Tulisan Fais

Tulisan Fais
Obrolan biasa


__ADS_3

Seseorang yang kehadirannya di cemaskan banyak orang nyatanya masih bisa berhaha hihi tanpa adanya perubahan berarti. Selepas kepergian suaminya, Sasmhita sering datang ke warung kopi milik salah satu tetangganya untuk menemani berjualan. Bukan membantu cuci gelas kotor atau sekedar mengelap meja yang basah. Ia sibuk menemani obrolan para aki-aki yang isi pembicaraannya pun terdengar begitu menyesakkan telinga.


"Eh mhit, besok gue ke arisan bawa laki gue. Jadi maaf banget nih gue kagak bisa boncengan ama lo."


"Yaelah, terus gue gimana urusannya nih? yang nggak punya suami, bawa suami orang kali yeeaa.."


Detik kemudian dua perempuan terlibat obrolan tersebut tergelak. Yang satu tengilnya masih mengudara, yang satunya menceramahi kalau-kalau Sasmhita tidak berubah, ia akan mendapat banyak masalah. Tinggal menunggu waktu, kapan karma akan datang menghampirinya.


..............


Untuk tenggang waktu saat ini, menghabiskan satu hari penuh terasa begitu panjang bagi Fais. Tapi mau bagaimana lagi, kalau seseorang hidup ingin ada perubahan tentu memerlukan perjuangan yang tidak main-main. Seperti sekarang misalnya, selepas kesibukannya bekerja sambil kuliah, libur pun masih Ia gunakan untuk kegiatan menjulang taraf perekonomian.


Bukan. Fais bukan lagi mengais pundi-pundi kekayaan untuk ia masukan pada kantongnya sendiri. Dia sedang membantu Akmal perihal accounting. Dimana Akmal harus mencatat, mengelompokkan, mengolah data, dan mencatat setiap transaksi yang berhubungan dengan keuangan. Lalu dimanakah letak anak itu menjulang taraf perekonomian?


Letaknya pada berbagi. Bukankah berbagi ilmu itu sebuah siklus yang bernilai mulia? Kata Fais, hidup itu jangan cuma berlomba-lomba memuaskan diri dengan dunia. Tapi bagaimana kita juga mampu memberi pada orang lain.


Dan saat ini di tengah-tengah Fais mengebet lembaran buku jurnal--yang dia sendiri meringis menghirup aromanya sebab terlintas seperti bau tai kucing--Fais merengkuh Akmal untuk mengajarkannya beberapa banyak hal.


"Akmal, sebelum kita sampai tahap laporan keuangan, pertama-tama harus adanya transaksi dulu. Habis itu kita bikin jurnal, terus..."


"Berarti sama ya?"


"Sama ama apa nih?" Salah satu alis Fais meninggi sebagai gerakan antipati terhadap omongan Akmal yang keluar. "Gua belom selesai ngomong lu nyela kalau itu sama. Emangnya lu tahu penjelasan gua yang selanjutnya?" Sambung Fais setelah cukup menatap nyalang pada Akmal agar anak itu paham dalam satu tatapan. Kalau-kalau dirinya bergurau, raket nyamuk siap mendarat di pipi mulusnya.

__ADS_1


"Hehe, selow apa selow hiyaelah. Lu kaya kagak tau kapasitas otak gua aja yang nggak bisa di ajak ngebut barang 60km/jam."


Fais tersenyum culas. Lantas menutup bukunya yang sempat ia kebet-kebet tadi. "Sama ama apa coba gua tanya?" Senyum sarkasnya mendulang tinggi. Kerutan di dahinya memperjelas kalau sekarang keberadaan Akmal terintimidasi oleh sorot matanya.


"Sama kaya suatu hubungan sepasang kekasih is. Pertama, harus ada pertemuan dulu. Habis itu kita bikin catatan bagaimana kesan pada pandangan pertama. Mencatat terus mengelompokkan dimana semua kisah yang dilalui bersamanya begitu berarti. Terus.. kita baru bisa bikin laporan hati, kalau perasaan ini harus di utarakan pada si pembuat onar di kepala sampai kita tidak bisa tidur karena bayangan senyumnya. Begitu is teori kesamaan antara yang lu jelaskan sama teori gua. Hehe".


