Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Setelah kepergian Ibu.


__ADS_3

Pemakaman Fifan telah usai. Semua yang mengiringi almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya sudah pulang ke rumah masing-masing. Bibi Emine juga masih syok dengan kepergian adiknya yang tiba-tiba jadi dirinya sendiri belum bisa menenangkan Emine yang masih terpuruk dalam kesedihan.


Dicle sendiri telah mendekam di penjara. Mendapat ganjaran atas perbuatannya. Pria itu memohon untuk di bebaskan karena kekasihnya sedang hamil.


_- Hahahaha,,,,Persetan dengan semua itu. Aku tidak perduli. Mati pun aku tidak sudi mengasihani mu. _- Begitu respon Emine.


Cansu tinggal di rumah Emine. Kakek tua yang merawat Cansu karena Emine sibuk mengurung dirinya di kamar jarang keluar dan hanya keluar bila ada keperluan setelahnya ia kembali lagi ke kamar. Semua orang jadi cemas dibuatnya. Emine bahkan mematikan lampu kamarnya, membiarkan dirinya hidup dalam kegelapan. Itu adalah salah satu bentuk permintaan maaf pada almarhum ibunya.


10 hari telah berlalu sememjak kepergian Fifan. Bahkan tanggal pernikahan Emine sudah di tetapkan namun wanita itu seperti tidak punya alasan untuk tersenyum apalagi bahagia


5 hari lagi adalah pesta pernikahan Emine dan Okan. Undangan akan di sebar 2 hari sebelumnya. Persiapan pernikahan termasuk gedung sudah di tangani kakek tua. Tamu yang hadir dibatasi jumlahnya karena masih dalam kondisi berduka.


Okan baru memberitahu adiknya setelah tanggal pernikahannya di tetapkan. Meli gadis yang tak seatap sekaligus tak se negara dengan kakaknya itu pun terkejut. Ia langsung terbang ke Turki. Okan tidak memberi tahu Meli siapa calon kakak iparnya. Meli penasaran sekaligus kawatir. Ia berdoa di sepanjang perjalanan semoga bukan Serin yang dinikahi kakaknya.


_- Jika kak Serin yang dinakahi kakak maka aku bersumpah akan menenggelamkan diriku ke dasar laut. _- Dari kecil Meli tidak pernah menyukai Serin meski mereka tumbuh bersama. Tentu dia membenci Serin bukan tanpa alasan.


Sedangkan Velief juga sudah diberitahu duluan sebelum undangan tersebar. Namun sayangnya Velief tidak bisa datang karena masih takut untuk menginjakan kaki di Turki. Ia pun mengirim Ozgur untuk mewakilinya. Tak lupa ia mengucapkan bela sungkawa dan permohonan maaf karena tidak bisa hadir pada Emine lewat video call beberapa hari yang lalu.


Semua orang sudah memulai aktivitas mereka seperti biasanya namun tidak dengan Emine.


Belakangan ini Okan sering datang bahkan menginap di rumah kakek tua untuk memastikan kondisi Emine tidak memburuk karena wanita hamil sangat rentang akan masalah kesehatannya.


Sore itu Okan menjemput Cansu dari lesnya lalu kembali ke rumah bersama-sama.


" Bik, apa Emine tidak mau makan??."


Okan melihat asisten rumah tangga yang di pekerjakan kakek tua dari beberapa hari yang lalu membawa nampan penuh makanan keluar dari kamar Emine.


" Nona tidak mau makan Tuan. Sudah saya bujuk tapi tetap menolak. Hari ini Nona baru makan sekali. Saya kawatir melihatnya." Terlihat cemas.


" Tidak apa-apa!! Biar saya saja yang mengantar makanannya. Bantu Cansu untuk berganti pakaian!!"


Mengambil alih nampan itu.


" Baik Tuan."


Okan beranjak menaiki tangga menuju kamar Emine namun ia teringat akan sesuatu. Ia pun berhenti kemudian berbalik.


" Cansu, Kemarilah!!" Panggil Okan tiba-tiba. Cansu pun mendatanginya.


