
Kakek tua sedang duduk di meja makan menikmati makan malamnya. tiba-tiba Emine melintas dengan pandangannya yang kosong. Kakek tua pun mengamati wanita itu naik turun dari atas sampai bawah.
" Heiii wahai cucu. perhatikan langkah mu!! Apa hari ini kau putus dengan pacar mu?? Kenapa wajah mu murung seperti itu? Tanya kakek tua.
Emine mengerjap tersdar ketika mendengar ucapan kakek tua.
" Oh kakek kau sudah pulang." Respon Emine sedikit kaget. " Aku akan naik ke atas." Emine segera ke kamar sebelum kakek tua mengintrogasinya lebih lanjut.
" Kau tidak makan? Kakek membeli banyak makanan." Teriak kakek tua pada wanita yang sedang menaiki anak tangga.
" Tidak kakek, aku sudah makan di luar." Sahut Emine semakin mempercepat langkahnya.
" hhhsssssss,,,,, Ada yang tidak beres dari anak ini. Aku harus mencari tau. belakangan ini sikapnya sangat mencurigakan." Gumam kakek tua pelan sambil bermain-main dengan fikirannya tentang sikap aneh Emine.
Malam ini dua pasang kekasih itu tidak mendapatkan tidur nyenyak mereka. Okan tidak bisa tidur karena terus memikirkan Emine, Emine pun dalam situasi tak jauh berbeda. Hingga tidak terasa pagi sudah menyapa.
Mau tidak mau Emine harus membuka matanya yang masih terasa berat. Turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi dengan sangat malas. Tubuhnya di seret paksa, saking malasnya ia berjalan menempel di tembok. Setelah menyegarkan tubuhnya, Emine bersiap untuk pergi ke kantor.
" Ting nong, ting nong, ting nong." Bel berbunyi beberapa kali.
" Siapa yang bertamu sepagi ini? " Tanya Emine penasaran.
Emine keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu. Kejutan di pagi hari, Okan berdiri di depan rumah dengan senyum manis. Emine panik seketika langsung menyeret lengan pria itu menjauh dari pintu masuk. Karena terlalu panik ia sampai lupa bahwa dirinya sedang marah.
" Kenapa kau kesini? Okan, seharusnya kau menghubungi ku dulu!!!" Ucap Emine memelankan suaranya namun ekspresinya terlihat cemas.
Ingin rasanya Okan menyentil dahi wanita di sampingnya itu, pasalnya sejak kemarin malam Emine di hubungi tapi tidak satu panggilan pun di angkat.
" Heiii Nona, kenapa sekarang kau malah menyalahkan ku? Aku sudah menghubungi mu tapi tidak di angkat." Gerutunya kesal.
" Aishhh,,,tetap saja kau tidak boleh kemari!!" Balas Emine.
" Sudahlah,,,!! Lagi pula aku kesini bukan untuk menemui mu." Okan melepas pegangan tangan Emine kemudian berbalik ingin masuk ke dalam rumah.
" Aihhhhh,,,, Jangan masuk bodoh!! Di dalam ada kakek tua." Emine kembali menahan lengan Okan. Ia semakin cemas.
" Baguslah. Aku memang berniat untuk menemuinya." Ucap Okan ringan lalu melepas pegangan tangan Emine bergegas masuk ke dalam. Emine tidak tinggal diam, ia segera menyusul Okan.
Okan dan kakek tua sudah saling pandang mata saat Emine tiba di sana.
" Tuan aku ingin berbicara dengan anda." Ucap Okan menatap kakek tua serius.
" Seorang polisi datang kemari ingin berbicara pada ku. Situasi macam apa ini?" Respon kakek tua terlihat tidak senang.
" Bukan sebagai seorang polisi, tapi sebagai seorang yang lebih penting dari itu."
Kakek tua mengernyitkan dahi mendengar kalimat misteri dari pria di depannya.
Emine mulai merasakan suasana berubah dingin dan menegangkan. Ia perlahan mendekati Okan dari belakang kemudian berbisik.
__ADS_1
" Ayo keluar,,!! Ini bukan waktu yang tepat. Okan, hal seperti ini bukanlah hal yang di bicarakan secara mendadak!!" Bisik Emine.
" Diamlah!! Aku sudah sangat gugup!! Jangan membuatku semakin gugup!! Kau tau, Aku sudah memikirkan semua ini matang-matang. Aku akan menyelesaikannya hari ini. Jangan kawatir!!!" Okan meyakinkan Emine.
