Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Menyingkirkan.


__ADS_3

Sesuai kesepakatan sekarang Emine sudah berada di tempat yang ditetapkan Serin. Usai pulang dari kantor ia lansung datang kemari.


Tempat ini cukup jauh. Butuh waktu 1 jam untuk menempuhnya.


Emine masih berada di dalam mobil.


Menghidupkan ponsel, tinggal 10 menit lagi.


Emine punya waktu sekitar 10 menit untuk


tinggal di dalam mobil sampai Serin menunjukan dirinya.


Ia tidak berfikir untuk turun dari mobil


sebelum Serin datang.


Pandangan di edarkan kesekeliling. Sangat sepi. Jauh dari permukiman. Anehnya mobil Serin atau tanda-tanda keberadaannya sampai sekarang belum terlihat.


Atau dia sudah datang tapi masih bersembunyi.


Mungkin ingin memberi kejutan.


Ponsel yang diletakan di jok samping tiba-tiba menyala. Menarik perhatian Emine.


Ponsel di raih. Sebuah pesan masuk.


Ternyata benar duga'an Emine itu Serin.


" Emine aku melihat mobil mu. Aku duduk di bangku di bawah pohon pinus. Kemarilah kita bicara di sini!!"


Pesan Serin.


" Cih,,, Bagaimana aku bisa melihat pohon pinus disini? Semua pohon sama saja bentuknya dimalam hari."


Sedikit kesal ia mengoceh.


Dari dalam mobil Emine melihat sekeliling lagi dengan mata disempitkan ke berbagai arah. Mencari pohon dengan bangku di bawahnya. Ketemu, benar Serin sudah ada di sana. Duduk sembari memainkan ponselnya.


Beruntung masih ada beberapa lampu penerangan di beberapa sudut.


Karena minimnya cahaya rembulan yang di tutupi awan malam ini tidak mampu menerangi tempat ini.


Jika tidak mata Emine tidak akan mampu menembus gelapnya tempat aneh ini.


Sebelum turun Emine mencari-cari sesuatu dari dalam mobilnya.


Ketemu, benda itu dimasukan ke dalam saku mantel barulah Emine turun sekarang.


" Aku tidak terlambat kan??"


Refleks Serin melempar pandangan ke depan. Menetap pemilik suara yang tidak asing dengan senyum ramah. Mematikan ponselnya lalu meletakan ke dalam tas.


Bangku yang saat ini di duduki Serin hanya muat untuk satu orang. Jadi Serin tidak mempersilakan Emine untuk duduk. Tapi dirinya yang berdiri.


Sekarang mereka saling berhadapan.


" Serin ternyata selera mu dalam memilih tempat sangat aneh ya. Ternyata kau menyukai tempat menyeramkan seperti ini."


Menatap sekeliling.


Memperlihatkan tempat ini terlalu menyeramkan untuk seorang wanita cantik seperti Serin dengan tatapannya.


Untuk Emine sendiri ia sudah terbiasa dengan dunia malam yang lebih menyeramkan dari ini.


" Memangnya kenapa? Kau takut??"


Mengejek.


Emine tertawa namun tanpa suara.


Baru kemarin wanita di depannya berusaha meminta maaf tapi sekarang sudah mengejeknya. Tidak terlihat sama sekali rasa bersalah dari raut wajah Serin.


Cih,,,,!!! Emine berdecih.


" Sebenarnya aku sudah beberapa kali melewati tempat ini. Dulu tempat ini gelap. Tapi sekarang sudah ada beberapa lampu yang menerangi di beberapa sudut. Ah,,,, Jangan-jangan kau yang menaruh lampu-lampu itu ya??"


Emine membalas mengejek. Dia tahu Serin takut gelap.


Sudah mulai emosi Serin mengepalkan tangannya. Dia sendiri yang lebih dulu mengejek tapi saat Emine membalas dia malah marah.


" Jangan dimasukan ke dalam hati Serin!! Aku hanya bercanda." Menepuk bahu Serin.


" Ayo katakan apa yang ingin kau bicarakan!! Aku tidak punya banyak waktu lagi."


" Lepaskan Okan!! Dia milik ku."


Dengan tidak tahu malunya Serin meminta seseorang yang sudah jelas adalah milik orang lain.


Mengakui sendiri Okan adalah miliknya membuat dirinya sendiri terlihat menyedihkan di hadapan Emine.


Emine merespon dengan alisnya yang di angkat.


Mengernyit mendengar ucapan Serin.


" Hahaha,,, Aku tidak salah dengar kan? Okan milik mu?? Tapi Serin, Okan sudah tidur dengan ku. Bahkan aku mengandung anaknya. Bagaimana ini?? Dari mananya Okan milik mu??"

__ADS_1


Mengetuk-ngetuk dagu seolah-olah sedang berfikir.


