Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Perayaan Kenaikan Pangkat. Part 1


__ADS_3

Pagi ini kejutan besar menghampiri 3 polisi itu. Jendral Sam memberitahu mereka bahwa hari ini adalah kenaikan pangkat mereka akan dilaksanakan secara resmi.


Okan, Murat dan Tiras bergegas berangkat bahkan tak sempat memberi tahu kabar baik ini pada siapa pun karena terlalu mendadak dan tak terduga.


PROKkkkkkk,,,!! PROKkkkkk,,,!! PROKkkkk,,,!!!


Tepuk tangan meriah dari para polisi lainnya yang menghadiri acara resmi ini saat sebuah pin di pasang di dada ke 3 polisi itu. Jendral Sam sendiri yang memasangkannya. Dengan sikap sempurna terlihat sangat gagah, ke tiga polisi itu menerima pin dengan rasa bangga.


Jendral Sam beserta polisi lainnya yang memiliki pangkat lebih tinggi menyelamati ke tiga plolisi itu dengan berjabat tangan. Sedangkan polisi yang pangkatnya dibawah menyelamati dengan menunjukan sikap sempuran memberi hormat.


Acara kenaikan pangkat berjalan dengan sukses tidak memakan banyak waktu. Satu persatu polisi keluar ruangan setelah memberi ucapan selamat.


" Selamat kawan, selamat kawan. Wahhhh,,, aku tidak menyangka Jendral Sam akan menepati janjinya." Ketiga polisi itu berpelukan dengan senyum bahagia.


" Ini adalah hasil kerja keras kita selama satu tahun lebih. Ahhhh,,,, rasanya melegakan akhirnya bisa tidur dengan tenang." Ucap Murat.


Okan hanya tersenyum, ia tidak sepenuhnya senang. Mengingat Orsan adalah kakak Emine.


" Bagaimana kalau kita rayakan hari yang bahagia ini??" Saran Tiras.


" Tentu. Itu harus. Iya kan kawan?" Jawab Murat sembari merangkul bahu Okan menunjukan ucapan itu padanya.


Seketika bayangan saat di bar lewat di atas kepalanya.


" Tidak, Tidak!!! Aku tidak ingin kejadian memalukan di bar itu terulang lagi. Ahhhh,,, Aku merinding memikirkannya." Okan menggeliatkan tubuhnya karena merinding.


" Kalau begitu jangan minum!! Kita memanggang saja!! Minuman kita batasi!!" Murat memberi ide.


" Siapa yang bisa menjamin kita tidak hilang kendali saat melihat minuman?? Kau seperti tidak tau sifat pria saja saat melihat minuman beralkohol itu." Ucap Okan.


" Hmmmm." Murat berdehem karena ucapan Okan benar.


" Kalau begitu kita undang kekasih mu!! Ohh itu juga,,, siapa ya?? Ahhh aku lupa. Tiras, siapa nama wanita yang membawa kita saat mabuk waktu itu??" Tanya Murat.


" Nona Fika."


" Ahh itu dia."


" Apa kau ingin aku dibunuh hah? Emine tidak akan membiarkan kita minum." Okan masih terbayang senyum Emine yang mengerikan saat waktu itu.


" Ayolah Okan. Dia pasti mengerti. Hari ini adalah hari yang membahagiakan, perlu dirayakan. Dia bisa mengingatkan kita untuk tidak minum banyak." Murat meminta.


" Hemmm... Baiklah. Tapi kau yang bicara padanya!! Aku tidak mau." Okan pergi meninggalkan mereka berdua.


" Oke, sip. Hahahaha,,,, ketua itu takut dengan kekasihnya." Murat tertawa saat Okan sudah.menjauh. Tiras hanya tersenyum tipis kemudian ikut pergi.


Murat menghubungi Emine via telfon.


" Ayolah Nona Emine, hari ini adalah hari membahagiakan bagi kita." Ucap Murat merayu Emine dari balik telfon.


" Aku tetap tidak ijinkan. Apa kau tidak ingat aku sampai kehilangan muka karena ulah kalian bertiga?? " Balas Emine tidak setuju karena masih trauma dengan kejadian memalukan itu.


" Karena itulah Nona aku mengundang anda. Nona bisa mengingatkan kita nanti atau mencegah jika kita tidak bisa mengontrol diri. Jadi kita tidak akan sampai mabuk." Murat berusaha menjelaskan.


" Hemmmm,,,, Baiklah. Aku akan datang. Kirim saja lokasinya!!" Akhirnya Emine setuju.


