Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Hilangnya Sang Penyelamat Malam.


__ADS_3

" aghhhhhh,,,, sial." Umpat Emine menahan rasa sakit yang terus menyengat. Emine berhasil kabur membawa Mehmet pergi tapi anak bauh Kemal mengejarnya.


Aksi kejar-kejaran pun terjadi begitu sengit di jalan raya. Emine dan anak buah Kemal berlomba-lomba membunyikan klakson mobil meminta pengendara lain memberikan ruang untuk mobil mereka. Meski menyetir dengan satu tangan, Emine mampu memimpin pertandingan jauh di depan. Sedangkan anak buah Kemal masih kesulitan mencari celah untuk menyusul Emine.


Suara tangis Mehmet semakin kencang, mungkin karena Mehmet tidak nyaman dengan laju mobil Emine yang terombang ambing ke kiri dan kekanan mencoba menyalip pengendara di depan. " Bertahanlah sayang!! Sebentar lagi semua ini akan berakhir." Mencoba menenangkan Mehmet dengan ucapannya meski Mehmet tidak mengerti sama sekali.


Sekarang Emine menuju ke alamat yang sudah di tentukan. Emine mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata membuat pengendara lain was-was melihat mobil Emine melaju ugal-ugal'an.


Luka Emine semakin banyak mengeluarkan darah, Emine hampir kehilangan kesadarannya namun beruntung suara tangisan Mehmet membuatnya bangkit lagi.


" Aku harus bertahan." Gumamnya menguatkan diri dengan luka yang terus semakin parah.


Di liriknya mobil anak buah Kemal lewat spion mobil ternyata tidak ada membuat hati Emine sedikit lega. Dari kejauhan Emine bisa melihat lampu hijau berubah kuning pertanda lampu merah akan segera muncul. Emine semakin melajukan mobilnya kencang agar tidak terjebak di lampu merah. 1 detik setelah Emine berhasil lolos, lampu tiba-tiba berubah merah membuat anak buah Kemal semakin kesal karena terjebak.


" Ahhhhh,,,,,," Emine mendesah lega karena sudah berada jauh dari anak buah Kemal.


Pukul 9.40 malam Emine sudah memasuki kawasan tujuannya. Emine terus mengikuti arah google maps yang menuntunnya ke tempat Velief. Emine sedikit ragu dengan alamat ini karena jalan yang di tempuh Emine bukan jalan aspal tapi jalan bebatuan yang semakin mengguncang tubuh Emine membuat luka di lengan dan kaki semakin terasa sakit. Terlihat juga padang-padang dan semak-semak belukar memenuhi tepian jalan ini. " sebenarnya tempat apa ini?" Tanyanya Menatap jalan di depan yang terlihat menyeramkan di malam hari. Emine terus melaju perlahan hingga sampailah Emine di sebuah tempat dengan lapangan yang begitu luas. Hanya ada beberapa lampu penerangan yang ada di sisi lapangan. Emine masuk bersama mobilnya ke dalam lapangan, dari kejauhan terlihat pesawat dengan beberapa orang pria berbadan kekar di bawahnya. Emine berhenti, ia ragu untuk mendekat.


Mata Emine melihat lekat ke arah beberapa pria bersetelan jas rapi yang nampak sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian seorang wanita turun dari dalam pesawat dan berbincang dengan pria-pria di bawah. Dengan menahan rasa sakit, Emine mencoba meraih ponselnya lalu membuka galery mencari sebuah foto. Emine menyandingkan foto Velief dengan wanita di depan sana dan hasilnya wanita di depan itu adalah Velief.


Emine menginjak lagi pedal gasnya menuju ke arah Velief. Velief yang sedang berbincang dengan bodyguardnya dengan penuh kecemasan kini menoleh ke arah laju mobil yang menyorot tubuhnya membuat Velief refleks sedikit melindungi matanya yang silau. Bodyguard Velief mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan ke arah mobil yang tepat berhenti di depan mereka. Emine sedikit kesal tapi itu wajar karena mungkin bodyguard Velief mengira bahwa mobil di depan adalah musuhnya.


