Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
SAH.


__ADS_3

Hampir saja, hampir saja pesta pernikahan ini berubah menjadi duka. Entah apa jadinya jika minuman itu sampai kepada Emine.


Siapa yang tega ingin membunuh Nona Emine di hari pernikahannya? Apa tujuannya? Batin Fika.


Segera Fika membersihkan semua itu agar tidak ada yang melihatnya karena mungkin orang lain akan salah paham.


Setelahnya ia bergegas mencari pelayan tadi untuk menemukan kebenaran dibalik layar. Fika pergi ke dapur.


Di dapur pelayan itu tidak ada. Ia pun bertanya pada salah seorang pelayan lain disana.


" Permisi. Apa kau melihat pelayan yang rambutnya sedikit ikal, dia juga gemuk, umurnya sekitar 40'an, dan memiliki tahilalat besar di samping matanya?? Apa kau melihat dia??"


Tanya Fika.


" Itu Nona. Dia ada disana."


Pelayan itu menunjuk ke arah tempat makanan. Ternyata pelayan itu sedang menata makanan disana.


" Oh Trimakasih banyak."


Fika langsung menghampiri pelayan itu. Menarik tangannya ke balkon. Mereka berbicara disana.


" Maaf Nona, ada apa ini? " Pelayan itu tidak mengerti kenapa Fika membawanya paksa.


" Siapa yang menyuruhmu melakukan hal itu? Katakan!! Siapa dia??"


Fika sudah menatap pelayan itu tajam.


" Apa maksud Nona? Melakukan apa? Saya tidak mengerti."


Terlihat jelas pelayan itu tidak mengerti.


Fika bisa melihatnya. Dia sadar pelayan ini tidak tahu apa-apa.


" Minuman yang ingin kau berikan pada Nona Emine ada racunnya. Dan seekor kucing mati karena minuman itu. "


Jelas Fika.


" Apa? Tidak mungkin. Nona, sungguh saya tidak melakukan itu Nona. Saya tidak mungkin berbuat jahat. Seseorang meminta saya untuk menghantarkan minuman itu hanya itu saja Nona. Saya tidak tahu apa-apa."


Pelayan itu menjelaskan sedikit ketakutan mungkin karena ia takut di salahkan.


" Seseorang??"


" Iya Nona."


" Siapa?"


" Saya tidak tahu namanya. Tapi saya masih ingat wajah dan penampilannya. Dia seorang wanita cantik."


" Kalau begitu kita cari dia!! Tunjukan pada ku orang itu!!"


" Baiklah Nona. Ayo kita pergi Nona."


Pelayan itu antusias mengantar Fika mencari Serin. Mereka kembali ke dalam gedung.


Pelayan itu mencari sosok wanita bergaun orange dengan rambut lurus dan wajah yang cantik dan dia ada di sebuah meja duduk disana sembari mengobrol.


" Itu Nona, Wanita yang sedang mengobrol disana adalah orangnya. Yang memakai gaun orange itu."


Pelayan itu menujuk ke suatu arah di ikuti mata Fika yang langsung tertuju kesana.


" Serin?? Diakah orang yang ingin meracuni Nona Emine??"


Fika terkejut mengetahui Serin yang menyandang sebagai sahabat atasannya itu ternyata menginginkan kematian Emine.


" Bibi, apa kau yakin dia orangnya?? Kau tidak salah lihat kan? "


Fika memastikan.


" Tidak Nona. Aku yakin sekali. Kami berhadapan saat itu. Aku melihat wajahnya sangat jelas."


" Baiklah. Kau boleh pergi."


Perintah Fika.


