
Katanya, malam Minggu adalah waktu mengunjungi pacar. Selepas pulang dari rumah Akmal, Fais bersiap-siap mereguk manisnya malam Minggu dengan melihat senyuman Maya. Hanya senyumnya saja. Untuk setelahnya apa yang terjadi, itu sudah lain cerita.
Mobil sudah menepi di pelataran rumah Bapak RW. Hari ini, Fais sampai mengumpulkan banyak data rekomendasi tentang tata cara malam mingguan jaman orang tuanya. Kira-kira di tahun 1990an. Bukan tanpa alasan tema tersebut di usung, sebab pujaan hatinya lah yang meminta. Dan yang akan di coba Fais kali ini, merupakan hasil rekomendasi dari Bu Imah. Sang Mama yang malam ini bertemankan Papah.
Beberapa waktu belakangan, Papah lebih sering di rumah menghabiskan waktu banyak untuk keluarga. Hanya sesekali Papah pergi pamit untuk masalah pekerjaan. Mamah sudah memaafkan Papah sepenuhnya meskipun sesuatu yang hancur tak bisa kembali sempurna seperti sebelum kehancuran. Hebatnya, Mamah masih bisa mengatasi sisa-sisa keretakan di balik lem perekat.
"Ayo a, turun. Tapi kita kondangan dulu ya?"
"Iya sayang"
Maya spechless. Untuk lima detik yang terlewat Maya hanya mematung meresapi kata sayang tersebut. "Ada apa May?"
"Nggak pa-pa a."
Maya buru-buru membuka pintu mobil untuk mengalihkan pesona Fais yang Ia reguk dalam kesendirian. Lalu sekonyong-konyong cekalan tangan hangat mengentikan gerakannya tiba-tiba "Diam disini May." Katanya. Lagi-lagi Maya di buat tidak bisa berkutik oleh Fais. Karena air muka Maya menunjukan pandangan skeptis, Fais tersenyum madu dan berkata:
"Aa cuma mau bukain pintu buat Maya dari luar. Biar kaya pangeran menjemput tuan putrinya."
Kalau ada Akmal disana, dapat dipastikan mulut bertalenta Akmal akan menyahuti Fais dengan kalimat, biar kaya supir menjemput majikannya.
................
Malam itu, alunan lagu dari penyanyi legenda Rhoma Irama turut menyumbangsih kencan dua anak muda. Musiknya berasal dari sound film layar tancap yang sedang menanti bentangan layar putih menayangkan cerita. Musik itu juga mengiringi hilir mudik para tamu kondangan yang silih berganti. Biasanya, film yang di putar bernuansa tahun 80an. Ada genre horor, komedi, dan romansa seperti film gitar tua misalnya. Dan malam ini pun film yang akan di putar akan berakhir sama.
Alunan musik tersebut teresap baik di relung hati Fais. Setiap kata demi kata, bait demi bait, menyentuh ruang asmaraloka. Ia sejenak memejamkan mata, menghirup bagaimana udara malam itu. Membaui setiap kejadian yang terjadi secara jelas. Jajanannya, hingar bingarnya, dan bersama siapa ia menghabiskan cerita tersebut.
Bila kamu disisiku hati rasa syahdu...
Satu hari tak bertemu hati rasa rindu...
Fais membuka matanya manakala terdengar suara merdu mengikuti tiap alunan syair lagu. Maya menatapnya intens, saat pertama kali Fais menemukan eksistensi Maya yang bernyanyi. Ah Maya bikin hati gua cenut-cenut aja.
Untuk sejenak, mereka terjebak dalam keheningan. Sampai henyak itu selesai saat Fais mengulurkan tangan untuk mengambil kue pancong di depannya. Siapa sangka, Maya pun memiliki niatan sama hingga tangan mereka bertumpuk dalam satu moment waktu yang pas.
__ADS_1
Maya buru-buru menarik tangannya dan tersenyum mempersilahkan kepada sang kekasih untuk menikmati manisnya kue pancong yang hangat. Pemuda Yang dipersilahkan, dengan senang hati mencomot satu tanpa merasa sungkan dengan kemunduran Maya.
Satu kue pancong yang di comot Fais barusan, Ia arahkan pada bibir Maya. "Nih, Aa suapin."