Velief menatap mobil hitam dengan rasa penuh harapan dan kekawatiran. Velief berharap mobil di depan adalah mobil pencuri yang ia sewa untuk mengambil Mehmet namun di sisi lain Velief kawatir dan takut jika mobil itu ternyata adalah mobil anak buah Kemal.


Emine melepas sabuk pengaman yang mengunci tubuh munggil Mehmet dan segera membawanya keluar. Emine mengumpulkan sisa tenaganya untuk menyeret kaki dan tubuhnya menuju Velief.


Mata Velief berbinar, air mata kebahagiannya meluncur sukses di pipi ketika seseorang berjalan ke arahnya dengan menggendong bayi. Melihat kondisi Emine yang berjalan pincang ke arahnya, Velief segera berlari menjemput Emine dan mengambil alih tubuh putranya. Velief terkejut melihat tubuh Emine berlumuran darah.

__ADS_1


" Nona. Kau terluka parah." Ucap Velief penuh kecemasan.


" Aku baik-baik saja." Tersenyum meyakinkan meski sebenarnya Emine sedang menahan rasa sakit yang terus meraja lela. " Jaga bayi nakal ini dengan baik!!" Velief sedikit bingung dengan ucapan Emine yang sambil tersenyum kesal. " Dia terus menangis saat bersama ku, tapi dia terlihat begitu tenang saat bersama ibunya. Dia benar-benar nakal." Emine mengeluh, Ia menatap gemas ke arah Mehmet yang begitu tenang diselipi geliat-geliatan kecil. Velief terharu mendengar Emine, Velief tak bisa membayangi apa yang sudah di lewati wanita ini. Luka dan darah Emine seolah-olah bercerita sendiri tentang perjuangannya malam ini. Tak ada lagi yang bisa di ucapkan Velief kecuali rasa terimakasih yang sebesar-besarnya.


" Aku harus pergi sekarang." Emine melangkah pergi dengan senyumnya yang menjadi penutup sedangkan Velief masih mematung menatap Emine yang semakin menjauh dari tubuh dan pandangannya..


" Misi Selesai." Ucap Emine kepada kakek tua.


" Ahhhhhhhh,,,,,," Kakek tua mendesah lega mendengar laporan bahwa misi hari ini sudah berakhir meski tidak berjalan dengan sempurna. Ia menyandarkan punggungnya, melepas alat komunikasi dari telinga dan memejamkan matanya perlahan menenangkan hati dan pikiran yang sempat begitu kacau memikirkan cucu angkatnya yang sempat berada di ujung tombak kematian.


Baru sekitar 5 meter Emine melangkah pergi tapi ia berhenti ketika mata elangnya menangkap sesosok manusia yang bersembunyi di balik semak-semak dengan senapan yang dibidikan ke suatu arah. Refleks Emine menyalin arah bidikan itu dan ternyata Velief adalah sasarannya. Tanpa aba-aba, Emine berlari sekuat tenaga ke arah Velief lalu merangkul Velief membiarkan dirinya menjadi tameng pelindung dari peluru yang kini menembus bagian tubuh belakang.


Velief sangat terkejut melihat Emine yang berani mengorbankan nyawanya. Mata Emine mebelalak ke atas ketika peluru masuk ke tubuhnya. perlahan mata Emine meredup lalu tertutup mengiringi tubuhnya yang sudah tak berdaya. Velief masih merangkul Emine, ia mencoba menahan tubuh Emine yang hampir roboh tapi ia tak bisa karena sedang menggendong Mehmet. Emine perlahan ambruk ke bawah dengan darah yang meresbes keluar. Velief menatap tubuh Emine dengan rasa bersalah, air mata Velief menetes kembali. Velief adalah wanita perasa yang tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang jika hal buruk menimpa orang lain hanya karena dirinya.


Para bodyguard Velief sudah membentuk pormasi setengah lingkaran untuk melindungi Velief yang masih berada di tengah-tengah lapangan bersama Emine. Bangku tembak pun terjadi antara bodyguard Velief dan anak buah Kemal.