" Cansu tolong bantu kakak ya!! Cansu bawakan makanan ini ke kamar kakak Emine!! " Minta Okan.


Terpikir di kepalanya jika Emine melihat Cansu pasti Emine akan luluh dan kembali bangkit dari kesedihannya. Menguatkan dirinya kembali karena berfikir Cansu sedang membutuhkannya.


" Baik kak. Akan Cansu antarkan."


Nampan itu cukup berat untuk seukuran tangan kecil Cansu. Okan pun mengurangi beberapa makanan meminta asisten menaruhnya di dapur.


" Sini!! Kakak pegangi tas mu."


Okan mengambil tas Cansu dan memberikan nampannya.


Cansu menaiki beberapa anak tangga dari tempatnya sekarang berdiri. Kamar Emine sudah bisa di lihatnya. Pintunya terbuka namun nampak gelap dari luar. 98% anak kecil takut gelap termasuk Cansu. Ia pun berdiri di depan pintu tidak berani melangkah masuk.


" Kakak,,, Gelap. Cansu takut." Ucap Cansu dengan suaranya terdengar ketakutan.


Emine yang duduk dekat jendela yang di tutup rapat itu langsung menoleh ke pintu keluar. Terlihat jelas seorang anak kecil berdiri di sana.


Emine turun dari sana, berjalan ke arah tempat saklar kemudian menghidupkan lampu.


" Cansu kemarilah!! apa yang kau bawa itu sayang??" Tanya Emine dengan senyum menujukan dirinya baik-baik saja di depan Cansu.


" Kata bibi di bawah, kakak belum makan. Cansu bawakan makanan untuk kakak."


Emine langsung meraih nampan itu karena Cansu terlihat kelebihan beban di tangannya. Ia pun sempat tertawa melihatnya. Okan mengamati dari jauh, hatinya baru merasa lega melihat Emine kembali tersenyum.


" Kakak disini ada adik bayi ya??" Cansu bertanya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah perut kakaknya.

__ADS_1


" Cansu tau dari mana??" Emine mengernyitkan dahinya dengan sedikit tersenyum.


" Kakek yang bilang. Katanya sebentar lagi Cansu punya keponakan."


" Bukan sebentar lagi sayang. Tapi masih lama adik bayinya baru lahir." Menggenggam lembut tangan Cansu memberi pengertian.


" Yeyyyy,,,, yeyyyy,,,, Cansu mau punya adik. Yeyyyy,,,,," Anak itu melompat kegirangan. Emine bingung harus berkata apa, sebenarnya ini adalah keponakannya bukan adiknya. Tapi biarlah nanti Cansu akan mengerti dengan sendirinya, fikir Emine.


Melihat Cansu yang nampaknya tidak terbebani oleh kematian ibunya membuat Emine merasa tenang. Adiknya ini sudah kehilangan ayahnya saat masih kecil dan sekarang harus kehilangan seorang ibu. Mungkin sekarang Cansu belum mengerti apa arti kematian yang sesungguhnya.


Cansu adalah alasan Emine untuk menghabiskan semua makanan di nampan. Anak itu mengawasi Emine memastikan kalau kakaknya makan.


" Anak pintar."


Cansu menjijitkan kakinya meraih kepala Emine mengelusnya layaknya seorang ibu kepada anaknya.


Emine pun mengubris tawanya spontan untung tidak tersedak.


" Ada apa ini? Apa kalian berdua melakukan hal yang menyenangkan? " Okan muncul.


Cansu berlari ke arah Okan. Ia nampak semangat.


" Kakak, lihat itu!! Kakak Emine menghabiskan makanannya. Dia anak yang pintar."


" Wahhh,,,, iya. Kakak mu menghabiskan makanannya. Mmmmm,,, Cansu apa kau mau ikut keluar?"


" Kemana??"


" Bersenang-senang."


" Naik wahana?"


" Oke,,,"


Cansu kembali melompat karena senang akan keluar untuk main wahana.


" Baik." Cansu langsung berlari keluar kamar.


" Hati-hati sayang!! Nanti kau terjatuh,,," Teriak Emine kawatir.


