
Saya mau tahu seberapa besar usaha saya untuk memperbaiki keadaan. Hasilnya, biar tuhan yang menentukan.
Dari Fais, kepada buku catatan berjudul : Tulisan Fais.
Seharusnya apa yang dimiliki Fais sudah membuatnya bahagia. Orang tua yang masih ada menemani, keuangan sudah cukup lumayan mandiri, dan kekasih hati yang menerima apa adanya. Adalah Maya, seorang gadis yang mampu mencintainya dengan keadaan apapun.
Itu dulu. Sebelum pada akhirnya ia menyadari, bahwa setiap manusia akan menghadapi yang namanya cobaan. Di bawah temaram cahaya kamar yang tertutup, Fais mengusap air matanya di kedua belah pipi. Ia mengatur nafas sebaik mungkin untuk kuat menyelesaikan yang seharusnya di selesaikan.
Huhhf, kenapa gua keinget itu lagi. Jadi melow gini kan. Gumamnya. Sayup-sayup suara Papah berbicara pada Mamah mengingatkan dia akan suatu hal yang telah menimpa.
Ingatan-ingatan itu kembali menyerang. Mengharuskan Fais merasakan kembali nyeri di ulu hati.
Is, gimana kabar babe lu? Gua jadi penasaran akhir dari perselingkuhan itu kaya apa haha.
Iah emang lu kagak tau, Babenya Fais kan udah kagak pulang ke rumah. Gitu kan ya is?
Ya. (Fais)
Tuh kan, pan gua liat sendiri Babenya Fais tidur di goa yang deket rumah Bapak Sarmili. Nggak jauh dari rumah si Fais.
Ah ilok Ampe di goa? Goa di mane? Perasaan gua di marih kagak ada.
Hehehe emang goa beneran mah kagak ada. Itu mah cuma sebutan orang-orang buat gubukan sempit banget deket rumah Bapak Sarmili. Tapi sekali dong si is gua lihat Bapak lu tidur di sana.
Eh, yang itu. Lah udah kaya sun'gokong Babe lu is tidur di goa. Hahaha.
Nyess..
Fais ingat betul mereka tergelak tanpa dosa. Yang sebenarnya tawa mereka tersebut mengiris-iris perasaan Fais. Mungkin saja teman-teman kampung Fais menganggap ini hanya sebuah obrolan biasa. Lelucon yang dapat mengundang haha hihi. Tetapi kita perlu tahu, suasana hati seseorang tidak serta Merta selalu senang.
Fais memang sedang kalut dengan Papah. Hubungan darah yang mengalir di dalam tubuhnya merespon sesuatu yang entah kenapa seperti tersayat. Biarpun Ayahnya telah melakukan kesalahan, ketika mendengar orang lain sedang berolok-olok meski hanya celetukan bercanda, hati Fais tetap merasa sakit.
Perih.
Lu mau kemana is?
Mau ngademin hati. Gak tahu kenapa lagi perih banget.
Semua yang ada disana langsung sepi. Kemudian sikut-sikutan satu sama lain menyalahkan keadaan yang berubah tidak enak.
Lu sih..
Kok gua? Lu yang mancing-mancing.
Mending kita minta maaf.
Is kita minta maaf ya kalau omongan kita udah menyinggung lu.
__ADS_1
Ya, santai aja. Cuma gua pesen satu hal, yang kaya begini jangan jadiin bahan bercandaan ya. Menurut gua agak sensitif. Eh tapi mungkin gua aja yang terlalu sensitif.
Setelah itu Fais pergi, membawa langkahnya tanpa arah.
.................
Fais menghampiri kedua orang tuanya di dapur, dimana netra Fais menangkap Mamah yang sedang memperhatikan Papah dari kursi rodanya. Sedangkan Papah sibuk menggoreng bakwan sembari mengisi isian tahu goreng. Papah masih belum menyadari kedatangan Fais. Ia sibuk menggoreng, mengisi, dan mencaplok gorengan kemarin yang ia hangatkan kembali. Tidak apa-apa rasanya tidak seenak kemarin. Yang penting Papah mengganjal perutnya, dan juga tidak buang-buang makanan.
Karena Mamah tidak menggodanya lagi sejak tadi, Papah menoleh ke belakang untuk memastikan eksistensi Mamah. Dan..
"Pak"
Hampir saja samsi penggorengan menghantam kaki Papah.
"Fais, Bapak cuma.. ah maaf Bapak merepotkan lagi. Nanti Bapak beresin semuanya." Ujar Papah sembari mematikan kompor. Dengan gerak serabutan Papah mengelap percikan-percikan minyak menggunakan benda mirip sapu tangan Akmal.
"Pak minta duit." Kata Fais. Tangannya menedeng pada Papah.
