
Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Satu persatu pegawai mulai meninggalkan kantor. Okan memperhatikan dengan teliti mencoba menemukan Emine di antara orang-orang yang keluar dari gedung itu namun kekasihnya tidak terlihat. Ia pun memutuskan masuk ke dalam gedung.
Setelah bertanya-tanya pada staf di bawah akhirnya Okan sampai di ruangan Manager Utama.
" Emine ada di dalam?" Tanya Okan pada wanita yang sedang fokus dengan laptopnya.
" Ohh,,, Tuan Okan. Ya, Nona ada di dalam." Respon Fika sedikit terkejut karena ini baru pertama kalinya Okan datang kemari.
" Trimakasih. Aku akan menemuinya."
" Silakan Tuan!!"
Okan pun masuk ke dalam menemui pujaan hatinya.
Emine mendengar suara pintu terbuka tanpa di ketuk terlebih dahulu atau ucapan permisi atau mohon ijin untuk masuk dan yang lainnya.
" Meski ini sudah jam pulang tapi aku harap etika anda harus tetap di pergunakan!! Masuk ke ruang atasan tanpa ijin atau permisi, apa anda tidak punya tangan untuk sekedar mengetuk pintu?" Ucap Emine pedas dengan mata sibuk pada layar laptop.
Okan kagum dengan sikap dingin mematikan kekasihnya.
" Wahhh,,,, Apa ini bawa'an bayi? Ucapannya sangat tajam dan menusuk." Gumamnya dalam hati.
" Ehemmmm,,,, Akan lebih baik Nona melihat dulu siapa yang datang sebelum mengatakan sesuatu!!"
Deg,,,,,!!!
Emine menghentikan jari-jari tangannya yang sedang mengetik, matanya diangkat lalu di lempar ke depan.
" Okan? Bagaimana kau bisa datang kesini?" Tanyanya terkejut pada pria yang sekarang berjalan ke arahnya.
" Itu tidak penting. Kenapa kau masih tetap disini. Aku menunggu mu di luar sangat lama." Protesnya dengan manja melingkarkan tangan di pundak Emine dari belakang.
" Siapa suruh tidak menelfon?" Balas Emine menyalahkan Okan.
" Ponsel ku ketinggalan di rumah. Lagi pula ini sudah jam pulang tapi kau masih sibuk disini." Protesnya lagi.
" Sedikit lagi. Aku harus menyelesaikannya."
" Ayolahh sayang,,,, Aku merindukan mu." Ucapnya semakin manja.
" Ini tinggal beberapa halaman. Tunggu sebentar!! Aku akan menyelesaikan ini dulu."
" Ayolah,,,ayolah,,,ayolah,,, Hentikan pekerjaan mu!!" Okan menggoyang-goyangkan kursi putar Emine.
" Aiihhhhh,,, kau sangat mengganggu. Menjauh dari ku!!" Perintah Emine kesal karena Okan merengek seperti anak kecil.
" Kau mengusir ku?? Aisssshhh,,,,, Dasar wanita gila kerja." Dengusnya tak kalah kesal.
Okan memilih duduk di sofa menunggu Emine. Ia terlihat begitu marah, wajahnya ditekuk sambil membolak-balikan majalah namun tidak sepatah kata pun ia baca, Hanya di bolak balik untuk melampiasakan kekesalannya karena Emine lebih mementingkan pekerjaan.
" Emine, kau benar-benar mengabaikan ku? Astaga,,,, Aku merasa tidak ada artinya dibandingkan pekerjaan mu itu." Okan semakin kesal karena Emine mendiamkannya tidak mencoba membujuk atau meminta maaf malah semakin sibuk dengan laptop.
Emine menghela nafas. Entah sejak kapan polisi dingin ini berubah menjadi kekanak-kanakan.
" 5 menit lagi." Sahut Emine.
" Terserah kau saja!! Lama-lama aku bisa gila menunggu mu. Setelah ini kita akan pulang ke rumah ku!! Jangan menolak!!"
Refleks Emine mengarahkan matanya pada Okan.
