Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Penolakan untuk kembali.


__ADS_3

Di salah satu cofe seorang perempuan duduk di meja dengan 2 kursi menunggu seseorang dengan perasaan yang getir.


Karena ini adalah hari penentuan sebuah hubungan yang telah lama terbengkalai.


Sesekali Serin bercermin pada layar ponsel memastikan riasannya tidak rusak.


Masih ingin tampil cantik di hadapan pria yang ia cintai.


Kemarin Okan mengiriminya pesan untuk bertemu di cofe ini. Katanya ada sesuatu yang penting harus dibicarakan.


Kalau bukan tentang hubungan mereka lalu apalagi??


Sedikit terlambat kurang lebih 10 menit dari waktu yang di tentukan Okan baru datang.


Menarik kursi untuk dirinya sendiri lalu duduk dengan tatapan yang canggung.


" Maaf telah membuat mu menunggu."


Permintaan maaf di awal pertemuan membuat rasa takut Serin seketika luruh.


Fikirnya Emine pasti belum memberitahu Okan tetang perbuatan jahatnya.


Kalau tidak, Okan pasti sudah memberinya tatapan penuh kemarahan dan kebencian.


" Tidak apa. Kau mau pesan sesuatu?"


" Aku pesan just jeruk saja."


" Kalau begitu aku juga pesan just jeruk juga."


Pelayan datang. 2 just jeruk. begitu ucapnya menunjukan angka dua dengan jarinya. Pelayan mencatat lalu pergi.


Okan ragu harus memulai dari mana. Serin nampak senang dengan pertemuan ini.


Tidak tega membuat wanita di depan akan kecewa dengan ucapannya nanti. Tapi, lepas dari hal itu Okan tidak ingin membuat sebuah harapan palsu.


" Aku tidak membohongi mu kan? Apa yang aku katakan kemarin adalah sebuah kebenaran. "


Kemarin saat Serin menjelaskan semuanya Okan tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Membuat hati wanita itu semakin terluka.


Untuk membuktikannya Serin memberi saran pada Okan agar menayakannya langsung pada Gaotam.


" Ya. Gaotam sudah mengatakannya pada ku."


Okan tahu Serin pasti kecewa karena ia meragukannya.


" Lalu apa yang akan kau lakukan? "


Okan sudah mengetahui pengorbanan besarnya. Serin mengira pasti hati pria itu terbuka lagi untuknya.


Dengan hati yang cemas ia menunggu jawaban.


" Terimakasih dan meminta maaf yang sebesar-besarnya."


Terlihat jelas hanya itu yang ingin dikatakan Okan.


Serin tersenyum miring. Bagaimana bisa hanya kata sederhana itu yang bisa ia dapatkan. Rasanya dunia tidak adil.


" Kau memintaku kesini hanya untuk mengatakan itu? "


" Aku tahu semua itu tidak cukup Serin. Tapi sungguh aku tidak bisa memberi mu yang lain. Sekali lagi maafkan aku!! Aku tidak ingin memberimu harapan."


Tidak sadar Serin menitikan air matanya lagi. Dalam kemarahan dan kekecewaan ia berusaha mengelurkan air mata sesedikit mungkin. Tidak ingin nantinya menjadi pusat perhatian dan rasa iba, cepat-cepat ia menghapus air matanya.


" Jika hanya ingin mengucapkan maaf dan terimakasih seharusnya kau mengirimi ku pesan saja!! Jangan meminta ku untuk bertemu.


Setidaknya hari ini kau tidak akan melihatku dalam kondisi menyedihkan seperti ini. "


" Serin ~~"


Serin memalingkan wajahnya. Tidak mau mendengarkan ucapan Okan. Karena ia sudah tahu pasti kata maaf yang tidak akan mengubah apa pun yang akan didengarnya lagi.


Tidak lama kemudian seorang pelayan datang membawa pesanan.


Memecah keheningan sesaat. Memberi ucapan selamat menikmati pada pelanggan.


Apanya yang harus dinikmati? Begitu respon Serin jengkel dalam diamnya.

__ADS_1


" Apa yang kau inginkan Serin?? Katakanlah!!"


Serin kembali menatap Okan. Sedikit berdecih karena tahu percuma mengatakan apa


yang ia inginkan jika akhirnya Okan tidak bisa mengabulkan.


" Kau tahu apa yang aku inginkan."


