Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Masa lalu sepasang saudara.


__ADS_3

Sudah larut malam sejak Okan memberi Meli obat bius.


Gadis itu tidur begitu pulas, sangat polos, terlihat juga seperti tidak ada beban


dalam hidupnya.


Okan keluar dari kamar Meli setelah seharian menemani adiknya.


Sekarang ia ada di balkon, duduk disana.


Bermain dengan fikirannya, mencoba mencari apa penyebab semua ini.


Sudah lama penyakit Meli tidak kambuh dan hari ini begitu tiba-tiba.


" Cuaca sangat dingin, pakai mantel mu jika ingin diam di luar. Bagaimana pun kau juga harus menjaga kesehatan mu!!"


Emine datang dari belakang.


Memakaikan mantel ke tubuh pria yang hanya memaki baju kaos.


Setelahnya ia duduk di samping Okan dengan jarak yang sangat rapat.


Dinginnya udara seolah-olah tidak bisa menembus kulit Okan atau Okanlah yang tidak perduli dengan dirinya sendiri.


" Ya Cuacanya sangat dingin. Aku butuh kehangatan."


Memeluk Emine, menyandarkan kepala istrinya di bahu.


Dalam hati Emine tahu pria ini sedang kacau.


" Aku menemukan ponsel mu di lantai.


Sepertinya Meli melemparnya."


Emine menyerahkan ponsel yang layarnya sudah tidak karuan.


Bisa dilihat dari ponsel ini bagaimana Meli sangat ketakutan tadi pagi.


Jika terlambat sedetik pun, Meli bisa membunuh dirinya sendiri atau orang lain yang ada disekitarnya.


Kejadian 14 tahun silam begitu kental di ingatannya.


" Ada panggilan masuk dari Serin. Sepertinya Meli yang mengangkat.


Aku tidak tahu apa ini ada hubungannya atau tidak. Tapi waktunya bersamaan saat Meli mengamuk."


" Ahhhh,,,, "


Okan mendesah dalam fikirannya apa yang sudah di lakukan mantan kekasihnya itu pada Meli?


" Ada apa?? Apa benar Serin ada hubungannya dengan Meli?"


Emine penasaran.


Melihat ekspresi Okan sepertinya dugaannya benar.


" Aku tidak yakin. Tapi sepertinya iya. "


Hanya dirinya dan Serin yang tahu Meli mempunyai penyakit depresi seperti


ini.


" Boleh aku tahu kenapa Meli seperti itu??"


Sudah di duga Emine akan bertanya.


Emine sudah menjadi istrinya, pantas rasanya wanitu itu tahu kisah masalalu Okan, Meli dan keluarganya.


Okan melepas pelukannya, menatap langit.


Sesuatu yang menyakitkan di masa kecilnya akan ia ingat kembali untuk diceritakan.


Emine menatap wajah Okan yang tidak menatapnya menunggu pria itu mulai bercerita.


" Saat kami kecil ~~"


Flasback On.


Saat itu hari menjelang gelap.


Lampu-lampu rumah termasuk penarangan jalan mulai menyala.


Menerangi malam yang mulai berkuasa di bumi Turki.


Okan berjalan menuju rumah, langkah kakinya dipercepat. Suasana mencekam di sepanjang jalan. Perasaanya tidak enak.


5 Menit yang lalu Meli menelfonnya, anak kecil itu manangis histeris.


Dia terus menyebut ibu, ibu, tapi tidak kunjung bisa menyelesaikan kalimatnya karena terlalu terisak.


Hingga telfon terputus karena tidak ada jaringan.


Sampainya di sebuah gedung bertingkat 20 dimana di lantai 18 adalah rumahnya.


Okan harus menaiki lift agar cepat sampai di apartemen.


Sayangnya gedung itu masih minim fasilitas, Hanya ada 1 lift. Lift kecil itu sudah penuh dengan orang-orang yang baru pulang dari bekerja.


Tidak bisa menampung 1 orang lagi.


Terpaksa Okan menaiki tangga menuju lantai 18.


" Kakak,,, Ibu,,Hiks,,,Ibu,,,,"


Suara itu semakin tajam di telinga Okan.


Ia berlari menaiki anak tangga. Rasa was-was menyelimuti hatinya.


Seperti sudah diberikan kode bahwa ada hal buruk yang sedang terjadi, lampu yang menerangi tangga tiba-tiba mati.


Okan berhenti, melihat sekeliling, semua lampu mati.


Ia abaikan saja kemudian melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Sampainya di depan pintu, Okan langsung masuk.


Pandangannya langsung tertuju pada anak kecil yang menangis di sofa.


Menunduk merangkul tubuhnya sendiri yang gemetar.


" Meli ada apa? Kenapa dengan ibu??"


Tanya Okan cemas.


" Hiks,,, Kakak. Ibu, Ibu di kamar. Ayah memukuli ibu. Hiks,,, kakak tolong ibu!! Aku takut,,, Hiks,,,"


Ini bukan kali pertamanya kepala keluarga itu melakukan kekerasan.


