Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Siapa yang akan hidup?


__ADS_3

Info.


Novel Wanita Seribu Luka akan segera tamat ya.


Cuma itu doang infonya.


*


10 anak buah Serin, setengahnya sedang mengejar Fika dan setengahnya lagi tetap tinggal di tempat bersama Serin.


Mustahil melawan ke lima pria-pria itu.


Terlebih lagi mereka bersenjatakan pistol.


Sedangkan Emine hanya bersenjatakan tangan kosong.


Dan lengannya pun cedra.


Emine hanya bisa menatap Serin yang kini berjalan ke arahnya.


Sudah mengepalkan tangan dengan gertakan gigi mengiringi langkah wanita itu.


Tahu, pasti Serin geram melihat Emine mencoba kabur.


" Berani sekali kau mau lari dari tempat ini."


Serin menarik rambut Emine hingga kepala Emine mendongak menghadap wajahnya.


Sedikit meringis Emine menahan tarikan di kepalanya itu namun tetap memperlihatkan sorot mata tajam.


Seoalah kebencian dan kemarahannya juga tiada tanding.


Emine menatap lekat wajah Serin seolah wajah itu terlihat menyedihkan, Emine pun tertawa. Serin semakin terpancing


emosinya. Ia mengeratkan


cengkramannya.


" Serin, aku kasihan pada orang tuamu. Mereka pasti sangat malu karena memiliki putri yang jahat seperti dirimu."


Emine mengejek.


" Berani sekali kau menyebut orang tua ku dengan mulut mu itu."


Serin menarik rambut Emine lalu membenturkannya ke tembok hingga tembok itu memiliki bercak berwarna merah.


Keluar cairan kental berbau anyir dari kepala Emine.


Perlahan cairan itu merambat ke ujung hidunggnya kemudian menetes dari sana.


Benturan itu sangat keras, Emine pusing dibuatnya. Rasanya kepala seperti retak.


Serin kembali menarik rambut Emine, mencengkramnya kuat dengan mata melotot ia menatap Emine yang mendongak.


" Ini akibatnya karena berani mencari masalah dengan ku. Jangan mencoba kabur lagi!! Atau nyawa mu akan hilang hari ini juga."


Tangan Serin yang membawa pistol sudah diposisikan menempel di pelipis Emine.


Setiap nafas yang ditarik Emine terasa berat.


Matanya juga susah berkedip di saat pistol itu membuat jantungnya berdebar.


" Ikat dia!! Jangan biarkan wanita ini kabur lagi."


Perintah Serin pada anak buahnya yang berdiri di belakang. Sebelum beranjak, Serin mendorong kasar kepala Emine sehingga hampir terjungkir.


Setelah Serin keluar dari pintu, anak buah Serin sigap mengikat Emine di kursi.


*


Tim khusus sampai lebih awal di sekitaran lokasi. Mereka belum bergerak sebelum semuanya lengkap. Tidak berselang lama Okan dan kakek tua muncul bersamaan. Mereka turun dari mobil kemudian berlari cepat bergabung bersama mereka yang telah sampai duluan.


Gohan yang nampak paling asing, namun tidak ada waktu mempertanyakan siapa dia.


Karena dia datang bersama kakek tua, Okan pun percaya.


Mereka semua langsung bergerak.


Menyusuri kawasan hutan yang terbilang sangat lebat dengan panduan alat pelacak kakek tua.


Sampai langkah mereka terhenti ketika laporan dari tentara masuk.


" Test. "


" Masuk!!"


Ijin Okan.


" Seorang perempuan diseret paksa menuju titik lokasi."


Laporan dari tentara.


Dari atas mereka bisa melihat itu dengan jelas.


" Kirimkan fotonya!!"


" Baik pak."


Okan mengambil ponselnya dengan cemas ia menunggu pesan masuk.


Rasa takut menguasai wajahnya jika benar dugaannya itu Emine.


" Ada apa Okan??"


Tanya kakek tua penasaran.


" Tim bantuan memberi informasi bahwa ada seorang perempuan yang di seret paksa menuju titik lokasi."


