
Nabila jangan lupa makan ya.
Sesingkat itu pesan yang diterima Nabila. Pesan yang tertuang diatas secarik kertas biru langit. Dan ditemukan dalam paketan makanan dengan pengirim bernama Fais. Senang. Cuma begitu saja sudah membuat Nabila kegirangan sampai berjingkrak layaknya menang undian.
Emmm manis banget sih cowok aku ini.
Rasanya Nabila ingin menatap lama-lama makanan itu. Alih-alih melahapnya, Nabila terpaku menatap paket makanannya sembari kasmaran menjerat gadis tersebut. Pikirannya melanglang buana. Menjelajah apakah ada setitik saja sengsara dengan Fais. Rasa-rasanya tidak. Nabila merasa sepanjang harinya selalu bahagia.
Memikirkan Fais seharian tidak ada kabar saja, sudah membuat Nabila bahagia. Entah prinsip darimana.
Nabila lantas mengambil ponsel untuk menghubungi Fais. Sang pujaan hati. Tiba-tiba di beranda terdapat notif pesan dari "♥️"
Maaf kalau Nabila hubungin kakak gak ada jawaban. Mungkin Kakak sudah tertidur. On the way mimpiin Nabila.
Kira-kira begitu pesannya. Pemirsa juga tahu, laki-laki itu tidak serius dengan ketikan jari tersebut. Soal perasaan saja Fais tidak tahu sedang mengarah kemana.
Meskipun sudah mendapat notif mengarah ke : jangan hubungin, percuma. Nabila tetap saja melakukan usaha tersebut. Ia melakukan panggilan sekali, namun urung di angkat.
Menilik keadaan Fais.
Di atas nakas, ponselnya bergetar-getar meminta untuk di lempar. Sehabis memesan makanan lewat ojol untuk dipersembahkan kepada Nabila, Fais tertidur memeluk guling. Sekilas mungkin karena getaran ponselnya telah mengganggu tidur, Fais menoleh sebentar.
Di bilang akan percuma, masih saja berusaha. Maaf ya Nabila.
Fais tanpa melihat sudah tahu siapa yang telepon. Bukan ilmunya sudah tinggi. Melainkan laki-laki itu memiliki dua ponsel. Dan Nabila sudah di taruh pada ponsel khusus Nabila.
Fais melanjutkan tidurnya lagi. Tapi, berjam-jam kemudian matanya sulit untuk terpejam. Pengkhianatan yang di lakukan ayahnya begitu menyita pikiran. Bahkan Fais tidak tahu harus bersikap bagaimana esok hari terhadap sang ayah. Mengingat amarah masih merajai pikirannya.
__ADS_1
...........
Pagi hari di rumah Akmal.
Segelas teh hangat menemani Fais duduk di bale panjang milik Akmal. Teh itu menjadi teman Fais -Menikmati Pagi yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Pagi dimana orang tuanya bercanda di teras rumah. Lalu tahu-tahu dia terbangun sekedar mencuci muka, membawa piring dan sendok dengan muka bantal. Kali ini, ia bahkan bangun lebih awal hanya untuk pergi ke rumah Akmal. Menghindari situasi yang belum ada jawabannya.
"Is bentar ya gua mau beli sarapan buat kita"
Mendengar kata sarapan, ada yang sakit pada bagian tubuh. Matanya berkaca-kaca manakala teringat ibunya yang selalu menyiapkan segala keperluan untuknya. Dan sekarang, keperluan sarapan di laksanakan oleh Akmal. Rasanya seperti berbeda.
Rasanya, ada suatu peralihan yang terasa asing dan tidak nyaman dilakukan dalam waktu dekat ini. Fais benar-benar menyadari bahwa dia jauh dari kata mandiri.
"Mal, gua ikut ya"
Fais diam. Tapi dia langsung merebut kunci motor Akmal. Mereka melaju bak kakak adik yang sedang akur. Walau sebenarnya ada adegan drama dulu sebelum pergi. Adegan dimana Akmal tidak sengaja menginjak kaki Fais dengan sendal yang ada tai lotoknya.
Sungguh Akmal tidak sengaja.
Suara angin begitu jelas di telinga. Meski tahu bicara di atas laju motor akan begitu sulit karena tingkat kebudegan naik satu level. Tidak menyurutkan Akmal untuk bertanya keadaan Fais.
"Is, lu kenapa?"
"Hah" Jawab Fais.
"Lu lagi ada masalah apa?"
__ADS_1
Lagi-lagi Fais merasa hatinya melow. Dikit-dikit bawaannya ingin merana. Sesak di dada kembali terasa. Ataukah mungkin penyebabnya, karena Fais susah payah menahan air mata?
"Nanti aja gua ceritainnya."
"Iya is"
Hening menguasai sejenak perjalanan mereka. Sampai tiba dimana tempat jualan nasi uduk ramai pembeli.
Disana, sambil menunggu Akmal membeli sarapan. Fais duduk tidak jauh sembari memainkan ponsel. Lumayan pagi-pagi nulis novel barang satu dua paragraf. Agar tidak terlalu terburu-buru menyelesaikan misi saat malam sudah tiba.
Samar-samar terdengar suara Akmal memanggil nama Maya.
............
"Pah, tumben Fais pagi-pagi banget ijin ke Mamah pergi ke rumah Akmal. Gak biasanya kaya begitu?"
"Biarkan saja Mah. Anak kita sudah besar. Mungkin dia ada urusan yang mendesak sampai pagi-pagi keluar."
Maafkan Papah ya is. Pasti kamu lagi menghindar. Maafkan Papah.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1