Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Jual Mahal tapi Gagal.


__ADS_3

" Tolong,,,aku,,,!!! Nona,,,,Tolong,,,Sakit sekali,,,hiks,,, Nona,,,lepaskan aku,,!! Suara perempuan lirih terdengar sangat sedih.


Suara itu terdengar jelas tapi Emine menganggapnya hanya sebuah mimpi.


Mimpi itu sangat mengganggu Emine, ia memutuskan untuk bangun agar mimpi yang hanya suara itu hilang.


Mata Emine yang terbuka perlahan menyesuaikan dengan cahaya yang masuk lewat lubang atap yang terbuat dari seng. Bangunan kumuh, bau, berdebu, dengan dinding terbuat dari kayu itu sangat asing di pandangan Emine.


Kepala Emine terasa benar-benar berdenyut. Ia memegangi kepalanya sembari berfikir dimana dirinya sekarang berada. Emine tidak ingat apa pun kejadian kemarin.


" Aghhhh,,, Dimana aku sekarang?" Ucap Emine masih terbaring di ranjang berukuran 1x2 meter dengan seprai yang sudah kusut.


" Nona,,, tolong aku!!!" Suara itu kembali terdengar saat Emine sudah bangun dari tidurnya.


" DEG,,,,,," Hati Emine merasakan ada sesuatu yang aneh. Suara lirih dan serak itu membuat Emine terbangun.


" Aaaaaaa,,,," Teriak Emine begitu kaget melihat ada wanita dengan wajah mengerikan sedang duduk bersimpuh di lantai.


" Menjauh dari ku!! Pergi!! Jangan dekati aku!! Aku mohon menjauhlah,,,!!!" Emine begitu takut saat wanita itu menjulurkan tangannya mencoba meraih kaki Emine. Sontak Emine menarik kakinya hingga badannya terhimpit di kepala ranjang.


Wajah wanita itu sudah tidak jelas lagi karena kulit di wajahnya melepuh dan hampir terkelupas. Tangannya yang sekarang mencoba meraih kaki Emine juga penuh dengan luka semacam luka bakar. Emine benar-benar merasa jijik dan seketika mual.


" Sakit sekali,,,, Tolong aku!!" Wanita itu menyeret tubuhnya lebih dekat lagi. Terdengar suara rantai yang bergesekan dengan lantai. Ternyata kaki wanita itu di ikat dengan rantai besi.


" Jangan mendekat,,,,!! Jangan,,,!!" Teriak Emine semakin takut saat wanita itu berhasil menggapai seprai.


" Plankkkkk,,,,,,, Brukkkkk,,,,," Sebuah tongkat besi menghantam wajah wanita itu.


" Uhukkkk,,,, Uhukkk,,,"


Mata Emine membelalak melihat wanita itu tersungkur dengan darah yang keluar dari mulutnya.


" Aghhhhh,,,," Seorang pria menjambak rambut wanita yang sudah tak berdaya itu lalu dengan keras ia menghentakan kepala wanita itu ke lantai hingga kulit wanita yang sudah hancur itu kini semakin hancur dengan darah yang keluar dari dahinya.


" Berani sekali kau membuatnya ketakutan." Ucap pria itu penuh gertakan di giginya. Nyali Emine semakin menciut melihat wanita itu disiksa. Emine ingin menolong tapi kondisinya tidak mendukung.


" Ampun tuan. Tolong,,, jangan bunuh saya!!" Minta wanita itu dengan air mata bercampur darah. Pria itu menyeret rambut wanita itu menuju sebuah ruangan.


" Hah!!!!" Emine begitu terkejut refleks membungkam mulutnya sendiri saat melihat pantulan bayangan pria itu saat melewati cermin yang terpasang di dinding. " Dia. Pembunuh itu." Gumam Emine setelah melihat full wajah Orsan tanpa masker, topi dan yang lainnya.


Emine ingin segera lari dari tempat menyeramkan ini tapi perutnya benar-benar terasa mual.


" Huekkkk,,, Huekkkkk,,,," Emine muntah tepat dibawah ranjang. Cairan berwarna kuning ke'emasan beserakan di lantai. Rasa asam bersarang di tenggorokannya.


" Sial,,," Umpat Emine lalu beranjak dari ranjangnya. Emine berjalan dengan berpegangan pada tembok, lemari dan yang lainnya agar tidak terjatuh. Kondisi Emine saat ini benar-benar buruk.


