
Pagi itu Okan menerima banyak pukulan dari kakek tua. Ia tidak melawan dan membiarkan saja pria itu menghantam wajahnya setelah mengajukan pertanyaan. Berkali-kali Okan tersungkur di lantai, berkali-kali juga pria itu bangkit meski di sudut bibirnya sudah terluka dan mengeluarkan darah.
" Apa benar Emine mengandung anak mu?" Kakek tua bertanya untuk yang terakhir kalinya.
" Ya, benar. " Jawab Okan singkat. Pria itu sudah tak bisa berbicara banyak lagi akibat luka di sudut bibitrnya.
PUKK,,,,BRUKKKK,,,, Okan kembali tersungkur.
" Aishhhh,,, Sial. Wajah ku bisa hancur jika terus dipukuli seperti ini." Umpatnya kesal sembari mengelap darah di bibirnya menggunakan ibu jari.
Emine memandangi tubuh Okan yang tak berdaya itu dengan perasaan bersalah. Hatinya tidak tega melihat Okan yang terus di pukuli. Tapi, ia hanya bisa diam.
Okan sudah berdiri sebelum menerima intruksi. Ia bersiap untuk pukulan berikutnya. Kakek tua mendekati pria itu dengan perasaan yang tak karuan. Pria tua itu tidak menyukai Okan tapi Okan adalah ayah dari anak Emine, ia pun jadi bingung harus berbuat apa.
" Ini salah ku karena membiarkan Emine terlalu bebas di luar sana." Ucap Kakek tua frustasi sembari memijat pelipisnya yang mulai berdenyut memikirkan semua ini.
Yang terjadi sudah terjadi, Air dari pegunungan sudah berakhir di laut, daun yang kering sudah lepas dari rantingnya, Hujan yang turun sudah terlanjur membasahi bumi. Siapa yang bisa mengubah itu semua? Tidak ada!! Yang bisa dilakukan hanya menerima kenyataan. Itulah posisi kakek tua saat ini.
" Jangan pernah membuat Emine menangis!! Hatinya lebih lembut dari kulit bayi, sekali kau menggoresnya maka itu akan terasa amat sakit dan meninggalkan bekas. Jika sampai aku tau hati cucuku cacat, habislah dirimu!! Pria tua ini tidak sepolos yang kau fikirkan, aku lebih berbahaya dari harimau yang lepas dari sangkarnya."
Kakek tua mengancam, tatapannya tidak main-main. Okan pun mulai berkeringat dingin mengingat kemarin ia menyakiti Emine terlebih lagi itu bukan yang pertama kalinya. Belum lagi ia pernah mengangkat tangan pada Emine, tidak bisa di bayangkan bagaimana respon kakek tua jika mengetahui hal itu.
Hati Emine terhenyut mendengar ucapan kakek tua. Tidak perlu ada ikatan darah untuk menyalurkan kasih sayang di antara mereka.
" Untuk tanggal pernikahannya akan dirundingkan nanti bersama ibu Emine. Bagaimana pun Emine masih punya keluarga lain. Dia berhak tau dan ambil alih dalam kehidupan putrinya." Ucap kakek tua pada dua orang yang saat ini masih menyandang setatus lajang.
Seketika mata Emine berbinar mendengar ucapan kakek tua. Senyum bahagia pun menghiasi wajahnya yang sedari tadi di penuhi kekawatiran, ketegangan, dan rasa bersalah. Okan bersorak ria di dalam hati karena akhirnya hantaman di wajahnya tidak sia-sia.
" Kakek,,,, " Emine memanggil kakek tua dengan suaranya yang terdengar manja. Ia berlari gembira kemudian langsung memeluk kakek tua penuh suka cita kebahagian. Kakek tua membalas pelukan Emine, mengusap punggung rambut wanita itu dengan kasih sayang. Ia tidak menyangka Emine akan meninggalkannya secepat ini.
Kakek tua teringat hari ini ia ada rapat, segera ia melepas pelukan Emine. Dilihat wajah Emine yang cerah, kakek tua ikut tersenyum untuk kebahagian Emine. Sekeras apa pun kakek tua berusaha tapi tetap ia tidak bisa marah kepada cucu termanis dan tercantiknya itu.
" Berbahagialah agar kakek tidak menyesal melepas mu!! Kau harus selalu tersenyum seperti ini!! Kau mengerti?!" Tegas kakek tua.
" Aku akan selalu tersenyum jika itu bisa membuat kakek bahagia. Terimakasih kakek telah memberi restu pada kami." Ucapnya melirik Okan sekilas.
Kakek tua merespon dengan senyumannya.
" Ingat untuk memberi tahu ibu mu!!" Kakek tua mengingatkan Emine.
" Baiklah." Balas Emine. Tak lama kemudian kakek tua pun pergi ke kantor.
Setelah tubuh kakek tua menghilang dari pandangan, segera Emine berbalik menghadap pria yang tersenyum bahagia ke arahnya. Dengan semangat Emine berlari ke arah Okan, ia begitu senang dan gembira. Wajahnya pun nampak sangat ceria. Emine langsung melompat, Okan langsung menyambutnya. Emine berada di gendongan Okan, kakinya melingkar di punggung Okan sedangkan tangannya dikalungkan di leher Okan.