" Kau sungguh wanita yang pengertian Nona." Puji Murat setelah mendapat apa yang ia inginkan. " Baik akan aku kirimkan alamatnya."


Emine berdecih mendengarnya lalu segera mematikan panggilan.


Tidak lama kemudian lokasi di kirim. Sebuah tempat di pesisir pantai. Emine tau tempat itu dan segera meluncur bersama Fika.


*


Lokasi yang dipilih ketiga polisi itu sungguh menakjubkan. Dari tempat perayaan dilaksanakan mata bisa langsung memandangi keindahan pesisir pantai sekaligus laut biru di depannya. Pohon kelapa berjejer rapi menjulang tinggi daunnya menari-nari terbawa hembusan angin.


" Kenapa lama sekali datangnya kekasih mu itu?? Kita tidak bisa memanggang daging jika dagingnya tidak ada." Gerutu Murat. Hampir satu jam Emine belum juga datang.


" Kau pikir Emine datang kemari dengan helikopter hah? Dia harus mampir ke supermarket untuk membeli daging. Lagi pula siapa yang menyuruh mu melupakan bahan utama? Ahhh,,, dasar pria tukang protes." Okan membela Emine.


" Cihh,,, dasar budak cinta." Balas Murat dengan suara pelan.


Tiba-tiba terdengar suara mobil. Ansumsi mereka pun langsung berkata bahwa itu Emine.


" Sudah datang." Ucap Tiras.


Ketiga polisi itu menatap jalan masuk kesini. Menunggu Emine menampakan dirinya setelah membuat mereka menunggu lama.


" KEJUTAN,,,,,,!!!!" Seorang gadis memberi kejutan kususnya untuk Okan.

__ADS_1


Okan pun menatap tidak percaya siapa yang berjalan ke arahnya sekarang dengan khas wajah ceria dan senyum lebar.


Bukan Emine dan Fika tapi Meli yang datang secara tiba-tiba.


Meli langsung memeluk Okan dengan erat namun pria itu segera mendorong tubuh Meli.


" Aishhhh,,, Jangan memeluk ku terlalu erat!! Bisa mati aku dasar bocah." Ucapnya kesal.


" Aihhhh,,, kakak ini tidak senang ya melihat ku kembali?? Aku ini adik mu bukan musuh mu. Apa kau tidak merindukan adik manis menggemaskan mu ini?" Meli menunjukan wajah imutnya.


" Menjauh dari ku!! Kau membuat ku mual. Huekkk,,,," Okan sengaja membuat Meli kesal.


" Aaaaaa,,,, dasar kakak menyebalkan. Aaaaaa,,,,, jahat. aaaaa,,,,," Meli merengek kesal menghentak-hentakan kakinya.


" Hahahhaha,,,, Sudahlah Okan!! Jangan terus menggoda adik mu!! Dia terlalu manis bahkan saat cemberut pun masih terlihat manis." Ucap Tiras menimpali.


" Aaaaaa,,, kakak Tiras memang paling ter the best. Tidak seperti pria XX itu." Meli menghampiri Tiras dengan manja kemudian memeluknya. Meli sudah dianggap seperti adiknya sendiri.


" Kau hanya memeluk Tiras? Tidak memeluk pria yang sudah memberitahu mu dimana posisi Okan sekarang?" Tiba-tiba Murat protes.


" Ohhh iya aku lupa. Trimakasih kakak Murat ku yang baik hati tidak seperti pria XX itu." Meli melompat beralih memeluk Murat.


" Ya,,,!! berhenti memanggil ku pria XX!! Aku punya nama. Lagi pula aku ini kakak mu. Dasar bocah tidak sopan." Ucap Okan.


" Aku tidak perduli. Blekkkkkkk,,,,," Meli meledeki Okan dengan menyulurkan lidahnya,menarik kantung matanya ke bawah, kemudian memutar bola matanya ke atas hingga terlihat sangat lucu. Tiras dan Murat tertawa dibuatnya tapi tidak dengan Okan.


" Kemarilah!!!" Okan menjentikan jarinya meminta Meli datang.


" Tadi suruh menjauh sekarang memanggil ku. Apa kakak kira aku ini anak anjing yang penurut??" Meli memasang wajah masam melipat kedua tangannya di depan perut.


" Aissss,,, cepat kemarilah!!"


" Ayo Meli. Kakak mu memanggil." Ucap Murat.