Sekarang hanya ada Okan dan Emine di dalam kamar itu. Okan duduk di sisi ranjang bersebelahan dengan Emine.


Okan meminta Emine bersiap-siap namun Emine menolak karena tak ingin pergi. Okan pun memaksa dengan menjadikan Cansu sebagai alasan. Cansu akan sedih jika kakaknya tidak ikut pergi, begitu pria itu


berkata. Emine pun akhirnya luluh.


Kakek tua yang hari ini pulang lebih awal melihat Emine sedang menuruni anak tangga bahkan wanita itu merias dirinya hingga terlihat sangat cantik. Kakek tua bertanya pada Okan yang sedang duduk bersama Cansu di sofa, kemana kalian akan pergi? Cansu menjawab dengan semangat bahwa hari ini mereka akan bersenang-senang. Kakek tua pun ikut senang mendengarnya meski dirinya tidak di ajak. Sungguh kasihan pria tua itu.


Mereka bertiga telah sampai di pasar malam. Tempatnya sungguh ramai baik dengan pengunjung atau pun pedagang.


Baru saja sampai, Cansu sudah seperti anak kucing yang kakinya sedang gatal-gatalnya. Lari sana lari sini. Emine sampai tidak berkedip memantau anak itu agar tidak menghilang. Sedangkan Okan sudah kelelahan mengejar adik iparnya itu yang sepertinya malam ini punya seribu kaki.


" Kakak kakak, lihat itu, lihat itu!!! Aku ingin naik itu." Cansu menarik-narik ujung baju Okan.


Sebuah kereta api kusus anak-anak. Okan pun membeli satu tiket untuk adiknya. Cansu sudah naik ke atas kereta api itu. Ia duduk paling depan. Kapasitas kereta api itu adalah 15 anak-anak. Tidak lama kemudian kerta apinya berjalan memasuki semacam goa buatan yang katanya di dalam sangat indah.


Untuk sesaat Okan bisa duduk dengan tenang sambil menunggu kereta apinya keluar.


" Sayang, dimana Cansu?" Emine datang membawa makanan ringan dan just yang ia beli.


" Disana. Naik kereta api." Jawabnya terlihat lelah.


Emine bisa mencium bau keringat meski tidak melihat ada keringat di bagian wajah Okan.


" Ini akibatnya jika mengajak Cansu ke tempat seperti ini. "


" Lalu kemana lagi aku mengajaknya? Ke tempat pelatihan militer?" Celetuk Okan. Ia bermaksud ingin mengembalikan suasana hati Emine dengan mengajaknya kemari menggunkan Cansu sebagai alasan.

__ADS_1


" Aihhhh,,,, ini minumlah!!!" Menyodorkan sedotan just di depan mulut Okan.


Okan dan Emine berbincang-bincang. Mereka membicarakan rencana pernikahan.


10 menit kemudian kereta keluar dari dalam gua. Emine melihatnya, matanya fokus mencari anak berkuncir kuda menggunakan setelan baju berwarna merah tapi tidak ada.


" Okan, kenapa Cansu tidak ada?" Tanya dengan tatapan masih ke depan.


" Tidak ada maksud mu? Dia disa~~ Ehhhh,,, dia duduk paling depan tapi kenapa bangkunya kosong??" Okan terkejut melihat Cansu tidak ada di tempatnya.


Dengan cepat mereka mendatangi pemilik wahana.


" Tuan, dimana adik saya?" Emina panik.


" Iya Tuan. Anak kecil yang duduk paling depan kenapa tidak ada??" Okan ikut panik.


" Maaf Tuan, Biar saya cek di dalam dulu. Mohon tunggu sebentar!!" Pemilik wahana pergi mengecek ke dalam gua.


" Tidak ada pak. Tidak ada siapa-siapa disana." Pemilik wahana memberi info.


Deg,,,,!!! Mata Emine membulat. Terbayang dipikirannya yang macam-macam.