Jelas Okan tidak beberapa lama kemudian 2 buah pesan masuk.


Satu buah foto wanita yang digiring paksa dan satu buah penampakan titik lokasi dari atas.


Itu adalah rumah kosong di tengah-tengah hutan yang cukup besar.


Di luar tempat itu sepi. Sepertinya penjagaan difokuskan di dalam.


" Siapa dia?? Dia bukan Emine."


Ucapan Okan mengundang banyak perhatian orang-orang disana setelah melihat foto perempuan yang wajahnya lepas dari lensa kamera.


Satu persatu meminta giliran untuk melihatnya karena penasaran.


" Ya, ini bukan Emine. Siapa dia?? Kenapa ada di tempat seperti ini?? "


Kakek tua juga tahu itu bukan Emine.


Emine memiliki rambut pirang tapi dia tidak. Pakaian Emine berwarna putih namun ini hitam.

__ADS_1


" Benarkah?? Coba aku lihat!!"


Kakek tua memberikan ponselnya pada Tiras. Murat juga ikut menempel dengannya untuk melihatnya.


Dari segi rambut saja itu memang bukan Emine. Tiras menyempitkan matanya pada wanita yang rasa-rasanya ia kenal.


Tapi siapa? batinnya masih mencari-cari.


" Ah iya. Ini Fika. Ya tidak salah lagi. Ini Fika."


Dan Tiras berhasil mengenali wanita yang tidak dikenali siapa pun.


Kakek tua yang sering melihatnya di kantor saja gagal mengenali.


" Sial!! Serin tidak hanya menculik Emine tapi Fika juga. Cepat kita harus segera sampai di sana sebelum terlambat!!"


Bergerak menuju lokasi.


Gohan sembari berlari, ia juga memantau kondisi energi Emine lewat ponselnya.


Pergerakan semakin dipercepat ketika Gohan mengatakan energi Emine turun 5%.


*


BRAKKKkkk,,,,,!!!!


Sontak suara keras yang mengejutkan itu membuat Emine mengerjap terbangun ketika tadi ia sempat mencoba menutup matanya pasrah akan keadaan sembari menahan rasa sakit di lengan dan kepala.


Brukkkk,,,,!!!


Fika di lempar kasar oleh dua anak buah


Serin disusul dengan Serin yang ikut masuk dengan senyum kemenangannya karena telah berhasil menangkap Fika.


" Lihat ini. Kau sudah tidak punya harapan lagi Emine. Hahahhaha,,,,,!!!"


Bahkan tawanya terdengar seperti nenek sihir. Di dukung dengan latar tempat ini membuat Serin terlihat seperti nenek sihir sungguhan.


" Hiks,,, Maaf Nona. Aku tidak bisa lari dari mereka."


Merasa bersalah akan ketidak mampuannya.


Fika yang jatuh bersimpuh tepat di bawah Emine itu hanya bisa menundukan kepala.


" Tidak apa-apa Fika!! Kau sudah berusaha. Mungkin ini adalah takdir kita."


Mengembalikannya pada takdir.


Sebenarnya Emine sudah mengutuk garis tangannya sendiri. Kenapa hidupnya


penuh dengan luka seperti ini.


Rasanya kesedihan tidak pernah berakhir.


Baru menemukan kebahagian sedikit saja sudah diberi coba'an lagi.


Dalam hati Emine mengeluh kepada Tuhan. Apa tuhan mengira dia adalah wanita dengan kekuatan super yang bisa menahan rasa sakit dan melewati segala coba'an ini?


Bagaimana pun Emine adalah wanita biasa sama seperti lainnya.


Bisa menyerah kapan pun itu ketika sudah merasa tidak mampu lagi.


" Lepaskan saja ikatan wanita itu!! Aku akan memberinya hukuman yang sesungguhnya."


Dengan senyum licik dan kejinya.


*


Seperti yang ada di foto, rumah itu sepi dari luar.


" Apa kita trobos masuk saja??"


Tanya Murat kepada ketuanya yang sepertinya masih bingung harus bertindak dengan cara apa?


