
Fais yang sedang memboncengi Akmal menepikan motornya pada bangunan cukup besar namun tidak terlalu megah. Baru menapakkan kaki, mereka disambut suara-suara bising dari motor yang telah usai perbaikan.
Akhirnya, ada beberapa pekerja tersadar akan kedatangan Fais si anak pemilik bengkel. Walau bukan Ayahnya yang bertandang kemari, namun mereka segan dan memperlakukan Fais layaknya bos di bengkel ini.
"Wih Bos kecil kesini, ada yang mau di alusin bos?"
Itu bahasa mereka yang berarti adakah yang mau diperbaiki atau di rawat. Fais dan Akmal lantas masuk mengutarakan maksud kedatangannya.
"Mau ganti oli, udah lama gak diganti takut kering." Ujar Fais. "Oh ya bang, saya mau kongko sebentar sama Abang. Bisa?"
"Bisa dong, ayo ke ruangan."
Sementara Fais dan salah satu montir masuk ke ruangan yang ditunjukkan, Akmal tertinggal di luar karena memang bukan ranahnya untuk ikut nimbrung dalam obrolan tersebut.
Dengan bekal sifat cepat berbaur, Akmal tentu tidak akan kesulitan berbincang dengan pekerja disini. Sehingga ia dapat membunuh waktu dalam menunggu. Berjam-jam pun tidak masalah baginya.
"Bang, bagaimana perkembangan bengkel?" Sengaja Fais sok tahu menanyakan perihal perkembangan. Agar dirinya tidak begitu kontras sedang melakukan investigasi.
"Lumayan bagus bos, gak sia-sia juga bapak gelontorin modal yang lebih besar. Rencana juga sih mau bikin baru lagi tapi buat permobilan. Mudah-mudahan prospeknya bagus."
"Oh begitu, bagus dah." Jadi Papah beneran gak bohong. Lirih Fais dalam hati. Anak itu mendadak merasa seperti Malin Kundang yang durhaka pada orang tua.
"Bos Fais nanti mau jadi direktur utama bengkel yang baru ya?"
"Hemmm boleh juga kalau gak malas hehe."
Mereka tergelak bersama. Merasa obrolannya sudah cukup dan tidak mau berlama-lama sebab khawatir takut keceplosan maksud tujuan sebenarnya, Fais pamit keluar dari ruangan tersebut lalu menemui Akmal yang sempat terlupakan beberapa saat.
Treng..teng..teng..teng..teng.. pek..kepek..kepek..kepek..kepek
Itulah suara uji coba motor yang sudah di ganti entah apanya. Kemudian melaju ke jalan cukup lengang dan lapangan di sekitar.
"Motor suaranya kaya kentut basah." Ujar Akmal.
__ADS_1
Hah
Fais melongo mendengar perkataan Akmal, mendadak otak Fais berisikan $?)(+/&@. Sulit dicerna dengan akal sehat. Setelah otak Fais sudah terkoneksi dengan baik, bocah itu menghela nafas lalu berkata.
"Makanya Mal, kalau mandi pakai handuk biar benar. Lap semua seluruh permukaan kulit yang manapun. Jangan sampai ada sisa genangan air. Jadi kalau lu kentut gak basah, gak sampai bunyi pek..kepek..kepek.." Fais mengatakannya dengan santai namun penuh penekanan di sorot mata. Dia tidak tahu saja di belakangnya beberapa montir tertawa sampai terkentut-kentut. Yang terkentut-kentut bokongnya di bekap agar tidak terdengar dua bocah itu.
Akmal hanya bisa cengengesan. Alih-alih menanggapi petuah Fais, Akmal lebih memilih mengusung tema baru.
"Is, novel lu dua hari gak up. Gak biasanya kaya gitu, biasanya satu hari bisa tiga episode. Ada apakah gerangan kawan? Kalau kehabisan ide sini gua bantuin." Kata Akmal dengan begitu percaya diri. Jangankan bantu menulis dengan kata-kata apik yang tersusun rapi, bicara sehari-hari dengan Akmal saja dapat menyebabkan migren.
"Gua lagi offline nulisnya, nanti kalau udah saatnya tiba baru gua publish."
"Kok begitu?"
"Iya memang harus begitu. Mood gua lagi gak bagus buat buka aplikasinya, soalnya sobat perang komentar gua lagi off."
"Widih, ada yang merindu nih. Padahal pembaca lu banyak, yang komentar juga ribuan."
"Mantap, teman gua ini sudah mencerna nasihat-nasihat gua dengan baik." Akmal menepuk-nepuk bangga pundaknya Fais.
"Kalau boleh tau dia orang mana? Cewek atau cowok?" Lanjut Akmal lagi, penasaran makhluk apakah yang dapat membuat Fais merindu sampai mengharuskan bocah itu menulis offline jika tidak ada dirinya.
"Orang Kalimantan timur."
"Terus?"
"Terus apanya? Cewek apa cowok?"
"Iya is, gua nunggu jawabannya ini." Kata Akmal dengan tatapan berharap.
"Rahasia!"
Nafas banteng keluar dari hidung Akmal, siap untuk menyeruduk kegantengan Fais dan membuat huru hara disana.
__ADS_1
Sabar Mal sabar emang Fais mah begitu orangnya. Batin Akmal menguatkan diri sendiri.
.............
Waktu sudah memasuki petang. Ketika Fais menjajakkan kaki di rumah, tepat waktu menunjukan pukul lima sore. Sudah saatnya memasuki jadwal menyiram semangka yang akan dia petik.
Mau di petik tapi disiram dahulu, sepertinya itu hal yang kurang berfaedah. Maka Fais memutuskan untuk langsung memetiknya.
Sebelum itu, Fais mengambil pisau di dapur untuk dia gunakan menakut-nakuti semangkanya. Dia juga tidak begitu yakin jika ia tega memotong tangkai untuk memisahkan buah dengan pohonnya.
"Zenuuun, yuhuuu...I am coming.. grr..grr.." Fais menirukan suara gergaji mesin guna mendalami peran seperti Terminator.
Ketika tepat di depan rumah, bocah berisik itu diam seribu bahasa. "Maaah" teriak Fais kepada sang ibu.
"Kenapa is?" ibunya datang dengan tangan yang masih berbusa sabun cuci piring.
"Semangka sudah Mamah petik?"
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa bahagia.
Akmal : kakak Author, penasaran yang di omongin sama Fais siapa?
Author : @dewipayang
__ADS_1