Fika bukanlah orang yang ceroboh. Dia tidak akan mengatakan bahwa Serin ingin membunuh Emine kepada semua orang. Penyebabnya adalah tidak adanya bukti yang pasti. Minuman itu disentuh oleh tiga orang, pertama Serin, kedua pembantu itu dan ketiga dirinya. Jika ia mengatakan kepada semua orang bahwa Serin ingin meracuni Emine dengan minuman maka bisa di tebak Serin akan balik menyerang. Serin akan menunduh Fika kembali karena ia yang membawa minuman itu atau bisa juga pelayan tadi. Terlebih lagi dirinya adalah orang baru disini. Begitu otaknya yang cerdas bekerja.


Brukkkk,,,,,!!!!


" Ah,,, maaf Tuan aku tidak sengaja."


Fika berfikir dengan melamun sambil berjalan. Alhasil ia menabrak seseorang.


" Nona Fika? Kau tidak apa-apa? Kenapa berjalan melamun seperti itu? Apa yang sedang Nona fikirkan??"


Tiras menyadari orang yang menabaraknya adalah Fika.


" A~aku, aku hanya memikirkan masalah hutang. Iya hutang. Aku baru ingat cicilan ku sudah menumpuk dan itu membuat kepala ku sedikit pusing."


Fika berbohong padalah dirinya adalah wanita yang sejahtera dalam masalah ekonomi. Dia tidak tahu apa yang harua dikatakan.


" Hahahaha,,," Tertawa kecil.


" Jadi kau adalah wanita yang berhutang juga? Aku kira bekerja di perusahaan JQ akan menjamin hidup mu."


Tiras mengejek.

__ADS_1


" Hahahaha,,,, Sebenarnya aku yang terlalu boros."


_- Apa aku tanyakan saja ya sesuatu tentang Serin pada Tuan Tiras? Mungkin dia bisa membantu. _- Batin Fika.


" Ahhhh,,,sudah ku duga."


Ucapnya mendapat senyum canggung dari Fika.


" Kalau begitu aku pergi dulu."


Tiras hendak pergi namun Fika menghentikannya.


" Tunggu Tuan!!! Bisakah kita bicara sebentar?!"


Minta Fika canggung.


Tiras kembali tersenyum melihat Fika yang sepertinya malu.


" Tentu."


Tiras dan Fika keluar dari gedung. mereka berjalan di taman. Tiras jadi penasaran kenapa Fika mengajaknya ke sini. Kenapa tidak bicara di luar saja, tanyanya dalam hati.


Udara di luar sangatlah dingin. Sepertinya pergantian musim akan segera tiba. Turki adalah negara bersalju dan sebentar lagi adalah musim salju.


Tiras melirik sekilas wanita yang berjalan di sampingnya. Fika nampak kedinginan. Ia mengelus-elus punggung lengannya sendiri. Gaun yang dikenakannya juga sangat terbuka.


" Cuacanya dingin. Ini pakailah!!"


Tiras mengibaskan jasnya kebelakang tubuh Fika lalu menutupi tubuh itu.


Sontak Fika terkejut dan semakin canggung. Ia merasa tidak enak hati. Jika tidak menerima jas itu mungkin Tiras akan merasa sedikit kecewa. Jadi ia terima saja jas itu.


" Terimakasih Tuan.


Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu tentang Nona Serin pada mu."


Langkah mereka seketika terhenti di tengah jalan. Tiras menatap Fika penasaran.


" Serin??"


" Iya."


" Tentang apa?"


" Aku juga tidak tahu ingin mencari tahu tentang apa. Ini pasti terdengar sangat konyol. Tapi, apa pun itu, apa pun yang Tuan ketahui tentang Nona Serin tolong beri tahu aku!! " Minta Serin.


" Wahhh,,,, ada apa ini? Aku jadi penasaran."


Ucapnya kemudian mereka duduk di bangku taman.


" Setahu ku Serin adalah anak yatim piatu. Dia tumbuh besar bersama Okan dan Meli tapi Meli tidak menyukai Serin."


" Kenapa??"


" Karena Serin menghinati Okan dengan pria lain. Itulah sebabnya Meli tidak menyukai Serin."


