
Masih terfikir akan perbuatan Serin malam ini.
Betapa hebatnya cinta hingga bisa membuat seseorang buta.
Sedikit merasa sedih Emine masuk ke dalam cerita pertemuan pertamanya dengan Serin.
Hanya untuk hal sepatu saja bisa membuat wanita itu tidak enak hati.
Tapi sekarang tidak segan-segan bermian dengan nyawa.
" Kau baru pulang? Kenapa malam sekali? Tidak memberi ku kabar."
Emine sampai tidak sadar telah memasuki rumah. Tidak sadar akan sekelilingnya. Tidak sadar akan keberadaan Okan di ruang tamu.
Wanita ini mengerjap terkejut, sadar akan kondisinya sekarang. Emine panik lalu memposisikan lengannya agar tidak terlihat lukanya.
" Ah iya. Aku baru dari rumah Fika. Kau menunggu ku?"
" Iya. Aku khawatir pada mu. Lain kali kirimkan aku pesan!!"
Okan mendekat. Emine semakin panik. Berusaha bersikap tenang namun wajahnya tidak bisa desembunyikan.
" Ada apa dengan mu? Apa ada masalah?"
Curiga menatap Emine.
" Tidak. Aku ke kamar Meli dulu."
" Meli sudah tidur. Cansu bersamanya."
Emine berhenti di anak tangga. berbalik
menghadap Okan.
" Benarkah?? Sudah tidur ya. Kalau begitu aku akan ke kamar."
" Aku juga akan ke kamar. Kenapa tidak pergi bersama?!."
Okan setengah berlari menghampiri Emine. Iya tersenyum pada wanita yang tersenyum canggung padanya.
Emine sebisa mungkin bersikap wajar.
" Aghhhh,,,,"
Okan terkejut dengan suara itu. Sontak ia melepas pegangan tangannya yang baru saja menempel pada lengan Emine.
Emine meringis sedikit tertunduk.
Saat Okan hendak memegang pundak wanitanya untuk memastikan keadaannya tapi ia dikejutkan dengan darah segar di tangannya.
" Darah?? Emine, lengan mu berdarah."
" Jangan disentuh!! Perih."
Menepis tangan Okan.
Suara ringisan Emine cukup keras. Kakek tua yang sudah berada di kamar, keluar melihat siapa itu.
" Ada apa?? Ada apa dengan Emine??"
Kakek tua menghampiri dua orang yang sedang berdiri di anak tangga. Yang satu terlihat sedang menahan sakit. Yang satu wajahnya penuh kecemasan.
" Lengan Emine berdarah."
Okan memberitahu sebelum kakek tua melihatnya langsung.
Bukannya menunjukan ekspresi khawatir kakek tua malah menatap Emine tajam. Tahu pasti cucunya itu habis berkelahi.
Sepertinya malam ini tidak akan berlalu dengan mudah.
Kakek tua membawa Emine duduk di sofa sedangkan Okan mengambil kotak obat setelahnya ikut duduk.
Kakek tua berperan sebagai dokter. Mengobati luka Emine karena dulu ia sudah terbiasa dengan urusan luka.
Seharusnya Okan menanyakan apa dan kenapa hal ini bisa terjadi. Namun pria itu tidak melakukannya. Ia hanya diam menatap setiap gerakan tangan kakek tua yang sedang memasang perban.
Okan tahu Emine meyembunyikan sesuatu darinya. Jelas terlihat sejak kedatangannya tadi. Okan ingin bertanya secara pribadi nantinya.
Kakek tua pun sama tidak bertanya apa-apa.
seolah-olah sudah tahu.
" Okan, bawa Emine ke rumah sakit!! Priksa kandungannya!!"
Perintah kakek tua setelah membalutkan perban.
__ADS_1
" Kakek aku tidak apa-apa."
Memegang tangan kakek tua. Meyakinkannya.
" Kau habis berkelahi. Bagaimana bisa bilang tidak apa-apa??"
Deg,,,,!!!
Okan terkejut. Emine pun sama karena kakek tua mengatakannya saat ada Okan disini.
