Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
The story of death day.


__ADS_3

Pagi ini Velief meninggalkan pekerjaannya di kantor dan bergegas ke rumah sakit. Dokter yang menangani Emine hari ini menelfonnya karena ada sesuatu yang harus di bicarakan, katanya penting. Ditemani dengan Ozgur bodyguard Velief yang paling setia senantiasa menemani Velief kemanapun ia pergi.


" Ozgur. Kau tunggu saja di sini!!" Perintah Velief lalu masuk kedalam ruangan dokter sendiri.


" Siap Nyonya." Sahutnya tegas dan sigap dengan membusungkan dadanya dalam sikap sempurna.


Velief dan dokter Billie sekarang duduk saling berhadapan. Dokter Billie menatap Velief dengan tatapan ragu membuat Velief semakin penasaran.


" Maaf sebelumnya telah mengganggu waktu anda Nyonya Velief." Dokter Billie ragu untuk berbicara tapi ini harus di bicarakan. " Ini mungkin akan membuat anda merasa sedih tapi sebagai seorang dokter yang sudah cukup berpengalaman, saya ingin mengatakan pada Nyonya bahwa pasien telah mengalami kematian otak karena sebagian sarafnya tidak berfungsi dengan baik. Dalam dunia medis bisa dikatakan pasien sudah meninggal hanya saja jantungnya masih berdetak. Perlahan jantungnya pun akan berhenti dan pasien akan sepenuhnya bisa di katakan telah meninggal."


Velief tidak mengerti apa itu kematian otak, dia tidak mengerti dunia medis, dia juga tidak mengerti apa penyebab dari semua ini, yang Velief bisa pahami saat ini adalah bahwa Emine tidak berada dalam kondisi baik bahkan tidak menyentuh harapan untuk hidup. Velief merasa lemas seketika setelah mendengar penjelasan dokter Billie, dokter Billie adalah dokter terbaik di Belgia.


" Apa maksud dokter? Dia bisa kembali pulih kan? Lakukan apa pun dok!! Saya mohon lakukan yang terbaik! jangan biarkan dia mati!! Saya mohon dok, saya mohon." Suara Velief memelas dengan penuh kepanikan dan kecamasan.


" Tenanglah Nyonya!!" Mencoba menengkan Velief yang terlalu larut dalam kesedihan dan rasa bersalah. " Tenangkan diri anda!! Saya sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien, sekarang kita hanya bisa berpasrah pada Tuhan. Saya dan tim medis akan selalu melakukan yang terbaik."


Velief menghapus air matanya kasar mencoba menenangkan diri.


" Hiks,,,tapi kenapa bisa seperti ini dok? Dia tidak terluka di kepalanya, lalu bagaimana bisa dia mengalami kematian otak? Hiks,, " Tanya Velief meminta penjelasan.


Dokter Billie bisa mengerti kenapa Velief bertanya demikian. Bagi orang yang tidak mengerti akan dunia medis tentu akan merasa bingung dengan kondisi seperti ini.


" Jadi seperti ini Nyonya," Dokter Billie menceritakan kembali keadaan Emine dari nol. " Saya sendiri cukup terkejut saat mengetahui pasien mampu bertahan dari Turki ke Belgia dengan kondisi yang memprihatinkan. Saat kami melakukan oprasi pada pasien, kondisinya terus menurun hingga mengakibatkan koma dan saya sudah pernah mengatakan pada Nyonya bahwa ada masalah pada sistem saraf pasien. Peluru yang ada di dalam tubuh pasien dengan tidak sengaja sudah merusak sistem saraf dan mengakibatkan saraf lainnya terganggu. Kematian otak bukan berarti otak kita terluka tapi bisa di sebabkan karena kondisi saraf yang tidak normal. Saraf-saraf di tubuh kita itu terhubung langsung ke otak. Pasien mengalami kematian otak karena sebagian sarafnya tidak berfungsi dengan baik hal itu juga yang mengakibatkan pasien tidak sadarkan diri sampai sekarang. Saya mengatakan ini agar nanti Nyonya bisa menerima seandainya terjadi sesutu pada pasien. Saya tidak ingin memberi harapan palsu pada Nyonya mengingat kondisi pasien sudah sangat buruk" Dokter Bille mencoba menjelaskan dengan singkat agar Velief mudah mengerti dengan kondisi Emine.


