
Langit sudah bergeser senja sejak satu jam yang lalu. Tidak terasa, waktu yang dihabiskan Fais tak tau arah sudah banyak tersita. Mamah ia tinggalkan bersama sanak saudara yang sedang menginap. Lalu ia ambil kesempatan tersebut untuk berfikir lebih banyak. Untuk meresapi setiap peristiwa yang ada dari sudut pandang yang berbeda.
Saat ini, perasaan seorang anak tidak bisa di tipu dengan apapun. Mulut bisa berkata tidak, tapi hati akan selalu berkata iya untuk setiap hal yang di rasakan. Seperti pertanyaan apakah Fais masih rindu dengan ayahnya? Jawaban hatinya iya.
Detik dimana Fais bangkit dari duduknya, detik itu juga ponselnya bergetar minta di perhatikan. Dengan gerak cepat Fais menggeser log terima saat tahu siapa yang menelponnya.
"Wa'alaikum salam bi, ada apa? Mamah baik-baik aja kan?"
................
Setiap orang memiliki pengharapan. Baik yang bisa di ungkap maupun di pendam sampai membusuk di dalam. Hidup memang terus mengandalkan waktu yang terus bergerak maju. Seperti Jam dengan jarum-jarum yang bergerak ke kanan. Segimana pun kamu berusaha menerobos arahnya, jarum waktu tidak akan pernah berubah arah. Jika memaksa, jangan heran kalau kamu akan tertusuk dari arah manapun.
Susah, senang, menderita, bahagia. Hanya perlu persiapan diri sewaktu-waktu berada di posisi yang mana. Agar bersyukur seluasnya pada kebahagiaan, dan agar menangis seperlunya di kala kesedihan. Percayalah, semua tidak tetap dan akan bertukar satu sama lain.
Namun jika lelah cukup merampas paksa, tidak apa-apa untuk sejenak beristirahat. Tidak apa-apa kalau mau merenungi luka-luka yang ada. Ketika suasana hati tidak bisa di lagi paksakan, jangan tunggu sampai berdebam. Berilah ruang untuk ceria kembali pulang.
Pada garasi yang cukup luas untuk dua mobil, Fais baru menemukan fakta jika mobil CRV hitam milik Papah tidak lagi teronggok disana. Memang Papah telah pergi dari rumah semenjak beberapa hari yang lalu. Tapi yang jadi masalah, Fais baru ingat jika mobil Papah memang tidak ada disana semenjak ia berulang tahun. Ralat, itu adalah waktu terakhir kalinya ia melihat mobil Papah.
Setelah mengucap salam lalu mendapat sahutan dari orang yang di dalam, Fais lekas menemui Mamah di kamarnya. Tidak sampai pada kamar, Fais sudah di sambut dengan pemandangan menyejukkan hati. Maya tersenyum ke arahnya sembari membawa informasi perkembangan Mamah. Lagi-lagi Fais mengucapkan terimakasih dan maaf pada Maya. Atas segala perhatiannya pada Mamah, dan atas sikapnya yang seenak hati kabur-kaburan.
__ADS_1
"May, ketika Aa selalu di dekat kamu, Aa jadi banyak mengucap kata terimakasih dan maaf. Kamu kira-kira tahu nggak kenapa bisa begitu? Kira-kira aja May jawabannya. Soalnya gak cuma cuaca aja yang butuh perkiraan, tapi jawaban juga butuh."
"Karena Aa hidup dengan baik." Jawab Maya menimbulkan kerutan di kening Fais. Maksudnya Maya, Fais tahu dengan apa dia berkata untuk sebuah kebaikan yang di terima. Fais juga tahu dengan apa dia menunjukan rasa bersalahnya. Bagi Maya itu sudah cukup menyebut Fais hidup dengan baik.
Sementara Maya mantap dengan jawabannya, Fais justru menghela nafas panjang. Apa yang dikatakan Maya tidak ada yang salah. Hanya saja Fais merasa-- Maya melihat dirinya dengan sudut pandang yang luar biasa. Fais beruntung memiliki kekasih seperti Maya di saat orang-orang melihat bahwa Maya beruntung memiliki kekasih seperti Fais.
Kadang-kadang ada orang yang mengakhiri hubungan karena pasangan terlalu baik. Sedangkan banyak hubungan berakhir pada titik dimana tidak ada baiknya hubungan tersebut di lanjutkan. Fais tidak mengerti dengan jalan pikiran tersebut. Yang ada dipikiran dia, sampai kapan pun tidak akan melepas Maya dengan alasan terlalu baik.
"Aa beruntung punya kamu May. Tapi kalau menurut Aa, bukan Aa yang hidup dengan baik. Aa nya aja yang terlalu banyak merepotkan dan selalu membuat kesalahan sama kamu May."
"Menurut Maya nggak gitu a. Ucapan terimakasih sama maaf Aa itu nggak cuma buat Maya aja. Buktinya Aa sering lakuin ini sama yang lain. Sama Aa Akmal misalnya."
"Aa emang nggak bilang dalam bentuk kata. Dengan Aa makan lahap makanan pemberiannya, dan sering memakai benda pemberiannya, itu masuk dalam bentuk terimakasih. Pun sama dengan Aa bertanggung jawab membantu Aa Akmal tanpa dia ketahui, Tandanya Aa lagi merasa bersalah dan masuk dalam bentuk permohonan maaf."
Fais tidak bicara lagi. Ia menarik tangan Maya hingga terjerembab dalam pelukannya. Pinggang ramping Maya Fais kunci serapat-serapatnya.
"Bicara sama Maya emang nggak pernah menang ya. Kok kamu ngegemesin sih May." Ucap Fais dengan deru nafas yang terasa di wajah Maya. Tubuh Maya ia bawa untuk menjauh dari pintu kamar Mamah. Hanya untuk membuat semacam perhitungan manis pada Maya. Fais mau meluruskan ketidakberesan yang telah terucap dari belah bibir sang kekasih.
"Jangan panggil Akmal pake sebutan Aa lagi. Aa Fais yang ganteng ini nggak suka."
__ADS_1
"Terus Maya panggil apa?"
"Terserah, asal jangan Aa. Panggil aja Mamang, Om, Uwa, Nde, atau Aki ge, engkong kek." Tutur Fais dengan nada kesal.
"Iya Aa. Maaf ya."
Di tengah Fais mau memberi hukuman pada Maya, Mamah memanggil-manggil. Suaranya masih belum jelas, namun cukup memberikan isyarat bahwa Mamah tengah memanggil Fais.
Baik Fais maupun Maya, mereka terhenyak sejenak. Kemudian Fais menghampiri Mamah.
"Ada apa Mah?"
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...