" Maksud Tuan, Tuan Okan dan Nona Serin, mereka pernah berpacaran?"


" Iya."


_- Wahhh,,, sepertinya aku tahu alasan dibalik perbuatan Serin. _-


" Apakah Nona Emine mengetahui hal ini? Dan juga Nona Serin, apakah dia masih mencintai Tuan Okan?"


" Aku tidak yakin Emine mengetahuinya atau tidak. Aku tidak ingin turut campur. Itu adalah tugas Okan untuk memberitahu Emine. Dan untuk Serin, sepertinya dia masih mencintai Okan. "


Jawab Murat memberi penjelasan menurut sudut pandangnya.


" Ooooo,,,, Jadi seperti itu."


_- Cihhh,,, dasar wanita tidak tahu diri. Sudah berhinant masih saja ingin mencintai Tuan Okan. Hmmm,,, Sekarang aku punya misi. Akan aku ungkap niat busuk wanita itu. Ahhhh,,,,rasanya aku sangat kesal hanya dengan melihat wajah silumannya. _-


Tiba-tiba terdengar suara dari dalam gedung.


" Sepertinya acaranya sudah mulai. Ayo kita masuk." Ucap Tiras menyadarkan lamunan Fika.


Emine sedang menuruni anak tangga saat mereka tiba disana di gandeng oleh kakek tua disampingnya.


Memang pengantin mempunyai aura berbeda dari yang lainnya. Emine menjadi pusat perhatian para tamu yang duduk di bangkunya masing-masing. Mereka memandang takjub wanita yang menggenakan gaun pengantin itu. Emina terlihat seperti seorang dewi.


Wajahnya seakan bersinar dari bawah dan wajahnya semakin bersinar saat selesi menuruni anak tangga.


Okan sudah berdiri di tengah-tengah menunggu kakek tua menyerahkan cucu cantiknya itu. Ia sangat gugup. Dalam hitungan detik status lajangnya akan berubah. Dan Okan sangat bahagia akan kenyataan itu.


tapi ingatan tentang Ozgur membuatnya terbakar kembali.


_- Aku harus mengontrol ekspresi ku!! Aku tidak boleh kelihatan marah, jika tidak ketampanan ku ini akan berkurang. _-


Okan pun kembali dengan senyumnya meski hatinya sudah terbakar oleh api cemburu.


Di lain orang,


_- Kenapa tidak terjadi apa-apa pada Emine?? Seharusnya dia sudah mati!! Kenapa ini? Apa dia tidak meminum just itu?? Aghhhh,,, sialll... Rencana ku gagal. Aishhh,,,, _-


Serin frustasi sekaligus terkejut melihat Emine keluar dari ruangannya dimana seharusnya dia sudah mati.


Akhirnya kakek tua menyerahkan Emine pada Okan. Semua orang bertepuk tangan meriah.

__ADS_1


" Peiwitttttt,,,,, "


" Huuuuuu,,,,,"


" Prok,,,,Prok,,,,Prok,,,,,"


Suasana menjadi ramai.


Emine dan Okan saling bertatap mata, dengan kedua tangan Emine di genggam Okan. Keduanya sama-sama gugup namun disamarkan dengan senyum bahagia yang mereka pamerkan.


Dilanjutkan dengan pengucapan janji pernikahan. Baik memplai wanita maupun pria sama-sama mengucapkan janji mereka.


Setelah janji di ucapkan, dilanjutkan dengan penyematan cincin sebagai simbol mereka telah terikat dalam sebuah hubungan yang sah dimata publik.


PROKkkkk,,,,PROKKKKK,,,,PROKkkkk,,,,,!!!!


Tepuk tangan meriah setelah cincin selasai dipakaikan oleh masing-masing memplai.


Okan langsung memeluk Emine erat seperti tidak mau jika wanita ini pergi. Emine sampai merasa susuah bernafas dibuatnya.


