
" Tempyankkkk"
Okan mengerjap terbangun oleh suara botol parfum yang tak sengaja di senggol Emine.
Wanita itu sudah merias diri di depan cermin.
" Kau mau kemana?" Tanya Okan terlihat tidak senang.
" Aku bukan pengangguran. Hari ini ada pertemuan dengan klien." Jawabnya santai sambil menebalkan lipstik di bibirnya.
Mike up di wajahnya sudah terlihat sempurna, pagi ini Emine terlihat sangat cantik. Emine mengambil tasnya lalu beranjak ingin pergi tapi Okan sudah ada di depan pintu menghalangi jalannya.
" Kau tidak boleh ke kantor!!" Okan mencegat Emine.
" Okan, minggir!!" Perintah Emine menatapnya tajam.
" Tidak. Aku bilang tidak." Bantah Okan dengan suara tegas.
" Aku bukan tahanan mu. Sudah 3 hari kau mengurungku disini apa itu belum cukup? Sekarang aku ingin pergi, jadi biarkan aku pergi." Emine langsung menerobos pertahanan polisi itu.
Baru tiga langkah, Okan langsung memeluk Emine dari belakang.
" Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan melakukan hal yang buruk pada kandungan mu. Hanya itu yang aku minta. Dia adalah anak mu, buah hati kita, dia berhak untuk hidup, melihat dunia, menghirup udara, dan anak itu tidak pantas menjadi pelampiasan masalah kita. Dia tidak tau apa-apa. Aku mohon pada mu. Sadarlah!!!" Ucap Okan sendu.
Ucapan Okan berngiang di telinga Emine. Polisi itu hanya ingin melindungi dua orang yang sangat dicintainya yaitu kekasih dan anaknya walaupun sempat ia tidak terkendali oleh emosi dan akhirnya menyakiti Emine.
Tidak di pungkiri perkataan Okan mampu menyentuh lubuk hati terdalam Emine. Ia menyadari selama ini kekalutan menyelimuti hatinya hingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mata Emine mulai berkaca-kaca mengingat perbuatannya yang hampir membunuh darah dagingnya sendiri.
Emine melepas tangan yang melingkar erat di perutnya.
" Aku berjanji dan bersumpah tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku akan menjaga anak ini. Maafkan aku telah membuat mu cemas. Aku sungguh minta maaf." Emine menyesalinya. Ia berbicara memunggungi Okan karena tidak sanggup menatapnya.
" Aku membuatkan mu sarapan. Cepat mandi dan turun untuk makan!! Aku harus pergi ke kantor sekarang." Sambung Emine sebelum pergi menuruni anak tangga.
Okan tersenyum bahagia. Hatinya sekarang sudah bisa tenang. Entah keajaiban apa yang terjadi pagi ini tapi ini sungguh membuatnya benar-benar bahagia. Ia tahu Emine adalah wanita yang sangat baik. Hanya saja sesuatu hal bisa membuat orang berubah dan meski Emine sempat mengambil jalan yang salah.
" Emine tunggu!!" Okan berteriak lalu berlari menghampiri Emine yang sudah berada di dekat pintu keluar.
Teriakan Okan bagaikan rantai yang menarik paksa Emine untuk berbalik.
" Ada apa?" Tanya Emine melihat ekspresi Okan yang aneh. Okan menatapnya dengan senyum penuh arti.
Okan tidak menjawab. Dengan cepat ia memegang kedua sisi kepala Emine lalu mencumbu bibir Emine lembut. Walaupun ini bukan yang pertama kalinya, tapi setelah hubungan mereka sempat renggang, mereka tidak pernah lagi beradu fisik walaupun tinggal 1 atap selama 3 hari. Hal ini membuat Emine sedikit terkejut dan berdebar
Emine membalas gerakan bibir Okan lalu mengakhirinya dengan cepat karena ia harus pergi ke kantor.
" Ini sudah sangat terlambat. Aku harus pergi sekarang." Emine berbalik dengan pipinya yang merona merah kemudian pergi tergesa-gesa.
" Hati-hati!!" Ucap Okan melambaikan tangannya ke arah taksi di luar.
" Emine,,,emine,,, sudah sampai hamil anak ku tapi masih saja merasa malu untuk sekedar berciuman." Gumam Okan tersenyum menertawai Emine yang pergi dengan pipi merahnya setelah melakukan ciuman.