Setelah mendengar semua penjelasan Dokter Billie, Velief semakin terbelenggu dalam rasa bersalah yang semakin besar. Air matanya menetes kembali mengingat pengorbanan wanita yang bahkan tidak Velief kenal. Jika malam itu Emine tidak menjadikan dirinya sebagai tameng, mungkin saat ini Velieflah yang terbaring kaku di atas kasur berukuran 1x2 meter dengan selang oksigen di hidung, impus di tangan, kabel-kabel yang menempel di tubuh dan alat penunjang hidup lainnya.


" Dokter, apa tidak ada yang bisa di lakukan lagi??" Tanya Velief penuh harapan tapi mendapat gelengan dari dokter Billie.


Dokter Billie merasa kasihan pada Velief yang terus bersedih dan menyalahkan dirinya atas apa yang telah menimpa Emine. Dokter Billie tidak menyesal telah mengatakan ini semua pada Velief tapi yang ia sesali adalah tidak mampu untuk membuat keajaiban seperti di dalam film dan drama di Tv. Jika di Tv sang sutradara bisa dengan mudah membangunkan pemeran utamanya dari Koma tapi tidak dengan di dunia nyata. Di dunia nyata sutradaranya bukan presiden, mentri, raja, apalagi Billie yang hanya seorang dokter. Tapi yang menjadi sutradara di dunia nyata adalah Tuhan yang mungkin saat ini sedang menonton hambanya terbujur kaku lemah tak berdaya.


" Tut tit tut tit tut tit tut tit,," Suara alarm yang terletak di atas meja Dokter Billie.


Dokter Billie segera mengecek dari kamar mana alarm itu dibunyikan. Dari layar laptopnya menunjukan angka 143 kamar VIV, itu adalah ruang Emine dirawat.


" Ada apa dokter?" Tanya Velief melihat Dokter Billie sedikit panik.


" Terjadi sesuatu dengan pasien." Ucapnya tergesa-gesa lalu berlari keluar ruangan menuju kamar 143.


Velief penasaran dari mana alarm pertanda gawat itu dibunyikan, ia segera bangkit dan berjalan ke arah laptop Dokter Billie. Angka 143 yang ada di sudut layar laptop membuat Velief segera lari keluar menyusul Dokter Billie. Ozgur yang sedang duduk kini berdiri ketika seorang dokter lari melewatinya, Ozgur menatap punggung dokter yang berlari itu dengan perasaan bingung lalu di susul dengan Velief yang juga ikut berlari. Karena semua orang berlari, Ozgur yang tidak tau apa pun juga ikut berlari mengejar bosnya.


Dokter Billie masuk kedalam ruangan dan sudah ada beberapa perawat yang standby di sana. Perawat-perawat itu nampak sangat serius dengan pekerjaan mereka. Ada yang menyuntikan sesuatu ke impus Emine, ada yang langsung menyuntikannya ke tubuh Emine, ada yang mengecek detak jantung, ada yang mengecek tekanan darah dan ada yang memantau alat-alat kesehatan yang terhubung dengan Emine. Entah apa yang sedang mereka lakukan hanya para manusia berpakain serba putih itu yang tau dan mengerti.


Saat Dokter Billie tiba, beberapa perawat menepi memberikan ruang untuk dokter Billie.


" Apa yang terjadi?" Tanya dokter Billie sembari mengecek keadaan pasien.


" Tiba-tiba pasien mengalami kejang-kejang dok, detak jantungnya melemah dan kondisinya terus menurun." Jelas salah satu perawat.


Dokter Billie dan perawat segera melakukan tindakan. Kondisi Emine terus menurun meski sudah di berikan obat tapi tidak mempan. Semua obat yang diberikan ditolak oleh tubuh Emine.

__ADS_1


Velief mencoba melihat kondisi di dalam ruangan lewat celah-celah tirai yang menutupi pintu kaca tapi bayangan yang tertangkap tidak jelas. Hanya warna putih-putih yang terlihat.


" Nyonya ada apa?" Tanya Ozgur sangat penasaran membuat Velief sedikit terkejut.


Velief semakin panik dan terus menangis. Ozgur yang melihatnya pun sangat kawatir, ia mencoba menenangkan Velief dan membawanya duduk di kursi tunggu.


" Nyonya sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Ozgur mengulang tapi Velief terus terisak dalam tangisannya. Ozgur yang tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya langsung tau bahwa wanita penyelamat itu tidak dalam keadaan baik.


" Tenanglah nyonya!! Dia pasti dilindungi oleh Tuhan, percayalah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan wanita sebaik dia terluka dalam waktu yang lama." Ucap Ozgur memberi sedikit obat penenang pada Velief dengan kata-katanya.