Serin semakin geram. Tidak menyangka mantan sahabatnya memiliki lidah yang tajam.


" Sampai saat kau belum masuk ke dalam kehidupan kami dia adalah milik ku. Emine kau tidak tahu malu sekali.


Setelah merebut kekasih sahabat mu sendiri kau masih bisa tertawa."


" Perhatikan ucapan mu Serin!! " Tidak terima dengan perkataan Serin. " Siapa disini yang tidak tahu malu? Aku atau kau?? Okan tidak mencintai mu lagi. Sekarang Okan mencintai ku dan kami sudah terikat dalam hubungan yang sah. Kau memaksakan cinta sepihak mu. Hanya memikirkan diri sendiri."


Andai Serin mengatakan sejak awal hubungannya dengan Okan. Meminta Emine menjauh dari Okan secara baik-baik. Pasti Emine akan melakukannya.


Namun Serin sudah memilih jalan yang salah.


Bahkan untuk mendapatkan Okan ia sampai ingin membunuh sahabatnya.


Sekarang hati Emine sudah kebal.


" Kenapa sekarang kau menyalahkan ku?"


" Okan tidak akan mencintai mu jika kau tidak masuk ke dalam kehidupannya Emine!!"


Serin berteriak.


Emosinya sudah meluap-luap.


Tidak terbendung lagi.


" Pelankan suara mu Serin!! Kau membuat telinga ku sakit. Aku tegaskan pada mu. Seberusaha apa pun kau membuktikan bahwa disini aku yang salah, tetap aku tidak akan melepaskan suami ku. Pertama, Aku mencitai Okan. Kedua, Okan mencintai ku. Ketiga, aku tidak melihat cinta di mata mu untuk Okan.


Yang ada hanya sebuah hasrat untuk memiliki.


Itu sangat egois untuk dikatakan sebagai cinta."


Karena cinta tidak akan memaksa hati untuk dimiliki ataupun memiliki.


Dulu sempat Okan mengatakan bahwa cinta Serin untuknya hanya sebuah obsesi dan


sekarang Emine mengatakan cintanya hanya sebuah hasrat untuk memiliki.


Sampai disana Serin belum juga mengerti yang ia punya memang bukan cinta.


" Oh, baik, baiklah. Kau tidak mau melepas Okan maka aku yang akan memaksamu untuk melepaskannya. Kau yang memilih jalan ini Emine. Jangan menyesal karena ini akan menjadi hari terakhir mu."


Serin dengan senyum liciknya.


Deg,,,,!!!


Emine merasakan ada pergerakan dari berbagai arah setelah Serin mengatakan kalimat terakhirnya.


Menatap sekeliling.


Emine panik namun berusaha bersikap tenang. Mata waspada terus ia berikan pada pria-pria yang tersenyum mengerikan ke arahnya.


Seperti tidak sabar ingin menyerang.


" Serin kau rupanya benar-benar ingin menyingkirkan ku."


" Haha,, Bukankan setiap penghalang itu memang harus di singkirkan?? Sudahlah Emine!! Terima saja nasib mu malam ini!!


Kau sendiri yang memilihnya.


Jangan khawatirkan Okan!! Suami mu itu akan menjadi suami ku. Aku yang akan menggantikan mu."


Tersenyum begitu yakin. Belum tau siapa Emine sebenarnya.


Serin memberi kode pada anak buahnya untuk memulai permainan. Ia menjauh dari tempat itu. Menyaksikan Emine yang mulai di kerumbuni 5 pria dari bawah pohon pinus.


Mata elang yang sudah lama tidak dipakainya sekarang mulai diaktifkan. Dalam kondisi remang-remang Emine mengindentifikasi musuh.


Kiranya siapa di antara kelima itu yang akan maju duluan. Atau Emine akan diserbu secara bersamaan.


Tidak ada pistol. Hanya ada pisau, pentong, rantai besi. Semua itu senjata jarak dekat.


Di saku mantel Emine sudah ada satu senjata mematikan. Pistol, senjata jarak jauh dengan 10 peluru. Point untuk Emine bisa menang.


" Jangan terkejut sayang!! Bersiaplah!! Ini akan sedikit melelahkan. Baik-baik di sana!!"


Emine berbicara pada anak di dalam perutnya.


Pertarungan di mulai. Ketua sudah mulai memerintah satu anak buahnya untuk menyerang Emine.


Mereka fikir akan menang hanya mengerahkan satu anak buah melawan Emine.


Rantai besi dengan panjang satu meter di pecutkan ke udara menuju tubuh Emine.


Dengan ketepatannya Emine berhasil memegang ujung rantai itu, menariknya kuat hingga tubuh yang berada di ujung rantai lainnya ikut tertarik lalu,,,,


Pak,,,Brukk!!!