# Perusahaan JQ.
Fika nampak gusar saat melihat Emine tidak ada di ruangannya. Hari ini ada pertemuan penting dengan Tuan Ahmed. Beruntung Tuan Ahmed masih mau memberi kesempatan untuk bekerja sama setelah pembatalan rapat secara sepihak. Tapi bahayanya kali ini yaitu Tuan Ahmed sudah menunggu selama 20 menit di ruang tunggu sedangkan Emine belum kunjung menampakan batang hidungnya.
" Nona tolong angkat telfonnya!! Astaga mati aku jika sampai Tuan Ahmed marah. Aisshhh,,,, Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Hilang selama 3 hari dan meninggalkan semua pekerjaan padaku. Kepala ku hampir pecah Tuhan. Kenapa aku harus di pertemukan dengan atasan ceroboh seperti dia?? Huaaaaa,,,,,, Mati aku mati." Celoteh Fika meratapi nasib buruknya sembari menunggu panggilannya di jawab.
" Ehemmmm,,,, siapa yang mati? Apa perusahaan perlu mengirim karangan bunga?"
Deg,,,,!!!!
" Tamat sudah riwayat mu Fika." Gumam Fika saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Fika perlahan membalikan badan dengan senyum sumringahnya. Senyumnya semakin ditarik lebar ketika melihat Emine di ambang pintu.
" Hehehehhe,,,, Nona, kau ada disini. Aku sedang berbicara di telfon dengan saudari ku di kampung." Fika menutupi kebohongannya dengan senyumnya yang di buat-buat.
" Saudari mu? Sejak kapan aku menjadi Saudari mu?" Emine memperlihatkan layar ponselnya. Tertera jelas disana nama Fika sedang melakukan panggilan ke ponsel Emine.
__ADS_1
" Hehehe,,, Nona. Aku kalah." Ucap Fika menyengir kuda lalu mematikan ponselnya.
Emine tersenyum menertawai tingkah serkertarisnya itu.
" Nona, Tuan Ahmed sudah menunggu. Sebaiknya Nona langsung kesana!! Dia sudah menunggu sekitar 25 menit." Saran Fika dengan wajah yang terlihat masih cemas.
" Baiklah, kita pergi sekarang!! " Emine menuju ruang tunggu dengan Fika mengikutinya dari belakang.
" Nona, maaf. Aku tadi hanya~~" Terpotong.
" Sudahlah!! Tidak masalah. Harusnya aku yang meminta maaf karena merepotkan mu selama tiga hari."
" Iya Nona, tidak apa-apa. Oh iya Nona, Tuan Ahmed hanya ingin berbicara empat mata dengan anda. Saya tidak bisa ikut."
" Aku bisa mengatasinya sendiri. Jangan kawatir!!!" Ucap Emine meyakinkan Fika kemudian mengambil berkas dari tangan Fika lalu masuk kedalam ruang pertemuan.
" Maaf Tuan Ahmed sudah membuat anda menunggu." Emine duduk berhadapan dengan pria tampan terlihat sangat berwibawa dengan setelan jas abu-abunya.
Ahmed menatap Emine penuh kagum. Tadinya ia ingin marah tapi niatnya luntur ketika melihat wanita cantik di depannya sungguh menggugah hasratnya sebagai seorang lelaki.
" Nona, Kau sangat cantik. Tentu menunggu wanita cantik bukanlah masalah." Ahmed secara terang-terangan menggoda Emine.
Emine melempar senyum manis saat menyadari pria macam apa yang sedang berhadapan dengannya.
" Kau sangat terbuka. Terimakasih atas pujiannya Tuan." Ucapnya kemudian membuka berkas siap untuk memulai pembicaraan namun ia terkejut tiba-tiba Ahmed menutup stopmap yang Emine buka lalu menggenggam tangan Emine.
" Nona, Kita tidak usah membicarakan masalah kerja sama ini!! Aku akan menginvestasikan seluruh saham ku pada perusahaan mu." Tawar Ahmed terselip niat tersembunyi di dalamnya.
" Apa maksud mu?" Emine pura-pura tidak mengerti melihat ekspresi.
