Tulisan Fais

Tulisan Fais
Jam tangan Akmal


__ADS_3

"Ada cerita kayanya nih, sampai lu bercita-cita jadi orang baik. Gua pikir cita-cita lu pengen jadi netizen yang Budiman." Ujar Akmal sembari meraih minuman yang baru saja mendarat di meja.


"Iya, pada suatu hari..." Fais memulai cerita.


Kilas balik


Fais datang kembali ke tempat dimana ia berjanji untuk kembali. Rumah tua Nenek yang selalu mengingatkan Fais akan sebuah kesederhanaan.


Lapar adalah wujud rasa, sedangkan Moral adalah sebuah cara. Ketika sebuah rasa selalu menuntut untuk dipenuhi, jangan lupa kan cara yang di tempuh. Penting, sebab jangan sampai kita menimbulkan rasa malu pada diri sendiri. Dan berakhir pada kepiluan sepanjang lamunan yang menyakitkan.


Untuk memulai pembicaraan, Fais tidak mau bertanya kemanakah orang tua si bocah sampai mereka hidup hanya berdua.


"Nek, punya nasihat untuk anak muda seperti saya tidak? Agar bisa mengarungi kehidupan dengan layak." Fais membuka obrolan dengan bersila di atas bale. Masih dalam satu bale yang sama, di pojok sana nampak timbunan sembako pemberian Fais.


"Nasihat ya?"


"Iya nek"


Sebelum menggerakan kembali mulutnya untuk menjawab, nenek gusar. "Nenek juga pernah mengalami hidup tidak layak seperti nak Fais maksud. Namanya manusia, selalu ada cerita kelam sebelum cerah. Dan ada cerita terang sebelum gelap."


"Nenek merasa tidak pantas untuk menggurui. Namun nenek akan berbagi pengalaman tentang kata hikmah di balik cobaan."


Fais antusias kalau sudah mendengarkan cerita-cerita orang terdahulu. Tidak heran jika tontonannya di rumah Angling darma, tutur tinular dll. Buku yang dia baca pun lebih banyak bercerita tentang sejarah.


Fais banyak mendengar cerita nenek ini di mulai dari masa muda. Masa dimana dia di jodohkan dengan orang tuanya. Masa dimana masih ada koloni penjajah menduduki Indonesia.


"Waktu itu nenek pas mau mandi. Lagi nimba air, di atas kepala bersamaan dengan burung-burung terbang meriam pun ikut saling terbang."

__ADS_1


"Aki (suaminya) pernah ikut kerja gali kali panjang disana" nenek menunjuk arah dengan telunjuknya, mulutnya berbicara disana tapi entah dimanakah tempatnya berada beliau pun lupa. "Pakai pacul." Lanjutnya lagi.


"Wah.. bisa gitu ya nek. Terus..terus..?" Fais membenarkan posisi duduk yang dirasa sudah membuat kakinya kesemutan.


Kemudian Nenek lanjut bercerita lagi lebih panjang dan lebar. Hingga pada akhirnya sang nenek mengakhiri kalimatnya seperti ini.


"Kalau kita dihadapkan sama manusia yang telah membuat kesalahan. Dan korbannya itu kita, jangan pernah sia-sia kan taubatnya. Terima maafnya, usahakan jangan selalu ingat sakitnya. Kalau kita ikhlas, hati pun tenang."


Fais menunduk dalam. Mungkin dia tidak tahu rasanya ada di posisi sang Nenek. Mungkin juga Fais masih terlalu dini untuk menelan pahitnya hidup. Yang Fais tahu, semua yang ia miliki adalah hasil jerih payah orangtuanya. Belum sampai dititik dimana dia harus berjuang.


.


.


"Jadi begitu ceritanya kenapa lu pengen jadi orang baik aja. Hemmm, oh iya is itu cucunya sekolah apa nggak?"


Kondisi kering seperti ini sama halnya dengan bercanda. Bedanya kalau bercanda yang kering adalah gigi pemirsa yang menyaksikan. Bukan tenggorokan. Sebab kalau mereka berdua sudah bersenda gurau, Fais dan Akmal dapat menyebabkan cengar-cengir yang tak berkesudahan.


"Sayang banget ya, coba lu kirimin alamatnya ke gua is. Nanti gua kirimin buku-buku gua waktu SD sama ilmu yang gua punya."


"Apa masukin ke sekolah aja ya?" Akmal nampak menimang keputusan kedua. Ia menghitung ada berapa isi tabungan yang dia miliki di dalam celengan ayam jago. Dan disaat itulah Fais menangkap sebuah fenomena dimana Akmal memakai jam tangan mati.


Alih-alih menanggapi percakapan Akmal yang menjurus ke arah melow, Fais tiba-tiba menanyakan waktu pukul berapa.


"Jam berapa sekarang Mal? serius nanya."


Akmal melirik jam tangannya, "sama kaya kemaren." jawabnya. "Ganggu gua lagi ngitung aja lu ah." Akmal tertawa mengatakannya. Fais pun demikian.

__ADS_1


"Haha, heh jam berapa dih?"


"Kaya kemaren pokoknya." Akmal bersikukuh sembari mengambil ancang-ancang untuk lari. Karena kalau tidak, Fais akan mengganti jam tangannya dengan jam lukisan tangan.


Nasib baik tidak berpihak pada Akmal, ia tertangkap dan menerima kekacauan yang Fais lakukan.


"Is, sebentar dulu lepasin gua. Gua ada info penting nih."


"Apa?"


"Kemarin Nabila nyari-nyari lu ke gua. Katanya ada sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan dan tidak bisa diwakilkan."


"Jangan bikin alasan biar lu lepas." Fais masih berusaha melepas jam mati Akmal dan melukis gambar jam di tangan Akmal menggunakan pulpen.


"Benar Is, dia sampai nanya ke gua hobi lu apa."


"Terus lu jawab apa?"


"Gua jawab hobi lu mempersulit hidup sendiri dengan harapan. Benar gak sih?"


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2