Dalam hati Emine mengutuki kakek tua.
" Berkelahi??"
Mempertegas.
Emine tertunduk dalam. Ia merasa bersalah. Okan pasti berfikir dirinya tidak mementingkan keselamatannya sendiri. Padahal jika tidak berkelahi akibatnya akan lebih parah.
" Sudah!! Sudah!! Bawa dulu istri mu ke rumah sakit!! Jangan bertengkar!! Jangan juga memarahinya!! Dengarkan penjelasan istri mu terlebih dulu!! Dan kau, jangan merasa senang!! Kakek tidak membela mu. "
Emine yang tadi hatinya sempat berangsur dari kecemasan sekarang beralih memasang wajah masam.
Heran juga karena kakek tua tidak menindak lanjutinya. Seharusnya Emine di introgasi.
Ternyata tidak.
Okan membawa Emine ke rumah sakit.
Masuk keruangan spesialis kandungan. Dokter memeriksanya sangat detail tidak melewatkan satu pun yang berhubungan dengan kandungan Emine.
Okan masih mengamati cara dokter itu bekerja. Dia tidak mengerti bagaimana bisa mata dokter setajam itu. Hanya dengan melihat layar monitor yang gambarnya tidak jelas sudah tahu kondisi pasiennya.
Dokter bilang kandungan Emine baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Istirahat yang cukup, makan makanan yang sehat, perbanyak berolahraga, minum vitamin dan obat juga. Hampir semua dokter menyarankan hal itu.
Dokter memberi resep untuk ditebus. Okan menebusnya di apotek rumah sakit kemudian kembali ke mobil dimana sudah ada Emine disana menunggu.
" Kenapa kau berkelahi??"
Tiba-tiba memecah keheningan di dalam mobil.
Emine tidak tahu harus bilang apa. Ia gugup saat berusaha memberi alasan.
Fikirnya ini tidak tepat untuk memberi tahu Okan yang sebenarnya.
Takutnya pria itu tidak bisa mengontrol emosi.
" Maafkan aku."
Baru hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.
Belum menemukan alasan yang tepat.
" Bagaimana pun aku pasti akan memaafkan mu. Tapi bukan itu pertanyaan ku."
" Saat aku dalam perjalanan pulang ada perampok yang menghadang jalan ku. Terpaksa aku melawan mereka dan akhirnya aku terluka."
Entah kenapa alasan Emine tidak mengena di hati Okan. Rasanya Emine masih berbohong.
" Apa itu hal yang pantas untuk di sembunyikan??"
" Tidak seperti itu Okan. Aku hanya tidak ingin membuat mu khawatir."
" Di jalan mana kejadiannya??"
Emine berfikir lagi. Jika memang benar tidak mungkin Emine diam sesaat seperti sedang berfikir. Okan semakin curiga. Hanya tinggal menyebutkan tempat kejadian seharusnya tidak sesulit itu.
" Di jalan XX."
Baru menjawab.
Okan mengambil ponselnya. Jalanan sepi jadi ia berani mengemudi sambil memainkan ponsel.
Mengirim satu pesan kepada anak buahnya. Pesan yang berupa perintah.
Emine tidak melihat Okan mengambil ponsel karena sibuk menatap keluar menyembunyikan kegugupan.
Pesan terkirim. Okan meletakan ponselnya beralih meraih tangan Emine dan menggenggamnya. Emine otomatis menoleh pada pria yang ternyata masih fokus ke depan.
" Ada apa?"
Tanya Emine karena ini sangat tiba-tiba.
" Aku hanya ingin menggengam tangan mu apa tidak boleh?? "
__ADS_1
Menoleh sekilas. Merasa kesal dengan pertanyaan Emine yang sebenarnya tidak ada mksud apa-apa. Apalagi bermaksud membuat kesal.
Emine tersenyum. Ia mencium tangan Okan lembut. Dirinya yang hamil tapi Okan yang sensitif.
" Tentu boleh."
" Emine kau merangsang ku."
Hanya ciuman tangan bisa membuat Okan terangsang. Dia hanya bercanda untuk mengubah suasana.
