Tulisan Fais

Tulisan Fais
Teman


__ADS_3

Sejak saat itu, hari dimana Fais dirayakan ulang tahunnya oleh Mamah menjadi titik awal kedekatan Fais dan Maya semakin kental. Sejak dulu, Fais tidak pernah memberikan hadiah-hadiah berupa perhiasan pada seorang wanita. Tapi ini, sudah kedua kalinya laki-laki itu menggiring Maya ke toko perhiasan di sebuah pusat perbelanjaan setelah sebelumnya memberi kalung berinisial F.


"Ayo a, katanya mau ke toko buku?!" Maya berusaha mengalihkan pandangan Fais dari pajangan cincin di balik kaca etalase. Maya berharap agendanya kali ini benar-benar sesuai rencana awal. Rencana tadi pagi bahwa Fais merengek padanya ingin di temani membeli sebuah buku.


"Ayo" jawab Fais dengan mata enggan untuk beranjak dari sebuah cincin simple namun cantik untuk di pandang. "May, kayanya cincin itu cocok deh di jari kamu" Nah loh. Maya kelimpungan kalau-kalau Fais ingin memberinya hadiah lagi.


"Iya kah? Tapi Maya lagi nggak cari cincin a." Maksud Maya menjawab sekenanya untuk sebuah pengalihan. Agar Fais berhenti terus-menerus memberinya hadiah yang menurut Maya bukan diberikan layaknya pada seorang teman. Keduanya memang semakin rapat dari waktu ke waktu. Tapi tidak menutup kemungkinan apa yang tengah terjadi hanya sebuah ilusi dari sebuah patah hati.


Patah hati banyak ragamnya. Bukan cuma soal cinta yang tidak sesuai sebagaimana antara laki-laki dan perempuan. Kepercayaan yang hancur misalnya. Menurut Fais, kepercayaan yang hancur termasuk patah hati terberat kepada sosok sang ayah.


"Tapi aa lagi pengen beliin Maya sesuatu."


"Bukannya kita kesini mau membeli buku yang aa cari?"


"Kata siapa?" Alis Fais meliuk seperti pegunungan Himalaya. "Orang aa ngajakin ke mall buat ngajakin kamu belanja." Sergahnya, membuat dahi Maya semakin mengkerut.


Hiddih si aa


"Kenapa aa nggak bilang mau belanja? Malah bilang mau beli buku."


"Kalau nggak kaya gitu pasti kamu nggak mau May. Emangnya kenapa sih, kan belanja itu bukannya sesuatu hal yang disukai perempuan ya?" Setelah membumbungkan pertanyaan retoris, Fais semena-mena menyatukan jemarinya pada kekosongan sela-sela jemari Maya. Kemudian membawa gadis kesayangannya berjalan menyusuri hingar bingar lalu lalang dengan detakan jantung Maya yang meletup-letup.


"Bukannya gitu a. Kan kalau Maya tahu kita mau belanja, Maya bisa buat rentetan daftar barang apa aja yang mau di beli. Hehe" dengan separuh menahan perasaan yang membuncah di dada, Maya menaruh tawa renyah di ujung kalimat yang menurutnya hanya berupa basa-basi. Maya agaknya berfikir, terkadang ia harus menyamakan jiwa bercanda Fais pada kebersamaan mereka. Agar Fais nyaman memiliki teman sepertinya, agar Fais tidak merasa kesepian di tengah kebersamaan. Dan tanpa Maya sadari, segalanya yang ia lakukan, semuanya hanya untuk Fais.

__ADS_1


"Ya bagus"


"Apanya a yang bagus?"


"Bagus kalau udah nyaman. Sampai mau bikin daftar belanjaan segala cie..cie.."


Dengan begitu saja, Maya rasanya ingin menenggelamkan wajah ke dasar kerak bumi. Untuk menyembunyikan semburat merah yang telah lancang merajai pipi.


"Maya mau beli apa aja, biar Aa yang bayar." Sambung Fais setelah tidak tahu dirinya membuat Maya nyaris kehilangan kosa kata.


"Maya cuma bercanda tadi a. Nggak usah di anggap serius. Maya lagi nggak ada yang mau di beli kok."


"Tapi aa serius." Pemuda itu akhirnya menoleh, menatap lekat Maya setelah puas netranya berkeliling memindai gerai aksesoris.


"Aa, Maya mau beli make-up."


"Naaah gitu dong. Kalau ada yang di mau tinggal bilang aja. Kan aa jadi senang dengarnya." Dengan gerakan refleks, Fais menyentuh pipi Maya secara gemas.


"Abis beli make-up, boleh minta yang lain kan?"


"Boleh. Apa aja sebutin!"


"Bener apa aja nih?"

__ADS_1


"Iya"


"Beliin Maya Mall ini."


Alih-alih terkejut dengan permintaan Maya, Fais justru tergelak kuat. Saking kerasnya, orang-orang disekitar menoleh dengan tatapan selidik. "Iya May beli. Manfaatin cowok tajir yang ada disamping kamu ini. Jarang-jarang kan ada teman sebaik aa."


TEMAN.


Perasaan Maya mencelos dengan senyum yang getir. Iya teman. Memang mau berharap seperti apa pada hubungan sehangat dahi anak demam ini. Fais memang baik. Sering berbagi kepada sesama dalam bentuk apapun. Fais memang perhatian, pada siapa saja yang di anggap penting baginya. Bukankah teman juga termasuk penting? sadar Maya.


"Iya ya a. Jarang memang ada TEMAN seperti aa. Oh iya, gimana a sama liptint ini? bagus nggak warnanya buat Maya?" lebih baik ia mencari topik lain di banding meratapi kata 'teman'.


Kenapa gua bilangnya teman coba? Jatuh cinta kenapa bikin gua jadi g*blok begini si.


"Cocok May. Kelihatannya manis."


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2