Semua ini butuh pertimbangan. Tidak biasa tergesa-gesa dan juga gegabah.


" Jangan!! Jika kita menerobos masuk maka akan terjadi pertempuran secara terang-terangan. Itu akan membahayakan Emine. Kita cari tahu dulu situasi di dalam!! Siapa tahu jumlah mereka lebih banyak dari kita."


Saran kakek tua.


" Bagaimana caranya??"


Kakek tua mengeluarkan kotak kecil dimana di dalamnya berisi seekor kupu-kupu buatan dilengkapi dengan kamera.


" Dengan ini!!"


Kakek tua menunjukan kupu-kupu itu lalu menerbangkannya ke udara.


Dengan bantuan remot kontrol, Kakek tua mengarahkan kupu-kupu itu ke rumah yang pintunya tertutup.


Tidak perlu lewat pintu!! benda kecil itu bisa menyelip ke lubang terkecil.


Gambaran yang tertangkap masuk ke dalam ponsel Gohan.


Sebuah rungan kosong dengan 5 orang didalamnya. 2 orang nampak sedang menjaga sebuah pintu.


Kupu-kupu di arahkan masuk ke dalam ruangan yang di jaga itu.


Sudah di duga, Emine ada disana dan Fika juga. Tidak lupa dengan Serin yang membawa pentong.


Terlihat seperti akan menyiksa Emine.


" Kita harus segera masuk!! Serin akan menyakitinya. Aku tidak bisa membiarkan itu


terjadi."


Okan sudah tidak bisa menunggu lagi.


Fikirnya harus segera bergerak khawatir terjadi sesuatu pada istrinya.


" Tunggu Okan!! Itu malah akan semakin membahayakan Emine!! Jika Serin tahu kita datang maka ia akan bertindak lebih agresif lagi pada Emine untuk menekan kita. Jelas dia tahu Emine adalah kelemahan kita. Jadi kita harus masuk secara diam-diam!!"


" Baik kita akan masuk secara diam-diam.".Sudah ingin melangkah pergi namun di hentikan lagi.


" Jangan beramai-ramai. Gohan akan menyelinap masuk. Dia akan membereskan 5 penjaga di di luar ruangan. Setelah itu baru kita masuk semua."


" Iya. Aku akan menyelinap. Percayakan saja pada ku!! "


Sambar Gohan.


" Kalau begitu aku ikut dengannya."


Okan tidak bisa tinggal diam saja disini. Ia harus memastikan secara langsung.


" Baiklah!! Bawa ini!! Pakai pistol ini!! Jangan gunakan pistol mu!!"


Kakek tua menyerahkan pistol tanpa suaranya yang ia bawa. Gohan juga sudah membawa pistol seperti itu.

__ADS_1


Setelahnya mereka berdua segera masuk.


*


Pakkk,,,,Brukkk,,,,!!


Emine tersungkur saat Serin melayangkan pentongnya mengenai wajah wanita itu.


Ini sudah pukulan yang ke 3 kalinya.


" Aku mohon jangan pukul Nona Emine Hiks,,,!! Pukul saja aku Serin!! "


Mintanya memelas tidak tega lagi melihat Emine.


" Oho,,, rupanya kau tidak sabar lagi ya minta di pukul. Baiklah,,, ini permintaan mu."


Pakkk,,,,Brukkkk!!!!


Tubuh lemah Fika terhamparkan dengan mudah.


Serin mendatangi Fika lalu berjongkok mencengkram pipinga keras.


Tempat Serin berjongkok tepat berada di depan Emine.


Di pinggang Serin ada sebuah pistol. Emine melihat sekitarnya, beruntung tubuhnya tertutupi oleh tubuh Serin. Jadi anak buah di ujung sana tidak bisa melihat pergerakan Emine.


Ia merangkak sangat hati-hati. Berusaha tidak mengeluarkan suara gesekan antara tangan dan lantai.


Saat sudah dekat, dengan cepat Emine mengambil pistol itu.


