
Di rumah Sasmhita, di tempat yang sedang berduka, Fais menjejakkan kaki di halaman rumah tersebut bersama orang-orang yang sedang bertakziah. Pemuda itu menatap kerumunan orang mengaji mengelilingi tubuh terbujur kaku Badrun yang di balut kain panjang. Tidak lama, prosesi pemandian berlangsung sampai Fais benar-benar melihat bahwa Badrun sudah tidak ada di dunia ini.
Masih basah dalam ingatannya, beberapa waktu lalu Ia dan Mamah menegurnya untuk bisa mengajarkan seorang istri dengan baik. Berkeluh kesah padanya bagaimana selama ini sang istri telah membuat resah rumah tangga orang, membuat pengap udara yang sejuk, serta membuat gejolak air yang dahulu tenang. Dan hari ini Fais melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana tuhan membuat takdir lain pada jalan hidup suami dari perempuan bernama Sasmhita tersebut. Ia di panggil menghadapnya, menyisakan Isak tangis yang mungkin saja sudah mengering.
Fais dan orang-orang yang pernah menjadi korban keganasan Sasmhita dalam merayu suami orang belum bisa menilai, apakah wanita itu sudah cukup sadar dengan apa yang telah dilakukannya? Menilik situasi sekarang, Sasmhita hanya menunduk dalam dan memeluk erat anak perempuannya yang berusia tujuh tahunan. Dia tidak bahagia tidak pula meratapi dengan air mata. Hanya tatapan nanar yang nampak jelas pada ruas sudut pandangannya.
"Aa ayo kita pulang, apa aa mau masih disini?" Maya memecahkan konsentrasi Fais dalam misi pencarian keberadaan sang Ayah. Seharusnya laki-laki bernama Marda Wardana tersebut berada di tempat ini. Namun sedari tadi ia datang dan sekarang sudah mau pulang, Fais tak kunjung menjumpai batang hidung Papah.
"Sebentar May, tunggu aa disini ya." Habis mengatakan itu, Fais berjalan menyusuri setiap sudut lingkungan rumah tersebut. Satu persatu ia lihat secara seksama adakah sosok ayahnya datang bertakjiah? Jika pun ada, Fais tidak berniat untuk memakinya. Sebab sebagai manusia harus ada rasa empati terhadap orang lain.
Maya yang tadinya berdiam diri di tempat sembari memperhatikan sang pacar, kini mulai mengikuti langkah Fais secara perlahan. Maya melihat Fais seperti menunjukan gelagat sedang mencari seseorang. Itu lah alasan Maya mengikutinya. Barangkali dengan keikutsertaannya akan turut membantu.
Bruukk...
"Maaf a, Maya nggak sengaja. Kirain Maya Aa masih terus jalan."
"Kamu ngikutin Aa ya? Sekangen itukah kamu wahai kekasihku?"
Maya tertegun dengan pembawaan Fais berbicara. Pacarnya itu tidak bisa mengkondisikan tempat ketika mengatakannya. Alhasil, semua yang mendengar langsung menoleh dengan tatapan meledek. Untung Maya sayang, jadi apa yang dilakukan Fais padanya sah-sah saja. Bahkan terasa indah.
"Iya Maya kangen. Makanya gak bisa jauh-jauh. Aa memang sedang mencari siapa? Biar Maya bantu kalau Maya tahu."
"Nyari calon Bapak mertua kamu May." Begitu katanya. Hanya untuk membuat Maya berdiam beberapa detik untuk berpikir.
Calon Bapak mertua? Tidak sampai menunggu lama, kemudian garis bibir Maya berderap naik.
"Kenapa pacar Aa senyam-senyum?"
"Gak pa-pa, Maya bantuin cari calon Bapak mertua Maya dulu ya a?"
"Siapa emang?"
__ADS_1
"Bapaknya Aa Fais, iya kan?" Maya nyengir lebar.
