Tulisan Fais

Tulisan Fais
Sarapan Bersama


__ADS_3

Di hari berikutnya.


Mamah sudah kembali seperti biasa. Keraguan yang sempat mampir di benaknya sudah terkikis oleh penjelasan Fais. Bukti pun belum ada yang nyata yang bisa dipertanggungjawabkan, hanya sebatas pengaduan dari satu pihak yang belum tentu terpercaya.


Semalam, saat Mamah kembali dari kamar Fais sehabis diskusi, dia memutuskan untuk menanyakan langsung apa maksud dari tuduhan teman komunitas suaminya itu.


"Pah, kenapa Bu Titin dan Pak Dayat bisa bicara seperti itu tentang Papah?"


"Jangan di dengarkan Mah. Papah sebenarnya ditunjuk sebagai Ketua komunitas tersebut, bisa jadi dia ingin juga posisi itu dengan cara yang lain. Menghasut mamah agar kita berseteru dan menginginkan papah keluar dari komunitas misalnya."


"Iya juga sih."


"Percaya selalu sama Papah ya mah. Mana mungkin Papah melakukan hal yang memalukan itu. Sama dia lagi, perempuan yang masih bersuami. Papah selingkuh itu merupakan sebuah ketidakmungkinan." Jelas Papah dengan santainya.


"Tapi benar ya, Papah jangan berbohong!" Mamah mengacungkan kelingkingnya pada Papah, lalu bersambut dan terpaut satu sama lain untuk sebuah perjanjian.


"Iya sayangku, bidadari ku. Papah kan cinta mati sama mamah." Ayah Fais memajukan bibirnya seimut mungkin lalu disertai tarik-menarik gemas pipi sang istri.


Setelahnya, mereka melanjutkan sarapan pagi dengan menu nasi uduk yang Mamah beli di warung depan. Mamah menyuapkan satu buah semur jengkol untuk suaminya dengan dalih jengkol adalah daging terenak di dunia.


Ayah Fais tergelak, "Hahaha daging terenak bukannya kamu mah." Mendengar itu Mamah menyergap mulut nakal yang sedang mengunyah. "Papah kalau ngomong.."


"Kenapa mah?" Ayah Fais cengengesan, lalu Mamah menjawab "Kalau ngomong suka benar. Hehe. Ssssttt nanti Fais dengar, dia kan masih kecil."


"Kecil apanya, sudah punya pacar begitu kok di bilang kecil. Mah, ini lontong buat apaan?" Ayah Fais mengacungkan tentengan plastik kresek berisi lontong dan beberapa gorengan.

__ADS_1


"Buat cuci baju Pah." Hah apa? Papah sampai membulatkan kelereng matanya dengan jawaban sang istri yang terdengar nyeleneh. "Yang benar?" jawabnya ragu, sudah tahu aneh masih saja dipercaya.


"Ya gak lah pah, itu buat dimakan, ih dasar si Papah ini."Mamah Menggerutu, "lagian Mamah jawabnya aneh." Papah lanjut mengeluarkan pembelaan.


"Papah juga kenapa pertanyaannya lucu, lontong buat apa, sekalian saja tanya ini lontong namanya siapa?"


"Hahahaha" Ayah Fais terbahak. "Iya ya Mah. Mungkin maksud papah ini lontong buat siapa? kan sudah makan nasi uduk, Fais juga sudah disiapkan nasi uduk kan?" Papah mencerna situasi dengan banyak kejanggalan.


Mamah praktis tercengar-cengir, "buat Mamah pah, ada masalah?"


Papah menjatuhkan plastik yang diangkat tadi karena terkejut, "Kan Mamah sudah makan nasi uduk, memangnya belum kenyang ya?"


"Kalau itu kan jajanan Pah untuk camilan bukan untuk makan."


Klotak...plang..Ting..


Fais datang dari arah dapur menuju depan rumah dengan piring dan sendok yang dipeluk. Matanya masih sipit sebab baru saja bangun tidur karena lapar.


"Cuci muka sama sikat gigi dulu sana" seru Mamah kepada Fais yang sedang merem melek sambil membuka bungkusan.


"Sudah semua Mah" Dia duduk di seberang orang tuanya. Diam dulu sebentar mengumpulkan nyawa sambil membaca do'a makan dalam hati.


Suasana pagi ini terasa hangat seperti mentari yang baru muncul di ufuk timur.


...............

__ADS_1


Kegiatan sarapan pagi di teras depan rumah sudah selesai. Mereka bubar menjalani rutinitas masing-masing di hari libur. Ayah dan ibunya pamit untuk pergi berolah raga, sedang kan dia hanya berpindah tempat duduk dari depan ke ruang tamu.


Televisi menjadi sambaran pertama dirinya menemani rebahan. Kata orang habis makan lalu tiduran itu kurang baik bagi kesehatan, namun bagi pemuda satu ini, menurunkan makanan terlebih dahulu lebih baik daripada langsung beraktifitas.


Lima belas menit sudah berlalu kegiatan menonton film kartun di pagi hari. Fais bergegas mengumpulkan sepatu dan sandal kotor untuk dicuci. Melihat ada sekeranjang penuh pakaian kotor di samping mesin cuci, pikir Fais sekalian saja toh mencuci baju itu hanya memutar tombol dan biarkan mesin yang bekerja.


Sikat-sikat lalu guyur. Sepatunya di sandarkan ke tembok untuk meniriskan airnya. Dia melanjutkan gilingan kedua untuk pembilasan dan menuangkan pewangi sebanyak mungkin, haha. Jika ketahuan sang Ibu habislah dia.


"Waduh, segala tumpah. Biarin dah semoga melihat pekerjaan Mamah sedikit beres, diriku yang rajin ini terbebas dari omelan Mamah" Fais bergumam sendiri.


Sambil menunggu gilingan kedua selesai, Fais ke depan rumah menjemur sandal dan sepatu yang telah bersih.


Kembali lagi untuk pengeringan, baju-baju diangkat dan nampak ada yang mengkilap menyilaukan dari dasar mesin cuci.


"Haduh, Mamah ceroboh banget. Cincin emas kagak diamankan dengan baik."


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2