Adegan ini masih di bawah level dan dianggap sudah biasa. Hanya berpelukan tidak ada panas-panasnya hingga tiba-tiba suara penonton menyeruak ada yang histeris ada yang berteriak karena Okan dan Emine melakukan ciuman level hot.


" Cansu kau tidak boleh melihatnya!! ini bukan tontonan untuk anak dibawah umur."


Meli langsung menutup mata Cansu dengan tangannya.


" Ahhhh,,, aku sudah tua kenapa harua melihat hal semacam ini."


Gerutu kakek tua.


Okan dan Emine tidak tahu kapan harus berhenti. Mereka berciuman sangat lama.


" Hmmmm,,,, Jangan terlalu lama berciumannya!! Kalian menyiksa para jomblo disini. "


Teriak Meli membuat semua tertawa.


Pengantin itu akhirnya menghakhiri ciuman mereka dengan pipi bersembur merah karena malu.


_- Cih,,,,,,_-


Serin berdecih kemudian pergi dari kerumbunan orang. Fika melihatnya, ia pun tertawa.


Selesai sudah acara pernikahan ini.


Satu per satu tamu pamit pulang kerumah mereka. Hingga yang tersisa hanyalah kakek tua, Meli, Fika, Murat, Tiras dan si pengantin baru dan juga si bungsu Cansu yang hampir dilupakan karena sibuk bermain. Sedangkan Serin sudah perge sejak tadi karena tidak tahan lagi melihat Okan dan Emine berbahagia.


" Kakak, aku akan menginap di rumah kakek Leo. Kasihan Cansu tidak ada yang menemaninya."


Ijin Meli hanya sebagai alasan. Ia tidak ingin menggangu malam kakaknya dengan Emine.


" Baiklah."


Okan dengan senang hati memberi ijin.


" Fika, kau pulang dengan siapa?"


Emine teringat serkertarisnya itu tidak membawa mobil kesini.


" Aku akan naik taksi Nona."


" Ini sudah larut. Berbahaya jika pulang sendiri. Bagaimana kalau Tuan Tiras saja yang mengantarkan mu pulang? Bagaimana Tuan Tiras kau mau kan?"


Emine sengaja meminta Tiras untuk menghantarkan Fika.


" Ya, aku bisa mengantarnya."


" Apa tidak merepotkan Tuan??"


Tanya Fika pada Tiras.


" Tentu tidak."


Jawabnya dengan tersenyum ramah.


" Baiklah."


" Hmmm,,,.Lalu aku pulang dengan siapa??" Tiba-tiba Murat berbicara dengan wajah sedihnya karena harus pulang sendiri.


" Serin. Eh,, tapi dimana dia? Aku tidak melihatnya dari tadi. Apa dia sudah pulang? Kenapa tidak memberitahu ku??"


Tanyanya Emine sedikit kecewa.


" Sudahlah lupakaan!! Mungkin dia ada urusan mendadak. Sekarang sudah larut, ayo kita pulang."


Ajak Murat.


Mereka semua pun pulang.


Emine dan Okan kembali rumah Okan. Sekarang mereka dalam perjalanan.


Okan nampaknya sudah tidak tahan lagi melewati malam ini. Di dalam mobil ia tidak henti-hentinya menggrayangi Emine.


" Okan hentikan!! Apa kau tidak malu?? Bagaimana kalau pak sopir melihatnya??"


Tegur Emine.


" Memangnya kenapa harus malu? Dia tahu kita ini sudah menikah. "

__ADS_1


Balas Okan dengan mulut nakalnya sudah menyerang mulut Emine.


Mereka berciuman di dalam mobil. Si pak sopir jadi malu melihat ulah pengantin baru ini. Ia langsung tancap gas ingin cepat-cepat sampai ke tujuan karena kasihan melihat pengantin ini yang sepertinya tidak bisa menahan hasrat. Pak sopir kasihan karena ia pernah merasakannya, hahahahha.,,,,,.


__ADS_2