Okan sering melihat ayahnya memukuli ibunya. Dia adalah saksi kekejaman ayahnya sendiri.


Semenjak kehadiran Meli di keluarga ini, ayahnya yang sudah seperti monster itu berubah menjadi iblis kejam yang mengerikan tanpa hati.


" Jangan menangis!! Aku akan membantu ibu. Kau tunggu di sini!! Jangan ikut kakak ke kamar!! Kau mengerti?!"


Tidak bisa membiarkan anak kecil itu melihat apa yang sedang terjadi di sana.


Okan berlari bergegas menuju kamar orangtuanya.


Dari luar sudah terdengar suara keras ayahnya dan suara tangis ibunya.


Terdengar juga suara-suara lain seperti kaca pecah, sesuatu yang di tendang, terikan ketakutan dan yang lainnya.


Sudah dipastikan ibunya di siksa tanpa ampun.


Dor,,,Dor,, Dor,,Dor,,,,!!!! Pintu di gedor.


" Ayah buka pintunya!! Jangan sakiti ibu!! Aku mohon!! Ayah,,, hentikan!! Ayahh,,,,!!"


" Jangan ikut campur Okan!! Jangan buat ayah kesal!! Atau ayah akan memukul mu juga."


Okan tidak takut dengan gertakan ayahnya.


Ia malah semakin membenci pria itu.


Sejak dari dulu Okan ingin sekali membuat ayahnya mendekam di penjara namun ibunya melarang.


BRAKkkk,,,,,,,!!! Pintu terbuka.


Dilihatnya ibunya berhasil keluar dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.


Rasanya Okan ingin menangis.


Luka lembam dan darah memenuhi wanita malang itu.


" Okan kita harus lari dari sini!! Ayo sayang,,, Sebelum ayah mu menangkap kita.!!!"


Tangan Okan di tarik menjauh dari sana.


Meli melihat ibu dan kakaknya.


Ia langsung berlari menghampiri mereka.


Tubuh Meli dan Okan di peluk ibunya, dengan derai air mata seperti ini adalah sebuah perpisahan.


" Sayang, dengarkan ibu!! Kalian harus pergi!! Pergi sejauh mungkin!! Okan, kau jaga adik mu. Dan Meli, sayang putri kecil ibu, berhentilah menangis!! Jangan buat kakak mu kesusahan!! Tempat ini tidak aman. Maafkan ibu tidak bisa bersama kalian."


Girel menggenggam erat kedua tangan anaknya.


Mencoba memberi tahu bahwa ia sangat menyangi mereka.


Awalnya Girel ingin kabur dengan mereka tapi jika mereka bertiga kabur maka suaminya akan mengejar jadi Girel berfikir akan mengorbankan dirinya, membiarkan dirinya di siksa di sini agar kedua anaknya bisa kabur.


Girel menoleh ke belakang. Pria dengan matanya merah itu sudah semakin dekat.


" Okan cepat pergi!! Bawa adik mu!! Cepat!!!"


Begitu berat rasanya Okan melepaskan tangannya pada sang ibu.


Tapi ia terpaksa.


Air matanya pun menetes sembari menarik tubuh Meli menjauh dan pergi dari rumah itu.


" Aku tidak mau. Aku ingin bersama ibu, Hiks,,, Kakak lepaskan aku!! Aku ingin bersama ibu."


Meli memberontak.


" Meli jangan keras kepala sayang!! Turuti kata ibu!! Kau harus pergi!! Ibu berjanji akan menyusul mu. Pergilah cepat!!!!"


Girel berteriak.


" Aghhhh,,,,,"


Girel meringis kesakitan saat suaminya menarik rambutnya kasar lalu membenturkannya di tembok berkali-kali.


Darah mengucur deras dari kepala Girel, tubuhnya lunglai.


" Ibu,,,,"


Teriak Meli.


" Kakak lepaskan!! Kasihan ibu. Hiks,,,"


" Meli kita harus pergi. Ayo kita pergi ke kantor polisi, hanya itu yang bisa membantu ibu."


Percuma rasanya Okan melawan monster itu dengan fisiknya.


" Tidak mau!!!"


Membrontak kuat hingga tubuh Okan terjatuh.


Meli berlari menghampiri ayahnya lalu menggigit kaki pria itu.


" Aghhh,,, Dasar anak sialan."


Tubuh Meli di tendang keras. Pria itu sungguh tidak berhati. Girel ingin menjangkau putrinya namun suaminya lebih dulu mencekik Meli.


Girel tidak berdaya, tubuhnya terlalu lemas.

__ADS_1


Pandangannya juga kabur.


" Anak haram seperti mu harus mati. Kau bukan anak ku."


Meli tersengal-sengal.


Wajahnya membiru.


" Lepaskan adik ku pria brengsek!!!"