" Apa yang harus aku lakukan jika terjadi sesuatu padanya?" Velief menatap Ozgur dengan mata yang sudah basah. " Aku tidak akan pernah memaafkan diriku." Velief masih terus menyalahkan dirinya sendiri.


Dokter dan perawat belum juga keluar dari ruangan Emine, malah beberapa dokter terlihat masuk ke dalam membantu Dokter Billie. Hal itu semakin membuat Velief merasa kawatir dan cemas.


Detak jantung Emine terus menurun kondisinya semakin memburuk. Mulut Emine mengeluarkan darah terus menerus hingga Emine harus mendapat tranfusi darah. Ada 3 dokter 4 perawat yang menangani Emine tapi belum juga berhasil menstabilkan kondisi pasien. Semua sudah berusaha dengan baik dan bekerja dengan keras tapi Tuhan telah memutuskan untuk menjemput hambanya.


Dengan berat hati, Dokter Billie angkat bicara. " Pukul 09.12 pagi, pasien nomor 143 telah menghembuskan nafas terakhirnya. " Semua orang di dalam ruangan itu tertunduk menunjukan duka cita atas meninggalnya Emine. Satu orang perawat menarik selimut putih, menenggelamkan ujung kaki sampai ujung kepala Emine dibalik selimut putih itu.


Tak lama kemudian, Dokter Billie keluar dengan para dokter lainnya, beberapa perawat masih berada di dalam untuk mengurus peralatan disana. Velief yang sudah berhenti menangis dan sudah sedikit tenang refleks menoleh kesamping menyadari ada suara pintu terbuka dari ruangan Emine. Velief berdiri menghampiri Dokter Billie yang baru saja keluar.


" Bagaimana dok? Dia sudah membaik kan? Wanita itu, dia sudah lewat dari masa kritisnya kan? " Tanya Velief dengan suara penuh kecemasan dan kepanikan.


" Maaf nyonya, pasien tidak bisa kami selamatkan. Nyonya harus bisa melepas kepergian pasien dengan iklas!!" Ucap Dokter Billie penuh rasa bersalah karena tidak bisa menolong Emine.


Mendengar ucapan Doktet Billie membuat Velief menatapnya tak percaya, semua ini membuat Velief lemas lalu ambruk seketika. Beruntung Ozgur segera menangkap tubuh Velief yang hampir jatuh ke lantai. Velief pun kini ikut mendapat kamar rumah sakit karena pingsan, Velief masih belum bisa menerima kepergian wanita yang telah menyelamatkannya.


Emine duduk membungkukan badanya, merangkul kedua kaki dan menundukan kepalanya dengan menyatukan kening dan lututnya. Sudah 1 bulan lebih ia mencari jalan keluar dari tempat ini tapi tak kunjung berhasil. Entah tempat apa ini tapi semuanya berwarna putih tidak ada warna lain kecuali warna pakaiannya yang serba hitam. Tidak ada angin segar, tidak ada laut biru, tidak ada hamparan pepohonan hijau, tidak ada kendaraan yang lalu lalang, tidak ada gedung-gedung pencakar langit, tidak ada bulan, tidak ada bintang, tidak ada matahari dan tidak ada siapa-siapa disini. Emine sudah benar-benar lelah untuk mencari jalan pulang, ia berharap ada seseorang yang menjemputnya dan membawanya pergi dari tempat aneh ini.


" Apa yang kau lakukan disini nak?" Tanya seseorang berbaju serba putih yang datang entah dari mana. Pria itu ikut duduk menyetarakan posisinya dengan Emine.


Emine menyadari suara itu tapi ia tetap menundukan kepalanya. " Apa kau juga tersesat disini?" Tanya Emine masih memeluk kedua lututnya.


" Tidak. Aku melihat anak ku disini sedang bersedih karena itu aku datang kemari." Ucap pria itu sembari terus memandang Emine yang tak kunjung memperlihatkan wajahnya.


" Dimama anak mu?" Tanya Emine lagi.


" Dia ada disebelah ku tapi dia tidak mau menunjukan wajahnya."


Ucapan pria ini membuat Emine mengangkat perlahan kepalanya lalu melihat kesamping dengan penuh harapan.


" Ayah." Ucap Emine lemah refleks memeluk Mesut dengan air mata mengalir deras.


Mesut membalas pelukan putri cantiknya, ia mengelus-elus lembut rambut pirang sang putri mencoba memberi ketenangan.


" Jangan menangis sayang!! Ayah ada bersama mu. Kau tidak sendiri."


" Ayah aku merindukan mu,,, hiks,, Emine takut disini sendiri,,,hiks,,," Emine terisak dalam deru kerinduannya pada sang ayah.