Menyadari Nyonyanya sudah aman, para bodyguard Velief mulai mundur perlahan. Sesuai rencana, para bodyguard yang terlibat malam ini harus ikut pergi bersama Velief. Mereka semua pun masuk kedalam pesawat pribadi milik Nyonyanya.


Pesawat itu berhasil lepas landas meninggalkan segrombol anak buah Kemal yang mungkin tidak akan selamat dari amukan Kemal karena gagal menjalankan perintah.


Kakek tua yang masih memejamkan matanya terkejut ketika alarm pemantau Energi Emine berbunyi. Kakek tua semakin terkejut melihat grafik persentase energi Emine menurun sampai berada di angka 10%. Kakek tua kembali memakai alat komunikasinya, ia mencoba berkomunikasi dengan Emine tapi tak ada jawaban. Kakek tua semakin panik ketika kehilangan posisi Emine, ia terus mengotak atik alat pelacak Emine lewat komputernya tapi tak berfungsi. Perlahan semuanya hilang, tidak ada satupun jejak Emine yang dapat dilacak. Segala cara sudah di tempuh kakek tua lewat kemampuan ITnya yang luar biasa tapi itu semua tidak membuahkan hasil.


Semua terjadi begitu saja dan dalam waktu yang sangat singkat. Jam terus berdetik membuat setiap menit bertambah, menit terus berjalan membuat jarum jam terus bergerak ke angka yang lebih besar. angka-angka di dalam jam perlahan mengubah hari yang kian terus berganti. malam berganti siang, sing berganti malam, cerah berganti gelap, gelap berganti cerah. Waktu terus berputar dan sudah 1 bulan berlalu sejak Emine menghilang.


Kakek tua memutuskan untuk mengunci selamanya ruang rahasia itu, ia berjanji tidak akan membukanya lagi kecuali Emine memrintahnya. Tapi Emine telah hilang disembunyikan alam. Memutuskan untuk berhenti dari dunia malamnya adalah salah satu caranya untuk mengespresikan penyesalan yang begitu mendalam.


Komputer utama di ruang rahasia itu di rancang untuk terus hidup. Lewat komputer itu juga semua Surel masuk dari para kliennya. Tapi kakek tua sudah menutup ruang rahasia itu dan mengabaikan semua yang ada di sana termasuk beberapa Surel yang terus masuk tapi tidak di ketahui oleh kakek tua.

__ADS_1


Kakek tua duduk termenung di sofa, tak jarang lamunannya memunculkan sekelebat bayangan Emine yang penuh canda tawa menghiasi ruang tamu. sikap Emine yang selalu membantahnya seiring waktu ia rindukan. Prilaku konyol Emine terus berputar di ingatan. Meja makan 4 kursi itu nampak sepi, biasanya celotehan Emine yang suka mengomentari makanan menghiasi meja makan. Tapi semua itu sudah hilang entah kemana tak tau perginya. Kakek tua merasa kehilangan untuk ke 3 kalinya. Kakek tua pernah kehilangan istrinya namun putrinya Zirah membuatnya bangkit kembali. Lalu Zirah juga meninggalkan kakek tua membuat kakek tua kehilangan arah untuk berjalan. Tapi Emine datang menjadi petunjuk arah bagi kakek tua untuk melangkah. Sekarang petunjuk arahnya sudah hilang membuat kakek tua berhenti melangkahkan kakinya. Kakek tua memilih tetap diam di dalam ruangan yang dipenuhi dengan rasa bersalah. Kakek tua tidak perduli lagi dengan hidupnya. Tak mau minum obat, terkadang perut lapar di abikan, tidak pernah tidur nyenyak karena terus memikirkan Emine, Terkadang hanya mandi 3 hari sekali, tidak mau lagi ke club malam untuk mencari wanita seksi, Kakek tua sekarang hanya bergulat dengan alkohol, win, soda dan minuman keras lainnya. Andai saja ia tidak melakukan kesalahan dengan melepas alat komunikasinya, mungkin saja Kakek tua tau apa yang terjadi saat itu.