Ahmed berdiri kemudian berjalan kebelakang Emine dan memegang pundaknya bahkan mencoba merangsangi Emine dengan memijat-mijat pelan pundak itu. Emine meremas bolpoin di tanggannya mencoba menahan amarahnya.
" Jika kau menemani ku hari ini maka aku akan menginvestasikan seluruh saham ku. Bagaimana? Aku harap kau tidak menolaknya." Ahmed berbicara lembut di telinga Emine. Nafas Ahmed yang berjalar hangat disana semakin membuat Emine geram.
" Cihhhh,,,,, Pria sampah. Lihat apa yang akan aku lakukan pada mu." Gumam Emine dalam hati dengan senyum liciknya.
Emine berdiri, ia mendorong tubuh Ahmed ke tembok lalu berbalik menggodanya dengan menjalankan jari-jarinya di dada kekar Ahmed.
" Tentu. Apa yang pantas di sesali untuk wanita secantik dirimu?" Ahmed mulai melingkarkan tanggnya di pinggang seksi Emine kemudian perlahan ingin menyatukan bibirnya.
" Tidak bisakah kau bersabar sedikit Tuan? Disini tidak aman. Ayo kita cari tempat lain!!" Ucap Emine menjauhkan tubuhnya dari Ahmed sebelum pria itu benar-benar menciumnya.
" Astaga Nona, kenapa kau menghentikankan ku? Aku tidak bisa menahannya lagi. " Gerutunya frustasi.
Emine merespon dengan senyumnya yang menantang. Ia berjalan ke meja untuk mengambil tas dan berkasnya.
" Aku akan menunggu mu di parkiran. Jika tidak bisa menahannya cepatlah datang ke mobil!!" Serunya sambil mengedipkan mata nakalnya.
Emine keluar dari ruangan itu. Ia masuk ke dalam lift menuju lantai bawah namun Fika juga ada di lift yang sama dengannya. Fika tertegun melihat Emine sudah ada disini.
" Nona, bukankah kau seharusnya bersama Tuan Ahmed?" Tanya Fika penasaran.
" Sudah selesai." Balas Emine santai.
" Secepat ini?" Tanyanya kembali terkejut.
" Iya."
" Lalu bagaimana hasilnya?"
" Ia menginvestasikan seluruh sahamnya."
" APA??"
" Perbaiki ekspresi mu!! Apa kau meragukan ku?." Ucap Emine menyatukan kembali mulut Fika yang menganga.
" Tidak, tidak Nona. Aku tidak berani meragukan mu." Ucap Fika cepat tapi ia merasa ini sangatlah mustahil.
__ADS_1
Tidak lama kemudian lift terbuka. Emine pergi dari sana dan mengatakan bahwa ia ada urusan sebentar pada Fika.
" Ceklek,,,, Gledeggggg,,,," Suara pintu mobil yang di buka kemudian di tutup kembali.
15 menit menunggu akhirnya Ahmed masuk ke mobil. Ahmed melihat ada perubahan pada Emine.
" Nona, Penampilan mu sangat tertutup." Ucap Ahmed setelah melihat Emine dengan topi, kaca mata, syal, masker dan mantel panjang.
" Aku hanya tidak ingin ada orang yang melihat kita bersama." Jawab Emine kemudian Ahmed melajukan mobilnya tanpa rasa curiga.
" Tuan, bisa aku pinjam ponsel mu? Aku akan memesan kamar untuk kita." Minta Emine sudah menadahkan tangannya meminta ponsel Ahmed.
" Wahhhh,,,, Sepertinya Nona lebih bersemangat dari ku." Ahmed memeberikan ponselnya pada Emine.
# Di Hotel.
Emine berjalan menuju kamarnya dengan menundukan kepalan menghindari setiap kamera yang terpasang.
Ahmed tersenyum penuh nafsu melihat Emine duduk di sisi ranjang dengan pose begitu menggoda. Ia segera membuka jasnya kemudian berjalan mendekati Emine. Ahmed sudah di posisi ingin mencium Emine namun Emine mendorong dada pria itu kuat hingga mundur ke belakang.
Emine membuka tasnya. Ia mengeluarkan stopmap kemudian memberi kode kepada Ahmed. Tentu Ahmed sudah mengerti tanpa fikir panjang ia mengambil stopmap itu lalu menandatangani berkas yang ada di dalamnya. Ahmed sudah tidak bisa membuang-buang waktu dan menahannya lagi.