" Mintalah sesuatu yang lain dari yang saat ini kau fikirkan!! Aku tidak bisa memberikannya pada mu."


Posisi Emine. Serin pasti meminta posisi Emine. Okan sudah tahu itu.


" Kenapa tidak bisa?" Bertanya dengan nada menahan tangsi. " Jika aku bisa berkorban demi mu Okan lalu kenapa kau tidak bisa berkorban untuk ku? Pernahkah dalam hatimu bertanya, apa aku baik-baik saja selama ini saat kau meninggalkan ku?? saat aku ada di sisi mu tapi kau malah menggenggam tangan wanita lain? Tahukah kau aku hancur saat itu?" Dan sekarang sudah menangis.


" Aku tidak menggenggam tangan wanita lain. Aku menggenggam tangan wanita yang aku cintai. Mungkin aku sangat egois pada mu. Tapi, semuanya telah berubah Serin.


Emine adalah istri ku sekarang. Dia mengandung anak ku, aku mencintainya dan tidak bisa melepaskannya. "


" Tapi kau bisa melepas tangan ku begitu mudah saat itu."


Menyindir saat Okan meninggalkannya.


" Karena saat itu aku marah. Aku tidak bisa berfikir dengan jernih. Aku terluka. Dan sekarang aku akui aku yang salah.


Kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan pada ku. Pukul aku!! tampar aku!! caci maki aku jika semua itu bisa


membuat mu tenang."


" Tidak. Semua itu tidak akan membuat ku tenang. Aku tanya sekali lagi, bisakah kau berkorban untuk ku? tinggalkan Emine!! Kembalilah pada ku!! Aku mohon."


Meminta dengan harapan yang begitu besar.


Harapan yang hanya akan membuat dirinya sendiri jatuh kembali.


" Maaf Serin. Aku tidak bisa. Aku harus pergi sekarang. Terimakasih atas segalanya. Jaga dirimu baik- baik!!"


Okan pergi meninggalkan Serin yang sudah berderai air. Percuma menjelaskan sesuatu yang tidak mau dimengerti dan diterima Serin.


_- Maafkan aku Okan. Aku meminta secara lembut tapi kau tidak mengabulkannya. Terpaksa aku harus bermain kasar lagi.


Emine adalah kelemahan mu. Dia adalah penghalang di antara kita. Maka menyingkirkannya adalah satu-satunya cara yang tersisa. Kau sendiri yang memilih jalan ini. Jadi jangan salahkan aku!!! _-


Setelah punggung Okan hilang sepenuhnya Serin mengambil ponsel yang ia letakan di atas meja.


Mencari nomor yang sudah lama ia simpan lalu menghubunginya.


" Aku punya tugas untuk kalian. "


" *********** "


" ************ "


" Baik Nona. "


" Lakukan dengan rapi!! Jangan sampai ada yang tahu!! Dia bukan wanita sembarangan.


Suaminya adalah seorang polisi. Jika kalian tertangkap jangan pernah menyebut nama ku!! Kalian mengerti?! "


" Tenang Nona!! Kami bekerja secara profisional. Nama Nona akan aman."


" Bagus. Lakukan malam ini!! Aku tidak ingin mendengar kata gagal!!"


" Baik Nona."


Panggilan berakhir.


Kini air matanya telah kering. Digantikan dengan senyum licik.


*


Fika duduk di depan Emine. Menunggu atasannya itu selesai menandatangani setumpuk berkas.


Kiranya hari ini Emine akan dalam suasana hati yang buruk. Ekspetasi Fika Emine pasti bertengkar hebat dengan Okan kemarin malam. Tapi sepertinya tidak.


" Nona, apa kau memberi tahu Tuan Okan tentang perbuatan Serin??"


Fika penasaran.

__ADS_1


" Tidak."


" Kenapa??" Menjawab dengan nada tinggi hingga membuat Emine terkjut.


" Fika pelankan suara mu!! Kau fikir ini club yang saat berbicara harus berteriak agar di dengar."


Emine kesal. Lanjut menandatangani berkas yang lain.


" Aihh,,,, Nona seharusnya kau katakan pada Tuan Okan tentang perbuatan busuk Serin!! "


Ekspresi sungguh menyayangkan.


