Wanita Seribu Luka

Wanita Seribu Luka
Strong baby.


__ADS_3

Sebuah keharusan Emine untuk memilih antara cinta dan saudara. Bersembunyi di balik gelapnya malam, ia berubah menjadi sesosok wanita yang menutup mata untuk sebuah cinta. Kehidupan pahit sang kakak membuat Emine tidak bisa membiarkan Orsan tersakiti lagi.


Emine berjalan perlahan mendekati Orsan yang sedang bersandar di batu terus meringis menahan rasa sakit. Okan tidak melepas pandangannya pada wanita yang nampaknya berada di pihak lawan. Okan menyadari pemilik pistol yang mengarah padanya adalah seorang perempuan. Lekukan tubuh yang ramping dan seksi terlihat jelas diterangi oleh sinar bulan purnama malam itu. Sorot mata kewaspadaan Okan merekam setiap gerak-gerik Emine.


" Cepat lari dari sini!!!" Seru Emine menyuruh kakaknya segera kabur. Orsan tidak mengenali suara Emine yang sedang berdiri memunggunginya. Ia sangat penasaran siapa wanita yang bersedia menolongnya tapi keadaan tidak mendukung untuk menemukan jawaban itu. Orsan tidak bisa membuang waktu lagi, ia bangkit sekuat tenaga dengan berpegangan pada batu besar.


Rasa sakit di kaki terasa menyengat saat tubuhnya berdiri di atas bumi.


Orsan menatap sekilas pria dan wanita yang beradu pandang tegang lalu segera pergi dari tempat itu dengan kondisi kaki diseret paksa.


" Sial." Okan mengumpat kesal karena Orsan berhasil kabur sedangkan dirinya tidak bisa berkutik.


Emine menoleh kebelakang memastikan kakaknya sudah benar-benar pergi. Saat Emine menoleh, Okan tidak membiarkan kesempatan lewat begitu saja. Ia mengambil HT yang terhubung kepada semua anggota.


" Buronan kabur ke arah kota." Ucap Okan singkat dan segera mengembalikan HTnya ke saku celana. Kalimat sesingkat itu sudah cukup menjadi petunjuk bagi polisi lainnya. Semua polisi menyudahi pengejarannya masing-masing dan berbalik ke arah kota sesuai petunjuk yang di berikan. Sementara dirinya masih terjebak di situasi antara bisa ikut mengejar Orsan atau malah terbunuh disini karena ia terpojok dengan tangan kosong sedangkan Emine untuk saat ini unggul dengan senjatanya, fikir Okan.


Setelah Orsan hilang dari pandangan, Emine segera melempar pandangannya kembali pada pria yang masih berdiri di depannya. Okan tidak bisa melihat siapa di balik masker itu. Mata Emine pun tidak bisa ia lihat dengan jelas di kondisi seperti ini.


Mengangkat senjata pada keksihnya sendiri merupakan tindakan tidak termaafkan menurut Emine. Ia sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan ditanggung apabila Okan mengetahui dibalik semua ini adalah Emine. Bahkan jika harus kehilangan cinta, Emine siap untuk merelakan Okan dan hidup dalam bayang-bayang cinta dan kebodohannya.


Mata mereka saling mengawasi gerakan satu sama lain. Okan tidak bisa menyerang tapi Emine juga tidak bisa menembak lelakinya dan akhirnya sampai sekarang mereka masih tetap berdiri tidak bergerak.


Di situasi mencekam seperti ini tiba-tiba Emine merasakan sesuatu.


" Ahhhhh,,,, perutku,,, ahhhh sakit sekali,,," Emine meringis pelan ketika perutnya terasa amat sakit. Ia refleks mengerjapkan matanya yang sudah berkaca-kaca.


Okan tidak mendengar ringisan kekasihnya tapi ia bisa melihat tangan Emine yang memegang pistol tiba-tiba melemah. Ini adalah kesempatan emas bagi polisi itu. Okan melakukan penyerangan, ia berlari cepat kemudian menendang pistol Emine hingga melayang ke atas dan jatuh entah dimana. Emine menyadari kelalaiannya langsung membuka mata kembali dan mendapati sebuah pukulan tertuju padanya tapi untungnya Emine bisa menangkis.


Di tengah menahan rasa sakit di perut, Emine bertarung memaksakan diri agar bisa bertahan. Ia tidak bisa membiarkan IDnya terbongkar.


Karena tau lawannya adalah seorang perempuan, Okan sebisa mungkin tidak menyakitinya tapi serangan ganas Emine terpaksa membuat Okan mengimbanginya dengan pukulan dan tendangan.


Emine menerbangkan satu pukulan namun Okan berhasil menghindar sehingga Emine melesat membelakangi Okan.


" PUK,,,Brukkk,,,Ahhhhh,,," Okan menendang punggung Emine hingga Emine kehilangan keseimbangan.


