Tulisan Fais

Tulisan Fais
Akmal dapat tugas


__ADS_3

Fais terlalu takut untuk menyapa ibunya sekarang. Takut perasaannya tambah hancur dengan tangisan Mamah yang pecah. Dan semesta, tak sepenuhnya mendukung niat Fais menghindar barang sejenak. Mamah lebih dulu menunggunya di ruang tamu. Dengan keadaan tak semestinya.


Akmal spontanitas berhenti melangkah. Menarik diri agar tidak terlalu luas berbaur dengan masalah yang mendera keluarga Fais. Akmal cukup tahu diri. Seakrab apapun dirinya dengan Fais, Privacy is still privacy.


Mamah mendongak menyambut kedatangan anaknya. Sesegukan masih tersisa disana mengganggu Mamah berbicara dengan lancar. Bukan sepatah dua kata yang di ucap, mamah malah menangis lagi seolah tidak pernah tahu caranya untuk berhenti menangis.


"Mah" Fais merengkuh tubuh ringkih Mamah. "It's okay mah, Fais akan selalu ada buat Mamah." Fais berharap mengusap punggung ibunya berulang kali dapat menenangkan wanita itu dari kekalutan. Mamah bersandar pada bahu anaknya yang kini beranjak dewasa. Bahu yang tak pernah terbayangkan menjadi sandaran seperti saat ini.


Srooottt...


Fais mendelik. Laki-laki itu tahu betul suara apa barusan yang membuyarkan haru biru. Bahkan punggung Akmal yang duduk tegap di luar tiba-tiba terangkat naik. Fais yakin jika dia melihat Akmal menggunakan teropong, anak itu sedang meringis dengan bulu roma berdendang ria.


Mamah melepaskan pelukan hangat sang anak. Tak terduga, alih-alih mamah melanjutkan tangis sembari bercerita panjang lebar betapa sakitnya diselingkuhi, mamah malah cengengesan sambil melipat tissue yang baru saja ia gunakan. "Mamah gak apa-apa kan?" Tanya Fais sedikit perihatin.


"Mamah gak habis pikir saja sama kamu is. Katanya selalu ada buat mamah, sama suara ingus saja kamu tegang." Cela mamah menampakkan barisan gigi putih mentereng.


Bibir boleh tersenyum, bicara boleh yang absurd menyulut tawa. Namun sorot mata tidak bisa berubah. Mata terlalu jujur untuk mendesksripikan apa yang dirasakan tubuh. Terutama hati.


Ada kepahitan di temukan pada lorong panjang tak bertepi. Gelap menyergap kisah warna-warni yang sempat menghiasi sebuah rumah. Hanya itu, sungguh. Tidak akan ditemukan yang lain. Apalagi soal kata baik-baik saja, tidak akan pernah ditemukan Fais selama anak itu menyelami manik hujan milik ibunya.

__ADS_1


"Ya Fais cuma kaget aja mah. Kan suaranya sampai menggema." Cuma itu yang fais bisa jawab.


"Huh lebay Fais nih. Mamah mau ke kamar dulu ya." Tanpa harus mendengar jawaban Fais, Mamah berlalu membawa segenap nafas yang terasa sesak. Hebatnya, Mamah masih bisa menorehkan senyum kecil pada anak laki-laki yang sedang begitu khawatir. Mamah punya caranya sendiri untuk mengurangi luka.


Lebay darimana? Akmal aja sampai bergidik ngeri.


Fais dan Mamah tidak pernah tahu, ada seseorang menyelinap masuk lewat pintu belakang. Menggigil kedinginan dengan rupa bak tikus nying-nying terpeleset ke dalam selokan. Basah, kotor, dan melas. Salah Papah yang lebih memilih memporak-porandakan hal indah untuk dikenang.


Sanggupkah Papah kalau nanti keindahan itu benar-benar menjadi kenangan?


"Is, gua balik ya. Kalau lu butuh apa-apa kabarin gua aja."


"Gua butuh lu buat nenangin Nabila. Please Mal, saat ini gua benar-benar lagi gak bisa bagi waktu dulu. Sedangkan buat mengakhiri rasanya gua belum siap kalau sekarang."


"Karena lu udah kepalang sayang?"


"Bukan, gua masih trauma ngeliat air mata perempuan."


Akmal menghela nafas. Mencoba mengerti posisi orang yang lagi gak mau diganggu tapi gak mau juga orang yang terbiasa di jaga di lepas perhatian begitu saja. Mulai detik ini, Akmal akan menjadi laki-laki idaman. Dalam arti pemberi perhatian khusus kepada seorang perempuan dengan segala tek-tek bengeknya.

__ADS_1


"Kalau cewek lu demen sama gua gimana?" Kata Akmal dengan culas. Dia tidak benar-benar tertarik dengan tugas Fais yang diberatkan padanya. Apalagi Soal perempuan, Akmal antipati pada pra menstruasi. Yang nangis gak jelas lah, yang marah-marah tanpa sebab lah. Pokoknya pengennya marah aja titik. Membayangkan itu semua, Akmal rasanya ingin mimisan.


Apalagi soal perhatian. Tidak jarang perhatian-perhatian akan berujung perasaan. Istilah teman makan teman marak jadi perbincangan karena soal pasangan yang berbelok pada sahabat. Apakah untuk mereka akan berlaku? Sepertinya tidak.


"Kalau Nabila demen sama lu itu tandanya dia gak bener-bener suka sama gua. Tapi suka sama perhatian gua. Iya gak?"


Akmal manggut-manggut, benar juga kata Fais.


"Iya juga ya. Tapi gua belum sehandal lu is dalam menerjemahkan apa maunya wanita. Gua masih payah mengartikan bahasa perempuan. Kaya 'terserah' gua pikir itu kosakata buat pilihan yang mana aja ok. Eh ternyata artinya marah hehe."


"Perempuan emang kadang begitu. Kalau lu belum siap sama hal yang berseliweran di otak lu, kaya perempuan kadang nangis tiba-tiba. Marahnya gak jelas. Manjanya minta ampun, berarti lu belum siap jadi laki-laki."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2