" Jangan kawatir? Lihat,,,,Tangan mu saja sudah gemetar. Aishhh,,,," Emine melihat tangan Okan bergemetar hebat. Wajahnya yang dingin tidak sesuai dengan nyalinya yang lembek. Emine pun jadi mengoceh.
Kakek tua penasaran dengan maksud ucapan Okan, terlebih lagi kakek tua melihat raut wajah cucunya terlihat cemas.
" Duduklah!! Aku tidak punya banyak waktu, katakakan apa yang ingin kau sampaikan!!" Kakek tua mempersilakan Okan duduk.
Kakek tua duduk di sofa tunggal sedangkan Okan duduk di sofa ganda berhadapan dengan Emine. Berulang kali Emine memberi kode bahwa ini bukanlah waktu yang tepat namun Okan mengabaikan.
" Tuan, sebelum itu aku ingin meminta maaf. Tapi,~~~"
" Jangan bertele-tele. To the point saja!!!" Ketus kakek tua langsung menyela ucapan Okan.
" Ehemmmm,,,," Okan berdehem, menegakan kembali badannya, mempersiapkan mental untuk mengatakan tujuannya datang kemari.
Emine adalah pemeran utama namun hari ini ia hanya bisa menjadi penonton dari dua pria yang sekarang saling menatap dengan perasaan yang gelisah. Emine takut akan respon kakek tua nantinya.
" Aku datang kemari ingin meminta ijin untuk menikahi cucu tuan."
Setelah kalimat permintaan itu terlontar, Emine dan Okan menatap kakek tua seksama. Kakek tua tidak menunjukan ekspresi apa pun, jangankan marah, terkejut pun tidak. Emine dan Okan jadi bingung dengan ekspresi kakek tua.
Tiba-tiba wajah datar kakek tua berubah.
" Hahahhaha,,,, " Kakek tua malah tertawa terbahak-bahak di suasana seperti ini.
" Tuan, yang saya katakan bukan lelucon. Ini bukan hal yang bisa di jadikan sebagai bahan canda'an." Ucap Okan spontan menghentikan kakek tua.
Kakek tua menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Okan, wajah kakek tua pun berubah dingin matanya menatap Okan tajam. Emine semakin cemas dibuatnya.
" Apa kau fikir aku sedang bercanda?" Balas kakek tua. Tidak pernah terlintas di fikirannya untuk mempunyai menantu seorang polisi.
" Aku mohon tuan ijinkan aku menikahi Emine." Ucapnya memohon dengan raut wajah penuh harapan.
" Berikan alasan kenapa aku harus memberi mu Ijin!!"
" Karena kami saling mencintai." Okan tidak lagi gemetar, ia memberi alasan dengan yakin bahwa cinta mereka pantas untuk disempurnakan di dalam ikatan pernikahan.
Emine terharu melihat Okan yang begitu tulus memperjuangkan cinta mereka. Mata Emine sampai berkaca-kaca.
Kakek tua sekarang menatap Emine untuk meminta penjelasan dari pernyataan Okan barusan. Belum sempat kakek tua bertanya tapi Emine sudah menundukan kepalanya karena merasa bersalah telah mengabaikan ucapan kakek tua untuk menjauh dari kaum polisi.
Kakek tua mengerti dengan reaksi Emine, mereka memang saling mencintai. Namun hati kakek tua masih terkunci untuk hubungan ini, ia belum bisa menerimanya karena alasan kekawatirannya pada Emine mengingat Emine adalah buronan polisi yang masih aktif di buru meski bukan Okan yang menangani kasus Emine melainkan polisi dari devisi lain.
" Apa kau tau siapa Emine? Apa kau tau dunia kalian berbeda? Apa kau tau wanita yang ingin kau nikahi bukanlah wanita biasa? Apa kau tau kau dan Emine tidak akan pernah bisa bersama. Jika kau belum tau semua itu maka sekarang aku akan memberitahu mu. Emine~~" Terpotong.
" Emine adalah seorang pencuri, seorang pencuri terkenal di istanbul sekaligus seorang buronan. Tuan tidak usah susah payah memberitahu ku karena aku sudah tau." Okan langsung menyela penjelasan kakek tua.
__ADS_1
Kakek tua cukup terkejut Okan tau siapa Emine. Otak kakek tua langsung tau bahwa Eminelah yang sudah membocorkan informsi tentang dirinya sendiri. Kakek tua kembali menatap Emine tajam, ia ingin marah karena Emine sangat ceroboh tapi apa lagi yang bisa ia lakukan pada wanita yang kini semakin menundukan kepalanya.
