Tulisan Fais

Tulisan Fais
Tidak Menyangka


__ADS_3

Di sore ini, setelah mengarungi hari dengan tidak mudah, Fais memutuskan untuk bertandang ke rumah kekasih guna mendapat suntikan semangat. Semalam kepalanya penuh dengan pertanyaan yang tidak ada ujungnya. Kenapa Papah bersikap seakan peduli padanya namun masih menjalankan apa yang di benci keluarga? kenapa Papah memberikan Map coklat yang sampai saat ini Fais belum berani membukanya? Dan kadang-kadang Fais sempat berpikir, kenapa masalah ini bisa terjadi menimpanya?


Dengan bermodal wajah kucel habis pulang bekerja, juga keringat bercampur aroma antirust oil (sebab ia bekerja di perusahaan spare part otomotif), Fais dengan percaya diri melajukan motornya ke arah rumah Maya. Katanya cinta itu menerima apa adanya. Dan sekarang Fais ingin menguji kalimat tersebut, apakah benar seperti itu atau sebuah omong kosong belaka?


Meskipun demikian, Fais sudah menyiapkan sesuatu untuk di berikan pada Maya. Selelah-lelahnya Fais hari ini, pemuda itu masih sempat membelikan kuncir rambut berwarna ungu bergandul kelinci. Entah kenapa saat dia melihat benda lucu itu di toko samping konter tadi, Fais jadi teringat kekasihnya.


Capek juga ya kerja. Fais mengeluh di dalam benak. Meratapi aktivitasnya hari ini yang terasa sukar telah membunuh waktu perjalanan. Hingga roda motornya berhenti berputar tepat di depan pohon jambu air. Fais menunjang yang seharusnya di tunjang. Kemudian menyeret langkah kakinya ke rumah Maya. Di teras rumah sana, ada Bi Nur sedang berbicara dengan pelanggan jahitan. Sebut saja dia Mpok Leha.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam" Jawab Bi Nur dan Mpok Leha serentak.


"Calon mantu dateng nih" Ini kata Mpok Leha. Nada bicaranya dibuat secihuy mungkin, guna meledek bocah lunglai yang baru saja datang dengan tampang berantakan.


"Iya nih calon mantu mau numpang ngaso bentar. Boleh kan ya Bi?" Seru Fais sembari meraih tangan Bi Nur untuk di salami. Kemudian seperti biasanya, tentengan selalu identik dengan kedatangan Fais. Kata pemuda itu, kalau bertamu tidak membawa tentengan bagai masak tidak memakai penyedap. Kurang gurih.


"Emang aa Fais darimana? Romannya capek bener sampai ngos-ngosan gitu?"


"Baru balik kerja Bi. Fais kan sekarang kerja sambil kuliah." Detik kemudian Fais merebahkan tubuhnya di bangku panjang dekat calon mertua menjahit. Mpok Leha yang melihatnya sontak berdecak kagum. Pasalnya ia baru pertama melihat yang namanya calon mantu dan mertua akrabnya bukan main.


"Maya kayanya lagi mandi dah. Dikit lagi juga selesai. Tunggu aja ya a, Bibi mau ke dalam buatin minum dulu." Ujar Bi Nur berinisiatif tanpa di tanya dahulu. Sebab tidak ada alasan lain lagi untuk Fais datang kemari kalau bukan karena Maya.


"Nggak usah repot-repot Bi, Fais bawa minum nih." Ia menunjukkan sebotol minuman isotonik rasa lemon.


"Ya itu kan beda atuh a. Ini mah apan... Eh iya ya" Bi Nur baru sadar kalau teh hangat buatan Maya adalah minuman yang di tunggu-tunggu Fais. Anak dari Marda Wardana tersebut cengar-cengir manakala Bi Nur tertawa renyah setelah tahu maksud anak muda.


"Hahahaha" dan Mpok Leha terbahak-bahak menertawai Bi Nur.


