
3 personil polisi yang hari ini sedang off tugas kini memilih menghabiskan waktu luang mereka dengan bermain kartu di salah satu Bar terkenal di Istanbul tentu didampingi dengan beberapa botol wine untuk melengkapi suasana.
Okan, Tiras dan Murat mereka bertiga sudah berada di bawah pengaruh alkohol. Suara mereka memang masih terdengar jelas saat berbicara tapi tingkah mereka sudah mulai meracau dan matanya pun sudah memerah.
" Siapa yang akan membayar ini semua hah? Aku tidak mau bayar. Eeeeegggkkkhhh,,,," Ucap Tiras tidak mau membayar tapi dia yang paling banyak menghabiskan wine. Bahkan ia sampai bersendawa.
" Tenang kawan!! hari ini aku yang akan mentraktir kalian."
Untuk merayakan hari yang berbahagia ini, Okan dengan senang hati merogoh isi dompetnya. Ia terlihat sangat ringan senyum dan aura positif bertebaran di ruangan VIV itu.
PROKkkk,,,,PROKkkk,,,PROKkkk,,, Murat dan Tiras bertepuk tangan meriah dan semangat.
" Wahhh,,,, Ada apa ini? Kawan, apa hari ini telah terjadi keajaiban dalam hidup mu?" Murat penasaran, ia merangkul bahu Okan sembari menunggu jawabannya.
" Tidak sekarang. Akan aku beritahu jawabannya nanti. Saat waktunya sudah tepat." Okan sengaja menggoda kedua rekannya dengan membuat mereka semakin penasaran.
" Aishhh,,,, Jangan bicara kalau tidak mau memberi tahu kami!!" Dengus Tiras dengan tangannya mulai bergerak menuangkan wine lalu mulai memutar gelas berisi cairan bening ke'emasan itu dimulai dari Okan.
Murat yang tak kalah kesal itu beralih merapikan kartu yang masih berserakan di meja kemudian mengocoknya sebelum di bagikan lagi ke masing-masing peserta.
" Aku punya ide bagus." Tiba-tiba Murat angkat bicara saat yang lainnya sibuk dengan kartu mereka. " Kita beri tantangan bagi yang kalah dan yang menang akan memberi tantangannya, bagaimana kalian setuju??"
" Menarik. Baiklah aku setuju." Respon Okan.
" Aku juga setuju." Respon Tiras.
" Tapi tida boleh curang!! Yang kalah harus melaksanakan tantangannya!! Tidak boleh banyak protes!! apalagi kabur!!"
" Oke, Kita mulai saja permainannya!! Aku tidak sabar memberi kalian tantangan." Tiras sudah mengambil 2 kartunya. Ia yakin akan menang.
Permainan yang merka mainkan sangat sederhana yaitu mereka hanya perlu mendapat angka besar dari dua kartu yang angkanya sudah dijumlahkan. Kisaran angkanya adalah 1-10.
Angka yang terbesar adalah 9 sedangkan angka di atas 9 di atur sebagai berikut.
10 \= 0
11 \= 1
12 \= 2
13 \= 3 dan seterusnya angka di atas sembilan akan kembali ke bawah.
Okan mengangkat kartunya perlahan. kartu pertamanya adalah angka 6 berarti dia butuh angka 3 untuk mencapai angka sempurna. Ia pun mulai meminta berkat dari dewi fortuna, dewi kemenangan. Okan mulai mempirit kartu berikutnya dengan sangat hati-hati berharap itu angka 3 atau 13 dan bukan angka 4, dan 14.
PRAKkkk,,,, Tiras memukul meja setelah melihat angka di kartunya.
" Ahhh sial,,,," Umpatnya terlihat kecewa dan frustasi. Ia mengacak rambutnya hingga menyerupai sarang burung terkana angin topan beliung.
" Hahahaha,,,, sepertinya dia akan menjadi korban pertama." Okan menertawai Tiras, Murat pun ikut tertawa.
Wajah Okan terlihat tenang setelah mengetahui hasil kartunya. Sepertinya ia memegang angka cantik.
" Baiklah, mulai perlihatkan kartu kalian masing-masing!!" Intruksi Tiras, wajahnya sudah pasrah.
Dimulai dari Okan, ia memperlihatkan kartunya di atas meja dengan bangga karena yakin ia menang.
Kartu Okan>> 6 + 12\= 18 \= 8 ( bisa dibilang angka dengan posisi aman.)
" Jangan berbangga diri dulu sobat!!" Murat membanting kartunya.
PRAKkkkkk,,,,,,
__ADS_1
Kartu Murat>> 15 + 4 \= 19 \= 9 ( Angka dewa kemanangan.)
" Aishhh,,,,, sial." Okan mengumpat karena posisinya di geser.