Okan tidak mengenal ayahnya lagi. Dengan sekuat tenaga ia memukul tubuh kekar pria itu.


Usahanya berhasil, ayahnya melepaskan Meli meski dirinya di banting keras.


Girel merasa dirinya ibu yang tidak berguna.


Menyentuh anaknya saja tidak mampu apalagi melindunginya. Air matanya meluncur lebih deras melihat kedua anaknya sedang berjuang hidup.


" Dia bukan adik mu. Anak ini adalah hasil perselingkuhan. Kau jangan mencoba melindunginya Okan, ayah peringatkan kau!!!"


Inilah akibat dari cinta yang dipaksakan.


Girel di paksa menikah dengan pria yang tidak ia cintai.


Terlebih lagi dia selalu di paksa untuk mencintai pria yang menyandang status sebagai suaminya itu dengan cara kekerasan fisik. Jadi Girel sudah di siksa oleh suaminya bahkan sebelum Okan lahir karena ia tidak bisa mencintai pria itu.


Hal itu juga yang membuat Girel berpaling dengan pria lain dan akhirnya lahirlah Meli dari hasil perselingkuhan.


Girel tahu ia salah sudah berselingkuh tapi dia tidak tahan lagi harus teru-terusan menderita.


" Aku tidak perduli. Dia tetap adik ku!!!"


Meski sudah tahu Meli bukanlah adik kandungnya tapi itu tidak membuat Okan berada di pihak ayahnya.


" Oh dia adik mu ya?? Sekarang lihatlah apa yang akan ayah lakukan pada adik tersayang mu ini."


Pria itu mengambil pisau buah yang ada di atas meja.


Meli masih lemas bersandar di tembok.


Bahkan suara keributan tadi samar-samar ia dengar.


Meli tidak mendengar saat ayahnya mengatakan bahwa dirinya adalah anak dari hasil perselingkuhan.


Mata Okan membulat dikala ayahnya mendatangi Meli dengan pisau di tangannya.


" Ayah jangan!!!"


Okan berteriak.


BLESSSSS,,,,!!!!


Meli bisa melihat wajah ibunya sangat dekat.


Ibunya bahkan tersenyum, sempat juga Girel mengusap pipi Meli.


" IBU,,,,,!!!!! "


Terikan Okan berlari ke arah dua wanita di sana. Pria yang sekarang sedang memegang pisau penuh darah itu gemetar.


Perlahan mundur lalu melarikan diri.


" Ibu,,, bertahanlah!! Hiks,,, maafkan aku!! Ibu,,,,"


Okan menangis, Meli bingung. Ibunya terlihat biasa-biasa saja. Meli tidak melihat saat ayahnya ingin menusuk dirinya yang kemudian di halau oleh ibunya.


Meli hanya melihat ibunya yang tiba-tiba ada di depannya.


" Okan, jadilah anak yang kuat!!! Lindungi adik mu!!! Jangan menangis!! Kau itu anak laki-laki. Lihat, adik mu saja tidak menangis. Ibu menyayangi kalian berdua."


Girel tersenyum di detik-detik terakhirnya menghembuskan nafas lalu ambruk.


" IBU,,,,,!!!!!"


Okan kembali berteriak.


Menangis histeris, mengguncang tubuh ibunya namun wanita itu sudah tidak merasakan apa-apa lagi.


Tubuh Meli sekarang bergemetar.


Ia ikut mengguncang tubuh ibunya padahal ia tidak mengerti apa yang terjadi.


Hingga darah segar keluar dari balik tubuh ibunya barulah Meli mengerti.


Ibunya sudah tiada.


FlasbackOff.


Sekarang Emine mengerti kenapa Meli dan Okan sangat berbeda.


" Apa Meli menyalahkan dirinya atas meninggalnya ibu mu??"


" Ya, sampai sekarang. Dalam hatinya Meli menyalahkan dirinya tapi fikirannya menganggap dirinya tidak bersalah.


Karena itu terjadi benturan antara hati dan fikirannya hingga membuat Meli depresi berat. Akan lebih baik hati dan fikirannya sejalan."


" Lalu apa yan terjadi pada ayah mu??"


" Aku melaporkannya ke polisi, dia di tangkap. 5 tahun kemudian dia meninggal.


Seharusnya pria itu tidak meninggal semudah itu. Dia harus merasakn penyiksaan yang lebih berat. "


Dari ucapannya saja Emine sudah tahu Okan sangat menbenci ayahnya.


Jika Emine ada di posisi Okan, ia akan melakukan hal yang sama.


" Ternyata ada banyak kehidupan yang jauh lebih menyakitkan dari kehidupan ku.


Kau hebat bisa bertahan."


Okan tersenyum mendapat pujian dari Emine.


Sebenarnya dia merasa tidak sehebat itu, ibunya mati di depan matanya sendiri.

__ADS_1


Udara semakin dingin, sudah sangat larut juga. Okan dan Emine memutuskan masuk ke kamar.


__ADS_2