
Sebentar lagi berita tentang penangkapan Tuan Rampas akan tersebar di media, hanya tinggal menghitung hari bahkan jam. Kakek tua hari ini sebenarnya ingin memuji pekerjaan Emine yang begitu anggun namun ia sadar sampai saat ini anak angkatnya belum kunjung pulang kerumah.
Bukan pertama kali bagi seorang Emine pulang terlambat, tapi hari ini keterlambatannya sudah melampaui jam malam yang diberlakukan kakek tua.
" Dimana anak ini? Tunggu saja, aku akan memotong gajinya. Aishhhh,,,, kenapa tidak diangkat?" Gerutu kakek tua yang terus mencoba menghubungi Emine.
Kakek tua sudah mempersiapkan diri untuk memarahi Emine jika telfonnya diangkat. Walaupun Emine bisa menjaga diri, tapi kakek tua tidak bisa melepasnya begitu saja. Ia masih trauma dengan kejadian yang menimpa putrinya dan kejadian itu tidak bisa ia biarkan terulang kembali pada Emine.
" Tut,,,Tut,,,Tut,,," Suara panggilan yang terhubung sedari tadi terdengar di telinga kakek tua.
" Hallo kakek,,,," Emine mencoba menetralkan suaranya.
Mendengar suara Emine membuat kakek tua luluh, seketika amarahnya berubah menjadi rasa penuh kekawatiran. " Emine,,, kau menangis?" Tanya kakek tua yang mendengar suara Emine seperti suara yang habis menangis.
" Apa yang kakek katakan? Aku tidak menangis. Aku baik-baik saja." Mencoba meyakinkan dengan suara yang terdengar baik-baik saja.
" Jangan mencoba menipu kakek!! Apa yang terjadi padamu? Dimana kau sekarang? Kenapa tidak pulang kerumah?"
" Maaf karena membuat kakek kawatir. Aku baik-baik saja. Aku akan pulang besok. Sekarang tidurlah!! Kakek harus menjaga kesehatan!!" Emine tau bahwa kakek tua belum tidur karena memikirkannya. Ia merasa bersalah karena sikapnya yang bodoh. Seharusnya Emine pulang dan tidak datang kesini.
" Kau yakin baik-baik saja Emine?"
" Iya kakek, jangan terlalu menghawatirkan ku!!"
" Baiklah!! Jaga dirimu!! Kakek percaya padamu." Kakek tua tidak tau masalah apa yang sedang dihadapi anak angkatnya, tapi ia tau bahwa Emine hanya butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya. Karena itu kakek tua membiarkan Emine melakukan apa yang ingin ia lakukan hari ini. " Emine,,, Jangan terlalu lama larut dalam kesedihan!! Tidurlah!! Mimpi yang indah sayang. Kakek menyayangimu."
Suara kakek tua menjadi penutup telfon. Emine kembali meneteskan air mata, di sisi lain ia sedih akan kenyataan bahwa lelaki yang ia cintai ternyata hatinya sudah terisi oleh wanita lain, disisi lain ia bahagia karena disaat seperti ini masih ada yang mau perduli dengannya.
" Aku juga menyayangi kakek." Ucapnya sebagai balasan untuk kakek tua meski telfonya sudah terputus.
Sudah pukul dua pagi dan Emine baru saja tertidur.
Canda tawa kebahagian masih menyelimuti sebuah keluarga yang sedang menikmati liburan piknik di sebuah taman.
" Ayah, aku ingin es krim." Emine merajuk kepada ayahnya yang sedang bercanda dengan Cansu yang saat itu masih berusia 1 tahun.
" Emine,,, kau itu sudah besar. Jangan manja seperti itu!! Ayo beli sendiri!!" Sahut Fifan menasehati putri sulungnya yang terlalu manja dengan ayahnya.
Setelah mendengar ucapan ibunya, Emine semakin menjadi-jadi. Gadis ini memperlihatkan wajah cemberut dengan mulut maju 1 Cm. Sebagai seorang ayah yang baik, Mesut tidak tega melihat wajah cantik putrinya berubah menjadi gadis berwajah bebek.
