
Di sebuah lorong panjang, Fais seakan masuk dalam labirin yang tak bertepi. Segalanya menjadi kelabu bagi anak laki-laki yang sangat menyayangi ibunya tersebut. Dan anak itu selalu berdo'a di sepanjang jalan, berharap keabu-abuan tidak berubah menjadi kelam. Setidaknya satu permohonan itu saja yang Fais ingin panjatkan sebaik-baiknya.
Air mata sudah tak terhitung berapa kali nyelonong jatuh tanpa permisi. Bibirnya bergetar bersamaan tubuhnya yang lemas. Langkah demi langkah ia paksakan secepat mungkin, agar bisa tahu kondisi Mamah di dalam sana.
Hingga pada pintu bertuliskan Mawar 02, Fais berhenti melangkah dan menatap pintu itu lamat-lamat. Perasaan gusar menyergap Fais. Lalu ia melayangkan tangannya hendak meraih handle pintu. Dan..
"Fais"
"Bapak"
Pertemuan Ayah dan Bapak di ambang pintu yang tak terelak berhasil mengejutkan keduanya. "Pak, Mamah ada kan?" Hanya itu yang bisa dia ucap di saat kepalanya sangat kusut untuk bertanya yang lain.
Papah menghela nafas. "Ada nak. Mamah nggak kemana-mana. Mamah masih sama kita."
Kata Papah seperti itu. Namun raut wajahnya sama sekali tak menunjukan kalau Mamah betulan baik-baik aja. Senyuman Papah yang getir semakin mendobrak Fais untuk menerobos masuk. Mengabaikan Papah yang terhuyung ke belakang akibat Fais yang berjalan dengan ugal-ugalan.
Ibu Imah ada disana. Di atas ranjang pasien dengan selimut yang menutupi setengah badannya. Matanya yang terpejam seketika terbuka saat hembusan nafas Fais terasa menyapu wajah.
"Mah"
Fais usap lengannya dengan lembut. Kemudian beralih pada pipi. Berungkali Fais melakukan itu hingga pemuda itu memanggil Mamahnya kembali.
"Mamah kenapa bisa kaya gini?"
Hening. Mamah hanya diam menatap Fais tanpa ada sepatah kata pun. Tatapannya teduh dan sarat akan penjelasan bahwa tatapannya bukanlah tatapan yang kosong.
"Mah"
Kali ini Fais agak cemas. Apakah Mamah marah padanya karena waktu bercengkrama mereka kurang akhir-akhir ini. Fais lebih sibuk pada urusannya sendiri. Pada hp dan segala grup divisi tempat ia bekerja. Pada laptop dengan tugas kuliah dan segala tulisan-tulisannya. Dan pada waktunya yang jarang di rumah demi tak mau banyak berinteraksi dengan Papah.
"Mah, apa yang sakit?"
Mamah masih geming. Tangan kanannya terulur untuk menepuk pundak sang anak. Dengan begitu saja, Fais mulai sadar dengan badan Mamah yang condong ke arahnya. Tidak hanya posisi saat ini yang miring, mulut Mamah nampak miring. Tangan Mamah yang satunya lagi kenapa tidak menunjukan pergerakan.
Hati Fais hancur.
__ADS_1
Papah menjadi orang paling hancur ketika disuguhkan pemandangan anaknya yang terisak dalam sepi. Mamah mencoba untuk tersenyum kala itu. Namun penyakit kurang ajarnya mampu menyeret Mamah dalam rasa sakit yang lebih menyiksa. Beruntungnya Mamah masih bisa menulis dengan tangan kanannya, dan berinteraksi lewat sebuah tulisan.
Fais jangan nangis. Mamah jadi kepengen nangis kalau Fais sedih.
"Fais nggak nangis. Tuh Mamah lihat kan Fais nggak ngeluarin air mata. Fais nggak nangis mah.."
"Fais nggak nangis" lirihnya kembali.
Fais merunduk meraih tangan Mamah untuk di ciumi. Seraya meminta maaf atas segala sesuatu yang bisa menyakiti. Kenakalannya, ketidak siapan dirinya untuk menjadi pendengar curhatan Mamah, dan untuk apa saja yang bersifat abai terhadap Mamah. Termasuk permintaan Mamah tadi pagi membersihkan sawang.
"Maafkan Fais Mah"
................
Di seberang sana, di bagian hati yang lain.