Emine berjongkok di bawah memegang perutnya yang terasa semakin sakit. Ia bisa merasakan Okan sengaja menendangnya pelan namun kondisi Emine sangat lemah hingga tidak bisa menahan tendangan itu.


Saat ini Emine kalah stamina dari Okan. Sebenarnya kemampuan bertarung Emine jauh diatas dibandingkan dengan ketua devisi kasus kriminal yang saat ini memegang kartu AS kemenangan.


Okan berjalan mendekati wanita yang sedang berjongkok. Ia mengira Emine sudah kalah dan tidak punya pilihan lain lagi selain mengungkap jati dirinya. Tapi Okan tidak tau kekasihnya itu punya akal bulus. Emine tetap berjongkok tidak bangkit lagi agar Okan mau mendekat. Saat itulah Emine dengan gesit bangun dan memutar 90 derajat tubuhnya dengan kaki panjangnya menendang wajah tampan sang kekasih. Emine mengerahkan seluruh tenaganya untuk tendangan ini.


" Brukkkkkkk,,,," Okan terhempaskan dan tersungkur di tanah karena serangan mendadak yang ia dapatkan. Keluar darah segar dari sudut bibirnya.

__ADS_1


" Maafkan aku." Ucap Emine terdengar sangat jelas. Emine segera lari dari tempat itu meninggalkan Okan sendiri.


* SLEBBBB,,,,,* Seberkas ingatan muncul kembali.


" Tunggu saja disini!! sebentar lagi ambulan akan datang." sekelebat suara wanita yang menolang Okan di malam ia terluka parah.


" Hanya 5 detik." Sepotong ingatan suara Emine saat memberi tawaran waktu ciuman.


" Maafkan aku." Suara wanita yang baru saja meninggalkannya.


* SLEBBBBB,,,,* Ingatan tertutup.


Okan baru menyadari suara ketiga wanita itu sama persis. Pemilik suara itu hanya 1 orang. Wanita yang menolongnya malam itu dengan wanita yang ia temui malam ini memiliki ciri-ciri yang sama. Dan Emine, Okan tau Emine memiliki sisi lain yang berusaha ia sembunyikan. Okan menarik sebuah kesimpulan dari teka-teki ini.


" Emine, jadi ini adalah dirimu." Gumam Okan sudah menyadari kedua wanita itu adalah Emine kekasihnya. Okan segera bangkit dan mengejar Emine.


Di tempat yang berbeda, Emine sudah tidak mampu lagi untuk berlari.


" Aghhhhh,,,, Sakit,,,Ayahhh,,," Teriak Emine menangis memegangi perutnya.


Emine bersandar di sebuah pohon. peluh dan air matanya mengucur menjadi satu. Rasa sakit ini melebihi rasa sakit saat terkena 2 tembakan di kaki dan di lengan. Emine terus menjerit-jerit namun siapa yang akan datang menolong di tempat sunyi seperti ini.


" Ahhhh,,,, Ayah,,,Ibu,,, sakit sekali." Ringisnya lagi. Emine mengeluarkan rintihannya berharap rasa sakit di perutnya cepat membaik. Ia tidak tau apa penyebab semua ini. Emine berfikir tidak mungkin tidak makan sehari adalah penyebabnya. Emine tidak tau bahwa ada janin yang berusaha bertahan hidup ditengah kecerobohan ibunya yang tidak makan sehari, berlari menyusuri danau bahkan bertarung tanpa sadar sudah membuat anaknya yang belum genap sebulan harus menahan rasa sakit. Belum lahir tapi sudah merasakan bagaimana melewati kerasnya dunia sang ibu, sungguh kasihan bayi kecil itu.


" Dimana kau Emine?" Ucapnya bingung kemudian melanjutkan pencarian.


Di sebuah tempat, Okan berdiri tepat dibelakang pohon dimana Emine sedang bersembunyi. Ia yakin suara itu berasal dari sini.


Emine merasakan ada yang datang, ia mendengokan kepalanya dan melihat Okan sedang menyibak-nyibak semak-semak mencari dirinya. Emine menutup mulut dengan tangannya agar suara tangisannya tidak terdengar dan Okan tidak bisa menemukan keberadaan Emine sekarang.


Okan tidak menemukan kekasihnya di balik semak belukar ini. Bahkan tanda-tanda Emine tidak terdeteksi. Okan merasakan ada hal buruk yang sedang terjadi dan pikirannya tertuju pada Emine. Jiwanya tidak tenang memikirkan Emine. Entah apa alasan kegelisahannya saat ini Okan tidak tau. Resah dan gelisah bercampur aduk di hatinya.


" Aku tau kau bersembunyi dari ku Emine." Gumamnya dalam hati.


Rasa sakit di perut Emine semakin mengganas. Ia tidak bisa menahan rasa sakit yang teramat luar biasa. Emine merasakan ada yang keluar meresbes dari vagi*anya. Terasa basah dan sangat lembab tapi ia tidak tau apa itu. Emine tidak tahu ada darah yang kelaur dari vagi*anya.