" Aku bukan gelandangan. Aku punya rumah sayang. Aku harus pulang kerumah ku." Jelas Emine tidak setuju dengan tuntutan pria itu.
" Aku tidak mau tau." Ucap Okan acuh kemudian berbaring di sofa memejamkan matanya sejenak.
" Ta, tapi~~Aishhhh,,,,, malah tidur." Gerutunya hampir melempar gelas ke arah pria itu.
5 menit Emine berubah menjadi 20 menit yang melelahkan. Ia tidak sadar waktu berlalu begitu cepat. Okan pun ikut tidak sadar tenggelam dalam tidurnya.
Okan tidur mendengkur keras, mulutnya terbuka seperti gua. Emine tertawa dibuatnya. Seakan sadar sedang ada yang menertawainya, Okan segera menutup mulut.
__ADS_1
" Tok,,,Tok,,Tok,," Fika mengetuk pintu.
" Masuk!!" Ijin Emine.
" Nona, Apakah saya sudah bisa pulang? Ini sudah lewat jam kerja." Ucap Fika ragu-ragu.
" Oh iya, Pulanglah!! Aku juga sudah selesai." Emine mengakhiri pekerjaannya dengan menutu laptop.
" Trimakasih Nona." Fika berbalik namun ia melihat pria sedang tidur pulas di sofa.
" Wahhhh,,,, Sosweet sekali. Dia sampai tertidur menunggu Nona. Benar-benar romantis. Tuan ini terlihat sangat tampan. Siapa pun akan terlena oleh pesonanya. Nona benar-benar beruntung. Aku jadi iri." Fika tidak sadar berbicara seperti itu. Ia berkata dengan ekspresi wajah yang sedang mengagumi pria itu. Matanya berkedip-kedip centil hingga membuat Emine gemas ingin mencongkelnya.
" Ehemmm,,,, Sepertinya kau bosan bekerja disini." Sahut Emine memamerkan senyum ramahnya yang dibuat-buat perlahan berjalan mendekat ke arah serkertarisnya dengan tatapan mata mengkilap memberi kesan ingin membunuh.
" Hehehe,,, Maaf Nona. Aku ingin mengabdi pada Nona lebih lama lagi. Jadi lupakan apa yang aku katakan tadi!! Sungguh aku tidak sadar. Kalau begitu saya pulang sekarang." Fika segera kabur mengamankan diri sebelum Emine menyergapnya.
" Aissshh,,,," Dengusnya kesal karena gadis itu berhasil lolos. " Ini akibatnya memiliki kekasih tampan." Ucapnya menatap wajah Okan lekat sambil senyum-senyum tak jelas.
Emine membangungkan Okan dengan cara yang manis. Ia mengecup bibir Okan lembut namum sekali kecupan tidak mempan. Emine mengecup Okan berualang kali hingga polisi itu mengerjap membuka matanya.
" Aku bermimpi ada yang mencium ku." Ucap Okan dengan matanya masih kaku untuk dibuka.
" Apa? Pasti kau memimpikan wanita lain. Aihhhh,,,, Dasar pria cabul." Emine pura-pura kesal padahal dirinya yang cabul.
" Itu hanya mimpi sayang. Kenapa kau marah padaku?" Ucap Okan segera menyusul Emine yang telah pergi meninggalkannya begitu saja.
# Rumah Okan.
Emine mengelabuhi kakek tua dengan mangatakan dirinya akan menginap lagi di rumah Fika. Alhasil ia sekarang berada di rumah kekasihnya.
"Aku sudah 2 kali membohongi kakek dan itu hanya demi dirimu. Pria yang bermimpi di cium oleh wanita lain." Sindir Emine dengan wajah cemberut.
" Ohooo,,,,, Apa kau sedang marah pada pria tampan ini?" Tanyanya menggoda.
" No. That is very nothing." Ucap Emine penuh penekanan di setiap katanya. Wanita ini sedang melakukan sandiwara.
" Oke,,, kalau begitu setiap hari aku akan memimpikan dicium oleh seorang wanita. Aku akan tidur dalam waktu yang lama. Wahhh,,,, pasti sangat indah,,,," Ucap Okan sambil membayangkan mimpi itu.
