
Berlarut-larut dalam kesedihan memang tidak baik, maka Mamah sepagi ini sudah bebenah kamar Fais seluruhnya sampai ke kolong yang tidak pernah terjamah sekalipun.
Saat Mamah terlalu rajin mengangkat lapisan kasur Fais, ada uang berserakan dengan nominal yang tidak sedikit. Mamah terkejut, pikiran Mamah menerawang jauh tentang Fais yang selama ini tidak pernah memakai uang sakunya. Lalu bagaimanakah anak lelaki satu-satunya itu kalau jajan di luar atau membeli barang yang dibutuhkan? Atau selama ini Fais tidak pernah jajan?
Bu Imah merasa khawatir dengan keadaan anaknya. Tidak di pungkiri pertengkarannya dengan Papah membawa dampak psikis yang hebat bagi seorang anak. Apalagi anaknya Fais. Sangat perasa dan periang. Sedikit saja tersenggol, Fais tidak akan mudah berdamai dengan keadaan.
Di tengah lamunannya memikirkan Fais, Mamah tidak tahu saja kalau Fais sering membelanjakan ini itu kepada orang-orang terdekatnya. Bahkan Mamah tidak pernah tahu kalau Fais terjebak dua cinta perempuan yang begitu rumit.
Segala kekalutan Mamah terhempas saat terdengar suara pintu terbuka.
"Mamah!" Seru Fais hanya menggunakan handuk menutupi pinggangnya ke bawah.
"Hehe, eh ada Fais. Mamah lagi pengen beres-beres sampai ke lubang semut is. Jadi.. Mamah nggak sengaja nemu ini. Maaf ya Mamah gak tahu." Mamah menyerahkan uang yang sudah tersusun rapi kepada anaknya. Dengan nominal mencapai 23 juta lebih. Lebihnya Mamah lupa ada berapa.
"Terimakasih atas kerja keras Mamah membereskan kamar Fais beserta duit di bawah kasur. Tapi- emang tempat duitnya disitu Mah."
"Masukin ke ATM aja is."
"Males ke ATM nya, mager."
"Hemmm. Oh iya is, kamu ngumpulin duit itu dari uang saku ya?"
"Iya Mah" sambil menjawab sambil memilih baju yang akan di kenakan. Pilihannya jatuh pada kaus abu muda dengan celana jeans hitam panjang.
Mamah nelangsa mendengar jawaban Fais. Apa yang sebenarnya anak itu inginkan hingga tidak memakai uang saku darinya?
__ADS_1
"Fais pengen apa nak?" Akhirnya kalimat Mamah yang berseliweran di dalam hati keluar dari mulutnya.
Fais tentu kebingungan saat sang ibu bertanya demikian. "Emangnya kenapa Mamah nanya Fais pengennya apa?" Pertanyaan di jawab pertanyaan.
"Ya gapapa, kali aja Fais ada yang dimau sampai ngumpulin uang segini banyak dari uang saku."
Anak ganteng Bu Imah tersenyum di depan cermin sembari menyisir rambut. Ia sudah beres memakai baju tapi tidak dengan celananya.
"Kalau Fais jawab pengen nikah Mamah ngabulin?" Kata Fais sambil cengengesan. Wajah ceriwisnya sudah membuat Mamah melongo.
"Kapan emang? Besok?" Alih-alih menentang Mamah malah ikut-ikutan serius menanggapi. Fais mendengus tidak peduli membuat Mamah tersenyum penuh kemenangan.
Hubungan ibu dengan anak satu ini memang unik. Kebanyakan orang yang seakrab ini hanya anak perempuan dan ibunya. Ibu, seorang wanita tanpa kehadirannya di rumah sudah membuat Fais gelisah. Ibu, seorang yang bisa menenangkan hanya dengan menunjukkan omelannya tanda peduli. Ibu, sesuatu yang tidak bisa di temukan pada siapapun di dunia ini.
"Mah, Fais mau minta ijin. Fais mau kuliah kelas karyawan, tapi nanti setelah Fais sudah fix masuk kerja di PT" Segimana pun seorang anak terguncang masalah dengan perkara orang tua, restu Ibu dan Bapak pantang di lewatkan dalam hidup. Fais berpegang teguh pada prinsip tersebut.
"Emangnya gak capek is? Mamah sama Papah masih bisa biayain kuliah kamu. Sampai Fais lulus jadi sarjana, terus Fais bisa ngejar cita-cita jadi Dosen. Fais kan pengen banget jadi Dosen ya nak?"
Mata tidak bisa berbohong. Ketika hati tersulut sedih, maka kabut otomatis menyelimuti bola mata. Dan itu tidak bisa di sembunyikan Mamah dari Fais.
"Mah, Fais selama ini udah kebanyakan santai jadi kurang gerak badan ini. Hehehe.. tenang Mah nanti Fais kuliahnya tetap fokus."
"Mah jangan dipikirin ya, ini gak ada hubungannya sama apapun yang bikin Fais sedih sebagai seorang anak. Fais emang pengen cari pengalaman aja."
Mamah mengangguk setuju mengiyakan Fais untuk kuliah sambil bekerja setelah menimbang banyak ketakutan. Mamah selalu punya cara sendiri untuk membahagiakan anaknya.
__ADS_1
"Fais jangan lupa pakai celananya ya, Mamah keluar dulu."
"Iya Mah, emang nunggu Mamah keluar dari tadi biar bisa pakai celana."
"Hiddih"
Dan suasana haru lenyap begitu saja di tangan mereka.
............
Dirundung rasa menyesakkan dada memang bukan kemauan setiap insan manusia. Takdir tetaplah takdir. Papah saat ini tidak tau harus melakukan apa, setelah tahu dirinya telah kehilangan kata 'percaya' dari anak laki-laki yang teramat dia sayangi.
Setelah malam tahun baru itu, saat Fais mengirimkan segala bukti bahwa wanita yang mati-matian di bikin bahagia oleh Papah bukanlah manusia yang yang layak diberikan cintanya Papah. Fais selalu bertengkar dengan Papah dimana pun berada. Papah memang tidak merespon, tapi bisakah Papah memblokir nomor laknat itu dan tidak membiarkan pesan apapun masuk dalam ponselnya? Dan yang paling membuat Fais terheran-heran, Papah malah cemberut saat Fais membuka kedok asli seorang Sasmhita. Si pembuat onar bikin para istri tidak tenang.
Cinta Papah terlalu tulus untuk diberikan pada seseorang yang bahkan pada suami saja tidak menganggap. Lagian mana ada wanita masih bersuami, harmonis lagi, tapi main serong sama suami orang lain. Wanita seperti itu apakah layak mendapat ketulusan cinta?
Papah buta. Baik mata maupun mata hati.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...