Tangan Emine yang meraba-raba sebuah meja untuk berpegangan secara tidak sengaja menyentuh sebuah fas foto kecil berisi 2 potret seorang lelaki dan seorang perempuan sedang tertawa lepas di sebuah taman. Potret 2 orang itu adalah Orsan dan adik perempuannya yang sudah meninggal. Emine mengambil foto itu dan membawanya kabur.


Orsan baru keluar dari ruangan setelah menyiksa wanita itu. Sekarang ia berniat melihat Emine memastikan keadaanya tapi Emine sudah tidak ada di tempatnya lagi.


" Kemana perempuan itu? keadaannya belum membaik sudah main kabur saja." Gerutu Orsan saat melihat kotoran di bawah ranjangnya. Orsan segera keluar mencari Emine.


Di lain tempat Emine sedang kebingunguan mencari jalan pulang. Ia berjalan terombang ambing di tengah lalang yang menenggelamkan setengah tubuhnya. Kepala Emine yang sudah pusing kini semakin pusing memikirkan keberadaannya sekarang. Bukan hutan, bukan ladang, bukan sawah apalagi pemungkiman tapi tempat ini adalah hamparan padang lalang dengan sebuah danau di sampingnya. Emine memilih keluar dari gerombolan lalang itu karena kulit kakinya tergores-gores oleh lalang itu sekaligus terasa sangat gatal.


Emine berhenti sebentar, ia membasuh wajahnya di tepian danau. Terlihat matahari sudah berada tepat di atasnya melalui pantulan bayangannya di air.


" Haus sekali." Ucapnya dengan suara serak. Emine menatap lekat air di depannya, air itu terlihat keruh tapi ia tidak bisa menahan dehidrasinya lagi dan menyerup air yang sudah ditampung di tangannya.


5 meter dari posisi Emine sekarang, ada sebuah batu besar. Emine naik ke atas batu itu untuk bisa melihat lebih luas lagi tempat ini.


" Tempat macam apa ini?? Bagaimana aku bisa pulang? Huftttt,,,,, Aku lelah." Ucap Emine kemudian memutuskan untuk duduk sebentar di atas batu itu. Emine melihat kakinya penuh goresan-goresan karena terkena lalang tadi. Dres yang Emine kenakan hanya sampai di atas lutut.


Di sela kediamannya mengumpulkan tenaga, Emine mengambil foto yang ia simpan di branya. Menatap foto itu lekat.


" Ini pembunuh itu. Lalu ini siapa?" Tanya Emine pada gadis di sebalah Orsan.


10 menit sudah cukup untuk mendapat 25% tenaganya lagi. Emine melompat dari batu itu dan melanjutkan perjalanan di bawah teriknya matahari. Emine berjalan santai agar tidak cepat lelah lagi pula Orsan tidak terlihat dimana pun.


1 Jam kemudian. Emine masih belum menemui jalan untuk keluar dari tempat ini.


2 Jam kemudian. Bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di tempat ini.


3 Jam kemudian. Semakin jauh Emine melangkah, tempat ini semakin terlihat aneh.


4 Jam kemudian. Emine kembali lelah. Perutnya sangat lapar, kakinya sudah lemas. Dari 4 jam perjalanan tadi, Emine hanya minum air danau untuk mengisi perutnya dan mengisi tenaganya. Matahari sudah berada di jarum jam angka 4 tepat menyorot pelipis Emine.


" Kakek,,,, Aku ingin pulang...Aku lapar. Huaaaa,,,," Emine merengek menangisi nasib sialnya.


Emine kembali berjalan tanpa arah yang jelas.


2 Jam kemudian, tepat pukul 6 sore. Emine berhasil menemukan 1 buah gubuk dengan lampu gantung di luarnya. Sekuat tenaga Emine melangkahkan kakinya menuju gubuk itu. Pintu gubuk itu tertutup.


" Tok,,tok,,tok,,,Apa ada orang di dalam??" Emine mengetuk pintu dan mencoba memanggil si pemilik gubuk tapi tidak ada yang merespon.


" Aghhhh,,,, Kepala ku." Seketika kepala Emine terasa pusing lagi. Pandangan yang sudah remang-remang karena sudah senja kini semakin kabur. Emine berusaha mempertahankan kesadarannya yang kian menghilang tapi tidak bisa.

__ADS_1


" Brukkk,,," Emine pingsan di luar gubuk yang beralaskan tanah.


Tidak lama kemudian, seorang nenek datang membawa singkong yang baru ia ambil dari kebun samping rumahnya.


" Astaga nak, Bangun nak!! Bangun!!" Nenek itu terkejut melihat Emine tergeletak di bawah. Ia mencoba mendapatkan kesadaran Emine dengan menepuk pelan pipi Emine tapi tidak ada reaksi. Wajah Emine terlihat sangat pucat tapi badan Emine tidak panas. Nenek itu ingin memindahkan Emine ke dalam tapi tidak bisa. Akhirnya nenek itu pergi mencari bala bantuan.