" Itu bukan mimpi. Itu nyata. Aku yang mencium mu." Celetuknya spontan semakin menekuk wajahnya.
Okan tersenyum menertawai Emine yang sedang diburu cemburu.
" Akhirnya kau mau mengakui perbuatan tidak bertanggung jawab mu itu."
" Kau,,kau sudah tau itu aku? Kau membohongi ku? Okannnnnn,,,, kau sungguh menyebalkan." Emine kesal membuang pandangannya ke samping. Niat menipu
malah dirinya juga ikut tertipu.
" Cup,,," Okan mengecup bibir yang terlihat begitu imut saat Emine sedang cemberut.
" Apa yang kau lakuakn? Tidak lihat aku sedang marah?"
" Kalau kau terus marah, maka aku akan menghabisi mu hari ini." Ucap Okan tersenyum penuh nafsu. Tanganya mulai merayap di pinggang Emine.
" Okann,,, Tidak boleh!! Aku sedang hamil. Jangan macam-macam!!" Emine menepis tangan itu.
" Tapi dokter online ku bilang boleh."
" Dokter online? Siapa?" Tanyanya memperlihatkan lipatan dahi.
" Ini." Okan memperlihatkan google di ponselnya dengan senyum kemenangan.
" Sayang,,, belum tentu sumber dari internet itu benar. Terkadang mereka juga bisa keliru." Emine mencoba mengelabuhi kekasihnya. Ia sungguh dalam mode off untuk berhubungan badan.
" Benarkah? Aku sudah mencari ke berbagai sumber dan hasilnya sama. Lihat ini!! Aku juga sudah mendownload cara berhubungan **** yang benar dengan wanita hamil." Okan menunjukan lagi video yang ia peroleh dari youtube.
Emine terheran-heran dengan niat antusias suaminya yang sampai mencari tutorial berhubungan dengan wanita hamil di youtube.
" Aihhhh,,,, polisi macam apa yang mendownload hal-hal seperti ini. Sungguh tidak pantas." Dengan cepat Emine menghapus video hot itu sebelum Okan terpengaruh.
__ADS_1
" Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak sanggup menahan ini sayang. Aku butuh dirimu. Ayolah,,, aku mohon." Mintanya memelas dengan wajah frustasi.
Emine kalah melihat wajah menyedihkan itu. Hatinya merasa iba melihat pria malang di depannya. Sungguh ia tidak tega.
" Huftt,,,, Baiklah." Jawabnya pasrah.
" Yes,,, Ayo kita habiskan waktu panjang penuh bergairah ini sayang,, " Okan bersalin rupa. Wajahnya berubah cerah. Ia langsung membopong tubuh istrinya ke kamar dengan semangat.
" Heii,,, Turunkan aku!! Okan,,, Hati-hati!! Perhatikan langkah mu bodoh,,, !! Jalannya pelan-pelan saja nanti kita terjatuh." Ucapnya cemas dan takut karena Okan menggendongnya terlalu over semangat.
Pria dan Wanita yang sampai sekarang belum menjadi suami istri itu kini kembali melakukan aksinya di atas tempat tidur.
Emine terlihat malu saat Okan melepaskan busana miliknya. Wajahnya memerah bahkan saking malunya, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya itu.
Okan menarik selimut itu lalu melemparnya jauh agar Emine tidak dapat melindungi diri lagi.
" Kau malu? Kau malu sayang? Jawab aku!! Lihat, pipi mu memerah. Kau sungguh malu? hahaha,,, Kau menggemaskan. " Ucapnya menggoda Emine perlahan merangkak ke atas tubuh Emine.
" Okan,,,Jangan menggoda ku!!" Mintanya malu-malu kucing. Okan tersenyum kemudian ia juga melepas semua pakainnya hingga tubuhnya yang kekar dari atas, tengah sampai bawah tereksplor sempurna.