" Aku tidak kuat lagi." Gumam Emine lirih. Tangannya yang digunakan menutup mulut kini jatuh lemas di tanah menggambarkan ia tidak mampu lagi bertahan. Mata Emine perlahan tertutup. Emine tidak mampu mempertahankan kesadarannya lalu pingsan di bawah pohon.


" JEDARRRRRR,,,,," Suara keras petir mengejutkan alam malam yang sedang tertidur tenang. Angin berhembus kencang dari arah barat menuju timur menggoyang-goyongkan pepohonan dan lalang. Bulan purnama berserta cahayanya tertutupi oleh awan hitam. Bintang-bintang di langit yang tak terhitung jumlahnya seakan-akan jatuh tidak tersisa satu pun. Loncatan batu api berlomba-lomba menemoakan keganasan cahayanya menerangi langit. Semesta malam ini terlihat seperti sedang berduka.


" Ada apa ini?" Tanya Okan mulai memasuki tingkat tinggi level kecemasan. Firasatnya tentang Emine semakin buruk melihat cuaca yang tiba-tiba berubah tidak bersahabat. Okan semakin cemas. Ia memiliki firasat Emine tidak dalam kondisi baik.


" Emine,,,,dimana kau??" Okan memutuskan untuk berteriak berharap Emine mau keluar dan menunjukan dirinya baik-baik saja tapi tidak ada respon. Keberadaan Emine benar-benar hening.

__ADS_1


" Emine,,, aku mohon keluarlah!!" Teriaknya sekali lagi dipenuhi kecemasan. Tikus pun tidak bergeming mendengar teriakan Okan. Alam seperti sedang menuntun Okan, ia tidak sadar berjalan mundur. Langkah kakinya semakin membawa Okan lebih dekat dengan wanita yang sedang tidak sadarkan diri di bawah pohon.


Okan mulai frustasi karena tidak bisa menemukan kekasihnya sedangkan sebentar lagi akan turun hujan. Jantung Okan berdetak tidak beraturan menyamai perasaannya yang amburadul memikirkan Emine. Setiap hembusan udara yang kelaur dari hidung terasa sangat berat dan sesak. Okan menjatuhkan sekaligus menyandarkan tubuhnya di pohon yang sama dengan Emine. Kini raga mereka hanya terbatas oleh sebuah pohon.


" Dimana kau Emine? Aku sangat menghawatirkan mu." Gumamnya cemas.


" Test,,,Test,,," HT yang tersimpan di saku celana tiba-tiba mengeluarkan suara. Okan mengambil HTnya.


" Masuk!!!" Kode Okan memberi ijin untuk pemilik suara berbicara.


" Lapor pak, pembunuhnya sudah berhasil kami tangkap." Ucap salah seorang polisi dari tempat yang berbeda.


1 tahun lebih lamanya bergelut dengan kasus ini hingga mempertaruhkan jabatan dan sekarang berakhir sudah semuanya. Bukankah ini berita menggembirakan? tentu ini sangat menggembirakan. Tapi kegembiraan ini tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang Okan lihat saat ini. Tidak sengaja Okan menyentuh sebuah tangan yang tergeletak lemas dan dingin di tanah.


" Emine," Ucap Okan sendu.


Okan terkejut bukan main saat melihat Emine lemas tidak berdaya. Ia tidak sadar menjatuhkan HTnya yang masih bersuara karena polisi masih memberikan laporan. Tangan Okan refleks digunakan untuk meraup tubuh Emine.


Tanpa pikir panjang Okan langsung memopong Emine dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Rasa bersalah menyelimuti pria itu karena tidak bisa menjaga wanitanya.


*


*


*


Hyyy author mau info bentar ya.


Jadi ginih nih, tadinya author mau up 1 minggu 6 kali tapi lihat antusias kalian dalam menebar jempol di 2 ep kemarin bikin aurhor lemes,,,mes,,mes,, Mungkin karena author sempat ngilang jadinya kalian juga ngikut ngilang kali ya😂.


Author akan up 1 minggu 6 kali kalo 2 ep tembus like+100 ya,,, ingat +100 bukan +1000😊. Nah kalian tau kan 1 minggu ada 7 hari, untuk 1 harinya lagi author pakek liborrr. Baru rencana:v


Author akan lihat perkembangan like kalian kalau tembus +100 berarti jadi upnya 1 minggu 6 kali. Kalau enggak, berarti upnya tetap sama yaitu 3 kali seminggu😇.


Komen juga karena kalao komennya ompong terasa novel ini mati tidak ada pembacanya😂


Tolong kasih author semangat denga like kalian. Cuma +100 ya,,, bukan +1000.


Qu pikir² lagi. Minta like +100 aja udah sampek jungkir balik boro2 di kasih like +1000, +200 aja udah sampe ngemis²😆


Trms udah denger curhatan penulis amatir ini. Semoga sehat selalu dan berada dalam lindunganNya🙏.


SalSayang Muachhhhh😘😘

__ADS_1


__ADS_2