*


Mata Okan tidak mau lepas dari wanita yang sekarang berbaring di tempat tidurnya. Sudah 2 jam Emine pingsan dan tak kunjung sadarkan diri. Okan terus berada di samping Emine menunggu Emine kembali sadar.


" Lapar,, aku lapar sekali." Tiba-tiba Emine mengigau dalam tidurnya membuat Okan yang sempat tidur sejenak di kursi sekarang mengerjap membuka matanya karena mendengar suara Emine.


" Apa kau lapar??" Tanya Okan mendekati Emine yang matanya masih tertutup rapat.


" Iya,,," Sahut Emine.


Okan semakin terkejut mendengar ucapannya di respon.


" Ada apa dengannya? Dia benar-benar tidur atau hanya pura-pura? Kenapa Emine bisa mendengar suara ku?" Gumam Okan bingung.


" Tunggulah!! Aku akan membuatkan mu sesuatu." Okan segera pergi ke dapar. Ia membuatkan Emine bubur. Seorang pria yang sangat sibuk dengan profisinya bisa membuat bubur itu sudah sangat luar biasa. Meski bubur hanyalah sebuah makanan yang terbuat dari beras+air+garam, kemudian di panaskan di atas kompor dan diaduk-aduk \= Bubur.


Saat Okan ada di dapur, Emine sudah terbangun. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Mata Emine menyesuaikan setiap sudut kamar ini.


" Sekarang dimana lagi aku berada??" Emine mengeluh setelah menyadari ini bukanlah kamarnya. Emine mengingat dirinya pingsan di sebuah gubuk dan kamar mewah ini tidak mungkin bagian dari gubuk tua itu. Emine semakin bingung.


" Sepertinya aku tau kamar ini. Tapi, Aishhh,,,, Aku tidak ingat." Dengusnya kesal karena otaknya tidak bisa mengingat dengan benar.


" Emine, Kau sudah bangun." Ucap Okan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air.


" Okan?" Ucap Emine sendu tidak menyangka Okan muncul di hadapannya. Otak Emine otomatis menyadari dirinya sedang berada di rumah Okan.


Okan meletakan nampan itu di meja kemudian duduk di kursi yang di dekatkan ke ranjang tempat Emine. Rasa kesal masih menyelimuti hati Emine, ia membuang muka tidak mau melihat Okan.


" Emine, aku~~" Terpotong.


" Aku mohon jangan bicarakan itu lagi!!" Ucap Emine yang sudah mengetahui arah pembicaraan Okan. Tadinya Okan ingin meminta maaf tapi Emine tidak mau mendengarkannya bahkan sebelum Okan bisa menyelesaikan kalimatnya membuat Okan menghela nafas tanpa suara.


" Kenapa aku ada disini?" Tanya Emine penasaran dengan perjalanan hidupnya selama ia pingsan dan akhirnya terbaring di rumah pria yang membuatnya terluka.


" Seorang nenek menemukan mu pingsan di depan rumahnya. Kemudian ia pergi ke kantor polisi untuk meminta bantuan. Kebetulan aku ada saat itu, jadi aku yang pergi membantu nenek itu." Jawab Okan kepada Emine yang masih tidak mau menatapnya.


" Tapi, Kenapa kau bisa berada di sana?" Tanya Okan menyambung.


" Baiklah jika tidak mau jawab." Ucap Okan tidak mempermasalahkan hal itu kemudian mengambil makok bubur yang terletak di sampingnya. " Ini makanlah,,,!!" Okan menyodorkan mangkok itu.


" Aku tidak lapar." Untuk menjaga harga dirinya karena sedang marah dengan Okan, Emine berpura-pura menolak bubur itu.


" Ya Tuhan,,,, Tolong kuatkan hamba mu ini!! Jangan biarkan aku tergoda oleh bubur itu!! Kuatkan perutku ini Tuhan!! " Doa Emine dalam hati.


" Tadi dia bilang lapar sekarang tidak. Mungkin dia hanya lapar dalam mimpinya." Gumam Okan dalam hati.


" Ehemmmm,,, Baiklah kalau tidak mau makan." Okan meletakan kembali bubur itu di nampan.


" Aishhh,,,Jangan pergi!! Kenapa kau tidak memaksa ku untuk makan?? Ayolah Okan, paksa aku makan!! Aku akan berpura-pura mau makan karena paksaan mu. Kenapa kau sama sekali tidak peka? Aku sangat lapar,,, Huaaaa,,,," Gumam Emine berharap Okan memaksanya untuk makan.


