
"Selamat ulang tahun ya anak Mamah yang gantengnya gak ketulungan hehe. Oh iya, tadi kan ada acara santunan anak yatim disini. Eh Faisnya telat. Memangnya kamu kemana lagi si Nak? katanya cuma kondangan ke rumah Bayu?"
Saat Mamah bertanya seperti itu, Fais melirik air muka Papah. Dan...
.
.
Dan Papah menatap nelangsa pada anaknya. Sedangkan Fais membalas dengan tatapan durjana.
"Fais main dulu sama Akmal tadi Mah. Maafin Fais ya sampai lupa kalau Fais sudah janji sama Mamah sama Maya untuk balik cepat."
"Iya is Nggak apa-apa. Yang penting kan kamu udah balik."
Kue potongan pertama di persembahkan pada Mamah. Kemudian ia memotong kembali dengan ukuran yang lebih random dari sebelumnya lalu di berikan kepada papah. Iya papah. Tebakan kalian salah kalau kue kedua diperuntukkan untuk Maya.
Anak itu sebenarnya sungkan untuk melakukakan pemberian potongan kue keduanya pada Papah. Dari kerutan keningnya jelas kentara bahwa Fais banyak menelan rasa kesal pada sang Ayah. Yang seharusnya dapat di percaya kini tidak dapat lagi mengenyam kata itu. Namun di depan Maya, semuanya harus dipaksa baik-baik saja.
"Terimakasih Nak. Papah senang sekali." Ujung mata Papah menganak sungai. Marda Wardana senangnya bukan main mendapat kue grepes (potongan tidak karuan) dari Fais--yang beberapa bulan terakhir membentangkan jarak di antara mereka.
__ADS_1
"Iya Pak" katanya setengah berbisik sembari mencelos ke arah Maya. Lalu Fais tersenyum lebar dengan menyembunyikan sesuatu di jari telunjuk.
"Ini buat Maya" hidung Maya tidak selamat dari kejahilan Fais. Maya tercengang kontras dengan Fais yang tergelak. Mamah ikut-ikutan senang begitu juga dengan Papah. Dengan begitu saja atmosfer rumah yang sempat dingin menusuk relung hati, kini terasa hangat menyelimuti. Perlahan, namun pasti. Kalau senang saja tidak bisa selamanya, sedih pun juga tidak selamanya.
................
Anak gadis pulang hampir larut malam memang kurang baik. Karena Maya di antar oleh Fais, maka Ibunya Maya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ibunya Maya percaya, bahwa Fais bisa menjaga Maya dengan baik. Entah landasan apa yang ibunya Maya pakai hingga sepercaya itu dengannya. Yang pasti Fais merasa begitu sangat di percaya saat dirinya pun tidak mempercayai dirinya sendiri.
"Terimakasih ya a Fais sudah nganter Maya dengan selamat tanpa kurang satupun " ujar Ibu Nur dengan senyum yang mengembang.
"Iya bi sama-sama. Terimakasih juga Maya sudah di bolehin main sama saya seharian ini." Alih-alih pamit pulang, Fais justru bergegas ke mobil demi mengeluarkan buah tangan untuk calon mertua. Jumlahnya terbilang banyak untuk seukuran konsumsi dua orang. Satu martabak manis, martabak telur, satu rantang makanan dari Mamah. Buah Pir, Apel, Anggur, Jeruk, kalau di total mencapai tujuh kilo. Fais kan gitu orangnya. Tidak betah kalau bertandang ke rumah orang tidak bawa tentengan.
"Lah ini baru sebagiannya Bi, tadinya Mamah malah suruh bawa semua yang harus di bawa. Tapi berhubung sudah malam dan Maya pun takut nunggunya kelamaan jadi maaf cuma segini aja."
"Wah ini aja sudah banyak banget a."
Mendengar percakapan antara laki-laki pujaan hatinya dengan sang ibu, lantas Maya mengerutkan kening tidak mengerti. Sebab di rumah Fais tadi Maya tidak mendapati apa yang Fais bilang. Tadi apa? Ini adalah sebagian yang Mamah persiapkan, tapi Maya tidak merasa demikian.
"Yaudah Bibi tinggal ke dalam dulu ya, mau taruh semua ini ke dapur." Pamit Ibunya Maya. Tinggalah dua orang berbeda gender di terpa dinginnya angin malam.
__ADS_1
"Aa, Maya agak sedikit bingung sama perkataan aa Fais."
"Yang mana?"
"Yang katanya ini semua cuma sebagian. Memangnya Mamahnya aa persiapkan apalagi? Kok Maya tadi nggak tahu ya."
"Oh itu, tadinya Mamah mau kasih kamu banyak sesuatu. Tapi ini udah malam dan momentnya juga belum pas. Mamah itu mau kasih kamu Mas kawin, restu, sama kasih anaknya ini buat kamu May." Katanya, hanya untuk mendapat senyum sipu dari Maya. Gadis itu salah tingkah meski hanya berupa candaan. Itu menurutnya. Tapi bagi Fais ini memang sebuah gurauan. Karena tidak mungkin dirinya nikah tengah malam begini.
"Maya, makasih ya udah kasih kado aa jam tangan. Aa juga punya hadiah buat Maya, suka nggak suka harus diterima. Maaf agak maksa sedikit." Fais mengeluarkan kotak berwarna biru dari saku jaketnya. Kemudian membuka kotak tersebut hingga cahaya bias lampu terpantul indah. Alih-alih bergandul mutiara, kalung tersebut bergandul huruf F ikonik. Apakah itu tandanya Fais sedang berusaha mengikat Maya?
"Bagus a, kalau boleh tau kenapa hurufnya F ya?"
"Karena_
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....