Tulisan Fais

Tulisan Fais
Selesai ya selesai aja


__ADS_3

Menerima adalah salah satu cara terbaik mengurangi rasa sakit. Semakin tidak menerima, semakin banyak pikiran negatif yang bermunculan. Hidup di bayangi pikiran-pikiran negatif tentu tidak enak bukan?


Nabila tahu, penyebab keputusan Fais untuk menyudahi hubungan yang tidak sehat ini adalah Maya. Ada hati yang telah menelusup masuk sampai terpatri di dinding hati lelaki idamannya yang paling dalam. Kalau sudah begini, bersikukuh meneruskan hubungan tersebut malah akan memperparah luka yang ada.


Nabila memutuskan untuk menancapkan bendera putih di atas perasaan yang telah layu.


Mungkin kedepannya nanti, perasaan tak terbalasnya memberikan banyak pelajaran akan beberapa hal. Untuk tidak terlalu berharap pada hati manusia. Untuk tidak mengasah perasaan begitu dalam. Harusnya Nabila mencintai Fais sewajarnya. Jika seperti itu, maka patah hatinya pun bisa dengan seperlunya.


"Yasudah Kak, memang kita di takdirkan seperti ini. Menjalani kehidupan sendiri-sendiri. Makan masing-masing, mengerjakan tugas masing-masing, susah masing-masing, rindu pun masing-masing. Nabila berharap, suatu saat nanti tidak akan ada lagi rindu sendirian."


Fais geming. Seolah laki-laki itu memberikan kesempatan pada Nabila untuk mencurahkan segenap rasa. Sampai rasanya cukup untuk mengurangi sesak di dalam rongga pernapasan. Namun dalam keheningan yang menjajah, Nabila memegang perutnya yang teramat sakit.


"Awwhh.."


Nabila merasakan sensasi melilit di perut bagian bawah. Bercampur mulas bersatu padu dengan pinggang yang panas.


"Kamu sakit? Kita ke klinik ya?"


"Tidak usah Kak, sudah biasa."


Jawaban Nabila seakan memberi tahu kalau gadis itu sudah terbiasa dengan rasa sakit. Sakit menahan rindu, sakit mendapat perlakuan seperti bukan pasangan saling sayang, dan sakit atas kenyataan bahwa Fais lebih memilih Maya daripada dirinya.


Nabila jadi tahu, selama ia menjalani hubungan yang katanya 'pacaran' dengan Fais, laki-laki puitis yang banyak menekuni seluk beluk cinta itu tidak pernah sekalipun mengungkapkan perasaan padanya. Fais tidak pernah berkata aku sayang kamu atau aku cinta kamu. Meski ia sesekali memberi perhatian dan kata-kata romantis.


Bisa jadi perhatian adalah tanda seseorang mengungkap rasa dengan tindakan, tapi bukankah cinta melakukannya tidak sesekali melainkan berkali-kali. Bisa jadi kata romantis itu sebagai wujud ungkapan rasa lewat kata, tapi bukankah Fais adalah seorang penulis yang sedikit banyaknya mencecap kata-kata cinta.


"Bener nih? Tapi Kak Fais khawatir Nabilanya sakit kaya gini."

__ADS_1


"Bener Kak, emang sudah biasa." Nabila sedikit membenarkan duduknya untuk mendapatkan posisi yang nyaman.


"Maaf."


"Untuk?"


"Untuk semuanya Nabila. Kak Fais banyak menorehkan rasa sakit."


Alih-alih merasa getir, Nabila justru tertawa sumbang. Lalu tangannya meraih tas kecil yang teronggok kemudian mengambil ponsel untuk ditunjukkan kepada Fais.


"Tidak usah merasa tidak enak kak apalagi minta maaf. Kan Nabila udah bilang, mungkin takdirnya emang kaya gini. Mau nangis kejer sampai keluar darah pun gak mungkin kak, kalau yang kita lawan adalah kenyataan. Tapi Nabila mau berharap satu hal saja sama Kak Fais."


Fais menggenggam tangan berkeringat Nabila. Sedikit gemetar dan banyak mengandung kecemasan.


"Apa?"


"Iya, gapapa simpan aja. Tapi... kalau sudah waktunya tiba Kakak minta keberadaannya di hapus. Kak Fais nggak mau kehadirannya membuat banyak luka pada orang lain." Jawab Fais dengan menatap manik redup milik Nabila.


Nabila mengangguk, kemudian tanpa mau berlama-lama lagi sebab Nabila rasanya lemas, ia beranjak pergi dengan tertatih. Ia pamit dengan manis kemudian berjalan pelan menahan sakit.


"Nabila tunggu."


Fais membuka jaket denimya untuk diikatkan pada pinggang Nabila. Noda merah telah memberi tahu Fais bahwa Nabila sedang kedatangan tamu bulanan.


Nabila otomatis membeku saat Fais bergerak sigap untuk melindunginya. Jangan sampai usaha Nabila menjauh dari hidup Fais menjadi sia-sia hanya karena sebuah---perhatian lagi.


"Kakak antar pulang kamu. Sini pegangan sama Kakak." Fais mengambil alih pinggang Nabila, lalu menyampirkan lengan kanan gadis itu pada pundaknya. Pundak yang teramat nyaman untuk di jadikan sandaran.

__ADS_1


Gak.. gak gini Nabila,, cukup. Batin Nabila berseteru.


"Kak, gak usah Nabila bisa balik sendiri. Nabila juga bawa kendaraan."


"Nabila tetap Kakak yang antar pulang. Masalah kendaraan gampang."


"Kak cukup, udah Kak udah."


"Apanya yang udah? Kamu kan adik kesayangannya Kakak, nggak mungkin Kakak biarin kamu pulang sendiri dalam kondisi kaya gini. Gini aja, kalau Nabila gak mau beriringan jalan di samping Kak Fais, Nabila jalan duluan. Biar Kakak di belakang."


"Kak, gak ada istilah Kakak adik kesayangan. Kalau selesai ya selesai aja."


"Kenapa?"


"Sikap Kakak kaya gini ke Nabila cuma bikin the next heartache. Akan ada hati lain yang akan sakit melihat laki-lakinya perhatian dengan mantannya dengan dalih perhatian sama adik tapi bukan adik."


"Kak, Nabila gak mau seperti itu."


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2