
Di kamar yang entah sejak kapan terasa pengap, Fais menyendiri bertemankan bukti pengkhianatan, bersama kehampaan, dan di selimuti rasa tidak menyangka.
Hampir seharian penuh ia hanya memutar ulang dan membaca pesan menjijikan ayahnya bersama seorang wanita yang telah bersuami. Sasmhita namanya. Perempuan yang pernah diceritakan ibunya Maya tempo hari.
Sungguh miris. Percuma saja Fais menasehati dan Papah pun berjanji. Janji tinggalah janji, yang namanya janji tidak ubahnya seperti harapan. Namun harapan itu hangus tak bersisa, terbakar oleh pengkhianatan.
Dan detikan jarum jam terdengar menjengkelkan seakan ikut berpartisipasi menyumbang kepenatan. Kenapa jarum itu bergerak sangat lamban di saat seperti ini. Disaat jiwa yang berapi-api bergejolak menungggu di pertemukan oleh Papah.
"Is, Mamah boleh masuk?"
Fais segera membereskan kekacauan kamar, "sebentar, Fais yang bukain pintu."
Mood lagi gak stabil, tapi kasihan juga Mamah gua cuekin terus-terusan. Sabar is, lu pasti bisa ngatasin masalah ini.
Pintu pun terbuka, Fais sebisa mungkin merekahkan senyum terpaksa untuk melegakan hati sang ibu. Hati ibu mana yang tidak akan semrawut ketika mendapati anaknya dalam kamar berlarut dalam diam. Tanpa makan, tanpa canda, tanpa kebiasaan seperti biasanya.
Ada, tapi seperti tidak ada.
"Fais kan belum makan. Makan dulu ya. Mamah suapin gimana?" Tawar Bu Imah, secara otomatis membuat Fais tambah bersedih. Kenapa manusia sebaik ibunya bisa di khianati?
Maaf mah, untuk sekarang Fais belum bisa kasih tahu kebenarannya. Batin Fais
"Is, kok malah bengong?"
"Ih siapa yang bengong, orang Fais lagi memandangi kecantikan Mamah. Yasudah Fais makan, tapi gak mau di suapin."
"Maunya disuapin sama Maya ya?"
"Iya" Jawab Fais sekenanya. Tiba-tiba Fais berfikir apa bedanya ia dengan sang Ayah. Punya pacar resmi tapi mau juga dengan gadis lain.
Jika pikirannya itu bisa di ajak berkelahi, maka Fais akan memukul, menendangnya, karena sudah lancang menyamakan dirinya dengan Papah. Dan jika pikiran itu mempunyai mulut, maka pikiran itu akan berkata buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.
Fais dengan gamang menikmati makan yang tersaji di meja. Masakan seorang ibu dalam situasi apapun harus di makan dengan baik. Sebab, disitulah salah satu bentuk cinta ibu tercurahkan.
Di tengah kunyahannya menghancurkan makanan, ada suara deru mesin mobil yang sangat dia kenal. Kemudian Fais memilih untuk mempercepat makannya lalu meneguk segelas air putih. Setidaknya isi tenaga itu penting untuk menghadapi kenyataan.
__ADS_1
Papah dan Mamah saling bertegur sapa. Lanjut cipika-cipiki yang di balut adegan drama harmonis. Yang wanita bertanya bagaimana pekerjaan hari ini? Lancar kah? Dan yang laki-laki juga bertanya bagaimana istrinya di rumah? Senang kah?
Apa katanya? Senang? Bapak gua kagak danta. Mana ada orang di selingkuhan senang. Batin Fais menggerutu.
Sontak Fais pergi menghindari mereka. Memberi kesempatan untuk Ayahnya mengisi perut sebelum akhirnya terjadi perseteruan.
"Fais mau kemana? Gak temenin Papah sama Mamah makan dulu?" Tanya Ayahnya dengan sumringah. Seperti biasa, laki-laki itu selalu membawa buah tangan sehabis pulang bekerja. Pulang bekerja? Iya kali, karena Fais tidak sepenuhnya mempercayai itu.