__ADS_1
" Katakan sayang kau ingin es krim rasa apa? Coklat? Vanila? Stroberi? Katakan!!" Mesut berhasil membuat wajah Emine cerah kembali dengan senyum memperlihatkan deretan giginya.
" Coklat. Aku suka coklat. Belikan juga untuk Cansu ayah!!" Jawab Emine dengan semangat 45.
" Mesuttttt,,,,, Sampai kapan kau memanjakan Emine? Emine sudah besar, Tidak baik terlalu memanjakannya." Fifan menyuarakan protes kepada suaminya yang sudah terbiasa dengan sikap memanjakan Emine.
" Sampai Tuhan memanggilku." Mesut menjawab istrinya dengan memasang senyum di bibirnya. Ia tidak serius dengan ucapannya.
Fifan yang sudah mengambil alih tubuh Cansu, hanya bisa menghela nafas.
Disebrang jalan, toko es krim dengan poster boneka beruang besar di luarnya nampak sangat ramai. Emine menatap kepergian ayahnya dengan raut wajah yang amat bahagia.
Walaupun toko es krim itu sangat ramai, tapi the power of dady tidak bisa diragukan lagi. Baru 10 menit ayahnya pergi untuk membeli es krim dan sekarang Mesut sudah ada di depan Zebracros menunggu lampu merah dengan membawa 2 es krim ditangannya. Emine yang tadi sempat mengistirahtkan senyumnya, kini menarik kembali kedua sudut bibirnya melihat sang ayah sudah memegang eskrim kesukaanya.
Dan senyumnya lebih terlihat cerah ketika lampu lalu lintas sudah berwarna merah dan mesut berjalan kerahnya.
Namun senyum Emine tidak bertahan lama saat melihat eskrimnya terjatuh ke aspal. Pristiwa ini adalah pristiwa yang sangat mengerikan dalam hidupnya. Emine melihat dengan kepala mata sendiri es krim yang jatuh sekaligus akhir dari hidup sang ayah tercinta.
Sebuah mobil melaju kencang, menabarak Mesut yang sedang menyebrang. Tubuh mesut terpental ke tengah-tengah jalan, Namun takdir sudah tertulis menyedihkan. Saat tubuh Mesut terkapar tak berdaya dengan darah yang berceceran, saat itu mobil truk dibelakang melindas tubuhnya membuat darah muncrat ke berbagai arah. Dilihatnya tubuh sang pahlawan sudah menyatu dengan aspal hitam. dan yang menjadi saksi bisu kejadian tragis itu adalah Emine.
Fifan berlari meninggalkan Cansu, Emine mematung menatap tubuh ayahnya yang sudah tertutup oleh krumbunan orang-orang. Emine masih tak percaya dengan kejadian hari ini. Matanya masih menatap sekrumbunan orang di depannya, hingga celah-celah kecil di antara kaki-kaki memperlihatkan sedikit wajah Mesut penuh dengan warna merah membuatnya sadar bahwa ini adalah nyata.
Tak berfikir lama, Okan bergegas turun ke bawah. Membuka pintu kamar tamu yang tertutup dengan rasa penuh kecemasan. Emine terbangun dari tempat tidurnya, tangannya mencengkram keras selimut yang menutupi setengah badanya.
" Emine,,,, apa yang terjadi?" Tanya Okan langsung duduk disebelah Emine.
" Emine,,,,".Ucapnya sekali lagi ketika tidak mendapat respon.
Emine hanya terdiam dengan peluh di keningnya, badan yang gemetar dan ekspresi wajah yang ketakutan. Refleks Okan memeluk tubuh wanita yang nampak terbangun dari mimpi buruk.
" Tidak apa-apa Emine. Ini hanya mimpi. Tenanglah!!!" Okan bisa merasakan suhu tubuh Emine meningkat. Baju Emine terasa basah oleh keringat.
" Aku penyebabnya. Ayah,,,,maafkan aku!!!" Gumam Emine di dalam dekapan Okan dengan suara penuh kesedihan bercampur penyesalan.