Meli meju selangkah demi selangkah, kedua tangannya disembunyikan di belakang memberi kesan menggemaskan hingga sampai di depan Okan.


Cetak,,,,,!!! Okan menyentil dahi gadis imut itu sampai Tiras dan Murat tidak tega melihatnya meringis kesakitan


" Aaaaaa,,,sakit!!" Pekik Meli refleks mundur mengusap-ngusap dahinya kasar.


" Anak nakal. Siapa yang mengajari mu memeluk sembarang pria seperti itu hah? Mereka itu buaya air tawar yang membahayakan. Jangan sembarangan memeluk pria, kau mengerti?!" Tegas Okan.


" Sialan. Dia mengatai kita buaya. Kita buaya kau pun juga buaya." Dengus Murat dan Tiras tidak terima.


" Tidak mau." Meli menolak takut disentil.


" Jika tidak mendekat kakak kirim kembali kau ke Belgia." Okan mengamcam.


" Aisss,,,, Baiklah,,,baiklah." Meli pun mendekat siap dengan tameng pelingdung untuk mengantisifasi jikalau dahinya di sentil lagi.


" Lamabat sekali." Dengus Okan. Ia langsung memeluk adiknya itu. Tentu karena ia juga rindu.


" Hihihihi,,,, Aku tau kakak merindukan ku. Siapa yang tidak merindukan gadis imut seperti diriku Ini. " Meli membanggakan diri. Okan tidak protes karena yang dikatakan Meli benar adanya.


Murat dan Tiras turut senang melihat hangatnya persaudaraan mereka walaupun mereka sering bertengkar karena hal


konyol. Murat dan Tiras belum tahu alasan kepulangan Meli ke Turki sekaligus belum tahu sahabatnya itu akan segera menikah.


" Heiii,,, Jangan lama-lama memeluk ku kak!! Nanti calon kakak ipar ku salah paham." Peringatan Meli.


" Katakan saja kau tidak mau dipeluk kakak mu ini kan?" Okan jadi kesal.


Sedangkan di sudut tempat itu sudah berdiri sedari tadi 2 orang wanita dengan tas belanja di tangannya.


" O, Siapa itu yang dipeluk Tuan Okan?" Tanya Fika melihat kedepan kemudian melempar pandangannya pada Emine.


Emine melebarkan matanya yang berapi-api ke arah pria yang sedang berpelukan. Deru nafasnya sudah memburu. Wajahnya memerah seperti tomat. Jika ini adalah sebuah adegan film komedi maka sang editor akan menambahkan efek tanduk di kepala Emine sakaligus efek asap keluar dari hidungnya. Pasalnya Emine sudah mirip banteng yang melihat kain merah di kibarkan di depannya.


Fika menelan ludahnya dalam-dalam.


_- Wahhh,,,, Selamat tinggal Tuan Okan. Senang bertemu dengan anda. Semoga di kehidupan selanjautnya anda lebih beruntung lagi. _- Melihat Emine seperti ini sepertinya Okan tidak akan selamat, fikir Fika.


" Bawa ini!!" Emine menyodorkan tas belanjanya ke tubuh Fika hingga tubuh Fika terdorong sedikit. Ia bisa merasakan tingkat kemarahan Emine berada di level teratas.


Emine berjalan dengan langkah kaki cepatnya menghampiri Okan. Tidak ada yang menyadari kedatangan Emine hingga suara teriakannya membuat semua orang menoleh kebelakang.


Okan pun melepas pelukannya. Belum sempat ia melihat jelas siapa yang datang namun serangan sudah mendarat di tubuhnya tanpa ampun.


" Yaaaaaa,,,!!! Pria sialan. Berani sekali kau memeluk wanita lain di belakang ku. Cinta? Cinta apanya cinta? Inikah yang namanya cinta? mati kau hari ini. akan ku bunuh

__ADS_1


kau."


Emine memukuli Okan dengan High Heels berhak tinggi seperti memang akan membunuhnya.


" Hentikan!! Kau salah paham. Aghhhh,,, sakit. Hentikan!! Sadarlah kau bisa membunuh ku nanti."


Okan meringkukan badan melindungi diri dan juga kepalanya dengan tangan. Dari suaranya ia sudah tau siapa itu. tidak pernah terbayang Emine akan berubah agresif seperti ini. Ahhhh,,,, pasti ini karena bawa'an bayi begitu gumamnya sembari turus meringis kesakitan.


Meli berkedik ngeri melihatnya. Ia sadar yang memukuli Okan adalah calon kakak iparnya yang sedang terbakar api cemburu.