" Ini salah mu. Kenapa tidak menjaga Cansu dengan benar hah? Sekarang dia hilang. Bagaimana terjadi sesuatu padanya? Hiks,,, cepat cari dia!! Kita berpencar!!" Emine menangis karena takut terjadi sesuatu pada adiknya. Belakangan ini Emine mudah menangis.


" Maafkan aku!! Tenangkan diri mu!! Kita cari Cansu sekarang. Dia pasti ada di sekitar sini. Jangan menangis!!" Okan menenangkan Emine lalu mereka hendak berbalik namun dikejutkan dengan kedatangan sesosak bocah yang berdiri manis dengan permen lolipop ditangannya.


" Astaga Cansu kau dari mana hah? Kenapa menghilang? Sudah kakak katakan jangan pergi jauh-jauh. Tetap bersama kami. Kau ini anak nakal." Emine marah namun setelahnya ia memeluk Cansu.


Okan bingung, Cansu tiba-tib ada di belakangnya. Apa anak ini punya kekuatan berpindah tempat dengan hanya berkata " Yap " Begitu fikir Okan.


" Tapi kenapa kau tidak ada di kerta?" Tanya Okan. Jantungnya tadi hampir berhenti jika Cansu benar-benar hilang. Tidak bisa dibayangkan jika itu terjadi maka bisa dipastikan Emine akan membunuhnya.


" Tadi ada teman Cansu sedang bermain mandi bola jadi Cansu melompat dari kereta dan menghampirinya." Jawab anak itu begitu polos hingga rasanya ingin sekali Okan mencubit gemas jantungnya.


_- Demi Tuhan aku hampir gila dibuatnya _- Gumam Okan frustasi menahan kesal.


Ia sadar hari ini, sepolos-polosnya anak kecil tetaplah ada kenakalan yang tertanam di jiwanya.


Emine pun menatap Okan dengan senyum tidak enak hati karena kelakuan Cansu.


Lelah sudah ketiga orang itu menyusuri tempat yang ramai di malam hari. Emine dan Cansu sangat senang. Emine sudah kembali tertawa dan tersenyum tanpa batas. Bahkan Okan dibuat kuwalahan karena wanita itu menginginkan sepuluh boneka yang terpasang di depan sebuah lapak sebagai hadiah bila berhasil memenangkan permainan menembak .


Seharusnya urusan menembak mudah bagi Okan karena itu sudah menjadi makanannya namun sayangnya tidak seperti itu. Untuk sepuluh boneka Okan seharusnya hanya butuh 10 peluru untuk menembak tepat sasaran tapi kenyataannya ia menghabiskan 50 peluru.


Emine jadi curiga kekasihnya itu adalah polisi abal-abalan.


Berhasil mendapat 10 boneka bukanya di simpan dengan baik Emine malah membagikannya pada setiap anak yang ditemuinya. Okan merasa kesal. Setidaknya simpan 1 boneka saja untuk menghargai usaha ku!! begitu gumamnya.


Akhirnya mereka pulang ke rumah. Okan menginap disana, satu kamar dengan Emine. Tidak hal yang bisa mereka lakukan selain tidur dengan mimpinya masing-masing karena memang sangat lelah.


Emine baru keluar dari ruang ganti. Okan sudah berbaring di atas kasur bahkan sesekali terdengar suara dengkuran.


" Sudah besar tapi cara tidurnya saja masih tidak benar." Ucap Emine sedikit mengeluh tapi ia gemas melihatnya.


Okan tidur tanpa selimut, satu kakinya turun ke lantai dan yang satunya lagi di tempat tidur. Kedua tangannya berada di atas kepala memberi kesan seksi menggoda namun wajahnya terlihat polos dan menyejukan.


Emine segera membenarkan posisi tidur Okan. Menarik selimutnya sampai ke atas dada. Dilihatnya wajah Okan lebih dekat. Wajah yang sebentar lagi akan menjadi ayah dari anaknya.


_- Sangat tampan._-


Setelah itu ia ikut berbaring di samping Okan, memeluk tubuhnya hingga tak sadar ikut tertidur.


*


*


*

__ADS_1


Like!! Komen!! Vote!!


__ADS_2