
Kondisi Emine hari demi hari semakin membaik. Dokter mengatakan kandungannya juga sudah dalam keadaan sehat. Tidak ada yang perlu di kawatirkan lagi hanya saja dokter menyarankan Emine agar lebih berhati-hati, menjaga pola makan, istirahat yang cukup dan hindari stres atau tekanan mental.
Siang itu Emine sudah di perbolehkan pulang dan yang menjemputnya langsung dari rumah sakit adalah kakek tua. Setibanya di istanbul, kakek tua langsung meluncur ke RS.
" Sebenarnya apa yang terjadi padamu Emine?" Tanya Kakek tua sedang mengemudikan mobilnya dengan Emine duduk di kursi samping.
Emine sebisa mungkin bersikap sewajarnya dengan tidak gugup. Ia belum siap mengatakan kebenarannya karena ia tahu respon kakek tua tidak akan menyenangkan.
" Aku hanya kelelahan kakek. Belakangan ini aku tidak mengurus diriku dengan baik. Kakek jangan kawatir!!" Ucapnya santai menatap kakek tua sekilas dengan senyum tipis agar kakek tua tidak cemas.
" Anak muda jaman sekarang sangat lemah. Semakin dunia ini maju semakin manusianya lemah. Lihatlah kakek!! Meski sudah tua tapi tetap sehat dan kuat." Ujarnya membanggakan diri dengan membusungkan dada tegap walau kepalanya semakin hari semakin kinclong karena faktor usia. Emine hanya tersenyum menatap kakek tau dari samping. Ia selalu berdoa untuk kesehatan dan umur panjang pria yang berada di sebelahnya.
Emine mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa. Ia menyibukan diri di kantor, belajar dan terus belajar. Tak jarang ia lupa meminum obat dan vitamin penguat kandungannya. Beruntung ada Okan yang selalu mengingatkannya meski lewat telfon. Bahkan Okan memasang alarm pengingat di ponselnya. Ketika alarm itu berbunyi maka dengan sigap ia menghubungi sang calon istri untuk minum obat.
" Aku sedang keluar bersama serkertaris ku. Kami menuju restoran untuk makan siang. Baiklah,,, Aku akan menghubungi mu nanti. Iya, aku sudah minum obat. " Emine terlihat sibuk dengan percakapannya di telfon bersama Okan. Sesekali ia melirik Fika malu dan Fika hanya tersenyum karena atasannya terlihat begitu bahagia.
Manager dan serkertaris itu sekarang berada di dalam mobil menuju tempat makan. Hari ini Emine tidak mood makan di kantor.
Nasehat fika kepada Emine saat di rumah sakit selalu ia fikirkan. Emine sadar, sikapnya meragukan cinta Okan itu terlalu kekanak-kanakan. Saat itu ia tidak bisa bersikap dewasa, Emine tidak mampu memahami profisi kekasihnya. Terbukti saat ini Okan begitu perduli padanya. Setelah kejadian di taman Okanlah yang menjaga Emine siang malam di rumah sakit.
" Nona, di restoran mana kita akan makan?" Tanya Fika saat Emine sudah selesai bicara di telfon.
" Kemana saja boleh. Aku tidak masalah." Jawab Emine sambil memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. Fika membawa Emine ke restoran terdekat agar nanti tidak terlambat kembali ke kantor karena pukul setengah 2 akan ada rapat.
Di tengah perjalanan, dari jarak 15 meter, Mata Emine tertuju pada gadis kecil yang sedang duduk di sisi taman jalan menggunakan seragam sekolah lengkap dengan tas dan rambut dikuncir dua. Gadis kecil itu menatap ke arah mobil yang lalu lalang di depannya dengan menggayung-gayungkan kakinya.
" Itu Cansu." Gumam Emine pelan.
" Siapa Nona?" Fika merespon tapi suara Emine sangat pelan hingga terdengar samar di telinga.
" Hentikan mobilnya!!!" Perintah Emine kini dengan suara yang jelas. Fika langsung mengaktifkan lampu sen dan segera menepi.
Emine turun dari mobil kemudian berjalan ke arah gadis yang wajahnya terlihat murung. Fika tetap diam di mobil dan hanya melihat lewat kaca mobil yang diturunkan.
" Hai Tuan putri cantik. Apa yang sedang kau lakukan disini?" Sapa Emine dari jarak 3 meter dari arah samping.
Suara itu terdengar begitu familiar di telinga Cansu, Ia menoleh ke arah sumber suara. Wanita tidak kalah cantik darinya sedang tersenyum dengan kedua tangan terbuka menjulur kearahnya.
" Kakak,,,,," Cansu berteriak gembira kemudian melompat dari duduknya dan berlari begitu semangat ke arah Emine. Emine menyambut tubuh munggil itu dengan pelukan yang hangat dan erat. Cansu tidak mau kalah, ia membalas pelukan kakaknya 10 kali lipat lebih erat hingga Emine kesulitan bernafas.