Serin memcoba menghubungi Emine untuk diajak pergi jalan-jalan tapi tidak bisa. Nomor Emine tidak aktif, biasanya Emine akan menghubunginya setidaknya sepekan sekali untuk bertukar kabar. Serin sudah berusaha mencari alamat Emine tapi tidak ada petunjuk tentang keberadaan sahabatnya itu. Emine bagaikan hilang di telan bumi ataupun menghilang di negri antah brantah.


Di lain tempat, Okan berjalan mondar mandir di ruangannya tak lupa dengan kedua rekannya yang duduk mengamati sikap Okan yang tidak jelas.


" Sudahlah Okan!! Wanita itu sudah menipu mu. penipu tetaplah penipu. Dia tidak sebaik dan sepolos yang kau pikirkan." Entah dendam apa yang tertanam di hati Murat, ia selalu menjelek-jelekan Emine di depan Okan.


Tiras yang mendengar ucapan pria disampingnya, ingin rasanya menjotos mulut Murat yang tak pernah meninggalkan kesempatan untuk merusak nama Emine.


Okan masih tidak bisa mencerna dan mengerti apa tujuan Emine yang sebenarnya. Apa yang membuat Emine menghilang setelah berjanji akan membantu untuk menangkap pembunuhnya. Perlahan ucapan Murat mulai terserap di otak dan pikiran Okan bahwa Emine memang penipu. Tapi hati Okan menolak kesimpulan itu. Hati dan pirikan Okan berlawanan arah membuatnya semakin bingung harus percaya yang mana.


Beberapa hari yang lalu Okan sempat mengunjungi Serin menanyakan kabar Emine. Tapi ternyata Emine juga menghilang dari Serin. Hal itu menimbulkan teka taki yang sulit di pecahkan. Jika memang Emine menghindari untuk berurusan dengan polisi lalu kenapa dia juga menghilang dari Serin. Seharusnya Emine hanya perlu menghindari Okan tapi kenapa ia juga menghilang dari sahabatnya Serin.


Berbagai prasangka pun mulai bermunculan tapi yang paling mengena dari semua ini adalah duga'an bahwa Emine bekerja sama dengan pembunuh berantai. Meski hati Okan menolak keras duga'an itu, namun sebagai seorang polisi Okan harus memasang plat curiga pada Emine. Emine di anggap tidak bisa di ajak bekerja sama lagi karena sikapnya yang mencurigakan dengan kata lain jika suatu hari nanti Okan bertemu lagi dengan Emine, Okan tidak bisa lagi bersikap melunak, Okan harus bersikap tegas. Bahkan Emine bisa di masukan ke jeruji besi dan harus melewati tahap penyelidikan dan pengintrogasian terkait kasus pembunuhan berantai yang sebenarnya Emine tidak ikut ambil alih dalam kejahatan tersebut.


Mau tidak mau Okan harus melupakan kata hatinya dan mengikuti peraturan polisi.


Jauh dari negara Turki, tepatnya di negara Belgia, di sebuah rumah sakit terkenal. Seorang dokter telah memfonis salah satu pasiennya tidak bisa di tolong lagi. Meski jantungnya bedetak, hidungnya bernafas tapi pasien ini di anggap sudah mati. Hanya tinggal menunggu waktu ajal menjemput. Wanita berambut pirang mata biru nampak benar-benar sudah seperti mayat hidup dengan wajahnya yang pucat namun tetap terlihat cantik. 1 bulan sudah wanita ini tak bergerak, tak besuara, tidak membuka matanya dan tak bergeming sedikitpun. Velief tidak mau menyerah dan terus berusaha memberikan pengobatan yang terbaik untuk Emine. Dokter-dokter terkenal dan berpengalaman dari berbagai penjuru sudah dipanggil untuk menyembuhkan Emine, tapi Emine tidak kunjung sadarkan diri dari tidur panjangnya.


Velief sudah mengirimkan surel kepada kakek tua tentang kondisi Emine tapi surel itu tidak mendapat balasan. dan akhir-akhir ini Surelnya selalu gagal untuk dikirim. Velief tidak bisa lagi melakukan apa-apa kecuali berdoa dan terus berusaha memberikan pengobatan terbaik untuk wanita yang bahkan Velief tidak tau namanya.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya!!


__ADS_2