"Fais abis makan pengen boker." Fais melenggang pergi ke dalam kamarnya.
"Pengen buang air besar kok ke dalam kamar tidur, bukannya ke kamar mandi. Fais emang mau BAB di atas kasur mah?" Dengan polosnya Papah bertanya.
"Iya kali pah. Mending kita makan dulu. Mamah sudah lapar nunggu Papah dari tadi."
"Oh iya, maaf ya sayangku."
Bu Imah hanya tersenyum.
Satu menit dua menit Fais masih sibuk mempersiapkan bukti untuk penyerangan. Menit ke lima ia mulai mengintip aktivitas ruang makan. Terdengar orang tuanya masih ada disana, Fais lantas masuk kembali dan menutup rapat pintunya. Di menit ke sepuluh Fais keluar secara gamblang tanpa intip-mengintip.
Bu Imah lantas senyam-senyum dengan kelakuan putranya. "Ya sudah, Mamah ijinkan".
"Tapi Mah, boleh tidak Fais minta tolong beliin obat nyamuk di warung. Fais malu kesananya banyak orang."
"Lah tumben kamu malu sama orang is. Yasudah nanti Mamah belikan. Obat nyamuk yang kaya gimana nih?"
"Obat nyamuk bakar, yang ada gambar kingkongnya." Jawab Fais sembari melirik Papahnya yang sedang menyuap salad buah.
Yang sedang menyuap otomatis terhenti. Lalu melirik sang anak hanya untuk menanyakan fungsi barang yang dititip. Sebab, kamar Fais di lengkapi AC serta erang-erang yang sudah rapat di tutup jaring. Kebersihan pun sudah dapat dipastikan higienis.
"Bukan buat di kamar, buat tidur di luar. Kali aja malam ini ada yang tidur di luar." Jawab Fais enteng mengandung 99% sindiran. Seketika, potongan apel yang masuk ke dalam mulut terasa magel di tenggorokan. Ayah Fais mendadak terkena serangan kelolodan alias tersedak.
"Minum dulu Pah, baru pemanasan." Seru Fais lagi dengan berani, saat melongok ibunya sudah jauh dari pandangan.
"Maksud kamu apa is?" Air muka Papah sudah berubah. Rupanya Papah sudah mulai panik dengan sindiran anaknya.
__ADS_1
"Papah darimana kemarin malam?"
"Papah kerja is, emang lembur pulangnya jam segitu."
"Masa? Bukannya ketemuan sama Sashimi buat ngasih hp baru?" Alis Fais meninggi.
"Sashimi siapa?"
"Tidak usah berdalih Pah. Semua bukti sudah di tangan bahwa Papah ada main sama istrinya Badrun." Jawab Fais menggebu-gebu.
"Sasmhita?" Lirih Ayahnya Fais.
"Emang namanya Sasmhita?" Kata Fais lagi. Kali ini keningnya berkerut memikirkan sesuatu.
"Iya" Jawab si Papah dengan lemah.
G*blok banget si gua, interogasi aja pakai salah nama.
"Fais, sini nak." Ayah Fais menarik lengan anaknya untuk mengikutinya ke arah dapur. Disana ada pisau, batu cobek, dan banyak peralatan lain yang membuat bulu kuduk merinding.
.
.
.
Bersambung...
Nulis ketegangan pada karakter bocah seperti Fais sulit ternyata pemirsa hehe. Semoga selanjutnya bisa.
Jangan lupa, kalau suka like, kalau cinta komentar, kalau merindu kasih vote, kalau ada rasa yang lain beri hadiah.
Kenapa demikian?
Karena like artinya suka, cinta artinya peduli, dan kalau peduli jika ada yang salah atau kurang, kasih kritik dan saran lewat komentar.
__ADS_1
Terimakasih untuk kalian yang sudah membaca Tulisan ini.