Menendangnya dengan tenaga penuh hingga tersungkur.


Sontak Serin dan anak buah lainnya terkejut bukan main.


Bagaimana bisa seorang wanita memiliki tenaga seperti itu. Kecepatan dan kelincahananya pun sungguh luar biasa.

__ADS_1


" Apa yang kalian lakukan?? Cepat hajar dia!!"


Serin memerintah anak buahnya untuk bermain kroyokan. Sangat pengecut.


Semua anak buah maju. Lagi-lagi Serin dikejutkan dengan tumbangnya pria-pria berbadan kekar itu.


Tubuh Emine sangat ringan. Bahkan sesekali melayang di udara, meluncurkan tendangan dan pukulan yang akhirnya membuat anak buahnya meringis kesakitan.


Beberapa anak buah yang masih bisa bangkit, bangkit lagi menyerang Emine.


Ada 3 anak buah Serin yang sudah bisa berdiri kemudian menyerang secara bersamaan. Emine berhasil menghindari 2 anak buah di garda depan. Namun 1 anak buah mucul tiba-tiba dari belakang. Emine belum siap dengan posisinya lalu terkena sayatan di lengan.


Mantel yang ia gunakan robek.


Keluar darah dari sana. Warna merah kental yang telah lama tidak ia lihat..


Sial!!! Begitu batinnya memegangi lengan mencoba menghentikan pendarahan.


Melihat Emine terluka membuat Serin bahagia. Fikirnya Emine akan kalah karena sudah cedra.


2 anak buah lainnya ikut bangkit.


Sekarang lengkap sudah anak buah Serin ada 5 dengan senjata mereka masing-masing yang sengaja ditunjukan untuk menakut-nakuti Emine.


Memenangkan pertarungan dari jarak dekat sepertinya sudah sangat tipis.


Bergerak berlebihan pasti membuat lukanya semakin parah.


Terpaksa Emine menggunakan pertarungan jarak jauh.


Tangan Emine tidak kasat mata sudah masuk ke dalam saku mantel.


Memposisikan tangannya pada pegangan pistol, meletakan jari telunjuk di pelatuk.


Anak buah Serin sudah semakin dekat.


Ini saat yang tepat!!!


Ceklek!!! Dor,,Dor,,Dor,,Dor,,Dor,,!!!


" Akkkkkkk,,,,,,"


Brukkkk,,,,,!!!!


Tidak ada satu peluru meleset.


Semua ada di tempatnya masing-masing.


Ini akibatnya jika berani bermain-main dengan Emine.


Emine berjalan ke arah pohon pinus dimana ada seorang wanita berjalan mundur dengan langkah gemetarnya namun terhenti ketika punggungnya berbenturan dengan


batang pohon pinus.


Wanita itu ketakutan setengah mati.


Apalagi semua anak buahnya sudah sekarat. Berjuang untuk hidup saja mereka susah apalagi melindungi Nonanya, Nona Serin.


" Masih ada 5 peluru disini." Menunjukan pistolnya. " Apa kau mau mencoba satu peluru Serin? Setidaknya kau tidak akan penasaran bagaiman rasanya timah panas menembus kulit dan daging mu dan bersarang di sana."


Sekarang sudah mengarahkan pistol tepat


di depan mata Serin.


" Jangan Emine!! Jangan lakukan itu!! aku mohon!!"


Lucunya Serin sekarang baru memohon. Emine tertawa mendengarnya.


" Maafkan aku Serin."


Emine mulai membidik. Serin refleks menutup mata. Tidak bisa berbuat apa-apa.


Melangkah saja ia tidak berani.


Dor,,,Dor,,,Dor,,,Dor,,,!!!


Pyank,,,Pyank,,,Pyank,,,Pyank,,,!!!


Serin masih bisa merasakan jantungnya berdetak. Ada 4 tembakan yang diarahkan Emine tapi ia tidak merasakan apa pun.


Mata di buka perlahan, melihat dirinya sudah mati atau belum.


Sontak Serin terkejut dan semakin takut.


Tempat ini gelap, semua lampu mati.


Hanya ada satu lampu tersisa di ujung sana jauh darinya.


Serin mulai panik. Wanita ini takut gelap.


" Dengar ini adalah peringatan untuk mu. Jangan sekali-kali mencoba untuk berurusan dengan ku!! Berterimakasihlah karena aku masih memberi mu kesempatan untuk hidup."


Ucap Emine lalu pergi meninggalkan wanita yang sudah berjongkok ketakutan.


Emine masuk ke dalam mobilnya. Menurunkan kaca mobil.

__ADS_1


Dorrrr,,,!!!


Menembak satu lampu yang tersisa hingga tempat itu benar-benar gelap gulita.


__ADS_2