" Bagus jika kau sudah tau siapa Emine. Jadi, menjauhlah dan pergi dari kehidupan Emine!! Jika Emine bersama mu maka itu hanya akan membahayakannya, kau mengerti!!!"
Emine terkejut mendengar ucapan kakek tua, Matanya menatap pria tua itu dengan perasaan yang kecewa.
" Kakek,,, Emine mohon jangan lakukan itu!! Aku dan Okan, kami saling mencintai." Emine memelas-melas dengan menahan air matanya. Kakek tua memalingkan wajahnya tidak mau terpengaruh oleh raut wajah sedih Emine.
" Tuan, Aku tau kau menyayangi Emine, kau kawatir dengannya tapi kau bisa mempercayai aku!! Aku akan melindungi Emine, aku berjanji." Okan kembali meyakinkan Kakek tua.
" Cihhh,,,, Siapa yang tau suatu hari kau berniat buruk pada cucu ku. Atau ini hanya jebakan mu sebagai seorang polisi untuk mengungkap identitas Emine." Kakek tua tetap tidak percaya.
" Bagaimana aku bisa melakukan hal itu tuan? Aku sangat mencintai Emine, aku mohon percaya pada ku!! Aku akan melindungi Emine."
Emine menatap kakek tua berharap kakek tua akan membuka hatinya dan bisa mempercayai ucapan Okan.
" Cinta mu hanyalah sebuah kata-kata. Bagaimana aku bisa mempercayainya?" Ucap kakek tua meremehkan ucapan Okan.
" Emine sedang mengandung anak ku. Itu adalah bukti dari cinta kami. Maafkan aku karena sudah bersikap lancang." Ini adalah alasan terakhirnya untuk membujuk kakek tua karena alasan cinta tidak mempan pada pria tua ini, Okan berharap dengan kenyataan Emine hamil anaknya bisa mengetuk pintu hati kakek tua.
" Apa ini adalah lelucon baru mu? Apa kau ingin membodohi ku agar bisa mendapatkan Emine??" Kakek tua masih tidak percaya meski Okan sudah mengatakan hal sampai sejauh ini.
" Dia tidak berbohong. Yang dia katakan benar kakek. Aku sedang hamil anaknya. Aku mohon kakek jangan marah. Kakek bisa marah padaku, maafkan Emine sudah mengecewakan kakek. Emine benar-benar minta maaf." Emine semakin merasa bersalah tapi ia tidak menyesal.
Kakek tua benar-benar kecewa, selama ini Emine membodohinya. Bukannya kakek tua tidak mengijinkan Emine untuk menikah, malah kakek tua akan bahagia jika Emine menemukan cintanya tapi kakek tua tidak pernah berharap cucunya jatuh di tangan seorang polisi, musuh dalam dunia malam yang selama ini Emine jalani.
Kakek tua berjalan perlahan mendekati Okan dengan tatapan mati. Ia bertanya pada pria itu.
" Tatap mata ku!!" Minta kakek tua, Okan pun menatapnya tanpa ragu.
" Apa kau benar-benar mencintai Emine?" Tanya kakek tua.
" Iya Tuan. Aku mencintainya lebih dari hidup ku." Jawab Okan.
PUKKK,,,,BRUKKKK,,,, Kakek tua melayangkan sebuah kepalan tangan tepat di wajah Okan.
" Okan,,," Teriak Emine terkejut melihat kakek tua memukul kekasihnya. Okan terjatuh karena tidak menyangka akan mendapat serangan.
" Itu adalah hukuman karena berani mencintai Emine. Bangunlah!! Kau masih harus menerima hukuman lain." Kakek tua meminta Okan berdiri. Okan pun langsung berdiri. Wajah pria itu masih terlihat tampan karena baru menerima satu pukulan entah berapa pukulan lagi yang harus bersarang diwajahnya untuk mendapatkan hati kakek tua.
Emine ingin membantu Okan namun kakek tua mempringati Emine untuk tidak ikut campur. Okan juga memberi kode pada Emine untuk tidak ikut turun tangan. Ia meyakinkan Emine bahwa dirinya baik-baik saja dan akan menyelesaikan masalah ini sendiri sampai tuntas.
*
*
*
Jangan lupa like, komen, vote, kalo berkenan bisa gabung juga ke grup author yang anggotanya tak seberapa😂
__ADS_1
Selamat membaca📖