Okan mencoba menenangkan Emine, memberi kehangatan untuk Emine sembari berkata. " Tidak ada hal buruk yang terjadi. Itu hanya mimpi." Okan tidak tau bahwa mimpi buruk itu adalah nyata.
Pagi ini kota Istanbul seperti sedang berbahagia, matahari bersinar cantik, burung-burung bernyanyi merdu, suara bising kendaraan di jalan raya terdengar jelas.
" Astaga,,,, kepala ku hampir pecah. Sampai kapan kasus ini akan berlanjut." Ucap Mesut.
__ADS_1
" Pembunuh itu bukan hanya mengancam masyarakat, tapi juga mengancam devisi kita. Jendral Sam akan segera memindahkan kita jika pembunuh itu tidak tertangkap." Ujar Tiras.
Tidak dengan Mesut dan Tiras, dunia mereka tidak seindah dunia di pagi hari ini. Mereka berdua mengeluh sembari terus berjalan menuju rumah Okan.
Saat tangan Murat ingin membuka pintu rumah Okan, mereka berdua kaget, mundur kebelakang ketika pintu tiba-tiba terbuka dari dalam. Emine juga sangat terkejut melihat Murat dan Tiras di depannya terlibih dengan ekspresi mereka yang kini menatap Emine dengan tatapan tak menyejukan hati.
" Siapa kau?" Tanya Murat seperti sedang melakukan pengintrogasian. Memang hawa jiwa polisi itu sangat berbeda.
Emine tidak dalam kondisi mood yang baik untuk menjawab pertanyaan yang tak penting baginya. Ia langsung menerobos membelah barisan horizontal pertahanan Murat dan Tiras. Namun Murat tidak membiarkan Emine pergi begitu saja. Sebagai seorang polisi, ia mencurigai Emine.
" Apa kau tidak dengar dengan apa yang aku katakan? Kenapa kau ada disini?" Tanya Murat dengan nada curiga.
Emine menghempaskan tangannya yang masih tertahan oleh Murat dengan wajah malas ia mencoba memberi alasan. " Aku temannya Okan. Aku harus pergi." Emine kembali menrobos mencoba untuk pergi. Namun Murat kembali menahannya.
" Teman? Okan tidak punya teman perempuan." Ucapan Murat membuat Emine sadar bahwa ia bukan siapa-siapa. " Apa kau adalah wanita penghibur?"
Sepertinya Murat benar-benar ingin mencari masalah dengan Emine. Emine tidak terima dikatai wanita penghibur. Rasa kesalnya berubah menjadi rasa ingin membunuh. Tapi Emine bukan orang yang akan membunuh orang lain hanya dengan masalah sepele.
" Maaf tuan. Anda bisa saya laporkan dengan tuduhan telah menghancurkan harga diri saya. lebih baik anda jaga mulut anda!! Mulutmu adalah harimau mu." Emine membalas Murat dengan santai meski ia sudah dalam kondisi kesal tingkat dewa.
Murat memang terkenal dengan sikap tidak mau mengalah dan sangat cerewet seperti ibu-ibu arisan. Ia ingin membalas Emine namun Tiras menghentikannya. Rupanya Tiras sedari tadi hanya menyimak pertengkaran yang terjadi.
" Sudahlah Murat!!! Biarkan dia pergi!!" Ujar Tiras kepada Murat.
" Tapi,,,,~"
" Tapi,,,, mulutmu itu seperti wanita yang sedang PMS. Dasar lelaki bermulut dua" Potong Emine mengejek Murat lalu pergi begitu saja.
Murat menatap tidak percaya telah menerima penghinaan. Sedangkan Tiras tersenyum kecil melihat Emine.
" Kenapa kau tersenyum?" Bentak Murat mengagetkan Tiras yang tertangkap basah memandangi tubuh Emine yang kini telah hilang dari pandangan. " Kau menyukainya bukan? karena itu kau lebih membelanya. Aishhhhh,,,," Masih menahan rasa kesal, Murat meninggalkan Tiras lalu masuk kedalam.
Tiras masih tersenyum mengingat wajah cantik Emine.
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, coment, fav, tip, dll ya para reader tercintahhh!!!