Tulisan Fais

Tulisan Fais
Hilang arah


__ADS_3

Ketika Akmal sejatinya selalu berpanjang lebar memberikan tanggapannya atas permasalahan Fais, yang bisa Fais lakukan hanyalah membisu. Apa yang di katakan Akmal memang benar. Sekesal apapun terhadap orang tua, Fais tidak boleh lupa bahwa setiap manusia tak luput dari kesalahan.


Selesai memberi petuah yang Akmal juga tidak tahu kenapa ia cenderung lebih irit bicara saat ini daripada sebelumnya, Akmal memilih untuk terdiam sejenak duduk di lantai bersender pada kulkas. Akmal mengatur nafasnya. Berbicara terlalu berat mengenai seorang Ayah membuat Akmal kesulitan bernafas. Sedikit-sedikit sesak merambati dada, lalu tenang detik kemudian. Lanjut lagi sesak menusuk tenggorokan, hingga air mata membendung di pelupuk mata. Begitu terus sampai berubah topik bukan lagi tentang seorang Ayah.


"Kadang gua punya pikiran, kenapa nggak yatim aja kaya lu." Lirih Fais.


"Astaghfirullah.. istighfar is. Nggak boleh ngomong kaya gitu!" Akmal sesak lagi. Kesalnya bukan main kali ini sampai-sampai matanya memerah entah untuk menahan apa. Ia mengatur nafasnya lalu geming. Kemudian Akmal memeluk lututnya dengan mata menerawang jauh pada langit-langit dapur. Wajan cemong tak dapat lagi menghiburnya. Panci penyok tak cukup jua menjadi bahan senda gurau. Keadaan terlalu serius. Sampai Akmal berbicara kembali dengan isak yang tertahan.


"Merindukan orang yang udah nggak ada dan lu nggak akan bisa ketemu, itu rasanya lebih sakit is. Sakit." Akmal mengambil nafas sembari mengusap dadanya yang perih.


"Orang itu di dunia sedikit banyaknya pasti punya kesalahan is. Lu nggak usah bertindak sampai sejauh ini. Kesel boleh tapi benci sama orang tua jangan. Apalagi memberi jarak yang jauh sampai Bapak lu dan lu juga gua yakin pasti kesiksa sendiri. Kalian tuh lagi kesiksa satu sama lain. Emak lu juga. Gua yakin Emak lu nggak setuju sama sekali sama keputusan lu itu. Cuma dia lagi nggak bisa ungkapin aja sekarang."


"Is, gua orangnya emang suka becanda. Haha hihi sana-sini demi menorehkan tawa pada banyak orang. Tapi lu tau nggak di balik layar itu semua? kalau gua lagi ngeliat emak gua capek abis nyari duit, gua sedih banget is. Gua manggil-manggil Bapak gua yang sebenarnya nggak akan pernah datang. Gua panggil pak... Bapak.. " Sampai situ Akmal terhenyak. Menetralkan gejolak rasa yang menyiksa batinnya.


Fais mulai mengayunkan tangannya di punggung Akmal. Mengusap secara perlahan sampai Akmal benar-benar lega dan bisa melanjutkan ceritanya.


"Pak.. Bapak.. Akmal kangen Bapak. Bapak.. sam-pe suara gua i-lang nggak akan per-nah ada ja-waban is." Isak tangis Akmal sudah tak dapat di tahan. Sesegukan tidak dapat di hindari. Bersamaan dengan ini, ibunya Akmal melorot di balik tembok penyekat. Beliau tak kalah sedihnya dengan Akmal. Lalu menangis bersama-sama dalam ruang yang terpisah.


................


Segalanya menjadi melankolis bagi Fais yang sedang kehilangan arah. Meskipun begitu, Fais masih tetap diam tanpa berbuat apapun. Tidak ada tindakan yang menunjukan kalau dia mau memperbaiki semua. Barang menelpon Papah bagaimana keadaannya, atau mungkin bertanya Papah tinggalnya dimana sekarang, Fais masih enggan dan memilih terdiam.


Sekarang dia sudah tidak lagi bersama Akmal. Pemuda itu membawa serta raga dan pikiran menuju tempat yang dia sendiri tidak tahu dimana rimbanya. Di sebuah kedai warung nasi pinggir jalan yang tidak terlalu ramai pembeli, disana Fais memesan segelas kopi hitam kental, lalu memantik sebatang rokok.


"Mau di bungkus apa makan disini Mas?"