Emine kembali tersenyum licik ketika Ahmed menuangkan tanda tangan di kertas itu tanpa membacanya. Berkas itu berisi pernyataan bahwa Ahmed sepenuhnya menginvestasikan seluruh sahamnya dan apabila terjadi sesuatu padanya, saham Ahmed akan berada di bawah kendali perusahaan JQ.
" Sudah." Menutup stopmap itu lalu menjauhkannya. " Sekarang waktunya bersenang-senang."
Ahmed menarik tubuh Emine mendekat namun Emine melepaskan diri kemudian naik ke atas meja dimana ada lampu gantung disana.
" Apa kita akan bercinta di atas maja?" Tanya Ahmed langsung ikut naik tanpa menunggu jawaban dari Emine.
" Di sini lebih menantang." Jawabnya penuh gairah palsu. Emine membuka ikat pinggang Ahmed. Keris pusaka pria itu sudah menegang di balik celana.
" Wajahmu semakin cantik jika dilihat lebih dekat. Bagaimana bisa aku melewatkan wanita sempurna seperti dirimu. Jika tidak keberatan, aku ingin kita menghabiskan waktu lebih lama lagi." Ucap Ahmed mengusap pipi Emine lembut.
Ahmed tidak henti-hentinya menggoda Emine hingga tidak sadar Emine telah menjalankan aksinya. Emine melingkarkan ikat pinggang di leher ahmed kemudian mengaitkannya di lampu gantung.
" Nona, aku tidak tahan lagi." Ahmed menarik kepala Emine ingin kembali mencium bibir seksi yang sedari tadi belum dapat ia nikmati karena Emine selalu mengelak.
Lagi dan lagi Emine berhasil lolos dari ciuman pria sampah itu. Emine langsung melompat ke bawah.
" Jangan banyak bermain dengan ku Nona!! Kau sungguh menguji ku. Ayolah,,, aku tidak sesabar itu." Ahmed ingin turun dari meja tapi langkahnya terhenti ketika merasakan ada sesuatu terikat di lehernya dan itu terasa semakin mencekik saat ia berusaha ingin melangkah.
" Apa-apa'an ini? Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!!" Ahmed panik. Sabuk itu tidak bisa di lepaskan.
Emine terlihat sangat santai dengan melipat kedua tangan di depan perut. Ia tersenyum kepuasan melihat lintah darat ini membrontak ingin lepas tapi tidak bisa.
" Maafkan aku Tuan Ahmed. Tapi, sungguh di sayangkan jika dunia ini dipenuhi sampah tidak berguna seperti mu." Emine mendorong meja itu hingga Ahmed tidak mendapat pijakan lagi.
Ahmed menggeliat hebat saat tubuhnya tergantung. Nafasnya mulai tersenggal-senggal. Ia tidak bisa berbicara sepatah kata pun. Mata Ahmed perlahan membelalak ingin keluar. Hanya dalam waktu 10 menit, Ahmed langsung tewas tergantung.
" Pergilah dengan tenang!! Kematian mu tidak akan meninggalkan kesedihan sama sekali." Ucap Emine tidak menyesal. Sebelum ia melakukan hal ini, Emine terlebih dulu memastikan apakah Ahmed meiliki keluarga atau tidak dan hasilnya Ahmed tidak punya keluarga atau istri apalagi anak jadi tidak ada beban apa pun untuk menghilangkan nyawa pria ini.
Emine meninggalkan Ahmed begitu saja. Ia harus membersihkan jejak-jejaknya agar tidak terendus oleh polisi setelah melakukan pembunuhan.
Emine menyalakan korek api di dekat pendeteksi kebakaran yang tertempel di tembok. Tidak ada 1 menit, alarm kebakaran sudah berbunyi hampir di setiap sudut ruangan. Semua orang panik, berteriak histeris, berhamburan keluar menyelamatkan diri termasuk para staf hotel. Kondisi hotel itu berubah ricuh. Semua orang berlari keluar ketakutan oleh perbuatan Emine.
Saat semua orang sibuk mengefakuasi diri, Emine berjalan menuju ruang pemantauan kemudian menghapus semua rekaman CCTV yang menangkap gambar dirinya.
*
*
*
Likeš
Komenš¬
__ADS_1
Voteā¤
Selamat membacaš