"Cie... Pacar Aa udah pinter nih. Nggak nganggep Aa ini seorang teman lagi."
"Maya masih nganggep Aa teman kok." Kosakata Maya sukses membuat Fais membulatkan mata. Pemuda itu mendengus, seperti tidak setuju sama sekali dengan statement sang kekasih.
"TEMAN?!"
"Iya, teman hidup. Aa Fais bukannya calon suami Maya? Calon imam yang baik idaman para wanita?" Maya akhirnya meluruskan.
"Iya juga ya, haduuh jadi pengen kawin kan."
"Nikah a."
"Sama aja May hehe."
Perihal debat antara Fais dan Maya soal nikah dan kawin lantas di berhentikan dengan sapaan Akmal. Sahabat karibnya Fais tersebut jelas ada disini berkat hubungannya dengan Nabila. Hubungan yang Fais juga tidak tahu mengarah pada pacaran atau teman tapi mesra. Yang pasti, di suatu hari Akmal pernah bercerita padanya, kalau Akmal dengan Nabila berjalan atas dasar kalimat 'yaudah jalanin aja'.
Fais tiba di rumah dengan kondisi yang sangat lelah. Langkahnya yang lunglai ia seret ke dalam kamar tanpa embel-embel kamar mandi, dapur, maupun ruang tamu. Mamah ada disana menyapa Fais, dan Papah juga ada di samping Mamah menatap lurus pada anaknya. Dengan melupakan sejenak ketegangan di antara mereka, Papah lantas bertanya.
"Fais lembur ya? kuliahnya Bapak yang antar ya Nak?"
Yang di tanya menggeleng "Fais nggak lembur. Dan Fais lagi nggak ada kelas hari ini. Tadi Fais mampir ke rumah Maya, tiba-tiba dapat kabar bahwa Badrun.."
"Badrun kenapa Is?" Mamah tercuri perhatiannya saat Fais menyebut nama itu. Lalu bagaimanakah dengan ekspresi Papah? itulah yang sedang Fais ingin lihat.
"Emangnya Bapak gak tau?"
"Nggak is. Emangnya kenapa?"
"Badrun udah nggak ada."
__ADS_1
Papah dan Mamah terkejut lalu melafalkan kalimat istirja. Papah terkejut menjadi pemandangan yang tak biasa untuk Fais. Alih-alih Papahnya lebih tau apa yang dia tahu, malah menjadi orang yang tidak tahu apa-apa. Apakah benar Papah sudah memutus hubungan dengan Sasmhita? kalau iya, kenapa hari itu Fais masih menjumpai Papah bersama dengan wanita itu? Fais tak habis pikir.
"Yaudah anak Mamah yang ganteng istirahat sana. Pasti lelah banget dari pagi sampai jam segini baru pulang. Oh iya, Fais udah makan belum? biar Mamah siapin ya?"
"Sama itu Mah, siapkan juga Ice cream yang Bapak beli tadi buat Fais. Buah potong yang Bapak udah siapin juga jangan lupa di ambil dari kulkas." Papah sibuk sekali memperhatikan Fais layaknya dulu. Dengan begitu, tak terasa bola mata Fais berkabut. Ia tersenyum culas kemudian menyeret langkah menuju dua oran yang sedang sibuk. Sibuknya bukan lagi untuk keegoisan masing-masing. Sibuknya mereka semata-mata untuk menyembuhkan luka Fais. Untuk memberikan perhatian yang sempat sirna beberapa waktu.
"Pak, tadi di cariin?"
"Sama siapa?"
"Sama calon mantu."
Papah dan Mamah saling berpandangan. Sementara itu, Fais si bocah tengil tersebut cengengesan dengan bangga, sebab berhasil mengadu domba antara Papah dan Maya.
.
.
.
.
Bersambung ...
Gayanya Fais abis pulang kerja plus kuliah
Jangan lupa bahagia
.
__ADS_1
.