"Disini, tapi nanti ya Bu. Nggak apa-apa kan?"

__ADS_1


"Oh iya Mas gak pa-pa." Kata si ibu. Di lanjut Fais yang menghisap rokoknya untuk membumbungkan asap. Begitu terus tanpa adanya perubahan yang berarti. Hanya sebatang rokoknya yang habis menunjukan kalau waktu memang telah banyak berlalu.


Pada jalanan di luar sana yang ramai, dan juga asap kendaraan bertembung debu menjadi satu, Fais melemparkan pandangannya. Suara klakson saling bersahutan. Belum lagi ada pengendara ugal-ugalan hampir menyerempet tukang perabotan panggul, semua tertangkap oleh Fais dengan perasaan yang kosong.


G*blok banget naik motornya. Gerutu Fais. Ternyata oh ternyata dia tidak sepenuhnya kosong. Ia masih mampu mengumpat pada apa yang telah ia lihat.


Sampai pada akhirnya, tukang perabotan panggul tersebut berbelok ke arah warung yang Fais hinggapi. "Assalamualaikum Bu, permisi." Ujar Bapak penjual perabot. Rupanya Bapak itu sudah renta, namun masih mengais rejeki dengan berjualan keliling.


"Wa'alaikum salam. Mau makan disini atau di bungkus Pak?"


"Maaf Bu sebelumnya, bisa tidak makanannya di tukar sama sendok sayur ini?" Lirih Bapak dengan suara yang tercekat dan nafas yang seakan berat. Bapak itu menyodorkan barang dagangannya berupa centong plastik sayur berwarna biru.


Si ibu terenyuh, kemudian menjawab lugas. "Oh, bisa Pak. Mau makan disini?"


"Iya, nasi sama kuah sayur saja." Pinta Bapak.


Si Bapak cenderung kakek tersebut mengangguk lemah seraya berkata "harga centong ini mungkin sama seperti nasi dan kuah saja." Kemudian ia tersenyum. Senyuman yang terlihat ikhlas menjalani hidup. Karena Fais menunjukan gestur bertanya-tanya, Bapak itu berkata lagi. "Dari pagi dagangan belum ada yang terjual. Terpaksa saya menukar barang dagangan dengan makanan."


"Maaf nih Pak, saya boleh bertanya sesuatu yang agak sensitif mungkin. Apakah boleh?" Tanya Fais.


"Iya silahkan Nak tanyakan saja."


"Kenapa Bapak tidak menukar dua barang dagangan untuk mendapat lauk lebih?"


Sebelum Bapak itu menjawab, sepiring nasi sudah datang bersama para lauknya. Tidak hanya ada kuah sayur saja seperti apa yang di minta Bapak tersebut. Di sana tersedia macam lauk pauk yang terhidang. Lalu si Bapak mengeryitkan dahi.


"Bu sepertinya ini salah."

__ADS_1


"Tidak salah kok Pak. Itu memang pesanan Bapak. Untuk tambahan lauknya Mas ini yang pesankan."


"Saya yang traktir Pak. Kebetulan saya lagi banyak rejeki." Seru Fais dengan seutas senyum yang mulai terbit.


Mata senja Bapak mengembun. Mulutnya memanjatkan do'a untuk keberkahan hidup anak muda di sampingnya.


"Terimakasih Nak, terimakasih." Si Bapak sampai membungkukkan kepalanya. "Sebelum makan saya mau jawab dulu pertanyaan tadi. Menukar satu barang saja saya sudah tidak enak hati Nak. Dan ibu yang mengiyakan mungkin saja sedang tidak butuh centong ini adalah bentuk kemurahan hati."


Sampai situ Fais sudah Paham, bahwa kita sebagai manusia tidak boleh memanfaatkan situasi yang sebenarnya tak harus di manfaatkan. Kemudian Fais memesan makanannya untuk menemani Bapak tersebut makan.


Senyap. Memang saat makan tidak boleh banyak berbicara. Karena faktor penasaran yang tinggi, selesai makan Fais mengajukan pertanyaan kembali hingga mereka terlibat obrolan yang intens.


"Bapak punya anak?"


"Punya tapi jauh" kata Si Bapak. Raut wajahnya berubah sendu.


"Merantau ke luar pulau?"


Bapak itu menggeleng pelan. "Tidak Nak, kami jauh bukan karena jarak. Tapi di jauhkan oleh keadaan."


Ada yang teriris-iris disana, tapi bukan pisau si ibu yang memotong sayuran.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2