Meski tahu Emine berbohong, sedang menyembunyikan sesuatu tentang kebenaran lukanya.
Refleks Emine membuang tangan Okan hingga tangan itu terbentur. Okan meringis kesakitan.
" Jangan macam-macam di dalam mobil!! Fokus mengemudi!! "
Perintahnya memasang kewaspadaan tingkat tinggi.
" Hahaha,,,, baiklah aku akan fokus mengemudi. Setelah sampai di rumah aku akan fokus di ranjang."
Okan tidak akan segila itu melakukannya di dalam mobil.
Emine menelan ludahnya. Kenapa ucapan suaminya ini seperti mengatakan akan menghabisinya di ranjang.
Okan kembali tergelak melihat wajah Emine yang memerah. Senang sekali rasanya berhasil mengerjai istrinya. Saking gemasnya Okan sampai mengacak-ngacak rambut Emine.
Suasana canggung yang sunyi akhirnya berubah.
Hingga tibalah di rumah. Emine dan Okan langsung menuju kamar.
Beristirahat untuk hari yang begitu melelahkan.
Kasur yang empuk menjadi tempat ternyaman.
Emine menggeser tubuhnya hingga ke tepi ranjang. Menjaga jarak dengan Okan.
Kata-kata pria itu saat di dalam mobil masih terngiang jelas.
Sangat lelah hingga Emine tidak berniat untuk melakukan hubungan tubuh.
Okan yang melihat tingkah istrinya itu kembali tergelak. Mungkin hanya sekali jentikan tubuh Emine akan jatuh ke lantai karena ia benar-benar berada di tepi ranjang.
" Kemarilah!!!"
Okan menepuk-nepuk lengannya. Meminta Emine tidur di sana.
Emine masis diam menatap Okan curiga punya niat di baliknya.
" Hei,,, Kenapa kau menatap suami mu seperti itu?? Aku bilang kemari!! Atau aku yang akan kesana."
Sorot mata Okan seperti sedang mengancam.
Terpaksa Emine mendekat, menjadikan lengan Okan yang dibentangkan menjadi bantal. Dari pada Okan yang bergerak sepertinya lebih berbahaya.
Cupp!!! Kecupan lembut di kening.
" Tidurlah!!"
Lanjutnya.
Emine mendongak agar bisa melihat wajah Okan. Dia fikir pria itu akan bermain nakal di tubuhnya.
" Tidak jadi??"
Maksud Emine tidak jadi main ranjangnya.
" Haha,,, Aku tahu kau lelah. Tidurlah!! Aku tidak ingin memaksa mu."
Emine tersenyum. Tumben Okan bisa menahan hasratnya. Ia pun menenggelamkan wajahnya di dada Okan. Tertidur lelap dalam belain lembut di rambut yang membawanya masuk ke dalam mimpi.
Tidak dengan Okan yang masih terjaga. Fikirannya melayang menerka apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya.
Tentu ia cemas dan sangat gelisah. Emine pulang dalam keadaan terluka.
Tiba-tiba ponsel berdering membubarkan lamunan Okan. Ponsel di raih menggunakan tangan terdekat dengan sangat hati-hati.
Melihat siapa yang menelfon. Ternyata anak buahnya yang ia beri perintah.
Okan memindahkan kepala Emine ke atas bantal. Memastikan wanita itu tidak terbangun lalu pergi ke balkon untuk mengangkat panggilan.
" Bagaimana? Sudah kau temukan??"
" Maaf Pak. Kami sudah memeriksa semua CCTV tapi tidak ada perampok di sekitar sana. Bahkan mobil istri anda tidak lewat di jalan itu. "
" Baiklah. Trimakasih atas bantuannya."
__ADS_1
Okan menutup telfon. Masuk ke kamar lagi. Menatap Emine. Bertanya kenapa ia berbohong? Hal apa yang dia sembunyikan darinya? Namun wanita itu sudah tertidur lelap hingga tidak bisa mendengar pertanyaan Okan apalagi menjawabnya.