" Serin sudah sangat menderita dengan semua ini. Dia sudah begitu terluka. Aku tidak ingin menjadi orang kejam yang membuatnya di benci oleh Okan. "


" Nona kau terlalu baik. Dia itu sudah melukai mu. Pantas Tuan Okan membencinya. Aku tidak mengerti dengan jalan fikir mu."


Emine hanya tersenyum mendengar ocehan serkertarisnya yang semakin hari semakin berani berbicara sesukanya sendiri.


Sudah seperti teman. Bukan seperti atasan dan serkertaris. Emine menyukainya.


" Kau akan mengerti nanti jika berada di posisi ku. Serin pernah menjadi sahabat ku. Dulu dia adalah wanita yang sangat baik, manis juga. Aku nyaman saat bersamanya. "


" Tapi itu dulu. Sekarang dia adalah wanita jahat."


Ketusnya.


" Situasi yang membuatnya berubah. Cintanya pada Okan sangat besar. Melihat pria yang dicintainya bersama sahabatnya sendiri, tentu dia marah, kecewa dan hancur. Hingga akhirnya dia buta.


Meski aku tidak tahu apa-apa tapi secara tidak sadar aku juga telah menyumbangkan luka. Setidaknya tidak memberitahu Okan tentang perbuatanntnya adalah cara ku meminta maaf. Lagi pula aku dengan Serin sudah tidak punya hubungan lagi. Aku sudah memutus tali persahabatan kami.


Kau jangan khawatir!! Aku akan lebih berhati-hati mulai hari ini."


" Hmmmm,,, Iya aku mengerti. Intinya Nona masih memikirkan wanita itu meski dia sudah berusaha melukai Nona. Dibandingkan dengannya Nona jauh lebih baik darinya. Pantas saja Tuan Okan menjatuhkan hatinya pada Nona. Karena Nona wanita yang sangat baik."


" Hei,,, dalam rangka apa kau memujiku seperti itu?? Sekeras apa pun kau berusaha menyanjungku aku tidak akan menaikan gaji mu."


" Hmmmm."


Membicarakan soal gaji. Fika baru sadar gajinya belum naik selama 1 tahun ini.


" Hmmmm?? Hahaha,,,, Jangan khawatir!! Perusahaan tidak akan memberi sistem monoton pada gaji pegawainya. "


Melihat sepertinya Fika kecewa saat dirinya mengatakan tidak akan menaikan gaji.


" Benarkah Nona?? Kau tidak berbohongkan??"


Tiba-tiba semangat. Sebenarnya gaji sebelumnya sudah sangat besar. Tapi dasarlah manusia jika soal uang tidak pernah puas.


" Aku bohong. Hahahha...."


" Nona,,,,!!!!"


Fika baru saja keluar membawa berkas yang sudah selesai ditandatangani. Dengan wajah kesalnya ia meninggalkan ruangan.


Emine puas bisa menggoda serkertarisnya itu. Bahkan sampai sekarang ia masih menertawai Fika.


Hingga sebuah getaran pesan masuk mengalihkan perhatiannya.


" Emine, bisakah kita bertemu malam ini??"


Begitu pesan yang ia baca dari seseorang yang baru saja menjadi topik pembicaraan.


" Ada apa lagi?? Kita sudah tidak seakrab itu lagi untuk saling bertemu."


" Jangan seperti itu!! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan pada mu."


" Bicarakan saja disini!! Aku tidak punya banyak waktu."


" Kau sombong sekali." Terang-terangan menghina. " Aku tahu kau adalah istri yang sibuk, Hahahaha. Hanya 5 menit. Tidak akan lama. "


" Benar sekali. Aku istri yang sibuk melayani suaminya. Baiklah, karena hanya 5 menit aku mau bertemu dengan mu. Jika lebih aku akan pergi. Sekali lagi aku adalah seorang istri yang sibuk melayani suaminya."


Sedikit memanas-manasi di tengah cuaca yang dingin sepertinya tidak terlalu buruk.


" Ah iya kau tidak perlu susah payah mengulanginya. Pukul 8 malam di tempat XXX. Jangan sampai terlambat!! Oke?!"


" Baiklah."

__ADS_1


Alamat yang dikirimkan Serin, Emine tahu tempat itu. Bukan restoran, cofe, club, kedai, taman atau tempat yang ramai dengan orang-orang.


Sebuah tempat sepi yang dulu pernah ia lewati saat menjalani misi.


__ADS_2