
Angin sepoi-sepoi malam menabrak rusuh tubuh Fais. Meskipun begitu, Fais sama sekali tidak marah pada angin. Sebab usapannya mampu melupakan sejenak pada hawa pengap yang mendera. Demi membunuh waktu dalam menunggu, Fais berdiri di teras depan rumah Maya sambil bersedekap. Memandang ke arah bocil-bocil bermain asyik dengan dua bola tergantung.
Tak..tek..tak..tek..tak..tek
"Gak dimana-mana, ketemunya lato-lato terus." Fais bergumam. Sialnya angin membawa gumaman tersebut sampai ke telinga para bocil.
"Abang mau ngadu sama kita?" Sorot matanya membara. Seperti menemukan lawan baru yang imbang.
Yang di tanya berdecak. Lantas bersuara dengan gaya sengak. "Ntar kalah pada nagis lagi lu."
"Hiddih..."
"Aa Fais" Maya memanggil. Selamat sudah Fais dari kawanan kecil yang menggebu-gebu penasaran akan kemampuan pemuda langguk macam dirinya.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam. Ada yang bisa Maya bantu a?" Maksudnya seperti, ada perlu apa ya? Maya dengan gerak tiba-tiba menyodorkan tangan. Seperti mau salaman pada bapak ibu guru. Fais manut saja menyerahkan tangannya untuk di cium. Lalu pemuda itu senyam-senyum sendiri.
"Apa harus ada alasan buat ketemu sama seseorang May?" Aroma musk tercium ketika Fais mendekat. Jantung berdetak pada orang yang masih hidup memang normal. Tapi yang Maya rasakan detakan di luar batas kewajaran. Maya otomatis merunduk. Tidak kuat jika bertemu tatap dengan laki-laki dihadapannya. "Tidak ada alasan juga bisa a, kalau gitu Maya buatkan minum dulu."
"Tidak usah May. Duduk disini saja."
"Bang, jadi nggak ini kita ngadu?
__ADS_1
Fais salah perhitungan. Dia kira kawanan kecil tak tek tak tek sudah enyah entah kemana. "Lah siapa yang bikin janji? Gua kesini mau ngapel. Bukan mau ngadu." Dengan gerak tangan mengusir. Terselip pecahan seratus ribu disela-sela jari "Nih buat jajan."
"Asyiikk... terimakasih Abang. Silahkan dilanjut ngepelnya."
Serah lu dah cil
Lato-lato tak lagi merasuki gendang telinga. Dan situasi mendadak berubah bagai sebuah ruang milik mereka berdua. Dimana tak ada sekat berbentuk teman. Berada di ruang romansa pasangan pun belum sampai pada arah sana. Mereka biarkan mengalir apa adanya, tanpa ada sesuatu yang dijaga. Entah perasaan seseorang atau perasaan diri sendiri.
Brengsek. Bisa dibilang begitu bisa juga tidak. Disaat perempuan berstatus pacar gundah gulana, lalu di tenangkan oleh sahabatnya sendiri. Fais malah seenak jidat datang ke rumah perempuan lain. Akmal pun kalau melihat batang hidung Fais ada di rumah Maya saat ini, pasti anak itu sudah mengutuk Fais jadi tempayan.
Namun Fais juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Bisa jadi datangnya Fais pada Maya untuk mengakhiri kepelikan prahara perasaan. Laki-laki itu sedang menguji kemana hati sesungguhnya akan menetap. Menemukan rumah yang nyaman untuk ia tinggali kelak.
"Jadi seperti itu ceritanya, sampai aa beberapa hari ini tidak update. Menurut Maya, cobaan hidup itu tidak pernah datang meminta ijin. Bersedia atau tidak manusia itu diterpa olehnya. Tapi ada satu hal yang dapat di petik dari cobaan tersebut. Manusia lulus tidak pernah menyesal pernah diterpa oleh cobaan yang membuat ia semakin kuat." Sorot mata Maya hangat menembus sampai relung hati. Kata-kata Maya meresap dengan baik lalu mengukir sebuah sastra dalam pikiran.
"Iya a, satu-satunya cara buat keluar dari masalah tersebut ya kita harus memaafkan masalah itu. Sederhananya kita kasih kesempatan namun kita uji diam-diam."
Uji diam-diam.
Uji diam-diam menjadi solusi masuk akal yang akan Fais jalani kedepannya. Ya, dia akan memenangkan ibunya bahwa semua akan berlalu seiring berjalannya waktu. Kesempatan kedua bukanlah hal yang buruk untuk di lakukan.
Fais mantap merajut langkah selanjutnya setelah obrolan tiga puluh menit bersama Maya. Ternyata.. Maya bukan hanya senyumnya saja yang menenangkan. Sifat bijak dalam menghadapi masalah menjadi tidak rumit juga menyejukkan.
"Maya, aa pulang dulu. Sudah malam gak enak sama hansip."
__ADS_1
"Iya a. Hati-hati ya."
"Ibu sudah tidur?"
"Sudah a, nanti Maya sampaikan saja salam dari Aa."
"Oh yasudah kalau begitu. Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam. Aa Fais..."
"Ada apa May?"
"Cuma mau bilang jangan lupa bahagia." Senyum Fais semakin lebar. "Kamu juga ya May. Jangan lupa bahagia."
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1