Maya bolak-balik melihat layar ponselnya yang kian meredup. Pesan-pesan yang dia kirimkan pada Fais masih sama nasibnya seperti kemarin. Alih-alih terbaca, centangnya pun belum berubah menjadi dua. Maya gusar. Dia berpikir, kesalahan apakah yang sudah dia lakukan hingga membuat Fais bertindak tidak sewajarnya? Dan di tengah-tengah kerisauan Maya tersebut, gadis itu menemukan sebuah status yang cukup menyita perhatian.
Maya teringat pesannya. Kemudian Ia buka pesannya tersebut sudah menunjukan centang dua bahkan biru. Maya bisa bernafas lega ketika Fais sedang mengetik...
Aa❤️
Maaf Aa baru ngabarin kamu. Aa ketiduran dari kemarin sore May hehe. Parah ya. Tapi nggak pa-pa, yang penting Aa masih bisa bangun dari mimpi buruk. Buat hadiah yang kemaren, Aa belum sempat kasih. Jadi Aa belum tahu respon Mamah seperti apa. Kalau menurut Aa sih Mamah pasti suka pilihan kamu May. Dan buat hadiah Bapak, nanti ya May. Nunggu waktu yang tepat. Oh iya, ada satu hal penting lagi yang Aa pengen bilang. Aa sayang kamu May."
Maya
Boleh Maya telepon Aa?
Hingga satu jam lamanya Maya menunggu balasan, pesannya urung jua terbaca. Tidak apa-apa. Maya selalu positif thinking orangnya. Kalau tidak, sejak awal dia akan berpikir Fais mementingkan dirinya sendiri, yang maunya setiap orang harus ada mengabarinya namun dirinya hilang-hilangan tanpa kabar.
.
.
__ADS_1
.
Menilik situasi hari kedua di rumah sakit.
Sampai pada titik manusia menemukan letak kelalaian, disitu usaha memperbaiki yang rusak gencar di lakukan. Bagi orang yang berfikir, ini adalah kesempatan kedua yang mungkin tidak akan datang menghampiri kembali. Dan inilah yang terjadi kepada sosok pemuda bernama Fais.
Penyesalan tiada guna. Memperbaiki yang ada masih memiliki waktu. Ketimbang ia bergalau ria meratapi apa yang telah terjadi, bukankah lebih baik ia merubah menjadi lebih baik? pemikiran positif Maya perlahan menular padanya. Sampai ketika Maya dihadapkan dengan sikap Fais yang uring-uringan, Maya cuma bilang pada dirinya sendiri begini: Dia lagi capek. Semua orang butuh ruang untuk memahami diri sendiri. Jadi nggak apa-apa. Berilah dia waktu May.
"Mah, apa kabar pagi ini? Fais selalu berdo'a agar rasa sakit Mamah berangsur membaik."
"Mah, hari ini Mamah mau cerita apa? Fais pengen denger nih" anak itu melipat kedua tangannya sebagai tumpuan di tepi ranjang. Setelah ia meletakan ponselnya di atas nakas sehabis mengirimkan sebuah pesan kepada Maya. Untuk kali ini, dia benar-benar ingin membagi waktu sebaiknya-sebaiknya antara hp dan Mamah.
Apa kabarnya kamu is? Apa kabarnya Maya juga? Mamah selama ini pengen dengerin cerita kalian berdua tahu.
"Kabar Fais baik Mah. Maya juga. Kalau cerita tentang kami berdua, banyak. Mamah mau cerita dari segi apa dulu nih?"
Mamah menulis lagi. Kali ini Mamah lebih bersemangat saat Fais mengaku ada banyak cerita yang bisa dia ceritakan.
Dari segi tahapan hubungan, masih biasa saja apa sudah ada komitmen?
"Fais serius sama Maya Mah. Nggak main-main. Fais orangnya nggak bakal ada kontak fisik kalau bener-bener gak sayang."
Keadaan hening. Tiga detik kemudian baik Fais maupun Mamah terhenyak. Ada yang janggal pada kalimat Fais barusan. Gak ada kontak fisik kalau gak sayang. Tapi dia bilang juga kalau dia sayang sama Maya. Itu berarti..
Kamu ngapain Maya?
"Nggak ngapa-ngapain Mah. Fais menjaga Maya kok. Cuma..." Bibir Fais maju mencium udara.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...