" Kau senang sekarang? Tidak marah lagi pada ku?" Tanyanya setelah berputar-putar.
" Tidak. Sekarang aku sangat bahagia." Jawab Emine.
" Berjanjilah kau tidak akan marah lagi padaku!!" Minta Okan.
__ADS_1
" Kau juga berjanjilah tidak membuat ku cemburu lagi!!" Minta Emine.
" Kau cemburu? Ahhhh,,, sudah ku duga." Okan menggoda Emine. Ia berjalan ke arah sofa lalu duduk di sana dengan posisi Emine berada di pangkuannya.
" Bagimana aku tidak cemburu? Kau memeluk Serin, aku melihatnya kau sangat nyaman." Keluh Emine kesal.
" Kau hanya melihat akhir kejadian tidak melihat awal kejadiannya. Serin terpleset dan aku menarik tangannya agar tidak terjatuh." Jelas Okan, ia juga mulai kesal mengingat Emine marah padanya hanya karena kesalah pahaman.
" Benarkah? Aku tidak tau." Respon Emine acuh terlihat tidak bersalah.
" Aishhhh,,," Dengusnya.
" Hari ini kau harus menebus hutang yang belum kau bayar kemarin." Okan mulai menaggih jatahnya yang belum sempat ia terima.
" Hutang? Hutang apa? Aku bukan orang miskin yang berhutang pada orang lain." Emine bingung, ia tidak mengerti ucapan Okan. Responnya juga terdengar sombong.
" Hutang apa?? Wahhhh,,,, Emine,,, kau sangat pintar bersandiwara. Jangan mencoba mengelabuhi ku!! Tunjukan dimana kamar mu!! Kita akan menuntaskannya hari ini!!" Okan tersenyum menyeringai penuh gairah hingga membuat Emine merinding. Bayangan ular piton itu kembali melintas di ingatanya, sontak Emine langsung melompat dari pangkuan Okan kemudian menjauh.
" Astaga,,, Okan bibir mu berdarah. Tunggu sebentar aku akan mengambil kotak obat." Tiba-tiba Emine terlihat panik dan cemas. Ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan kemudian pergi mengambil kotak obat.
Okan mulai curiga, sedari tadi bibirnya berdarah tapi baru sekarang Emine menunjukan kekawatirannya itu pun sangat tiba-tiba dan tepat pada saat ia membicarakan hal megenai jatah olahraga ranjangnya.
Tidak lama kemudian Emine datang dan duduk di sebelah pria itu dengan posisi berhadapan. Emine terlihat gugup sedangkan Okan semakin curiga.
" Tidakkah kau mengasihani pria malang ini?? Untung saja aku sudah tampan dari lahir jadi lukanya tidak mempengaruhi ketampanan ku sama sekali." Ucapnya memuji diri sendiri di saat Emine fokus mengobati luka di sudut bibirnya.
" Apa kau meragukan ketampanan ku ini? Lihat baik-baik, bukankah aku lebih terlihat keren dengan luka ini? Aku adalah pria jantan sekaligus pria sejati." Okan memajukan wajahnya meminta Emine mengamati lebih dekat lagi wajah itu. Emine refleks mundur kemudian menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.
" Aihhhh,,,, sombong sekali dirimu tuan." Balasnya mendorong dahi Okan dengan jari telunjuknya.
" Itu baru luka kecil, tidak ada artinya. Akan lebih terlihat keren lagi jika dua gigi depan mu hilang. Itu baru namanya pria sejati." Tutur Emine kembali mengoleskan obat luka.
Okan merasa Emine sedang mengejaknya.
" Dua gigi ku hilang. Orang-orang akan mengira kau menikah dengan seorang kakek tampan." Bahkan Okan masih sempat membanggakan dirinya.
" Lagi pula pria sejati itu adalah pria yang tidak akan menghamili wanitanya sebelum menikah. Itu definisi pria sejati yang sesungguhnya." Emine menyerang dengan kuat.
" Apa kata mu? Kau,,~ Kau menyalahkan ku? Haii Nona,,, Kau juga menikmatinya bukan? dan kau malah berkata seperti itu tanpa rasa malu? Aishhh,,,," Dengus Okan tidak terima atas pernyataan Emine yang teramat sangat menyinggung harga dirinya.
" Kenapa harus malu? Kau merayuku. Kau yang memulainya, kau memancing suasana, kau terus menciumku saat itu, aku hanya mencium mu sekali. Dan juga rayuan mu itu sungguh mematikan karena itu pula aku jadi ikut buta dan akhinya terprosot ke dalam permainan ranjang mu. Jadi kau adalah dalangnya bukan aku!!!" Emine tak mau disalahkan. Ia mencecerkan pernyataan yang menyudutkan Okan.
Okan malas untuk beradu mulut karena biasanya mulut wanita hebat dalam perdebatan jadi rasanya percuma untuk meladeni.
