Tulisan Fais

Tulisan Fais
Fais di tembak


__ADS_3

Matahari mulai naik menyengat kulit. Dari yang semula hangat menjadi memanas. Lantas tertuduh menjadi salah satu musabab peluh bercucuran selain karena aktifitas bergelut. Beruntung, Nabila datang tepat waktu dimana Fais akan memiting tangan Akmal yang sudah dalam genggaman.


"Kak" Nabila memanggil. Entah kepada siapa panggilan "kak" itu di tunjukkan.


Aktivitas otomatis berhenti. Semua atensi tertuju pada Nabila. Pada gadis yang telah menyandang gelar terimut seantero kampus.


"Nabila" Fais dan Akmal berbarengan.


"Kak Fais lagi sibuk ya? Nabila mau minta waktunya sebentar." Nabila dengan senang mengatakannya. Matanya berbinar-binar dengan cahaya wajah berseri-seri.


"Tidak sibuk kok, lagi santai aja. Iya kan Mal?"


"Iya Nabila, kita lagi gak sibuk kok." Kita? Emang gua di tanya ya? Perasaan kagak. Batin Akmal mendumal.


"Kalau begitu, bisakah kita ngobrol berdua kak?"


Fais melirik Akmal guna meminta persetujuan. Akmal yang terlalu peka langsung pamit pergi dengan alasan lupa kalau dia ada urusan penting. Dalihnya ada meeting yang harus dia datangi. Entah meeting apaan yang telah menunggunya. Mungkin saja meeting antara kucing Oren dengan kucing garong. Membahas si Oren cepirit lantaran mencuri nasi uduk milik Fais. Mungkin.


"Ya sudah, nanti gua nyusul lu kalau udah kelar." Ujar Fais sebagai kata pengantar kepergian Akmal.


"Iya is, kalem. Gua pamit dulu ya is, Nabila Kakak Akmal pergi dulu ya"


"Iya kak, maaf ya di pinjam sebentar kak Faisnya hehe"


.............


Fais dan Nabila sudah duduk berdua dalam keheningan. Saling bersitatap dan memancarkan senyum masing-masing. Ada kalanya Nabila mengintip malu-malu, lalu ragu dengan tujuannya. Namun setelah melihat bagaimana tulusnya Fais menatap Nabila, perempuan itu meraih keyakinannya kembali.


"Nabila mau bicara apa?" Akhirnya Fais bersuara. Tanpa sadar telah membuka gerbang selebar-lebarnya untuk dia masuki dengan perasaan tak menentu. Yang akan memperumit cerita.


"Kalau menurut Kak Fais, lebih baik mencintai apa dicintai?"

__ADS_1


Jujur, Fais sedikit tertegun kenapa Nabila membicarakan perihal cinta. Dia bukan ahli di bidang itu. Sangat bodoh malah. Tapi dia tidak mau terlihat acuh pada pertanyaan kontras yang di tujukan padanya. Sehingga, dengan berfikir keras dan pengalamannya yang sedikit, Fais mencoba mengurai pendapat versi Akmal. Lah kok Akmal di bawa-bawa? Sebab Akmal sering memberikan petuah jika Fais linglung kemanakah arah cintanya berlabuh.


Sebuah petuah, ketika Fais bingung dia sebenarnya suka sama Nabila atau Maya.


"Dicintai bisa di bilang sebuah anugerah. Dan mencintai bukanlah kesalahan yang harus di hindari. Mencintai juga dapat dikatakan indah, jika cinta itu terbalaskan. Kalau sebaliknya, seumpama cinta itu tidak merangkup jawaban. Setidaknya rasa mencintai itu dapat menjadikan kita orang yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih bisa menghargai orang lain."


"Keduanya sama-sama baik. Namun kalau Nabila ingin kak Fais memilih yang mana, Kakak akan jawab mencintai. Karena mencintai lebih banyak mengajarkan persoalan hidup. Dan membuat kita lebih tangguh dari sebelumnya." Fais sok bijak menggunakan kata-kata Akmal. Padahal dia sendiri patut ditertawai karena tidak bisa memastikan perasaan.


Nabila semakin berbinar. Bola mata yang memang sudah sebening embun semakin membulat penuh harap. Dan siap memberikan kesejukan.


"Kak, Nabila ada masalah" Gadis itu mengatakan masalah dengan cengiran. Bukan selayaknya mimik wajah yang nelangsa.


"Kalau boleh tahu, ada masalah apa?"


"Masalah Nabila suka sama Kak Fais. Apakah Kakak bisa mengatasi masalah ini?"


Kering. Tenggorokan Fais mendadak begitu kering meminta untuk disiram. Tanpa mengurangi rasa hormat, Fais pamit dengan dalih ingin memesan minum untuk mereka berdua. Karena pembicaraan mereka akan mengarungi bahtera yang panjang.


"Iya"


Disana, tepat di depan warung jajanan ringan beserta minuman. Fais terlihat panik dan bingung harus menjawab apa kepada Nabila. Berulang kali ia melihat layar ponsel. memastikan Akmal sudah menjawabnya atau belum.


Tiga panggilan terabaikan. Mencoba sekali lagi, pandangan Nabila sudah tertuju padanya. Mau tidak mau Fais mengantongi benda itu kedalam saku.


Berusaha mengingat petuah apa lagi yang di katakan Akmal selain tadi. Yang muncul dalam ingatan hanya Akmal yang sedang bernyanyi genre favoritnya. Dangdut. Dimana liriknya tersirat sedih namun alunan musiknya masih mampu membuat badan bergoyang.


Dengan ragu namun pasti. Fais melangkahkan kakinya menuju kenyataan yang harus di hadapi.


Semoga keputusan gua bener


"Maaf lama. Nih silahkan diminum. Biar gak seret." Fais menyodorkan minuman rasa Taro kesukaan Nabila.

__ADS_1


"Terimakasih Kak"


Setelahnya hening beberapa saat. Hanya ada suara air mengalir ke atas tersedot oleh tenggorokan yang kering kerontang. Sampai tandas. Sampai benar-benar hanya ada batu es yang saling beradu.


"Kak"


"Iya"


"Apa Kakak bisa mengatasi masalah ini?" untuk kedua kalinya Nabila tegaskan. Bagi Fais, sudah tidak ada alasan lagi untuk ia melarikan diri.


"Beritahu Kakak bagaimana cara mengatasi masalah itu?"


"Dengan bersedianya Kak Fais menjadi orang yang dicintai"


Fais menghela nafas. Mengaturnya agar teratur dan jauh lebih tenang. "Kalau boleh tahu, alasan apa yang membuat Nabila suka sama Kakak?"


"Karena setiap aku menutup mata, bayangan yang terlintas hanya wajah Kak Fais."


Fais membenarkan sedikit tatanan rambutnya yang tidak berantakan. "Kita jalanin saja." Ujarnya, singkat padat dan kurang jelas.


Nabila tersenyum lebar. Kekhawatirannya akan di tolak telah sirna. Menghilang bersamaan dengan rasa malu mengutarakan isi hati duluan pada seorang laki-laki.


"Kak, Kata Kak Fais dicintai itu adalah anugerah. Berarti, Kak Fais adalah anugerah terindah yang telah dikirimkan pada Nabila. Nabila hanya berharap, sebagai orang yang dicintai, Kak Fais tidak membuat Nabila membenci dengan kata mencintai."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2