Emine segera melepas pelukan itu kemudian tangannya beralih merapikan rambut Cansu yang nampak berantakan dengan menyelipkannya di telinga.
" Cansu, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Emine memegang bahu adiknya.
" Cansu sedang menunggu ayah." Ucap Cansu. Emine tau yang dimaksud ayah itu adalah Dicle. Emine tidak masalah Cansu mau menyebut Dicle ayah karena ia masih kecil dan tidak tau apa-apa. Emine yakin jika Cansu nanti sudah mengetahui siapa itu Dicle maka ia yakin Cansu enggan menyebut pria itu ayah.
" Bagaimana kalau Cansu ikut kakak!!" Ajak Emine.
__ADS_1
" Bolehkah Cansu ikut kakak??" Tanya Cansu begitu semangat dengan senyum lebar mendengar Emine menawarkan ajakan kepadanya.
" Tentu. Ayo kita pergi!!" Emine menggandeng tangan adiknya menuju mobil. Ia mengajak Cansu untuk ikut makan siang di restoran.
" Siapa dia Nona?" Tanya Fika sebelum melanjutkan perjalanannya.
" Dia adalah adik ku. Namanya Cansu." Jawab Emine sembari memasang sabuk pengaman. Fika bisa melihat kemiripan dari segi wajah antara Emine dan anak yang sekarang duduk di kursi penumpang. Cansu bagitu ramah, ia membalas senyum Fika yang menyapa dengan senyum lewat kaca di atas kepalanya.
Di restoran, Emine memesankan banyak makanan untuk Cansu. Meja restoran yang berbentuk lingkaran itu penuh dengan piring, mangkok dan gelas. Ia begitu senang melihat Cansu makan dengan lahap. Pipinya yang sudah cembung terlihat tambah menggelundung karena penuh dengan makanan.
Emine dan Fika tertawa melihat mulut cansu yang belepotan oleh saus. Emine segera mengelap dan membersihkan area bibir adiknya.
" Pelan-pelan saja cantik!! Tidak ada yang akan mengambil makanan mu." Fika menggoda Cansu kemudian Cansu hanya tersenyum polos dan melanjutkan lagi makannya.
Emine memotong iga bakar pesanannya dan menikmatinya santai. Ia tidak henti-hentinya melirik Cansu untuk memastikan gadis kecil itu makan dengan rapi.
" Lihat itu!! Pembunuhnya sudah tertangkap."
" Akhirnya tertangkap juga."
" Hari ini dia di bawa ke persidangan. Itu berarti dia sudah lama di tangkap tapi beritanya baru muncul sekarang."
" Aku berharap dia di hukum mati!!"
" Lebih baik di penjara seumur hidup agar ia menderita di jeruji besi."
Tiba-tiba restoran itu ramai oleh suara-suara pengunjung. Pandangan mereka semua tertuju pada layar TV yang terletak di pojok. Emine sampai menghentikan pisaunya yang masih terselip di daging sapi. Mendengar kata pembunuh membuat hatinya tersapu rasa was-was. Fika sudah lebih dulu mengarahkan pandangannya ke siaran berita yang ditayangkan secara live. Tv itu terletak di belakang Emine sehingga ia harus memutar tubuhnya untuk melihat hal apa yang sampai menarik perhatian semua pengunjung restoran.
Awalnya hanya terlihat sekerumbunan wartawan dan juru kamera memenuhi layar tv itu. Mereka berada di depan gedung pengadilan istanbul. beberapa polisi mencoba membubarkan para wartawan yang menghalangi jalan untuk masuk ke dalam gedung. Punggung pria yang menggunakan baju khas tahanan mulai berhasil di sorot. Mata Emine semakin menegang, jantungnya berdengup kencang, ia mencengkram keras bahu kursi di sampingnya dikala lensa kamera berhasil menampakan wajah pria dengan borgol di tangan dan saat ini sudah memasuki gedung dengan kaki pincang.
Emine sangat terkejut saat mengetahui pria itu adalah kakaknya. Matanya membulat tak percaya dengan berita yang disuguhkan siang ini. Berita ini hampir ada di setiap chanel dan menjadi tranding topik di mana-mana. Tidak cukup dengan kenyataan penangkapan kakaknya kini Emine kembali di kejutkan saat siaran itu memperlihatkan sekilas pria yang sangat hangat di mata. Terlihat Okan berjalan memasuki gedung dengan anggota polisi di belakangnya mengekor.
Emine mengambil tasnya di kursi kemudian pergi tergesa-gesa dengan perasaan yang sudah hancur lebur. Fika dengan cepat menarik tangan cansu membawanya pergi menyusul Emine yang tiba-tiba pergi tanpa sepatah kata setelah melihat berita itu.
Emine mengambil alih bangku kemudi, Fika hanya bisa diam tidak berani mengutik Emine yang nampaknya sangat marah dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Fika tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada atasannya.