Okan beranjak dari duduknya dan hendak membawa kembali lagi bubur itu ke dapur.


" Kau yakin tidak mau?" Tanya Okan meyakinkan sebelum keluar kamar.


" Gleeekkk,,," Emine menelan ludahnya membasahi tenggorokan yang sudah kering krontang itu. Hatinya berkata ingin sekali memakan bubur itu tapi mulutnya begitu kaku untuk bicara.


Karena Emine diam tidak menjawab, Okan pun pergi begitu saja.


" Kreokkk,,, krodok,,, krodokkk,,,," Mulut Emine tidak mau menyuarakan laparnya akhirnya perutnya yang berbicara membuat Okan kini berhenti. Emine mengecutkan wajahnya karena merasa malu. " Aishhh,,, Perut bodoh. Aku berusaha menjaga image ku tapi kenapa malah kau yang menghancurkannya." Gerutu Emine dalam hati begitu kesal.


Okan berbalik dan duduk kembali dengan senyum menertawakan kebohongan Emine yang sudah terbongkar.


" Hari ini kau tidak pandai berbohong. Sekarang makanlah!!!" Ucap Okan.


Emine masih diam, tangannya gatal meremas jari-jarinya sendiri.


" Mau aku suapi?" Tanya Okan kemudian mendapat tatapan kosong dari Emine. Okan bingung dengan tatapan Emine yang sepertinya sedang berbicara. Okan tidak bisa mengartikan tatapan Emine yang lekat memandang wajahnya.


" Kenapa aku tidak bisa membenci mu? Aku tidak bisa jauh dari mu. Kenapa Tuhan sekejam ini mempermainkan takdir ku? Jika tidak bisa bersama lalu kenapa selalu bertemu? Jika tidak mencintai ku lalu kenapa kau begitu perhatian pada ku Okan? Apa mau mu? Apa tujuan mu? Apa yang sedang kau rencanakan Tuhan? Jangan membuat ku terlalu Sakit karena hati ku tidak sekuat baja. Jangan terlalu membuat ku terbang jika akhirnya kau menarik ku ke bawah. Tidak bisakah kau melihat aku terluka akan sikapmu yang terus memberiku harapan palsu? Tidak bisakah kau melihat ada cinta yang ku pendam untuk mu? Aku mencintai mu Okan, Karena itu aku mohon jangan selembut ini dengan ku!! Hati ku terlalu rapuh untuk menampung semua ini. Aku mohon!!" Ucap Emine dalam hatinya mengungkapkan semua keluhannya hingga tidak sadar air mata menetes bergilir terjun dari mata Emine.


" Emine. kenapa kau menangis?" Ucap Okan cemas melihat Emine menangis dengan tatapan yang masih kosong.


Suara Okan menyadarkan Emine. Dengan cepat Emine menyeka air matanya.


" Tidak apa-apa. Aku bisa makan buburnya sendiri." Ucap Emine meyakinkan Okan.


" Emine jangan berbohong pada ku!! Aku minta maaf atas kejadian kemarin. Aku terlalu emosi. Aku salah." Okan merasa Emine menangis karena mengingat ucapan dirinya yang mengatai Emine wanita murahan.


" Sungguh aku tidak apa-apa. Aku tidak mau membicarakan masalah itu lagi Okan. Aku mohon." Ucap Emine meminta agar Okan tidak menyinggung masalah itu karena hanya akan menyakiti hati Emine. Okan semakin merasa bersalah, ia pun diam dan hanya mengamati Emine memakan buburnya. Perlahan bubur itu mulai berkurang dan habis tak tersisa. Setelah itu Emine meminjam telfon Okan untuk memberi kabar kepada kakek tua bahwa dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


Okan pergi ke dapur membawa mangkok bekas Emine dan langsung mencucinya. Meski Okan adalah seorang lelaki yang hidup sendiri di rumah ini tapi ia sangat rapi dan bersih. Okan tidak bisa melihat hal sekecil apa pun yang berantakan atau kotor karena itu sangat mengganggu penglihatannya. Selesai dengan urusan dapurnya, Okan mengambil kotak obat di laci lemari dapur lalu kembali ke kamar Emine.


" Aku obati dulu kaki mu." Ucap Okan langsung menepis selimut Emine tanpa ijin.


" Tidak." Emine menghentikan tangan Okan yang ingin mengoleskan salep di goresan-goresan kaki Emine.