" Kakak, hentikan dia!! Kasihan kakak ku." Minta Meli pada Tiras mengasihani nasib malang sang kakak tercinta.


Sebenarnya ini kejadian langka. Bertahun-tahun hidup bersama Okan baru pertama kali mereka melihat pria dingin itu dipukuli wanita bahkan dengan sepatu. Kejadian ini sungguh memalukan jika rekan polisi yang lain melihatnya bisa hancur karisma seorang Okan Gulbahar.


"Nona Emine, hentikan!! Kasihan Okan. Ayo hentikan!!" Tiras menarik tubuh Emine sekitar 1 meter.


Okan menegakan kepalanya masih menahan sakit. Terlihat jelas dari ekspresinya yang kesakitan.


_- Emine? Namanya sama seperti Emine teman ku. _- Gumam Meli yang belum melihat wajah wanita yang mendepaninya.


_- Ahhh sial. Sepertinya aku butuh perawatan. Tulang-tulang ku hancur semua. Ahhhh,,,, _- Ringis Okan.


Emine membuang wajahnya kesal ke suatu arah tidak mau melihat wajah Okan yang bisa membuatnya naik darah meski pria itu sedang kesakitan.


" Kau salah paham." Okan mencoba meraih tangan Emine namun di tepis kasar.


" Jangan menyentuh ku!!!" Perintahnya.


" Emine,,, dia itu adik ku. Kami baru bertemu setelah beberapa tahun. Apa salah jika aku merindukannya??"


Deg,,,,,!!!! Mata Emine kembali membulat.


Fika yang berdiri paling belakang tertawa karena mungkin Emine akan merasa sangat malu dengan tindakannya.


" A~adik mu? " Terbata-bata.


" Iya sayang. Dia adalah adik ku." Okan masih bisa bersikap sabar tidak menunjukan wajah kesalnya.


_- Ahhhh,,, Emine. Apa yang sudah kau lakukan? _- Gumam Emine.


" Hemmmm,,,, maaf. Kau tidak memberitahu ku." Ucap Emine tanpa ekspresi bersalah. Andai tidak ada orang disini ingin sekali rasanya Okan menghabisi Emine di tempat tidur.


" Hmmm. Meli!! Kemarilah!!" Okan memanggil Meli bermaksud memperkenalkannya. Meli pun mendekat dengan wajah canggungnya karena telah menjadi peyebab pertarungan tadi. Sedangkan Emine berbalik menghadap Meli.


" Emine?!"


" Meli?!"


Mereka berdua sama-sama terkejut.


" Aaaaaaa,,,,, aku merindukan mu. Aku sangat merindukan mu." Teriak Meli bersemangat.


" Aku juga."


Mereka berdua saling berpelukan erat bahkan sampai melompat-lompat kegirangan.


Semua orang yang melihat mereka berkerut kening. Tidak menyangka Emine dan Meli ternyata sudah saling mengenal.


Tiba-tiba ada seorang tamu yang tak diundang datang.


" Hmmmmmm,,,,, Apa aku boleh bergabung dengan kalian? Sepertinya menyenangkan." Entah darimana datangnya Serin mengagetkan semua orang.


Emine dan Meli berhenti melompat-lompat kemudian menatap ke sumber suara.


" Ahhh,,, Serin kau juga datang. Tentu. Mari bergabung denga kami!! Perayaannya belum dimulai. Ayo sini!!!" Emine menggandeng ramah tangan Serin.


Suasana pun berubah canggung.


" Aku berjalan-jalan di pantai ini mencari angin segar kebetulan melihat kalian disini. " Ucap Serin memberi alasan.


_- Aishh,,,,, kenapa kak Serin datang kesini sih?? Aku yakin dia pasti ingin mengganggu kakak ku dan Emine. Ihhhhh,,,menyebalkan sekali jika melihat wajah sok baiknya itu. Aishhh,,,,, _- Gumam Meli.


_- Bukannya dia wanita sombong yang aku temui di rumah sakit? Ternyata dia adalah teman Nona Emine. Hmmmm,,,, sepertinya ada yang tidak beres dari wanita ini. Di sini dia terlihat seperti wanita baik tapi di rumah sakit jelas sekali dia wanita angkuh bahkan juga menghina ku. Aku harua berhati-hati padanya._- Gumam Fika.


*


*


*

__ADS_1


Serin udah punya 2 musuh😂.


Jangan lupa di like + Komen + vote ya!!


__ADS_2