" Baiklah,,, aku mengalah. Dari pada kita berdebat sia-sia lebih baik kau bayar hutang mu sekarang!! Ayo tunjukan dimana kamar mu!! Apa Di sana? Di atas?" Okan langsung menarik tangan Emine menuju lantai atas meski Emine belum menjawab pertanyaannya.
" Okan, ini terlalu pagi. Apa kau tidak pergi ke kantor? " Emine menghempaskan tangannya hingga terbebas.
" Jangan kawatir!! Hari ini aku mendapat libur, besok baru bekerja." Jawabnya menjelaskan lalu imeraih kembali tangan Emine namun Emine sengaja menghempaskannya lagi.
__ADS_1
" Ada apa? Sepertinya kau sengaja menghindar dari ku." Okan menatap Emine serius.
" Kau libur hari ini tapi tidak dengan ku!! Lagi pula ini terlalu pagi sayang. Aku akan membayar hutang ku lain kali. Tenang jangan cemas!! Aku tidak akan kabur. Untuk hari ini mohon maaf karena aku harus pergi bekerja, bye,,, muachhh,,," Emine mencium pipi Okan lalu segera lari secapat mungkin meninggalkan Okan sendiri di rumahnya.
" Wah,,, kau sengaja memancing ku lalu pergi begitu saja." Ucapnya kesal menjengkingkan kedua tangan dengan salah satu kaki di tekuk santai.
" Hari ini kau bisa lolos tapi jangan harap besok kau bisa lari dari ku. Aku akan menghabisi mu sampai kau tidak bisa bangun dari tempat tidur. Lihat saja nanti." Gumam Okan mengoceh sendiri.
Karena tidak berhasil menaggih hutang, Okan pun memutuskan untuk mengisi waktunya dengan menemui kawan-kawannya.
Emine tiba di kantor. Suasana hatinya saat ini menyamai bunga yang bermekaran di taman. Dari pintu masuk ia sudah tebar senyum kepada para karyawan yang memberi hormat padanya. Semua orang yang melihat sikap aneh manager utama itu mulai keheranan.
Biasanya Emine selalu terlihat dingin dan berwibawa dengan aura cantik sekaligus style berkelasnya saat melewati lobi, ia hanya akan bersikap ramah pada orang yang dianggapnya menarik hatinya. Tapi hari ini aura Emine benar-benar berubah, semua orang tidak terbiasa dengan aura ini.
Emine masuk ke dalam lift kusus manager utama dan CEO perusahaan yaitu kakek tua. Saat lift perlahan mulai tertutup, ia melihat sesosok wanita berlari sekuat tenaga ke arahnya. Emine berkerut kening melihat wanita itu, sepagi ini hal apa yang membuat serkertarisnya berlari seperti di kejar preman.
" STOPP!!!" Fika menyela celah pintu lift itu dengan tangannya. Otomatis pintu lift terbuka kembali. Fika langsung ikut masuk tidak perduli apa kata orang yang melihatnya berani masuk ke dalam lift kusus karena atasannya saja tidak masalah dengan hal itu.
Nafas Fika keluar masuk tak beraturan. Rambutnya terlihat berantakan di beberapa bagian. Keringatnya pun mulai merusak mike up gadis itu. Merah pipi di pipi kanan dan kiri berbeda warna meski tak terlalu mencolok tapi Emine bisa melihatnya. Dan yang lebih anehnya lagi, Fika hanya memakai satu softlen entah ia lupa memasang softlen yang satunya lagi atau lupa melepas softlen yang sekarang masih menyangkut di matanya. Fika terlihat kacau di pagi hari ini.
" Fika, apa kau sehat?" Emine mengecek suhu tubuh Fika. Berulang kali ia membolak balikan telak tangannya yang di tempelkan di dahi.
" Nona ada berita gawat. Ini sangat penting. Kau pasti sangat terkejut." Ucapnya langsung belum sempat mengatur nafas..
" Apa yang terjadi? katakan!!" Emine jadi ikut gawat.
" Nona, Dia,,~ maksud ku tuan Ahmed, dia ditemukan tewas di sebuah hotel. Aku baru mendengar beritanya pagi ini. Aku langsung bergegas ke kantor untuk memberi tahu Nona karena nomor Nona tidak bisa di hubungi." Jelas Fika, baginya ini berita mengejutkan tapu bagi Emine berita ini hanyalah berita sampah.
" Apa? Bagaimana ini mungkin? Baru kemarin aku bertemu dengannya." Emine pura-pura terkejut.
" Itu dia, aku merasa kasihan padanya.Lihat ini!!" Fika menunjukan sebuah artikel yang mulai beredar di internet dan menduduki pencarian panas.
Melihat artikel yang ditulis, Emine tersenyum menyeringia. Artikel berita itu menyatakan Ahmed mati karena bunuh diri. Tidak ada duga'an pembunuhan. Emine pun merasa lega.
*
*
*
Like👍👍👍
Komen💬💬💬
Vote💰💰💰
Trimakasih😍
Selamat membaca📖
__ADS_1