" Batalkan rapat hari ini!!!" Perintah Emine ditengah aksi mengemudianya dengan kecepatan di atas rata-rata. Fika begitu takut, jantungnya terasa ingin copot, jiwanya pun seperti hampir lepas dengan raganya. Hal itu karena Emine mengemudi dengan sangat ganas. Ia bahkan berani menyalip di celah sempit di antara kendaraan yang berpapasan dari arah berlawanan. Cansu sampai terombang ambing di buatnya meski sudah mengenakan sabuk pengaman.
" Tapi Nona rapat tidak bisa di batalkan secara mendadak seperti ini. Perusahaan bisa rugi. Tuan Ahmer tidak akan senang, takutnya kerjasama perusahaan dibatalkan olehnya." Jelas Fika membranikan diri membantah Emine.
Emine menatap Fika tajam. Baru pertama kali dirinya mendapatkan tatapan menakutkan itu. Biasanya mata Emine selalu memperlihatkan ketenangan dan sekarang tidak lagi.
" Aku yang akan bertanggung jawab soal itu." Ucapnya meyakinkan tapi pandangannya mengintimidasi.
" Baik Nona." Takut akan tatapan itu, Fika segera menghubungi serkertaris Tuan Ahmer dan membatalkan rapat hari ini.
Tiba di gedung pengadilan, Emine berlari memasuki bangunan itu. Fika menggandeng tangan cansu dan terpaksa harus menyesuaikan langkah agar bisa menyusul atasannya. Emine berhenti saat berpapasan dengan seseorang yang mengenakan baju hakim. Ia bertanya dengan orang itu dimana ruangan persidangan kakaknya berlangsung. Setelah mendapat jawaban, ia kembali berlari. Fika dan Cansu mengikuti Emine dengan nafas terengah-engah karena tidak terbiasa berlari seperti di kejar anjing.
__ADS_1
Dua penjaga berdiri di pintu masuk ruangan. Emine ingin masuk tapi tidak di ijinkan.
" Tuan aku mohon ijinkan aku masuk!! Aku mohon tuan." Minta Emine mengatupkan kedua tangan di depan dada. Ia terlihat begitu kacau.
" Maaf Nona, persidangan sudah di mulai. Anda tidak bisa masuk." Penjaga itu bersikeras tidak memperbolehkan Emine masuk.
Emine terlihat semakin kacau, ia terus memelas. Bahkan ia memaki-maki penjaga itu. Otaknya sudah tidak bisa berfikir dengan jernih, mulutnya juga tidak bisa dikontrol. Fika berdiri di belakang Emine menatap wanita itu penuh iba meski tidak tau apa yang menyebabkan Emine seperti ini. Kemarahan dan kesedihan menjadi satu.
Fika berjalan mendekati penjaga itu kemudian ia berunding disana. Emine menatapnya penuh harapan. Entah apa yang dikatakan Fika, penjaga itu mengijinkan mereka untuk masuk.
" Nona, jangan membuat dirimu terlihat seperti ini." Fika merapikan rambut dan dres Emine sebelum masuk setelah itu mereka berjalan mendekati pintu lalu masuk kedalam tanpa menyita perhatian orang-orang yang sudah berada disana.
Belum sempat duduk tapi mata Emine sudah menitikan air mata ketika melihat punggung kakaknya duduk menghadap 3 hakim di depan. Melihat Emine menangis dengan tubuh yang mulai lemas, Fika langsung menuntun Emine untuk duduk. Mereka duduk di kursi paling belakang. Okan duduk paling depan, ia tidak mengetahui kedatangan Emine kemari.
Emine begitu sakit hati karena Okan telah membohonginya dengan menutupi kenyataan ini. Ia sangat marah tapi kesedihan lebih dulu menguasai dirinya. Air matanya mengering dengan sendirinya. Ia menyaksikan persidangan Orsan dengan perasaan yang cemas. Emine takut ketua hakim akan menjatuhkan hukuman berat.
" Kenapa? Kenapa Okan tega melakukan ini padaku?" Gumamnya dalam hati tidak sadar meneteskan air matanya kembali.
Kekecewaan Emine terhadap kekasihnya begitu dalam hingga setiap kali ia mengingat Okan dadannya terasa amat sesak. Emine kembali mencekram bawahan dresnya untuk menahan hatinya yang terasa pilu hingga dresnya berubah kusut menyamai perasaannya siang itu di ruang persidangan.
*
*
*
Ooalah,,, udah main bersambung aj😂
Yang sabar yang sabar ya!!!
Tunggu next up'a yg pasti makin seru dungs.
Lama bener upnya thor??
Klo mau cepet up, tembusin dulu dong like +100 di ep sebelumnya!!
Itung² pakek penyemangat author nulis😇
Kasian kan jari jemari author ngetik sampek ribuan kata:v
Parahnya lagi otak ku, ku paksa buat berimajinasi:(. Bisa² mampet ni otak
Dan gak lupa buat mata tersayang yang lelah mantengin hp tapi ttp dipaksain begadang😊
Ehhhh ternyata cuma dapet like dikit😑
Kan bombayy yak😩
__ADS_1