Fais di buat berdecak oleh Akmal. "Akmal.." Fais memanggil laki-laki tersebut dengan selemah lembut mungkin. "Sini dah lu deketan." Suruhnya, kontras dengan senyum devilnya yang teramat manis.


"Nggak ah, gua disini aja gak mau deketan."


"Emang kenapa?"


Akmal mengedikkan bahunya ngeri. "Kalo lu udah nyuruh sini deketan, pala gua pasti di pocel ama lu."


Kalimat barusan semakin membuat Akmal ngeri terhadap Fais. Dengan keberanian yang hanya tinggal seperempat, Akmal mendekatkan dirinya pada sang sahabat yang langsung di hadiahi rengkuhan hangat.


Perlahan-lahan perasaan Akmal mulai menyusut. Ia tatap dalam-dalam manik teduh Fais yang entah kenapa Akmal seperti tersihir untuk mengagumi ketampanannya. "Biasa aja Mal. Selow. gua cuma mau deketan sama lu aja. Kan kita udah lama kagak maen bareng. Emangnya lu nggak kangen sama gua?"


Angin sore membawa samar-samar suara bocah bermain layangan. Suaranya begitu merdu untuk diperdengarkan pada sepasang sahabat yang memang sudah terjalin sejak kecil. Mata Akmal memanas, sampai akhirnya ia tercekat untuk berbicara. Namun dengan pembawaan yang tenang, Akmal mampu mengutarakan apa yang dirasakannya sewaktu di rundung sepi. Di hantui oleh kesibukan Fais beberapa waktu belakangan.


"Yaa.. kalo di tanya kangen sih jawaban jujur gua iya. Cuma gua sebagai sahabat senang kalau ada perubahan dalam hidup teman gua ke arah kemajuan. Is, gua emang gatau persis apa yang lu rasain, tapi gua yakin proses lu ini enggak mudah buat di jalanin. Jadi jangan sungkan buat berbagi cerita lu sama gua ya? Dan jangan pernah bosen temenan sama gua ya is?" Akmal menepuk pelan pundak Fais di sampingnya yang direspon dengan helaan nafas panjang. Lima belas detik Akmal berdiam diri hanya memindai Fais dengan sorot mata teduh.


"Lu teman terbaik gua Mal. Lu yang paling bisa gua andalkan."

__ADS_1


Setelahnya, mereka hanyut dalam pemikiran masing-masing dengan bahu yang saling menguatkan. 'Selalu ada' mengantarkan mereka pada persahabatan dalam rentang waktu yang cukup lama. Beda paham sudah hal biasa mereka arungi, namun setelahnya akan sirna ketika saling mengerti akan singgah di benak masing-masing.


"Is, bibir lu masih suci kagak?"


Nah loh, belum selesai bermelow-melow ria, Akmal sudah mengeluarkan bom atom yang membuat Fais mengulum senyum. Untung Fais pintar berakting. Kalau tidak, akan kentara sekali jika dirinya salah tingkah ketika terciduk.


"Emang kenapa lu nanya kaya gitu? heh jangan bilang kalau bibir lu kagak suci lagi...Ngaku lu Mal, ngaku hayo.." Fais memberondong Akmal dengan pertanyaan menohok.


"Is, kata orang kalo pacaran kagak selamet dari yang namanya bibir ketemu bibir." Mata Akmal berkaca-kaca. Fais tidak tahu apa penyebabnya. Pemuda itu langsung mengubah mode seperti ibu peri yang baik hati, yang siap mendengarkan keluh kesah seorang Akmal. Pikir Fais, jangan-jangan Akmal sudah ternoda.


"Ah masa sih? tergantung orangnya juga kali Mal. Tiba-tiba lu ngomong kek gini gua jadi menyangka lu udah.... Jangan ada kebohongan diantara kita apan kata lu. Hayo ngaku!". Begitu kata Fais sembari cengengesan. Seakan dirinya terlihat seperti orang yang paling bijak sekampung lobang kadal.


"Tar dah gua ceritainnya. Panjang bener soalnya." Akhirnya, Akmal tidak menyadari bahwa dirinya masuk dalam perangkap Fais.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2