" Tiras kartunya pasti kecil, ayo perlihatkan!!" Sambung Okan yakin.
" Habislah riwayat mu Okan." Tiba-tiba wajah putus asa Tiras berubah menjadi senyum licik yang membentang lebar di wajahnya. Ia memperlihatkan kartunya.
Kartu Tiras>> 1 + 8 \= 9 ( Angka killer.)
Deg,,,,!!!
Mata Okan membulat tidak percaya ternyata Tiras tadi sedang berakting.
" Hahahah,,,, Lihat, wajahnya pucat, hahahha,,,," Murat tertawa terpingkal-pingkal menunjuk wajah Okan.
" Aishhh,,,, penipu. Cepat, cepat, katakan apa tantangannya!!" Ucap Okan terlihat kesal.
" Kapan aku menipu mu??" Tanya Tiras lalu mendapat lemparan bantal sofa.
Tiras memenangkan permainan meski Murat juga memperoleh angka 9 karena angka di kedua kartu Tiras di bawah angka 10 sedangkan murat satu kartunya memiliki angka 15, di atas angka 10. Jadi posisi Tiras lebih unggul. Itu adalah aturannya.
" Dengarkan baik-baik!! Pergilah ke luar lalu berteriaklah sekencang-kencangnya katakan dirimu adalah orang gila kepada semua orang!! Kau mengerti?!"
" Itu mudah. Aku akan melakukannya." Okan tidak masalah dengan tantangannya mungkin karena ia mabuk jadi tidak bisa membedakan mana tindakan memalukan dan mana yang tidak.
Ketua devisi kasus kriminal itu bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah pintu dengan tubuh yang sempoyongan lalu keluar.
" Ayo kita ikuti dia!! Siapa tau dia punya niat untuk kabur." Saran Murat di angguki Tiras.
Murat dan Tiras ikut bangkit dari duduknya. Langkah kaki mereka berdua tidak kalah sempoyongan dari Okan. Terutama Tiras.
Mereka berdua memang lebih parah dari Okan. Setidaknya Okan masih bisa membedakan mana tembok mana pintu.
" Heiii kurang ajar,,, Siapa yang menaruh tembok disini hah? Dimana pintunya? kenapa tidak ada? pintu pintu? Mana pintu?" Tiras berteriak dan mengomel seperti orang bodoh.
" Itu!! Pintunya disana. Ayo berdiri!!" Murat menunjuk ke arah pintu lalu membantu Tiras berdiri.
" Kenapa pintunya pindah kesana? Pasti si brengsek Okan yang memindahkannya." Gerutunya kesal sampai berbicara kasar.
Untuk menuju tempat umum bar ini dimana ada banyak orang disana, Okan harus melewati lorong dan melewati ruang VIV lainnya.
Musik keras mulai terdengar, suara orang-orang yang sedang berpesta pora juga terdengar jelas.
Sampainya pria itu di tempat tujuan ia melihat ada banyak orang. Ada yang hanya duduk sendiri menikmati minumannya, ada yang duduk ditemani wanita penghuni tempat ini, ada yang bermesraan, dan masih banyak lagi.
Okan mengira ini sudah malam karena ruangannya gelap hanya diterangi dengan lampu hias warna warni. Cahaya yang berkelap kelip dilihatnya sebagai bintang dan lampu besar yang beputar-putar di atas dilihatnya sebagai bulan. Penglihatan Okan sudah mulai tidak berfungsi dengan baik.
" HAYYY,,,,, APA KABAR SEMUANYA???" Okan memulai aksinya. Ia berteriak kencang. Sontak mata semua orang mencari-cari sumber suara di situasi minim penerangan ini.
" AKU DISINI!! LIHAT, AKU DISINI." Melambai-lambaikan tangannya kepada semua orang.
Rupanya masih ada yang tidak bisa menemukan keberadaan pria tidak waras itu. Okan pun menunjukan dirinya, ia meluncur memasuki kerumbunan orang di depannya. Kakinya meluncur mulus seperti bermain sky es.
" Yuhuuu,,,, Yeyyy,,,, Yuhu,,,," Pria itu meluncur kanan meluncur kiri membuat para wanita berteriak takut akan di serunduk. Orang-orang mulai risih dengan aksi Okan. Mereka menatap Okan dengan berbagai ekspresi.
" Kasihan sekali. Tampan tapi gila." Ucap salah seorang pada temannya.
" Sepertinya dia mabuk bukan gila." Komentar lainnya.
" Hihihi,,,, Kau lihat Tiras, Okan benar-benar melakukannya." Di sudut ruangan Murat dan Tiras sedang mengamati Okan.
__ADS_1
Okan naik ke atas meja bartender bermaksud agar semua orang melihatnya.