Setelah urusan perminuman rampung, Fais selonjoran membelakangi dua ibu-ibu yang kini sibuk membicarakan harga minyak. Keadaan memang cepat berubah, yang semula berbicara perihal minuman langsung ke topik harga bahan baku. Sementara itu Fais juga sibuk dengan gawainya. Membaca, serta membalas pesan untuk di kirimkan kepada seseorang.


May ❤️


Aa dah balik kerja belum?


Fais

__ADS_1


Udah nih. Ada apa emang?


May ❤️


Gpp a, cuma mastiin aja. Oh iya, Maya hari ini bikin puding mangga kesukaan aa. Nih Maya lagi siap-siap mau kesitu.


Fais


Wah, mantap tuh. Makasih ya cintakuuh. By the way kamu kangen gak sama aa?"


May ❤️


Kangen sih nggak, cuma rindu aja a😁


Dapat balasan begitu, Fais otomatis senyam-senyum rusuh dengan gawainya. Atensi Bi Nur dan Mpok Leha langsung teralihkan pada senyuman pemuda yang sedang rebahan di bangku panjang. Yang tak lagi memunggungi mereka, melainkan secara tidak sadar Fais sudah membalikkan badannya menghadap calon mertuanya tersebut.


Tersadar dirinya sudah tertangkap basah sedang di mabuk cinta, Fais menelungkupkan gawainya dengan sebelah tangan menutupi wajah. Anak itu memberikan kode tutup mulut di saat Mpok Leha dan Bi Nur hendak meledek yang bisa di tebak mereka akan bilang cie..cie..


Dengan gerakan jari telunjuk menempel di depan mulut, Fais mampu membuat situasi menjadi aman terkendali. Seperti tidak ada suatu kehebohan apapun. Semua nampak berjalan semestinya seolah tidak pernah ada Fais disana. Masih dalam menjalani masa pura-pura, Mpok Leha berusaha keras menahan hasrat tawanya. Sampai bibirnya mencang-mencong lalu di perparah dengan kentutnya yang lolos.


Anjiirr kok bau kentut ya? gerutu Fais dalam hati.


.


.


Maya di dalam kamar praktis membeku saat membaca balasan dari pacar hanya berupa 'oh gitu'. Kata itu merupakan jawaban dari pesan Maya yang berbunyi: kangen sih nggak, cuma rindu aja a. Namun alih-alih Fais membalas dengan romantis atau gombalan, anak itu menjawab dengan 'oh gitu'. Dan daripada Maya merajuk karena sebuah chat, akhirnya perempuan tersebut membalas pesan Fais.


May ❤️


Aa kangen nggak sama Maya?


Fais


Kangen lah, kalau gak kangen ngapain Aa sekarang di depan kamar kamu.

__ADS_1


May ❤️


Hah, apa? Di depan kamar?


Fais


Iya cintakku😍 kalau gak percaya coba buka tirai jendelanya.


Ang..ing..eng..


Jantung Maya berpacu di luar batas kewajaran. Saking terkejutnya, perempuan itu membekap mulutnya saat menangkap sosok Fais betulan ada di luar jendela kamar. Lalu tersenyum madu kearahnya sambil memberikan perpaduan jari membentuk love yang sering dilakukan oppa pada drama yang sering ia tonton.


.


.


"Aa udah lama disini?" Maya keluar kamar dengan wajah begitu cantik. Bibir ranumnya di poles liptint merah jambu. Bulu matanya lentik dan ada penegasan garis disana. Cuma begitu, Maya cantiknya bikinnya deg-degan. Sebagai seorang pacar Maya telah memberikan effort untuk bertemu dengan Fais.


"Baru juga sampai May."


"Mau pada kemana nih bu-ibu?" tanya Mpok Leha dan Bi Nur pada segerombolan orang-orang yang lewat.


"Mau ngelayat Mpok. Badrun lakinya Sasmhita meninggal."


Mendengar apa yang dikatakan ibu itu, Fais tercekat kemudian mengucap kalimat istirja. Ia diam segenap mengumpulkan kesadaran setelah apa yang di dengar membuatnya tersentak kaget.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2