Mata Emine membulat sempurna saat melihat ular piton milik kekasihnya, seketika ia merasa haus untuk alasan tertentu. Walau sudah pernah berhubungan badan tapi ini adalah kali pertama ia melihat ular dengan size XL itu. Pasalnya saat berhubungan pertama kali, Emine lebih banyak menutup matanya karena masih sangat malu.
" Sayang, aku ingin minum." Emine beranjak menurunkan kakinya dari ranjang bermaksud untuk menghindar. Tangannya dengan cepat mengambil piama tidur milik Okan yang tergeletak di sofa lalu memakainya kemudian lari terbirit-birit menuruni anak tangga menuju dapur.
Okan hanya bisa memandangi punggung Emine yang hilang di balik pintu dengan menelan ludahnya dalam-dalam karena harus menahan hasratnya lagi.
Nafas Emine keluar masuk tidak beraturan. Jantungnya pun ikut menyamai nafasnya. Ia benar-benar grogi, keringatnya mengucur sebelum melakukan olahraga ranjang.
Ia berfikir sejenak, tidak sepantasnya ia seperti ini mengingat ini bukanlah yang pertama. Tapi, ular piton menggelikan itu sukses membuat Emine takut dan gemetar hebat.
Emine meminum habis 1 botol air untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa tandus bagaikan gurun pasir.
" Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Emine,,, aktifkan akal mu!! Mulailah berfikir!! Pikirkan sebuah cara untuk lolos dari ular itu!! Tapi bagaimana caranya,,, Aishhhh,,, Otak ku buntu." Ucap Emine panik mondar mandir di dapur sambil terus berfikir keras.
Di dalam kamar, polisi malang itu tengah berjuang menenangkan ularnya yang terus membrontak ingin masuk ke gua sedangkan guanya malah kabur.
" Kenapa Emine lama sekali?" Tanya Okan dalam hati bingung dan mulai curiga. Ia pun memutuskan untuk turun ke bawah melihat Emine.
" Sayang,,, kenapa lama sekali? Apa yang kau lakukan disana?" Panggil Okan sedikit menaikan nada suaranya saat menuruni anak tangga.
Sampainya di bawah, Okan disuguhkan dengan pemandangan yang berhasil membuatnya stres berat.
" Astaga Emine, apa yang kau lakukan?" Okan terkejut rumahnya berubah menjadi kolam renang. Bahkan para atlit renang bisa melaksanakan lomba renang internasional disini. Bukan hanya itu, Bikinibootem juga bisa di imigrasikan ke rumah ini.
Terlihat Emine berusaha menutupi saluran air di wastafel dapur yang bocor karena ulah renacananya sendiri. Air menyembur begitu banyak, Emine sampai basah kuyup karena mendapat imbas dari percikan air itu. Rencananya hanya ingin membuat Okan disibukan dengan saluran air dapur yang sengaja Emine bocorkan dengan begitu olahraga ranjangnya pasti tertunda. Tapi siapa sangka rencananya malah menjadi bencana.
Panci mengapung, wajan mengapung, mangkok mengapung, sayur mayur mengapung, semua isi dapur mengapung, jiwa Okan pun ikut mengapung melihat rumahnya yang hancur. Air ini menggenang di lantai bawah sampai ke ruang tamunya.
" Minggirlah!! Cepat ganti pakaian mu!! Bair aku yang mengurus ini." Ucap Okan menggantikan posisi Emine.
Emine tertunduk. Ia benar-benar merasa bersalah. Ia tidak bermaksud membuat kekacauan fatal.
" Okan, Maafkan aku." Ucapnya terdengar sedih.
" Tidak apa-apa. Naiklah ke atas!! Kau bisa sakit jika berlama-lama di sini." Okan menghawatirkan Emine karena wajah wanita itu nampak pucat entah itu karena takut dimarahi atau karena memang air ini.
*
*
*
Para readera Author tersayang jangan lupa like, komen, votenya ya!!
Author minta maaf karena lama up🙏
Hari ini walaupun ep sebelumnya belum tembus 100, tapi author udh up karena kalian biar gak jenuh nunggunya😇
Makasi yg udh setia menunggu😘
__ADS_1
Selamat Membaca📖