" AKU INGIN MEMBUAT SEBUAH PENGAKUAN. DENGARKAN!! AKU ADALAH ORANG GILA, ORANG GILA YANG TAMPAN. AKU ORANG GILA YANG DI GILA-GILAI BANYAK WANITA. HAHAHHA,,,, AKU SANGAT SENANG HARI INI,,,Yuhu,,,, syalalalalal,,, nananannana,,,, tat,,tara,,tara,,tara,,," Usai mengumumkan dirinya adalah orang gila, Okan menari balet di atas meja bartender.
Ia mendadak menjadi seorang balerina gagal audisi.
Tempyank,,,,Tempyank,,,,Tempaynkk,,,,
Botol-botol minuman mulai berjatuhan dari atas meja karena ulah Okan yang terus menari-nari tak jelas
" Ohhh,,,, jadi jika ada seorang pria yang digila-gilai banyak wanita itu namanya orang gila. Beruntung kita tidak di gila-gilai wanita." Ucap Murat mengartikan salah satu kalimat Okan menurut versinya sendiri.
Karena orang-orang mulai terganggu akhirnya satu petugas keamanan masuk kemudian memaksa Okan turun. Okan enggan untuk turun.
" Tolong jangan mengacau di tempat ini. Ayo keluar sari sini!!" Petugas keamanan itu ingin membawa Okan keluar setelah berhasil menurunkannya dari atas meja.
Tiba-tiba seorang wanita seksi dan cantik menghampirinya.
" Maafkan dia pak!! Dia adalah tamu ku. Serahkan pada ku!! Aku akan mengatasinya." Ucap wanita yang entah siapa mengaku-ngaku Okan adalah tamunya.
Petugas keamanan itu pun menyerahkan Okan kemudian Okan dibawa pergi.
" Siapa dia? Kenapa membawa Okan?" Tanya Tiras tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu.
" Entah. Biarkan saja mereka berdua pergi. Ayo kita lanjutkan saja permainannya!!" Muart mengabaikan Okan kemudian pergi. Tiras pun juga ikut mengabaikannya.
Okan dibawa ke kamar mandi oleh wanita itu.
" Jangan mencoba menggoda ku!! Aku bukan pria murahan." Okan mengira wanita di depannya akan menggodanya.
" Cihhhh,,,," Wanita itu berdecih menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.
Okan ingin pergi namun ia di tahan.
" Biarkan aku pergi!! Ahhh,,,,, ini sudah waktunya menjemput kekasih ku. Minggir!! Aku harus menemui calon mertuaku." Ia mencoba lagi untuk pergi namun hanya dengan sekali dorongan kecil di bahu membuatnya kembali lagi ke posisi semula.
" Kau memang tampan bahkan sangat tampan, tapi aku tidak butuh ketampanan mu. Aku hanya butuh ini." Wanita itu menunjukan dompet dan ponsel Okan yang baru ia ambil dari saku celana pria bodoh itu.
" Seharusnya kau bilang dari tadi kalau hanya butuh itu!! Sekarang kau sudah mendapatkannya, pergilah!! Aku juga harus pergi." Okan sudah benar-benar kehilangan akal. Ia dengan iklas memberikan dompet dan ponselnya meski dalam kondisi tidak sadar.
Ia pun pergi melewati wanita itu begitu saja.
Okan kembali ke ruang VIVnya untuk mengajak rekannya pulang. Meski tadi ia sempat salah masuk ruangan beberapa kali dan hampir dihajar karena telah mengganggu mereka yang sedang bercinta di ruangannya.
Na'as nasib buruk menghampiri ketiga pria mabuk yang ingin pulang itu. Mereka mendapat masalah karena tidak bisa membayar wine dan kerugian yang dilakukan Okan. Murat dan Tiras lupa membawa dompet mereka sedangkan Okan baru saja di rampok. Alhasil mereka di tendang tanpa hormat dari bar ini.
Setelah di tendang bukannya pulang mereka bertiga malah duduk bersila di depan bar sambil menghitungi orang-orang yang keluar masuk bar itu. Mereka yang lalu lalang disekitaran sana memandang ketiga pria tampan itu dengan perasaan iba. Ketiga polisi itu mendapat sorotan publik. Ada yang menganggap mereka bertiga adalah orang gila, ada juga yang menganggapnya sebagai pengemis. Tak jarang orang-orang melempar koin ke arah mereka menganggap mereka benar-benar seperti pengemis. Entah apa respon rekan kepolisiannya jika sampai tau mereka bertiga telah mempermalukan diri sendiri sekaligus nama kepolisian.
*
*
*
Ada jempol nakal yang males ngasih like, hayo ngaku siapa?!🙋
Like ya,,,!! Kan geratis😉
Komen juga ya!!
Selamat membaca📖
__ADS_1