" Aku akan mandi dulu. Setelah mandi baru di obati. Jika sekarang di obati nanti percuma. Tubuhku terasa sangat lengket. Aku tidak nyaman." Ucap Emine melengkapi.


Okan menutup kembali salep yang sudah ia buka lalu meletakan ke tempat obat.


" Kamar mandi ada di sebelah sana." Menunjuk dengan sorot matanya yang dilempar ke belakang.


Emine masih tetap di posisinya meski Okan sudah memberitahu tempat kamar mandinya.


" Kenapa diam? Kata mu mau mandi." Tanya Okan.


Emine mulai gugup, ia semakin meremas jari-jarinya sendiri.


" A,,aku butuh pakaian." Ucap Emine menatap Okan ragu.


Okan tersenyum ternyata hanya sebuah pakaian yang membuat Emine menggigit bibirnya. Okan berdiri, berjalan menuju lemarinya.


" Mau pakai yang ini?" Tanya Okan menunjukan kemeja putih miliknya.


" Iya aku mau." Jawab Emine.


" Aku tidak punya celana. Emmmmm,,,,Tunggu sebentar!!" Okan pergi ke bawah kemudian membawakan Emine sebuah celana jeans pendek.


" Ini milik adik ku. Kau bisa memakainya!!" Ucap Okan memberikan celana itu pada Emine yang sudah duduk di sisi ranjang.


" Kau punya adik??" Emine sedikit terkejut ternyata Okan mempunyai adik perempuan.


" Ya. Dia kuliah di luar negri. Jadi dia tidak ada disini." Jawab Okan santai.


" Ohhhhh,,,," Respon Emine hanya me-ohh kan ucapan Okan. Pikiran Emine sama sekali tidak mengarah pada Meli yang sebenarnya merupakan adik Okan.


" Aku pergi dulu. Jika ada sesuatu panggil saja aku!!" Okan berbalik ingin pergi. Tidak enak rasanya tetap di kamar ini saat Emine sedang mandi.


" Okan tunggu." Emine menghentikan Okan lagi dengan wajah yang masih terlihat gugup dan bibir Emine ragu untuk bicara. Entah kenapa Okan merasa senang Emine menghentikannya.


" Itu,,, Aku butuh sesuatu." Ucap Emine.


" Katakanlah!!!" Okan siap mendengar ucapan Emine.


Emine terdiam sejenak untuk berfikir.


" Bagaimana caranya aku mengatakannya? Ini akan sangat memalukan. Tapi,~~" Ucap Emine di dalam benaknya.


" Emine." Okan menyentuh lengan Emine karena Emine kembali terdiam dengan tatapan kosongnya.


" Aku butuh bra." Ucap Emine spontan setelah Okan mengagetkannya.


" Astaga, Aku sudah mengatakannya." Sambungnya dalam hati.


" Apa bra??" Okan terkekeh akan permintaan Emine.


Emine tertunduk malu.


" Aku tidak bisa menggunakan bra ku lagi. Rasanya sangat gatal." Jawab Emine. Emine memang merasakan gatal dan lengket di bagian payuda*anya. Mungkin karena keringatnya tadi siang yang berjalan di bawah sinar matahari.


Okan tidak tega melihat Emine. Akhirnya ia kembali lagi ke kamar Meli.


Di dalam kamar Meli, Okan membongkar isi lemari Meli. Hanya ada baju dan celana memenuhi lemari ini. Okan tidak tau dimana adiknya menyimpan barang seperti itu. Dari bagian atas lemari sampai bawah, Okan tidak menemukan bra. Hanya ada satu tempat lagi yaitu laci lemari yang belum ia buka. Okan membuka laci itu dan menemukan sekumpulan dalaman wanita disana.


" Astaga. jika bukan karena Emine, aku tidak akan mau menyentuh benda ini." Ucap Okan membentangkan bra ungu di hadapannya dan memegang tali bra itu dengan mengitingkan jarinya. Okan menatap jijik bra milik adiknya itu.


" Kenapa Meli memakai bra seksi seperti ini?? Dasar bocah tapi seleranya sangat tinggi." Gerutu Okan tidak menyangka Meli yang terlihat seperti anak kecil itu memiliki selera yang lumayan panas.


*


*


*


Hallo,,,Hallo,,, Trimakasih sudah mau menunggu ep'a ya manteman.


Jangan lupa like+Komennya ya!!


Cuma like sama komen gak pakek duit kok ya. Komennya bisa " Next Thor, Up, Lanjutt, serah kalian lah!! "


Author bakal lebih seneng lagi kalau ada yang mau ngasih kritik atau saran.


Trms.


* Selamat membaca *

__ADS_1


__ADS_2