Papah terheran-heran, dan Mamah cuma senyum sebisanya untuk mereka berdua. Lalu berdo'a dalam hatinya agar kehangatan keluarga yang sempat dingin kembali datang.
Sebenarnya Papah sangat senang sang anak meminta uang padanya. Rasanya peran ia sebagai Ayah sudah pulih dari kebekuan. Namun yang bikin Papah ingin menangis adalah, di kantungnya hanya ada uang lima ribu sisa ia belanja bahan dagangan. Kendati demikian, Papah tetap merogoh kantungnya.
"Ini is, Bapak cuma ada goceng doang." Uang kertas bernilai lima ribu tersebut disodorkan Papah lalu melambai-lambai minta di ambil.
"Makasih Pak. Gak apa-apa cuma goceng, masih kebeli ager yang di pakein bubuk susu kok" Jawabnya enteng praktis membuat kedua orang tuanya bergetar menahan tawa.
"Nggak kata siapa libur? Fais lagi tuker shift malam. Nanti siang anterin Fais kuliah ya Pak?" Pinta anak itu lagi membuat hati Papah mendesir.
"Pak, Fais minta Bapak berhenti dagang gorengan. Biarkan Fais yang mencukupi kebutuhan Bapak dan Mamah."
Lidah Papah kelu. Papah mendongak ke atas menahan air mata yang sudah menganak sungai. Sedangkan bocah yang sudah menciptakan suasana haru biru tersebut merunduk. Merangkai kata yang akan dia ucapkan kembali.
"Ada orang baik yang kasih amplop coklat ke Fais. Isinya berharga semua ada surat tanah, uang tabungan dan lain-lain. Jadi deh Fais kaya dadakan haha." Di ujung kalimatnya di bubuhi tawa. Tapi setelah itu, tatapannya kembali nelangsa.
"Padahal orang yang kasih itu lagi kesusahan. Apa mungkin dia menganggap Fais begitu berharga buat hidupnya Pak?"
Papah berusaha mati-matian untuk tidak memecahkan tangisnya. Jangan tanya bagaimana Mamah, wajahnya sudah di penuhi rumbai-rumbai air mata.
"Fais mau bilang sama orang itu, kalau Fais sayang ama dia. Beliau memang melakukan kesalahan, tapi ulu hati Fais perih kalau ada yang membicarakan orang itu sebagai bahan olokan. Pak, berhenti dagang ya."
"Tidak bisa is. Papah harus mencari nafkah."
"Yaudah, bisa kan yang lain. Bantu Fais buat mengelola perbengkelan lagi."
Papah memeluk Fais dengan segala air mata yang tercurah. Dengan terbata Papah meminta ijin untuk berdagang hari ini saja. Setelahnya Papah akan mengikuti apa yang Fais mau. Fais menyetujuinya.
"Maafin Bapak ya is."
__ADS_1
Maafin Bapak nak
"Maafin Fais juga Pah"
Saling memaafkan memang tidak mudah. Akan ada banyak yang di tekan dan dibuang seperti ego misalnya. Ketika orang sudah memutuskan untuk memaafkan, segalanya akan lebih ringan untuk dijalani kembali.
.
.
.
Engkaulah nafasku yang menjaga di dalam hidupku Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
Kau tak pernah lelah Sebagai penopang di dalam hidupku Kau berikan aku semua yang terindah
Aku hanya memanggilmu Ayah Disaat ku kehilangan arah Aku hanya mengingatmu Ayah Disaat kau telah jauh dariku.🎵
Ayah (seventeen)
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️ Sekian☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
.
.
.
.
Hallo pemirsa, semoga dalam keadaan sehat selalu ya.
Akhirnya novel ini sudah sampai penghujung cerita. Meskipun menurut author sendiri masih ada bagian yang menuntut penjelasan lebih, novel ini tetap harus di tamatkan. Sebab Zenun akan mengupas tuntas dalam judul yang berbeda.
Misal, kaya hubungan Fais sama Maya kedepannya gimana? kalian kepikiran nggak sih kalau Maya itu pasrah-pasrah aja menerima perlakuan Fais yang kadang melanggar norma pacaran hehe. Maksudnya kelakuan dia yang nyakitin gitu pemirsa.
Nah, Zenun sendiri penasaran nih. Itu yang ada dipikiran Maya kira-kira apa ya sampai-sampai masih bisa bijak dalam menyikapi perlakuan kurang menyenangkan dari pasangan? Zenun aja gak paham apalagi kita ya 😄. Hah kita? kita siapa? emang novel ini ada yang baca.
Bisa jadi Zenun punya rencana mengisahkan mereka dalam sudut pandang Maya. Tapi itu nanti, setelah Zenun menyelesaikan buku yang berjudul Suami idaman.
Salam Hangat
Zenun Smith
.
__ADS_1
.