Detik kemudian Maya menyambut suapan Fais dengan suka cita. Mengabaikan tatapan so sweet dari orang-orang disekelilingnya. Mereka yang menyaksikan mungkin saja sedang merutuki keromantisan Fais yang paling anjrit.
"May, kalau kurang manis bilang ya. Biar Aa tambahin kadar kemanisannya."
"Kurang manis a."
"Kurang manis kalau Maya juga nggak ikutan suapin Aa." Sambungnya, alih-alih kue pancong yang Ia sodorkan, Maya mencubit kue disebelahnya yang lebih manis dan lebih basah.
"Apa ini?" Fais bertanya saat Ia mengunyah kue suapan Maya. Di setiap gigitannya Fais mencoba menelaah kondimen dan struktur dari bahan yang digunakan. Semacam donat tapi bukan. Kue cincin tapi tidak mirip. Apa ini? Fais bertanya-tanya pada kekehan Maya yang semakin meriah.
"Jalabia a."
Jalabia?
"Filmnya udah mau di mulai a, kita disini aja apa mau ngambil posisi? Atau Aa mau lanjut makan? Masih ada tukang Bakso, Mi ayam, sama es campur tuh."
"Aa mau tetap disini. Kalau Maya mau jajan lagi gak apa-apa pesen aja. Tapi satu porsi aja ya nggak usah dua. Biar kita makannya satu mangkok berdua."
"Aa bukannya pelit ya sayang, rasa-rasanya Aa agak kenyang. Terus Aa juga lagi pengen makan satu sendok sama kamu. Nggak apa-apa kan?" Sekarang gadis itu menahan beban pada pundak kanannya sebab Fais menjatuhkan diri pada bahu Maya.
"Yaudah kalau begitu. Nih a habiskan kuenya. Setelah ini Maya mau kasih Aa yang dingin-dingin."
Dingin banyak di kaitkan dengan hal yang berbau cuek, jutek, dan lain sebagainya. Dingin juga banyak di gunakan untuk ungkapan suasana hangat yang telah menghilang. Rumah yang dingin, sikap yang dingin. Namun untuk malam ini, dingin akan di pakai Maya untuk menghangatkan suasana. Menyejukkan hati yang lara. Serta mengikis jarak diantara mereka.
"Jadi semangat makan kuenya nih. Biar yang dingin cepat tersegerakan." Kemudian mereka tergelak bersama. Tawanya tidak sumbang, tawanya meriah seperti tulus mendeskripsikan kalau mereka sangat bahagia malam ini.
"May.."
Karena Fais sedang bersandar, membuat pemuda itu mendongak ketika ingin berbicara dengan Maya. Yang di panggil langsung menunduk. Menatap Fais dengan tatapan jatuh cinta sedalam-dalamnya.
__ADS_1
"Iya a, ada apa?"
"Manis"
"Apa yang manis?"
"Kuenya" Katanya begitu. Tapi netra penuh damba Fais sangat fokus pada bibir ranum Maya yang sedang tersenyum. Dengan gerak spontan Maya mengusap pipi Fais dan membiarkan tangan hangatnya bertengger disana untuk waktu yang cukup lama.
Fais tidak pernah tahu, bahwa Maya melihat Sasmhita melangkah ke arah mereka. Tepatnya, Sasmhita datang seperti biasanya untuk menemani para aki-aki ngopi. Dimana Fais dan Maya jajaki, adalah tempat biasa Sasmhita.
Yang Fais tahu, Maya mengusapnya dengan lembut hingga terbuai dalam arus yang menenangkan. Fais memejamkan matanya untuk beberapa detik.
Aa Fais sudah cukup menderita. Biarlah saya menjaganya dengan semampu saya. Maya.
Lalu punggung Sasmhita berbalik arah. Menjauh, sampai berubah menjadi titik dalam kegelapan. Kemudian hilang di telan sunyinya malam.
.
.
.
.
Bersambung...
Yang manis-manis dulu aja ya. Kita santai dulu bari ngopi.
Oh iya, minal aidzin wal Faizin. Mohon maaf kalau ada salah kata, salah rindu, atau salah menaruh rasa.
Dari aku, yang tidak mau salah menaruh cinta. Hehehe
.
__ADS_1
.
Zenun