
Kalau dulu rumah adalah tempat ternyaman bagi Fais, sekarang sudah tidak lagi demikian. Baru saja merebahkan badan di sofa untuk merelaksasikan otot yang tegang, setelah mencopot segala atribut yang menempel seperti jaket, sepatu, celana panjang, kolor, eh gak deh. Gak sampai lepas kolor. Mamah datang tergopoh-gopoh berlomba dengan waktu.
"Is, Bapak kamu aneh banget sikapnya. Kaya nggak sepenuhnya sadar. Coba is kamu cari tahu sesuatu, dia masih berhubungan sama perempuan itu apa gak. Soalnya firasat Mamah mengatakan kayanya masih."
"Perasaan Mamah aja kali. Udah lah Mah, percaya aja sama Papah. Jangan ungkit masa lalu yang malah bikin Mamah dan Papah berantem setiap waktu. Fais sekarang mau tanya, Mamah capek nggak berantem terus sama Papah?"
"Capek"
"Sama, Fais juga capek dengarnya. Jadi kalau sekiranya lagi berdua adem ayem, Mamah gak usah mancing-mancing keributan. Udah Mah ya, cukup. Kalau kata Mamah ada yang janggal lagi, Fais punya cara sendiri buat menanganinya. Tenang aja Mah."
"Gitu ya is? Yaudah, tapi kalau ada apa-apa janji bilang Mamah ya walaupun itu pahit."
"Iya Mah, Fais janji."
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam" jawab Mamah dan Fais. Mereka langsung keluar menyambut tamu istimewa di malam Minggu sekaligus malam pergantian tahun. Siapakah dia? Siapa lagi kalau bukan Akmal.
............
"Kemarin Maya kecewa gak, gua gak dateng nemuin dia?"
Baru datang yang di tanyain soal Maya. "Biasa aja, malah kaya lebih senang gitu bukan lu yang datang." Otomatis Akmal langsung di lempari tatapan mematikan.
__ADS_1
"Hehe selow is. Gua gak tahu lah isi hati orang. Lu segala nanya kek gitu."
"Eh..eh..eh.. kok gua baru tau lu ngerokok?!" Seru Akmal, saat Fais menyundut api pada ujung rokok yang sudah masuk ke mulutnya. Fais tidak langsung menjawab pertanyaan Akmal--bukan pertanyaan sih lebih ke arah ketidakpercayaan. Sampai rokok betulan hidup dan mengepulkan asap, Fais baru menjawab.
"Lu nya aja kali yang gak perhatiin gua." Fais masih santai menikmati bintang-bintang di langit dengan kepulan asap malang melintang. Sementara Akmal sudah mulai batuk kecil karena tidak terbiasa menghirup asap rokok.
Sadar kalau Akmal merasa tidak nyaman dengan kegiatannya, Fais menjauhkan diri. Memberikan jarak di antara mereka sampai Papah datang dalam keadaan rapi dan wangi. "Papah mau pergi ke acara teman kantor."
Lah kagak ada yang nanya. Batin Fais. Biarpun demikian sebagai rasa santun terhadap orang tua, Fais mengiyakan pamit Papahnya tersebut.
Sejak kapan Fais merokok? Papah membatin. Kalau hubungannya masih sebagus dulu, Papah pasti sudah bertanya. Hanya sekedar bertanya entah kedepannya akan melarang atau membiarkan. Karena sebagai seorang Bapak, Papah memaklumi hal itu sebab Fais bukanlah anak kecil lagi. Fais sudah dapat dipercaya untuk mengelola hidupnya sendiri.
Jauh di lubuk hati sana, Papah ingin sekali mengobrol secara bapak dan anak pada anak laki-lakinya. Sedikit banyaknya arahan orang tua sangat penting untuk jati diri anak. Tapi sekali lagi Papah berfikir, emang bisa ya kaya dulu lagi. Mungkin kalau hari ini adalah dulu, dia akan semena-mena menggoda Fais sampai putranya itu merajuk.
"Is gua punya yang seger-seger."
"Apa?"
"Hemm ada dua jenis jeruk disini. Yang hijau sama yang oren. Si ijo kelihatannya bikin kita meringis. Belum lagi mulut kita merespon dengan mengeluarkan liur karena dapat sinyal dari otak kalau tuh buah asem. Nyatanya dia manis, gak sinkron sama luarnya."
"Sedangkan yang oren, tampilannya menggoda tapi rasanya cukup bikin mata merem melek."
__ADS_1
"Berarti kita gak boleh liat sesuatu dari luarnya aja is." Sahut Akmal setelah mencerna analisa Fais tentang perjerukan.
"Emang kesimpulannya begitu?" Fais menaikan sebelah alisnya dengan tampang sengak. Kemudian membuang puntung lalu melahap jeruk-jeruk itu dengan selera. Laki-laki itu tahu bagaimana cara menghargai orang. Dengan makan seperti orang kelaparan saja secara tidak langsung mengembangkan senyum Akmal.
"Iya is, kalau kata gua sih hehe. Dah gua mah apa atuh bukan pujangga yang dapat merangkai kata. Oh iya is, Kok lu biasa aja si Bapak lu pergi malam Minggu gini? manaan malam taun baru." Protes Akmal. Maksudnya dia, Fais harus belajar dari pengalaman kemarin, dimana kepercayaan hanya tinggal kenangan.
"Sekarang jaman udah canggih. Gak perlu nguntit di belakang. Cukup tiduran manis di kamar, gua tahu Bapak gua kemana. Dan malam ini gua mau lu nginep di rumah gua."
"Kayanya..."
"Gak ada kayanya. Kalau lu nolak, gua sumpahin hari lu di kelilingin bocil lato-lato." Ancam Fais.
"Iya dah iya.. tapi gua bilang emak gua dulu. Biar dia di temenin sama sepupu gua."
"Ok siap"
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1