" Jangan bergerak!! Atau aku akan memecahkan kepala mu. Lepaskan dia!! Cepat!!! "


Keadaan berbalik dalam waktu sekejap.


Tubuh Serin membeku seketika. Ia melepaskan cengkramannya tanpa nyawa lalu berdiri dan berbalik.


Ternyata benar, Emine sudah mengarahkan pistolnya.


Mata Serin seperti terganjal oleh sesuatu. Tidak bisa berkedip.


Raga yang tadinya menyiksa orang tanpa ampun kini gemetar.


" Cepat menjauh darinya!!"


Perintah Emine. Serin melangkah menjauh dengan langkahnya yang kaku.


Anak buahnya juga sudah mengangkat senjata ke arah Emine.


Fika berdiri di belakang Emine. Ia tak kalah gemetar melihat moncong-moncong senjata itu mungkin semenit atau sedetik akan menyemburkan timah panas.


ketegangan dan kewaspadaan di mata kedua belah pihak memenuhi rungan ini.


" Turunkan senjata mu Emine!!"


Takut-takut Serin memberi peringatan.


Takut dirinya ditembak.


" Jangan banyak bicara Serin!! Perintahkan anak buah mu itu untuk berhati-hati!!"


Membalas mempringati.


Fika mencengkram pinggang baju Emine kuat.


Emine merasakan ada getaran disana.


" Fika,"


Panggilnya dengan suara yang hanya mereka dengar.


" Iya Nona?"


" Dalam hitungan ketiga aku akan menembak ke enam manusia ini!! "


Kemungkinan di saat Emine menarik pelatuknya, musuh juga melakukan hal yang sama. " Jika aku berhasil menembak mereka, kau larilah dari sini!! Ambil beberapa pistol mereka untuk melindungi diri!! di luar ada beberapa anak buah Serin. Kau harus melindungi dirimu dengan baik!!"


Sadar setelah menembakkan peluru dirinya juga akan ikut tertembak.


" Nona apa yang kau katakan?? Tidak!! Kita akan pergi bersama. Kita akan melewatinya bersama Nona!!"


Fika mulai panik dengan ucapan Emine yang mengandung maksud tertentu.


Emine tidak menggubris arah pembicaraan Fika.


" Jika kau berhasil lolos dari tempat ini aku mohon sampaikan permintaan maafku pada semua keluarga ku. Pada Okan, Kakek tua, Cansu, Meli dan semua orang!! Katakan aku menyayangi mereka. Aku akan menemui mereka di kehidupan selanjutnya. Jika kau tidak keberatan, jagalah mereka semua untuk ku!!


Langkah ku sudah terhenti di sini. Dan maaf karena aku, kau juga tersiksa. "


Seperti sebuah pesan terakhir tanpa tertulis di sebuah kertas.


Tidak sadar Emine meneteskan air matanya.


Fikirnya, ini adalah hari terakhir ia bernafas.


Tanpa melihat orang-orang yang dicintainya untuk terakhir kali, ia mencoba menerima semua itu.


Seperti yang ia katakan. Ia akan menemui mereka semua di kehidupan selanjutnya.


" Nona aku mohon, hiks,,,!! Kita akan melewati ini semua bersama."


Fika semakin meremas kuat pinggang baju Emine.


" 1 "


Dan hitungan sudah di mulai.


" Nona,,,!!! Hiks. "


" 2 "


Emine tidak memperdulikan Fika.


" Nona apa yang harus aku katakan pada mereka?? Hiks.. Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku akan meresa bersalah dalam hidup ku. Hiks,,,"


" 3 "


DORrrDORrrDORrrDORrrDORrrDORrr!!!!


" Aaaaaaaaaaaa,,,,,,"


Rika berjongkok menutup telinga yang di serang oleh suara keras dari pistol-pistol.


Ia berteriak histeris.


Seolah dunianya hancur oleh suara-suara menakutkan itu.


Terdengar suara orang-orang yang mulai berjatuhan.

__ADS_1


Ia berdoa semoga di antara suara-suara itu tidak ada suara Emine.


__ADS_2