dengan konteks berbeda.


............


Setelah kegiatan kemanusiaan telah Fais tuntaskan dengan rasa senang. Lebih lega rasa hatinya ketimbang meratapi kehilangan.


"Mal, gua mau nanya serius sama lu nih."


Es batu yang sedang dimainkan Akmal berhenti berputar-putar di dalam gelas. Seluruh atensinya terpaku pada suara Fais. Akmal menyambut pertanyaan itu dengan lapang dada. Sebab, Akmal tidak dapat terhindar dari kekonyolan Fais jika mendapati sahabatnya itu bicara terlebih dahulu.


"Is, masih pagi menjelang siang ini.. jangan mulai dulu ngerjain gua." Tahu-tahu Akmal menodong peringatan. Seolah dia belum siap menerima cobaan hidup. Gelas di hadapannya menjadi saksi bahwa Akmal belum siap mengimbangi kekonyolan Fais.


Serat masih menjerat tenggorokan sehabis makan bakso ikan lima biji.


"Bentar dulu ya is, nunggu minuman gua jadi dulu." Lanjut Akmal menanggapi diamnya Fais dengan raut ngeri-ngeri sedap. Khawatir bocah itu akan merajuk. Sebab, jika sampai begitu, ngambeknya Fais lebih ngeri di banding menemui emak-emak sen ke kanan belok ke kiri.

__ADS_1


"Gua emang beneran mau nanya serius Mal. Jadi lu gak perlu takut, soalnya gua gak punya senjata lagi buat nyerang lu." Ada senyum tulus kali ini terukir di wajah Fais yang berhasil di tangkap pandangan Akmal.


"Ya sudah, mau nanya apa nih?"


"Cita-cita lu apa?"


"Tumben nanyain cita-cita. Tapi gak apa-apa lah pertanyaan itu harus gua jawab. Cita-cita gua adalah membelah diri." Jawab Akmal.


Membelah diri? diri di belah? membelah diri? kalimat itu terus berputar di kepala Fais. Jangan-jangan Akmal mau bilang kalau kentutnya bisa dibelah.


"Apanya yang di belah?"


"Ya guanya lah yang membelah diri" kata Akmal lagi masih bersungguh-sungguh mengatakannya. Apa yang telah dikatakannya menurut dia tidak menguras otak sama sekali. Masih bisa dikatakan kosakata yang bagus dan elegan.


Fais terdiam sejenak menimang apakah sebenarnya Akmal adalah spesies Amoeba? sampai menit berikutnya, akhirnya dia telah tersambung kemana arah bicara Akmal.


"Nikah dan punya anak maksud lu?"


"Nah iya betul hehe. Lah lu sendiri apa cita-cita lu?" Akmal bertanya balik.


"Cita-cita gua sederhana Mal. Pengen jadi orang baik."


.


.

__ADS_1


.


.Bersambung...


__ADS_2