Mesut melepas pelukan Emine yang sangat erat, menatap Emine lekat lalu menghapus lembut air mata yang menguasai pipi putrinya sembari berkata " Kau selalu terlihat jelek saat menangis. Ayah tidak pernah punya putri sejelek ini." Ucap Mesut menjahili Emine.

__ADS_1


Bukannya kesal, Emine malah menjadi-jadi dengan tangisannya, ia menangis seperti bocah yang mainannya direbut. Melihat tinggah konyol putrinya yang tak pernah hilang membuat Mesut tertawa lepas menertawakan wajah Emine yang terlihat lucu dan menggemaskan. Emine memeluk kembali ayahnya.


" Sudah sudah!! Jangan menangis lagi!! Ayah tidak akan pernah meninggalkan mu." Ucap mesut membuat hangat hati Emine.


" Aku ingin terus bersama ayah. Aku ingin ikut dengan ayah." Ucap Emine dalam dekapan ayahnya.


Mesut melepas kembali pelukan Emine dan menatap putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang.


" Tidak boleh Emine. Dunia kita berbeda, kau dan ayah tidak bisa bersama. Kau harus pulang!! Ada banyak orang yang sangat menyayangimu dan sedang menunggu kepulangan mu nak." Ujarnya memberi pengertian.


" Jika dunia kita berbeda lalu kenapa aku ada disini bersama ayah? Kenapa kita berada di tempat yang sama?" bertanya dengan wajah polosnya.


Mesut tersenyum mendengar putrinya lalu mencoba memberi penjelasan lagi.


" Ini bukan dunia ayah dan ini juga bukan dunia mu. Dunia ayah jauh berada di atas sana dan dunia mu jauh berada di bawah sana. Kau harus kembali!! Dunia ini terlalu kelam untuk wanita secantik dirimu."


Emine menggenggam erat tangan sang ayah yang nampaknya ingin meninggalkannya.


" Ayah,,, Emine ingin ikut bersama ayah. " Mintanya memelas-melas dengan mata kucing yang berkaca-kaca.


Mesut menarik tangan Emine dan meletakan di dadanya. Emine bisa merasakan detak jantung Mesut yang berdengup kencang tapi Emine tidak mengerti dengan maksud ayahnya.


" Kau selalu ada di sini, di hati ayah, dan ayah juga selalu ada di hati mu. Kita tidak pernah jauh, kita selalu bersama. Percayalah Emine ayah tidak pernah meninggalkan mu." Tersenyum meyakinkan putrinya.


Emine menangis lagi dan memaluk lagi Mesut. Ia tidak rela pergi meninggalkan Mesut ayahnya tapi Emine juga tidak bisa meninggalkan dunianya begitu saja. Ia memeluk erat tubuh ayahnya semasih ada waktu hingga akhirnya sebuah cahaya yang menyilaukan mengalihkan perhatian mereka


" Pulanglah!! Pintunya sudah datang. Cepat pulanglah!! Jangan sia-siakan kesempatan ini!!"


" Tapi bagaimana dengan ayah?"


" Ayah baik-baik saja." Mesut melepas pegangan tangan Emine.


Emine seperti di tarik oleh cahaya itu, tubuh Mesut semakin jauh darinya. Emine menangis tidak ingin berpisah tapi ayahnya malah tersenyum ke arahnya. Tangan Emine menjulur mencoba menggapai tangan Mesut yang semakin jauh tapi tak bisa. Cahaya itu semakin buas menariknya dan menenggelamkan Emine ke lorong waktu. Dan saat itu Emine tidak bisa lagi melihat ayahnya.


# Story off.


Para perawat yang sedang membereskan alat-alat kesehatan tiba-tiba terkejut dengan suara pendeteksi jantung yang berubah. Pendeteksi jantung yang tadinya bersuara " Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittt,,,,,,,,," Kini menjadi " Tit,,,Tit,,, tit,,, tit,,tit,," Grafik detak jantung yang tadinya lurus mendatar kini naik turun menggambarkan jantung Emine kembali berdetak. Mereka semua tercengang melihat keajaiban ini, tanpa berfikir lagi salah satu perawat membunyikan alarm, memanggil Dokter Billie untuk datang keruangan Emine.


Bukan hanya itu yang membuat para perawat terkejut, Emine juga sempat membuka matanya tapi hanya sekitar 3 detik lalu tertutup lagi.


*


*


*


Jangan lupa like komennya guys!!!


Maaf cerita hari ini agak keluar dari realita tapi ya beginilah isi kepala Author:v

__ADS_1


__ADS_2